Sepulang dari kampus, Alula langsung datang ke puskesmas. Dia benar-benar ingin langsung menemui Aksa untuk menjelaskan tentang berita yang tersebar di kampus. Dia tidak ingin Aksa salah paham dengannya. Walaupun memang Alula mengejar-ngejak Aksa, namun tetap saja Alula tidak berharap Aksa akan mendapatkan cap jelek di kampus. Tapi ketika Alula membuka pintu ruangan Aksa pun langsung bingung karena tidak menemukan sosok Aksa.
“ Kak Alya.” Panggil Lula yang ingin menanyakan keberadaan Aksa.
“ Di mana doktor Aksa.”
“ Owh, doktor Aksa sedang bertugas di luar.”
“ Di mana.”
“ Dia melawat beberapa pesakit yang berada di rumah.” Jawab kak Alya.
“ Apa dia lama.”
“ Tak tahu, mungkin saja.” Balas kak Alya.
Alula pun terlihat kecewa, karena tidak menemukan Aksa. Kemudian, dirinya yang sudah mengiyakan akan menjadi sukarelawan di puskesmas itu pun akhirnya membantu apa yang sepatutnya dia perbuat sambil menunggu Aksa selesai tugas.
Kak Alya banyak memberitahukan pada Alula tentang pekerjaan yang bisa di kerjakan oleh Alula. Karena Alula tidak belajar dalam dunia kesehatan, jadi kak Alya mengajari Alula hal-hal yang sekiranya Alula bisa.
Sekitar pukul empat sore Aksa sampai di puskesmas. Alula yang melihat Aksa masuk ke puskesmas pun langsung mengumbar senyumnya, namun tidak dengan Aksa. Sikapnya masih sama seperti hari-hari kemarin yang selalu bersikap acuh pada Alula. Tapi karena Alula harus menyelesaikan tugasnya, dia tidak langsung menghampiri Aksa.
Selesai sudah tugas yang diberikan oleh kak Alya. Maka sekarang saatnya bagi Alula untuk bertemu dengan Aksa.
TOK… TOK… TOK
“ Masuk.” Ucap Aksa ketika dirinya mendengar suara ketukan pintu.
Pandangan Aksa yang tadinya tertuju ke pintu pun langsung dia alihkan ketika dia tahu siapa yang masuk kedalam ruangannya.
“ Mau apa kamu kemari.” Tanya Aksa.
“ Apa kak Aksa masih ada pasien.”
“ Bukan urusanmu.” Jawab Aksa
“ Kak Aksa kenapa sih, kak Aksa masih marah ke Lula.”
“ Aku harap kamu bisa membedakan tempat kerja dengan dunia luar ya. Disini kamu ngga bisa seenaknya masuk ke ruangan doctor atau memanggi doctor dengan sebutan yang tidak formal. Aku harap kamu bisa menempatkan dirimu.” Balas Aksa.
Alula benar-benar terkejut mendengar Aksa berbicara seperti itu. Mungkin dia sudah sering mendengar ucapan Aksa yang pedas dan kasar. Namun kali ini bagi Alula Aksa terlihat sangat berbeda. Dia benar-benar terlihat marah besar pada Alula.
“ Tapi kak, eh maksud Lula. Ada yang mau Lula bicarakan dengan doctor Aksa.”
“ Tapi ngga ada yang ingin saya dengar. Dan ini pun masih masuk jam kerja sebaiknya kamu keluar sekarang.” Suruh Aksa.
Akhirnya Alula pun keluar dari ruangan Aksa dengan penuh kekecewaan.
“ La, awak kenapa.” Tanya kak Alya yang melihat raut Alula berubah.
“ Kak Alya.” Ucap Alula yang langsung memeluk kak Alya.
“ Apa awak dan doctor Aksa ada masalah.” Tanya kak Alya dan Alula hanya menggeleng. Dia tidak mungkin mengatakan masalah yang sedang terjadi diantara dirinya dan Aksa.
“ Saya Cuma penat kak, hari ini kan hari pertama Lula kerja disini.”
“ Memang tak mudah la, dan kerja Lula hari ini cukup baik.” Balas kak Alya yang memuji kinerja Lula hari ini.
“ Pasti kak Alya dan yang lain sering kelelahan kan.”
“ Namanya pun tanggung jawab la. Oh iya kan kerja Lula sudah selesai, apa Lula tak balik.”
“ Apa doctor Aksa masih ada jadwal kak.”
“ Masih, dia ada jadwal sampai malam.” Jawab kak Alya.
“ Apa Lula boleh bantu sampai malam kak.” Tanya Lula
“ Apa Lula serius. Apa Lula tak lelah.” Tanya balik kak Alya.
“ Tak, justru Lula senang bisa bantu disini.” Jawab Alula.
Dia ingin benar-benar menyelesaikan kesalah pahaman antara dirinya dan Aksa. Dia tidak ingin Aksa salah paham dengannya. Disaat Alula sedang mendata pasien yang akan kontrol pun langsung kesal. Karena salah satu pasien yang akan di periksa Aksa adalah seorang gadis muda yang bisa Alula tangkap kalau gadis ini hanya berpura-pura sakit karena hanya ingin bertemu dengan Aksa.
“ Penampilanku gimana, apa udah cantik.” Tanya wanita itu pada temannya yang akan menemaninya.
“ Jangan terlalu terlihat cantik, kamu kan sakit.”
“ Benar juga ya.” Ucapnya yang langsung melihat cermin untuk menghapus make up yang ada di wajahnya.
Alula yang mendengarkan percakapan itu pun sudah tidak tahan lagi. Apalagi niat mereka ingin menggoda Aksa. Walaupun Alula tahu Aksa tidak mungkin akan melihat mereka tapi tetap saja hal itu membuat Alula cemburu.
BRAK
Alula yang sudah tidak tahan lagi langsung saja menggebrak meja. Dan hal itu membuat kedua orang yang ada didepannya pun terkejut.
“, kenapa tiba-tiba akak gebrak meja.” Ucap gadis itu yang tidak terima karena Alula menggebrak meja di depannya.
“ Sebenarnya niat kalian datang kemari itu apa. Apa kalian tak kasihan melihat pesakit yang benar-benar ingin berobat. Kalau kalian datang kemari hanya mahu menggoda doctor, sebaiknya kalian balik.” Teriak Alula yang membuat beberapa orang pasien dan pegawai puskesmas terkejut.
Dan ternyata suara Alula sudah terdengar sampai ke ruangan Aksa. Kemudian Aksa dan kak Alya yang ada di ruangan pun langsung keluar untuk melihat keributan di luar.
“ Saya pun datang kemari mahu periksa. Dan saya pun datang kemari bayar. Jadi bukan urusan akak.” Balas gadis itu.
Alula yang di bantah pun semakin tidak tahan. “ Jelas, itu jadi urusan saya. Karena awak nak coba goda doktor Aksa.”
“ Kenapa akak marah, memang siapa akak.”
“ Saya girlfriend dia.” Ucap Alula yang langsung spontan mengatakan hal itu.
“ ALULA.” Teriak Aksa yang ternyata mendengar uacapan Alula yang terakhir. Wajah Aksa langsung emosi. Tanpa memperdulikkan pandangan orang Aksa langsung saja menarik tangan Alula dan membawanya keluar. Sedangkan kak Alya pun menenangkan kondisi yang sudah di kacaukan oleh Alula.
Dengan cengkraman yang kuat Aksa terus menarik tangan Alula. Dia membawa Alula keluar dan jauh dari orang-orang yang ada di puskesmas. Alula yang tangannya merasa sakit pun terus meminta Aksa untuk melepaskannya.
“ Kak, kak Aksa mau bawa Lula kemana. Kak tangan Lula sakit kak. Tolong kak lepaskan tangan Lula. Lula akan ikuti kak Aksa, tapi tolong kak lepas tangan Lula. Lula akan jalan sendiri.” Pintanya. Namun tetap saja Aksa tidak menghiraukan rengekan Alula.
Ditempat yang sudah jauh dari keramaian, akhirnya Aksa menghentikan langkahnya dan langsung menghempaskan tangan Alula. Lula langsung saja memegangi, genggamannya yang terasa sakit.
“ Ya ampun pergelangan Lula sampai merah. Nih liat.” Rengek Lula yang langsung memperlihatkan pergelangan tangannya pada Aksa. Namun Aksa masih diam dan tidak memperdulikkan ucapan Alula.
“ Sampai kapan kamu akan bertindak murahan seperti ini. Apa kamu ngga punya rasa malu, apa kamu ngga punya hati sampai harus menyakiti hati orang lain. Apa kamu hanya peduli dengan perasaanmu sendiri, kamu egois sampai keegoisanmu ini membuat dirimu bersikap murahan seperti ini.”
PLAK
Aksa langsung memegang pipinya yang terkena tamparan oleh Lula.
“ Kakak ngga punya hak mengatakan kalau aku murahan. Kenapa kakak tega sekali mengatakan itu di depan Lula.”
“ Lalu aku harus memanggilmu apa dengan sikapmu yang tidak tahu malu itu. Aku terus mengatakan kalau aku tidak menyukaimu, aku risih dengan semua sikapmu yag terus mendekatiku tanpa henti. Aku seringkali bilang padamu untuk menghentikan itu semua, tapi apa la, kamu ngga pernah mendengarkanku, kamu terus saja mengganggu hidupku.” Ujar Aksa dengan keras.
“ Apa salah kalau Lula mau memperjuangkan laki-laki yang Lula cintai.” Ucapan Alula pun membuat Aksa terdiam mendengar ungkapan Alula. “ Ok. Alula akui kalau Alula memang tidak tahu malu karena terus mendekati kak Aksa walaupun kak Aksa sudah sering menolak Lula. Tapi kakak juga ngga berhak mengatakan kalau Lula egois dan murahan. Lula berbuat seperti ini, karena Lula berharap kalau kak Aksa mau sedikit membuka hati kakak untuk Lula.” Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“ Tapi karena ulahmu ini semua orang salah paham padaku. Apa kamu pikir dengan mengatakan kalau kita sudah berpacaran akan merubah perasaanku padamu, ngga la. Kamu salah, justru aku semakin menganggapmu wanita yang egois. Karena kamu pun ngga memperdulikkan perasaan orang lain. Aku ingin acuh dengan pandangan orang. Tapi ternyata ngga semudah itu La, aku datang kemari benar-benar ingin menuntut ilmu. Tapi kenapa semenjak kamu ada, kamu mempersulit hidupku la, kenapa. Kenapa harus aku yang kamu ganggu. Masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa mencintaimu dan ingin dikejar cintanya olehmu. Tapi itu bukan aku la, bukan aku. Jadi aku mohon berhentilah membuatku seperti sekarang.”
“ Kak Aksa pun harus tahu, kalau Lula disini pun korban. Lula ngga tahu apapun tentang berita itu kak. Lula ngga tahu siapa yang menyebarkan foto dan menyimpulkan kita berpacaran. Lula benar-benar ngga tahu kak. Tadi Lula datang ke ruangan kak Aksa, karena Lula mau mengatakan hal ini.” Bela Lula.
“ Anggap saja itu bukan kamu, ok anggap saja kamu disini pun korban. Tapia pa tadi yang aku dengar. Apa itu juga aku salah dengar, apa tadi kamu pun korban.” Balas Aksa.
“ Untuk masalah tadi, Lula minta maaf kak. Lula berbuat seperti itu karena Lula ngga suka dengan sikap gadis itu yang terlihat centi dan berpura-pura sakit hanya untuk menemui kakak. Lula ngga suka, jadi Lula asal bicara aja.”
“ Terus apa bedanya gadis itu denganmu. Kamu ngga ada hak melakukan itu la, kamu sebaiknya ngga ikut campur. Kamu disana hanya membantu pekerjaan ngga lebih dari itu. Justru dengan ucapanmu tadi, kamu sudah mengacaukan semuanya dan membuat kesalah pahaman baru. Masalah di kampus saja belum selesai, kenapa harus kamu tambah lagi la.” Balas Aksa yang terlihat frustasi.
“ Apa Lula sebegitu menjijihkan sampai kak Aksa ngga bisa membuka hati untuk Lula. Lula akui memang Lula wanita yang ngga tahu malu, karena mengemis cinta pada kak Aksa. Tapi Lula benar-benar baru merasakannya sekarang kak, Lula pun ngga mengerti dengan perasaan Lula sekarang karena Lula baru merasakannya. Sebelumnya Lula ngga pernah merasakan ini pada laki-laki manapun. Dan hanya kak Aksa yang mampu membuat hati Lula begetar setiap menatap kak Aksa. Dan Lula pasti selalu bahagia setiap Lula bisa melihat wajah kak Aksa. Tapi Lula ngga menyangka kalau jatuh cinta yang Lula rasakan ini telah membuat laki-laki yang Lula cintai justru membenci Lula.”
“ Aku menghargaimu karena kamu seorang wanita. Aku menghargaimu karena kamu cucu dari atuk Fadhil. Aku tidak ingin mengecewakannya, dia sudah begitu baik padaku, tidak mungkin aku menyakitinya dengan menyakiti cucunya. Maka dari itu la aku mohon dengan sangat padamu, berhentilah berulah karena tidak mungkin bagiku untuk bisa membuka hati untukmu. Kamu hanya aku anggap sebagai wanita yang ku kenal dan cucu dari atuk Fadhil, ngga leboih dari itu. Aku minta maaf mungkin perkataanku padamu sudah benar-benar kasar dan tidak sopan. Tapi aku benar-benar tidak suka dengan semua sikapmu terhadapku. Aku disini tidak ingin mencari musuh la. Aku datang kemari dengan baik, maka kelak jika aku kembali pun aku ingin dengan baik. Aku tidak ingin memiliki kenangan buruk disini.”
“ Lula benar-benar minta maaf pada kak Aksa, karena Lula sudah mengganggu hidup kak Aksa. Mulai sekarang Lula ngga akan ganggu kak Aksa lagi. Lula minta maaf karena sudah egois, sudah menjadi w************n di mata kak Aksa. Lula janji Lula akan selesaikan kesalah pahaman yang sudah mencemarkan nama baik kak Aksa. Jadi nama kak Aksa ngga akan pernah jelek di mata mahasiswa lain. Karena disini memang semua salah Lula, Lula lah yang mengawali kekacauan di hidup kak Aksa. Sekali lagi, Lula minta maaf.” Ungkap Alula yang sudah terus menerus mengeluarkan air matanya. Sebelum pergi, Alula berusaha menampilkan senyuman lukanya pada Aksa. Dia benar-benar sakit karena cintanya bukan membuat dirinya bahagia justru membuat dirinya sakit seperti sekarang. Apalagi dia telah membuat laki-laki yang ia cinta membenci dirinya.
Setelah Alula pergi, Aksa langsung menghela nafas dan bingung dengan keadaan sekarang. Dia merasa lega karena Lula mau berhenti mengganggunya. Tapi dia pun merasa kalau kata-katanya pada Alula sudah keterlaluan, apalagi Aksa tahu kalau Alula bukanlah seorang gadis yang kuat seperti yang orang lain lihat.