10. LYT

2135 Kata
Paginya, Alula pun sudah kembali ceria. Dia seperti tidak ingin mengingat ataupun bersikap berbeda karena kejadian kemarin. Karena baginya sejak dia bisa bangkit lagi setelah kepergian kedua orang tuanya, Lula berjanji pada dirinya kalau dia tidak ingin mengubarkan kesedihan itu pada siapapun, kecuali pada orang-orang yang memang sudah tahu kisah silamnya dulu. “ Selamat pagi tuk.” Ucap Alula yang langsung memeluk atuknya dari belakang. “ Pagi la.” Balas atuknya yang bahagia melihat cucunya kembali ceria. Dia tahu, kalau Alula tidak akan mungkin lagi berlarut-larut merasakan kesedihan semalam. Maka atuk Fadhil pun tidak ingin membahas hal semalam, karena dia hafal pasti Alula tidak ingin membahasnya lagi. “ Sudah mau berangkat la.” Tanya Atuk. “ Iya dong tuk, kalau nanti Lula ngga berangkat-berangkat pasti atuk bakalan ngomel-ngomel. La kapan sih kamu lulusnya.” Ledek Lula. “ Ya kan memang bener, teman yang bareng masuk kamu aja udah pada lulus masa kamu belum.” Balas atuknya. “ Atuk, karya yang sedang Alula buat ini sangat luar biasa. Jadi butuh waktu lumayan lama. Lula ngga mau lulus hanya sekedar lulus tuk.” Ucapnya yang banya alasan. “ Iya... iya deh terserah kamu aja. Atuk sampai bosan dengerin kamu alasan begituan terus.” Balas atuknya. Alula langsung memanyunkan bibirnya karena mendengar ucapan atuknya. “ Kamu yakin bisa mengendarai mobil sendiri.” Tanya atuknya. “ Ya bisalah tuk. Terus kalau Lula ngga nyetir sendiri gimana Lula sampai tuk.” Balas Alula. “ Atuk minta tolong Aksa buat berangkat sama kamu ya, atuk benar-benar ngga yakin kalau kamu sanggup nyetir sampai kampus.” Saran atuknya. Alula langsung membelakakan matanya mendengar saran dari atuknya. Dalam hatinya dia bahagia kalau sampai dia berangkat bareng dengan Aksa. “ Mmmm, tapi tuk apa ngga ngrepotin kak Aksa.” Balas Alula yang berpura-pura tak enak hati dengan Aksa. “ Ya kan sekalian la. Jadi ya pasti ngga ngrepotin dia. Tunggu ya moga aja Aksa belum berangkat. Biasanya dia berangkatnya awal banget.” Balas atuknya yang langsung keluar rumah untuk menemui Aksa. Dan saat atuk Fadhil baru keluar rumah, dia langsung melihat Aksa yang sedang mengunci rumah. Dengan langkah cepat atuk langsung menghampiri dan memanggil Aksa dengan suara lantang. “ Sa.... Aksa.” Panggil Atuk Fadhil. Aksa pun langsung menoleh serta menghampiri atuk Fadhil yang terlihat terbburu-buru menghampirinya. “ Ada apa tuk.” “ Kamu sudah mau berangkat ya.” “ Iya tuk memangnya kenapa tuk Apa ada masalah.” Tanya Aksa yang khawatir terjadi hal buruk lagi seperti semalam. “ Atuk mau minta tolong ke kamu.” “ Tolong apa tuk.” Tanya Aksa. “ Atuk khawatir dengan keadaan Alula. Apalagi dia baru saja terluka dan masih kurang sehat. Jadi atuk mau minta tolong ke kamu buat berangkat bareng dengannya ya.” Pinta atuk Fadhil. Aksa pun terkejut mendengar permintaan atuk Fadhil. Walaupun dia suka, tapi tidak mungkin juga baginya untuk menolak permintaan atuk Fadhil. Apalagi jika mengingat kembali hal yang baru saja teradi kemarin. Mau bagaimanapun kemarin dia merasa bersalah pada Alula. “ Kalau dia masih kurang sehat apa tidak sebaiknya dia istiraat dulu tuk.” Saran Aksa. “ Tadinya atuk pun menyuruhnya untuk istirahat. Tapidia tetap mau berangkat.” Balas atuk Fadhil. “ Assalamualaikum kak Aksa.” Salam Alula yang menghampiri Aksa dan atuknya. “ Waalaikumsalam. Gimana sa apa kamu bersedia.” Tanya atuk menanyakan lagi. “ Ngga perlu tuk, Jangan paksa kak Aksa kalau dia memang ngga bersedia. Alula bisa kok nyetir sendiri tuk. Atuk tenang aja, Alula akan sangat hati-hati. Dan Alula janji akan baik-baik aja.” Balas Alula meyakinkan atuknya. Dan pura-pura tidak begitu berharap untuk berangkat bersama dengan Aksa. “ Tapi tetap aja la, atuk khawatir. Kamu kan...” “ Saya akan antarkan Alula ke kampus tuk. Jadi atuk tenang aja ya. Insyaallah Alula akan baik-baik saja.” Balas Aksa yang langsung mengiyakan permintaan atuk Fadhil. Alula benar-benar tidak menyangka kalau Aksa bersedia berangkat dengannya. Dia benar-benar bahagia. Tapi dia harus tetap terlihat tenang dan tidak boleh terlihat berlebihan. Apalagi ada atuknya. “ Alhamdulillah, makasih ya sa.” “ Sama-sama tuk.” Ucap Aksa yang langsung menghampiri Alula dan meminta kunci pada Alula tanpa memandang atau mengatakan apapun pada Alula. Dengan senyum malu-malu Alula memberikan kuncinya pada Aksa. “ Makasih ya kak Aksa.” Ucap Alula pada Aksa. Kemudian keduanya pun berpamitan pada atuk Fadhil. Alula seperti mendapatkan energi dan semangat baru, apalagi sekarang dirinya satu mobil dengan Aksa. Selama dalam perjalanan, Alula tidak pernah melepaskan pandangannya pada Aksa. Dia terus memandangi wajah Aksa yang rupawan tanpa malu-malu. “ Apa kamu ngga cape dari tadi ngliatin aku.” Tanya Aksa yang tahu kalau dari tadi Alula terus memandanginya. Awalnya dia ingin acuh, namun ternyata lama kelamaan apa yang Alula lakukan membuatnya tidak nyaman. “ Aku minta kamu buat ngliat depan, ngga ngliatin aku begitu terus.” “ Kalau Lula ngga mau gimana.” Ledek Lula. “ Aku turun sekarang.” Ancam Aksa. “ Kok gitu sih kak. Iya ... iya deh Lula ngliat depan.” Balas Alula yang langsung merubah posisi duduknya. Aksa pun lega karena berhasil mengancam Alula. Sekilas dia menengok melihat kearah Alula yang sudah melihat kedepan. Namun senyuman itu tidak pernah pudar dari bibir Alula, dia terlihat sangat bahagia. Tapi hal itu justru mengingatkan Aksa tentang kejadian semalam. Ketika atuk menyuruhnya untuk pulang, dia tidak benar-benar pulang. Aksa justru terus berada di depan rumah atuk Fadhil, karena dia khawatir kalau atuk Fadhil akan kembali bersikap kasar pada Alula. Dia khawatir karena dia merasa bersalah, karena tidak pulang bersama dengan Alula sehingga membuat Alula terluka. Aksa pun jadi tahu, kalau kemarin sikap Alula berubah karena dia sedang bersedih mengingat dan merindukan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. “ Kenapa sekarang dia bersikap, seolah-olah kemarin tidak pernah terjadi apapun. Apa dia sedang menyembunyikan lukanya.” “ Kak, makasih ya sudah mau nganterin Lula.” Ungkap Alula yang langsung menatap Aksa. Tapi, dia terus memandang Aksa yang ternyata tidak mendengarkannya bicara. “ Kak Aksa.” Panggil Alula sampai dia menyolek lengan Aksa sehingga membuyarkan lamunan Aksa. “ Kamu ngapain.” Tanya Aksa yang terkejut karena Alula menyoleknya. “ Lula yang harusnya tanya ke kak Aksa. Kak Aksa lagi ngalamun apa sih. Kenapa dari tadi Alula ngomong ngga di dengerin.” Tanyanya. “ Siapa juga yang ngalamun, aku Cuma lagi fokus nyetir aja.” Elak Aksa. “ Ok kalau emang beneran kak Aksa ngga ngalamun. Coba tadi Lula bilang apa.” Tanya Alula. “ Aku udah hafal sama kamu la, paling kamu juga mau bilang makasih ya kak udah mau anterin aku.” Ungkap Aksa yang ternyata tahu uacapan Alula. Alula langsung tersenym ternyata Aksa tahu ucapannya tadi. “ Kirain kak Aksa ngalamun.” “ Mau aku ngalamun pun aku bisa denger kali. Telingaku ngga tuli. Dan ingat satu hal aku harap kamu jangan salah paham dengan ini. Aku mau nganterin kamu karena ini permintaan atuk. Kalau bukan karena dia, aku ngga bakalan mau ngaterin kamu. Males banget.” Ungkap Aksa. “ Iya Lula tahu kok. Tapi ngga apa-apa. Pertama-tama memang permintaan atuk. Tapi Lula yakin kalau lama kelamaan pasti kak Aksa akan sukarela mengantarkan Lula.” “ Ngga usah geer, dan jangan nglunjak.” “ Kenapa sih susah banget buat kak Aksa buka hati kak Aksa untuk Alula.” “ Itu ngga mungkin.” “ Apa di Indonesia, kak Aksa udah punya cewek.” Tanya Alula yang terlihat cemas menunggu jawaban dari Alula. “ Bukan urusan kamu, mau aku punya cewek atau ngga. Itu semua ngga ada urusannya sama kamu.” “ Jelas dong ada kak. Kalau sampai kakak punya cewek di Indonesia, Lula akan minta dia buat mutusin kak Aksa. Karena kak Aksa hanya di takdirkan untuk Lula.” Balas Alula. Ucapan Alula membuat Aksa menghentikan mobilnya. “ Aww.” “ Kenapa kak Aksa ngerem mendadak sih.” “ Jangan buat aku muak dengan semua kata-katamu la.” Ucap Aksa yang langsung keluar dari mobil Alula. “ Kak Aksa, tunggu.” Ucap Alula yang akan menyusul Aksa. Namun dia langsung tersadar ketika keluar dari mobil. Karena ternyata mereka sudah sampai di kampus. Alula langsung kembali masuk kedalam mobilnya untuk mengambil tas dan kunci mobil yang Aksa tinggalkan. Dengan penuh percaya diri, Alula pun berjalan menuju kelasnya tanpa sadar kalau dia sedang menjadi buah bibir di kampus. Tapi ternyata berita sudah sangat cepat menyebar di seluruh kampus tentang Lula dan Aksa yang berangkat bersama. Anak-anak di kampus mengira kalau Alula dan Aksa sudah jadian. Bahkan mereka memberikan julukan baru pada Alula dengan sebutan “ Penakluk Lelaki”. Karena laki-laki sekaku dan sekeras Aksa pun mampu di taklukan oleh Alula. “ ALULA.” Panggil Bening ketika baru melihat Alula masuk ke dalam kelas. “ Apa yang tak kena dengan awak. Pagi-pagi awak sudah menjerit.” Tanya Alula yang bingung mendengar teriakkan Bening. “ Awak memang hebat. Julukan itu memang tak salah di tunjukkan untuk awak.” Ucap Bening yang langsung memeluk Alula dengan erat. “ Sebenarnya, awak ni dah kenapa. Apa yang tak kena dengan awak.” Tanya Alula yang masih belum mengerti. Kemudian, Bening pun menunjukkan beberapa foto yang ada di ponselnya pada Alula. Betapa terkejutnya Alula ketika melihat foto-foto yang ada di ponsel Bening. “ Darimana awak dapatkan semua gambar-gambar ini ning.” Tanya Alula. “ Saya bukan satu-satunya yang punya gambar awak la.” Jawab Bening sambil menarik ponselnya. “ Maksud awak.” “ Satu kolej pun dah tahu gambar-gambar ini la.” “ Apa, darimana mereka ambil gambar-gambar ini.” “ Kenapa sekarang awak cemas la, bukannya ini yang awak mahu. Awak sekarang dah dekat dengan kak Aksa.” “ Semua ini salah paham ning. Kalau kak Aksa sampai tahu semua berita ini. Pasti dia akan salah paham dengan saya.” Ujar Alula yang terlihat khawatir. “ Tunggu, maksud awak.” “ Ini ngga sama seperti apa yang awak bayangkan la. Kemarin saya dan kak Aksa ada di rumah sakit. Karena kita tolong pesakit dari pusat kesihatan awam yang ada di kampung atuk.” Jawab Alula. “ Jadi.” “ Andai apa yang awak dan teman-teman katakan itu benar ning. Mungkin saya adalah wanita yang paling bahagia bisa memiliki kak Aksa. Tapi semua itu hanya salah paham ning. Saya sekarang jadi sukarelawan di pusat kesihatan awam. Jadi sudah sepatutnya saya bantu kak Aksa tolong pesakit itu.” “ Owh jadi itu, terus kenapa pagi ini awak dan dia pergi ke kolej sama-sama.” Tanya Bening. “ Itu karena atuk ning.” Jawab Alula sambil menunjukkan luka yang ada di keningnya. “ Kamu kenapa la.” Tanya Bening yang jadi khawatir melihat luka di kening sahabatnya. “ Kemarin ada insiden yang membuat luka di dahi saya. Kerana, atuk tak percayakan saya mengendarai sendiri. Maka atuk minta bantuan ke kak Aksa buat nganterin aku ke kolej.” Jawab Alula. “ Owh, jadi macam tu ceritanya. Rakan-rakan semua berpendapat bahawa awak berhasil memenangi hati kak Aksa.” Ujar Bening. “ Kalau hal itu masih jauh dari bayangan ning, saya sudah dekat dengannya pun itu sebuah keajaiban yang sangat langka terjadi. Apalagi kalau sampai saya, benar-benar bersama dia.” Ungkap Alula yang sedang membayangkan semua tentang kebersamaan dirinya dan Aksa. *** Seusai kuliah selesai, Alula pun langsung menunggu Aksa di parkiran. Dia menunggu Aksa pun lumayan lama, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan dirinya. Sampai akhirnya dia langsung mencari keberadaan Aksa. “ Kak Zaki.” Panggil Alula. “ Ada apa lagi.” “ Dimana kak Aksa.” “ Dia udah pulang.” “ Udah pulang, kok ngga ngabarin aku sih.” Ucap Alula yang terkejut sekaligus kesal karena Aksa pulang lebih awal tanpa menunggunya. “ Memangnya kamu siapa dia, sehingga dia wajib lapor ke kamu buat pulang.” Tanya Zaki dengan nadanya yang tidak suka dengan Alula. “ Ya bukan begitu, tadi kita kan berangkat bareng. Masa sekarang dia pulang ngga ngabarin aku sih.” “ Harusnya kamu sadar kenapa dia berbuat begitu.” “ Maksudnya.” “ Kamu lagi pura-pura ngga tahu apa beneran ngga tahu tentang berita yang menghebohkan satu kampus ini.” “ Maksudnya.” “ Sekarang niat Aksa yang ingin menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, kebaikan dirinya telah tercoreng karena perbuatan satu orang.” “ Kenapa kak Zaki bicara begitu.” “ Karena semua pemberitaan di kampus tentang kamu dan Aksa, sudah membuat nama Aksa jelek dimata teman-teman. Mereka mengira kalau Aksa munafik. Dia berpura-pura tidak mau tapi nyatanya mau juga. Dan semua itu karena ulah kamu. Mungkin Aksa bisa bersikap masa bodoh di hadapan teman-teman. Tapi aku sebagai temannya ngga rela kalau anak sebaik Aksa di perlakukan seperti ini oleh orang-orang yang ngga mengenalinya sama sekali.” Balas Zaki yang emosi. Alula pun sekarang paham arah pembicaraan Zaki yang mengarah pada gosip yang telah tersebar antara dirinya dan Aksa. Selain ingin pulang bersama dengan Aksa, Alula juga ingin menjelaskan tentang kabar tersebut. Dia ingin memberitahukan pada Aksa kalau dirinya pun tidak tahu apapun. Dirinya pun disini sebagai korban atas, berita yang tidak benar itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN