Aksa yang berada di bus awalnya tidak tahu kalau ternyata Alula mengikuti bus yang dinaikinya. Dia pikir Alula sudah pergi sendiri setelah dia menolak untuk pulang bersamanya. Sampai ada beberapa orang di dalam bus yang menyadari itu.
“ Kalau sedang marah sebaiknya di selesaikan terlebih dahulu.” Ucap bapak-bapak yang ada disamping Aksa.
“ Maksud pakcik.” Tanya Aksa yang tidak paham.
“ Dari tadi kekasih awak ikuti bas ini.”
“ Kekasih.” Aksa benar-benar tak paham. Akhirnya matanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh bapak tadi.
“ Alula, jadi dia ngikutin aku.”
“ Sejak di hospital dia terus ikuti bas ini.” Ucap bapak tadi melihat keterkejutan di wajah Aksa.
“ Tapi dia bukan kekasih saya pak.”
“ Anak muda asas hari ini memang lucu. Berpura-pura pustus kemudian kembali lagi.” Sindir bapak tersebut.
Aksa malu mendapat ucapan seperti itu, dan ternyata bukan hanya bapak yang disampingnya. Beberapa orang yang ada di bas pun berbisik membicarakan Alula yang terlihat keren mengenakkan mobilnya. Bahkan ada yang mengatakan kalau Aksa itu laki-laki yang beruntung karena bukan orang kaya memiliki kekasih yang kaya dan cantik. Karena sindiran terus terlontar dari dalam mobil, akhirnya Aksa memutuskan untuk berhenti dan keluar dari bus tersebut.
Alula yang tahu bus itu terhenti pun bingung, apalagi ketika dirinya melihat Aksa yang keluar dari bus. Dengan cepat Alula langsung keluar dari bus, sedangkan Aksa hanya berdiri ditempat dimana dia turun dari bus.
“ Kak Aksa, kok kak Aksa turun dari bus sih. Memangnya kenapa kak.” Tanya Alula yang bingung sekaligus khawatir.
Sebelum melontarkan kata-kata, Aksa pun menghela nafas sambil menatap Alula dengan sangat frustasi.
“ Untuk apa kamu mengikutiku.” Tanya Aksa.
“ Lula ngga ngikutin kak Aksa kok, Alula kan mau pulang. Kan rumah kita searah jadi ya Alula lewat jalan yang sama dengan bus yang kak Aksa tumpangi.” Jawab Alula.
“ Tapi ngga harus disamping atau belakang bus la, kamu kan bisa mengendarai lebih cepat dari bus yang aku tumpangi. Kenapa sih kamu selalu buat masalah denganku, apa kamu ngga bisa sebentar saja buat aku tenang.”
“ Memangnya kenapa sih kak, kalau Lula ada disamping atau belakang bus, memangnya salah. Alula juga ngga ganggu kak Aksa, kan Alula ngga ada di bus itu.” Jawabnya.
“ Kamu memang ngga ada di bus itu, tapi apa yang kamu lakukan dengan mengikuti bus tadi sudah menggangguku. Semua orang yang ada di bus mengira kalau aku laki-laki jahat karena membiarkan wanita yang ada didalam mobil itu terus mengikutiku, mereka mengira kalau kita adalah kekasih yang sedang marahan. Mau di taruh dimana wajahku, satu bus menyuruhku untuk turun dan berbaikan denganmu.” Ungkap Aksa. Sedangkan Alula yang mendengar itu langsung tertawa, dia tidak menyangka apa yang dilakukannya telah membuat Aksa malu. “ Kenapa kamu malah ketawa, ohh jadi kamu pikir semua ini lucu.” Ucap Aksa yang mulai emosi.
“ Maaf... Maaf banget kak, Lula benar-benar ngga tahu kak. Lula ngga nyangka kalau mereka yang ada di bus itu mikirin perasaannya Lula. Lula jadi terharu deh dengernya.” Balas Alula.
“ Aku mohon sama kamu stop ikutin aku la.” Pinta Aksa yang langsung berjalan menjauh dari Alula.
Alula pun berhenti tertawa, dia langsung menyusul Aksa. “ Kak, kak Aksa mau kemana.”
“ Mau pulang.”
“ Terus ngapain jalan, kan mobil Alula disana.” Ucapnya.
“ Memangnya siapa yang bilang aku mau pulang pakai mobilmu.” Ujar Aksa.
“ Tapi kalau bukan pakai mobil Lula, kak Aksa mau pulang pakai apa kak. Ya Lula tahu Lula salah, Lula minta maaf. Lula janji ngga akan ulangi perbuatan itu lagi.” Jawabnya.
“ Apa kalau aku memaafkanmu, kamu akan menjauh dariku.” Tanya Aksa.
Alula langsung menggeleng. “ Ngga mungkin kak, itu permintaan yang ngga akan mungkin bisa Alula tunaikan.”
Aksa pun berhenti, dan berbalik memandang Alula. “ Sebaiknya kamu pulang sekarang, sebelum hari semakin siang.” Suruh Aksa.
“ Tapi gimana sama kak Aksa.” Tanya Alula yang khawatir.
“ Aku laki-laki la, aku juga udah dewasa. Aku bisa pulang sendiri. Tolong kasih aku ruang.” Balas Aksa yang langsung berbalik memunggungi Alula.
“ Ok, kali ini Alula akan pulang, dan ikuti kata kak Aksa. Sekali lagi Alula minta maaf ya kak. Kak Aksa hati-hati ya.” Balas Alula yang langsung ikut berbalik menuju mobilnya.
Mengetahui, Alula sudah pergi Aksa pun kembali melangkahkan kakinya. Dia pun lega karena kali ini Alula mendengarkan kata-katanya.
***
Sore hari, Aksa baru sampai di rumah. Dia memang tidak langsung pulang ke rumah. Dia mampir ke toko buku untuk membeli beberapa buku yang ia butuhkan untuk kuliah. Sebelum masuk kedalam rumah, Aksa melihat atuk Fadhil yang baru saja keluar dari rumah. Dan tiba-tiba dia pun memanggil Aksa.
“ Aksa.” Teriak atuk Fadhil yang langsung berlari menuju rumah Aksa. Tahu atuk Fadhil mendekatinya, Aksa pun mendekati atuk Fadhil.
“ Kamu sudah pulang sa.” Tanya atuk.
“ Sudah tuk.” Jawab Aksa, namun dia melihat atuk Fadhil seperti mencari hal lain. “ Atuk cari siapa tuk.” Tanya Aksa.
“ Lula, apa dia langsung ke puskesmas lagi setelah nganterin kamu.” Tanya Atuk Fadhil.
“ Alula.” Ucapnya, atuk pun mengangguk. “ Aksa pulang sendiri pakai bus tuk.”
“ Kamu pulang sendiri, terus Alulanya kemana. Tadi pagi dia bilang mau nyusulin kamu ke Bandar. Dia bilang kamu disana sendirian, jadi dia khawatir sama kamu makannya dia nyusulin kamu. Kalau kamu pulang sendiri terus Alula dimana.” Tanya atuk yang mulai khawatir setelah tahu Alula tidak pulang bersama dengan Aksa.
“ Aksa memang tadi bertemu Alula di bandar, tapi Aksa ngga pulang sama Lula tuk. Aksa nyuruh Alula pulang sendiri dulu. Karena Aksa masih ada urusan.” Jawabnya yang juga jadi khawatir setelah tahu Alula belum pulang sampai sore. Padahal dia sudah menyuruh Alula pulang dari beberapa jam yang lalu. Kalau dia langsung pulang harusnya dia sudah sampai rumah siang tadi.
“ Ya Allah kemana anak itu, kenapa ngga ngabarin sih kalau mau pergi.” Ucap atuk Fadhil yang langsung menelfon Alula. Namun, ponsel Alula tidak aktif. “ Ya Allah ponselnya juga mati.” Ucap atuk yang langsung khawatir.
Aksa pun merasa tidak enak hati dengan atuk. Mau bagaiamanapun dia jadi merasa bersalah. Saat ini pun dia jadi berpikir buruk tentang keadaan Alula.
“ Atuk, Aksa minta maaf ya karena tadi Aksa menyuruh Alula pulang sendiri. Aksa benar-benar ngga berpikir kalau sampai Alula belum pulang jam segini. Atuk sekali lagi Aksa minta maaf ya tuk.” Ucap Aksa.
“ Ini bukan salah kamu kok sa, Alulanya saja yang sembarangan mau pergi lama ngga ngabarin atuk dulu. Dia memang suka sekali buat khawatir atuk. Kalau begitu atuk pulang dulu ya sa, atuk mau coba hubungi temannya kali saja Alula ada dengannya.” Balas Atuk yang jalan ke rumahnya.
“ Tunggu tuk, Aksa ikut atuk nungguin Alula pulang ya.” Balas Aksa.
“ Ngga perlu sa, atuk pun tahu kamu juga pasti cape. Kamu istirahat saja, Insyaallah Alula akan baik-baik aja.” Ucap atuk yang mencoba menghilangkan rasa bersalah Aksa.
“ Tapi tuk.”
“ Ngga apa-apa sa.” Balas atuk yang kembali berjalan.
Aksa pun diam di depan rumahnya, dia memang lelah dengan aktivitasnya hari ini. Namun hatinya pun tidak bisa tenang melihat kekhawatiran yang terlihat di wajah atuk Fadhil. Namun akhirnya Aksa memutuskan untuk masuk rumah, karena ini piun sudah sore dia belum melaksanakan shalat. Niatnya dia akan mendatangi rumah atuk setelah dia membersihkan diri.
***
Setelah ba’da maghrib, Aksa yang sudah menyelesaikan shalat pun langsung keluar untuk datang ke rumah atuk Fadhil. Untuk mencari tahu apakan Alula sudah pulang. Dan kebetulan, ketika dia baru menutup pintu dia melihat mobil, Alula akan masuk ke halaman rumah atuk Fadhil. Aksa pun langsung berlari ke rumah atuk Fadhil.
“ Alula.” Panggil Aksa. Alula langsung menoleh ketika ada suara memanggilnya. “ Kamu habis dari mana, kenapa baru pulang sekarang. Aku kan udah nyuruh kamu buat pulang dari tadi.” Omel Aksa.
“ Alula ada urusan, Alula cape kak. Alula masuk dulu.” Ucap Alula yang terlihat lesu dan tidak semangat.
“ Tunggu, itu dahi kamu kenapa la.” Tanya Aksa yang melihat ada plaster luka di dahi Alula.
“ Ngga apa-apa Cuma luka sedikit kok, kalau gitu Alula masuk dulu ya kak.” Ucapnya yang kembali berjalan. Namun baru sampai di depan pintu panggilan kembali ia dengar namun kali ini dari suara yang berbeda.
“ ALULA.” Panggil atuk Fadhil dengan suara tinggi.
Alula pun kembali berhenti, Aksa terlonjak kaget ketika mendengar panggilan atuk Fadhil yang keras pada Alula. Dengan langkah cepat atuk Fadhil langsung berjalan mendekati Alula dan kemudian dia langsung PLAK.
Atuk Fadhil pun menampar Alula dengan emosi. Aksa yang mengetahui itu pun langsung membantu menenangkan atuk Fadhil.
“ Atuk, Aksa mohon jangan seperti ini tuk. Atuk harus tenang dulu tuk.” Ucap Aksa.
Sedangkan Alula yang juga terkejut mendapat tamparan dari atuknya, pun hanya memandangi wajah atuknya dengan penuh kesedihan. Sebelum dia masuk, dia memandang kearah Aksa sekejap.
“ Sa, sebaiknya kamu pulang saja. Ini urusan atuk dengan Lula. Atuk akan urus masalah ini.”
“ Tapi tuk..” Belum sempat melanjutkan ucapannya, atuk langsung masuk begitu saja. Aksa pun mematung di depan pintu yang sudah tertutup. Rasa bersalahnya pada Alula pun bertambah, Aksa merasa karena dia, Alula kena marah oleh atuk Fadhil. Aksa yang sudah berbalik akan pulang pun langsung mengurungkan niatnya ketika mendengar suara atuk Fadhil yang kembali meninggi.
“ Alula tunggu, mau kemana kamu atuk belum selesai bicara.” Cegah atuk yang langsung menahan tangan Alula.
“ Alula cape tuk, Alula mau istirahat.” Jawabnya tanpa memandang atuk Fadhil.
“ Apa itu cara kamu bicara dengan atuk. Dari mana saja kamu, kenapa jam segini baru pulang dan tidak mengabari apapun pada atuk dan mengapa ponselmu mati. Apa kamu sengaja membuat atuk khawatir seperti ini.” Tanya atuk yang masih emosi. Tapi Alula masih diam, dia belum bicara lagi. “ Apa kamu tidak dengar pertanyaan kakek, kenapa kamu diam saja.” Tanya atuk Fadhil yang emosi karena Alula belum juga menjawabnya.
Kemudian Alula pun berbalik dengan air mata yang sudah mengalir deras. Rasanya hatinya saat ini begitu sakit dan terluka. Dia sampai tidak sanggup menopang tubuhnya sehingga tubuhnya pun meluruh ke lantai. Dia terus menangis karena hatinya benar-benar belum bisa membaik sejak kejadian tadi. Atuk Fadhil yang tadinya marah pun langsung ikut sedih melihat cucunya menangis tersedu-sedu.
“ Maaf kalau ucapan atuk telah menyakitimu, atuk hanya khawatir denganmu la. Atuk ngga mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kamu kan tahu, hanya kamu yang atuk punya sekarang.” Ucap atuk Fadhil. Namun Alula hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Atuk Fadhil pun langsung memeluk cucunya.
“ Lula rindu mereka tuk, Lula rindu mama, Lula rindu papa. Lula rindu mereka tuk. Lula ingin ketemu sama mereka.” Ungkapnya sambil menangis. “ Lula tadi ke rumah papa sama mama, tapi kenapa rumah itu hampa tuk Lula butuh mereka disini. Kenapa mereka harus pergi tanpa membawa Lula. Kenapa Lula harus melewati ini sendiri tuk. Kenapa.” Ungkapnya dengan hati yang terluka.
“ Lula ngga boleh bicara seperti itu, Lula punya atuk. Lula ngga pernah sendiri. Lula pun harus ingat papa sama mama ngga ninggalin Lula, mereka selalu ada buat Lula, mereka ada di hati Lula. Lula ngga boleh lemah seperti ini, atuk tahu, Lula cucu atuk yang kuat. Lula sudah bisa melalui semuanya, Lula ngga boleh menyerah sayang. Atuk mohon, atuk butuh Lula, atuk akan selalu ada untuk Lula.” Balas atuknya yang sekarang mengerti apa yang sedang membuat cucunya begitu terlihat terpuruk. Ternyata kerinduannya pada kedua orang tuanya yang sudah meninggallah yang membuat Alula seperti sekarang.