Setelah perdebatan Aksa dan Alula dua bulan yang lalu akhirnya Alula membuktikan kata-katanya pada Aksa. Dia benar-benar menjauhkan diri dari Aksa baik di kampus maupun di kampung. Bahkan Alula sudah menghentikan berita yang tersebar antara mereka berdua, dia mencari orang yang menyebarkan gambar dan berita tersebut. Kemudian Alula pun menyuruh orang tersebut untuk meluruskannya.
Aksa pun merasa lega karena Alula melakukan apa yang dia katakana. Aksa pun hampir tidak pernah lagi melihat Alula di sekitarnya. Ternyata setelah perdebatan mereka Alula pergi dari kampung Temu Jumpo. Dia kembali ke Kuala Lumpur, dan mengatakan pada atuknya kalau dia kembali karena dia merasa terlalu jauh jarak dari kampung dan kampus. Hal itu membuatnya sulit untuk fokus pada kuliahnya. Maka dari itu, atuk Fadhil mengizinkan Alula untuk kembali ke Kuala Lumpur.
Walaupun mereka sudah tahu kalau Alula dan Aksa tidak berpacaran. Tapi mereka heran karena sekarang Alula tidak lagi sering berkunjung ke kelas ataupun perpustakaan untuk menemui Aksa. Banyak yang bertanya pada Aksa, namun Aksa tidak terlalu menanggapinya. Bahkan sekarang Aksa mendengar dari beberapa temannya yang mengatakan kalau sekarang Alula sedang menjalin hubungan dengan beberapa orang lelaki.
“ Sa.” Panggil
“ Apa.”
“ Apa awak tak jealous.”
“ Maksud awak.”
“ Sekarang, Lula berganti lelaki lagi.”
“ Terus apa hubungannya dengan saya.”
“ Siapa tahu saja awak jealous. Saya hanya beritahukan pada awak.”
Setelah melihat reaksi Aksa yang terlihat tidak suka di sangkut pautkan dengan hubungan Alula dan kekasih barunya pun teman Aksa langsung pergi. Aksa hanya benar-benar malas, karena setiap Alula menjalin hubungan baru, pasti mereka selalu menyangkut pautkannya dengan Aksa.
“ Sabar sa, sabar.” Ucap Zaki yang tiba-tiba menghampirinya.
“ Heran deh aku Zak, yang pacaran siapa kenapa bawa-bawa aku segala sih. Kan mereka udah pada tahu kalau aku dan Lula ngga ada hubungan apapun. Jadi kenapa sih mereka harus tanya ke aku tentang Alula.”
“ Ya mungkin mereka mengatakan itu, karena mereka perhatian sama kamu Sa, siapa tahu hatimu terluka melihat Alula dengan kekasihnya.”
“ Astagfirullah, apa kamu mau sama-sama seperti mereka juga.”
“ Sorry sa. Q hanya bercanda.” Ucap Zaki.
“ Habis ini kamu ada acara apa Sa.”
“ Aku mau ada acara Zak. Di kampung mengadakan acara jadi aku pun harus berpartisipasi.”
“ Owh gitu, aku kira kamu ngga ada hal. Aku ingin ajak kamu jalan-jalan.”
“ Sorry ya Zak. Lain kali aja. Insyaallah aku bisa.”
“ Ok deh.”
***
Setelah pulang dari kampus Aksa langsung pulang untuk mengikuti acara di kampung Temu Jumpo. Hari ini di kampung mengadakan acara untuk menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Jadi selaku warga yang tinggal di kampung itu apalagi dirinya lumayan dekat dengan atuk Fadhil. Maka, dia pun ikut andil dalam acara tersebut.
“ Tuk.”
“ Ada apa Sa.”
“ Apa atuk baik-baik saja.” Tanya Aksa yang khawatir ketika melihat wajah atuk Fadhil yang pucat dan terlihat kelelahan.
“ Ngga kok sa. Atuk Cuma kelelahan saja. Kamu ngga perlu khawatir.” Jawab atuk yang langsung mengelak dan mengataka kalau dirinya baik-baik saja.
Namun baru saja mengatakan itu, atuk Fadhil yang akan berdiri tiba-tiba saja pingsan. Hal itu mengundang kekhawatiran semua warga. Dengan cepat atuk Fadhil langsung dilarikan ke puskesmas. Tapi, setelah di periksakan kondisi atuk Fadhil tidak bisa di tangani oleh puskesmas karena peralatan yang belum memadai. Dan keadaan atuk Fadhil pun belum sadar.
Dengan menggunakan mobil warga Aksa dan beberapa warga pun membawa atuk Fadhil ke rumah sakit yang ada di kota.
“ Dok, kita langsung hubungi saja cucunya.” Ucap Salah satu warga. Aksa sedikit berpikir ketika warga menyuruhnya untuk menghubungi Alula. Tapi mau bagaimanapun Alula harus tahu keadaan atuknya, maka Aksa pun mengesampingkan hal yang sedang terjadi diantara mereka berdua.
“ Ok, nanti setelah sampai di rumah sakit saya akan langsung menghubungi Alula, cucu atuk Fadhil.
Sesampainya di rumah sakit atuk Fadhil langsung di periksa di IGD oleh doktor rumah sakit. Semua warga pun terlihat cemas menunggu kabar dari dokter tentang keadaan atuk Fadhil. Karena bagi mereka atuk Fadhil bukan hanya sekedar pemimpin yang memimpin kampung Temu Jumpo, dia salah satu orang yang do hormati karena kebaikan serta jiwa penolongnya yang begitu besar. Banyak yang berutang budi akan kebaikan atuk Fadhil, maka saat tahu keadaan atuk Fadil seperti sekarang mereka benar-benar sedih dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada atuk Fadhil.
“ Bagaimana dengan keadaan atuk saya dok.” Tanya Aksa ketika melihat doktor yang menangani atuk Fadhil keluar dari IGD.
Aksa pun mendengarkan penjelasan dokter dengan cermat. Atuk Fadhil mengalami serangan jantung ringan dan gula darah atuk Fadhil pun sangat tinggi maka dari itu atuk Fadhil disarankan untuk menginap di rumah sakit sampai keadaannya stabil.
Setelah Aksa mengurus semua administrasi dan kamar rawat atuk Fadhil, dia pun kembali teringat kalau dirinya belum memberitahukan keadaan atuk Fadil pada Alula. Aksa pun menggunakan ponsel atuk Fadhil untuk mengabari Alula.
“ Halo, Assalamualaikum. Ada apa tuk.”
“ Waalaikumsalam.”
“ Siapa awak, kenapa ponsel atuk saya ada pada awak. Dimana atuk saya.”
“ Aku Aksa la.”
“ Kamu, kenapa kamu telfon pakai nomor atuk.”
“ Aku memang sengaja pakai ponsel atuk untuk mengabari kamu la.”
“ Ngabarin apa kak, terus atuk sekarang dimana.”
“ Atuk sakit. Tadi saat ada acara di kampung tiba-tiba atuk pingsan.”
“ APA.”
“ Terus sekarang gimana keadaan atuk, dia sekarang dimana.”
“Atuk sampai sekarang belum sadarkan diri. Dia aku bawa ke rumah sakit la. Karena aku tahu pasti atuk butuh untuk rawat inap. Jadi aku langsung membawanya ke rumah sakit.”
“ Ok aku akan langsung kesana. Tolong jagain atuk dulu ya kak sampai Lula sampai disana. Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Aksa dapat mendengar kekhawatiran Alula ketika ia mendengar kabar tentang atuknya. Apalagi sekarang dia hanya memiliki atuk Fadhil,. Walaupun Alila terlihat cuek dan acuh pada atuk namun dia tahu kalau kasih sayang Lula pada atuknya benar-benar besar.
***
Semua warga yang membawa atuk Fadhil ke rumah sakit pun telah pulang. Dan kali ini hanya tinggal Aksa yang masih menunggu atuk Fadhil. Sekitar satu jam setelah Aksa menelfon Alula akhirnya dia pun tiba di rumah sakit. Dan ketika Alula masuk kedalam ruangan atuk Fadhil, dia langsung saja memeluk atuk Fadhil sambil menangis tanpa memperhatikan kalau di ruangan itu masih ada Aksa.
“ Atuk, kenapa atuk sampai bisa seperti ini. Maafin Lula karena ninggalin atuk. Lula ngga mau kehilangan atuk. Hanya atuk yang Alula pula, Lula mohon jangan pernah tinggalkan Lula. Lula sayang atuk, Lula butuh atuk.” Ungkapnya sambil mendekap atuk Fdhil yang belum sadarkan diri.
Aksa melihat itu pun hanya diam, dia tidak ingin mengganggu Alula yang saat ini pasti sedang bersedih. Setelah, Alula mengungkapkan perasaan sedihnya pada atuknya yang belum sadar, akhirnya pun menyadari kalau di ruangan itu dia tidak sendirian. Disana ada Aksa yang berdiri di seberang dia. Alula pun langsung melepaskan pelukannya pada atuknya kemudian menghapus air matanya. Dia tidak ingin Aksa melihat dirinya yang lemah dan cengeng.
“ Makasih ya kak, karena udah bawa atuk kesini.” Ucap Alula.
“ Sama-sama la.”
“ Terus apa kata dokter, kenapa sampai sekarang atuk belum sadarkan diri.” Tanya Alula.
Kemudian Aksa menjelaskan secara detail keadaan atuk Fadhil pada Alula. Setelah mengetahui keadaan atuknya, Alula pun semakin khawatir jika meninggalkan atuknya lagi sendirian. Namun Alula terpaksa melakukan itu, karena dia tidak ingin mengingkari ucapannya untuk menjauhkan diri dari Aksa. Karena baginya, selama dirinya masih berada di kampung untuk tinggal dengan atuk Fadhil, maka semakin sulit baginya untuk bisa melupakan Aksa, laki-laki yang tanpa ia sadari sudah masuk kedalam hatinya, dan satu-satunya laki-laki yang bisa menggetarkan hatinya setiap Alula melihatnya.
“ Tapi kamu tenang aja, Insyaallah besok pagi atuk sudah sadar, ini hanya pengaruh obatnya aja la.”
“ Iya, Lula paham. Sekali lagi makasih kak. Biar sekarang gentian Lula yang jagain atuk.”
“ Ok kalau gitu aku keluar dulu. Assalamualaikum.” Saalam Aksa yang langsung keluar dari ruangan atuk Fadhil.
“ Waalaikumsalam.” Balas Alula yang mencoba mengontrol dirinya, karena ia tahu sebenarnya sekarang dirinya benar-benar gugup karena bertemu lagi dengan Aksa. Tapi mau bagaimanapun Alula harus terlihat biasa saja di depan Aksa.
***
Keesokan harinya ketika Alula baru bangun karena mendengar adzan subuh dia terkejut ketika melihat atuknya yang sedang memandangi dirinya.
“ Astagfirullah, atuk. Ya Allah atuk bikin Lula terkejut. Atuk udah sadar, kenapa atuk ngga bangunin Lula.” Ungkapnya yang terkejut sekaligus senang karena atuknya sudah sadar.
“ Atuk ngga mau ganggu tidur Lula, yang keliatan nyenyak. Jadi atuk biarkan nunggu Lula bangun sendiri.” balas atuk Fadhil
“ Kalau begitu, Lula panggil dokter dulu ya tuk.” Ucapnya yang akan berjalan tapi langsung di cekal oleh atuknya.
“ Nanti saja la, sekarang kan sudah adzan subuh jadi sebaiknya kamu shalat aja dulu.” Balas atuknya.
“ Tapi tuk.”
“ Utamakan shalat dulu la. Insyaallah atuk baik-baik saja.” Balas atuknya.
Akhirnya Alula menuruti ucapan atuknya yang langsung menunaikan ibadah shalat subuh. Seusai menunaikan shalat subuh, Alula yang tadinya akan keluar memanggil dokter pun tertunda lagi karena atuknya memanggilnya.
“ La.”
“ Iya tuk, kenapa apa ada yang sakit.” Tanyanya, dan atuknya langsung menggeleng. “ Terus atuk kenapa.”
“ Lula ngga pernah meninggalkan shalat wajib kan.” Tanya atuknya. Alula pun diam sesaat sambil memandang atuknya. Kemudian tangan Alula menggenggam tangan atuknya.
“ Alula akan selalu ingat ucapan atuk, senakal apapun Alula, sesibuk apapun Alula, semalas apapun Alula dan sebanyak apapun dosa Alula tapi Alula tetap ngga boleh meninggalkan shalat. Karena Shalat itu adalah hal yang paling utama bagi kita sebagai umat muslim. Jika Alula ingin berkumpul dengan papa dan mama, maka jangan pernah tinggalkan hal yang paling utama itu.” Ungkap Alula yang selalu ingat akan nasehat atuknya.
“ Alhamdulillah kalau Alula selalu ingat pesan atuk, oh iya la. Kemarin siapa yang membawa atuk kesini.” Tanya atuk.
“ Doktor Aksa tuk.”
“ Terus sekarang dia dimana.” Tanya atuk.
“ Dia udah pulang semalam.”
“ Owh, Atuk jadi ngga enak ngrepotin Aksa.”
“ Makannya lain kali kalau memang atuk lagi ngga sehat jangan di paksain buat melakukan hal-hal yang berat. Atuk itu udah perlu istirahat, atuk ngga bisa lagi banyak aktivitas seperti kemarin-kemarin. Dan kalau ada apa-apa atuk juga harus telfon Alula, Alula ngga mau hal seperti ini terjadi lagi sama atuk.”
“ Atuk senang kalau mendengar cucu atuk khawatir seperti ini, itu tandanya Lula sayang ke atuk.”
“ Ya jelas Lula sayang ke atuk. Ya udah Alula keluar dulu. Lula mau panggil doktor.” Ucapnya yang langsung keluar dari kamar atuknya.
Betapa terkejutnya Lula ketika keluar dari kamar atuknya, dia melihat sosok yang dia pikir sudah pulang dari semalam.
“ Kak Aksa.”
“ La.” Aksa pun langsung berdiri.
“ Kak Aksa dari semalam ngga pulang.” Tanya Alula dan Aksa pun menggeleng.
“ Iya, aku memang semalam belum pulang. Aku khawatir sama keadaan atuk Fadhil. Sekarang keadaannya gimana la.” Tanya Aksa.
Alula merasa terpesona dengan tindakan Aksa yang begitu peduli pada atuknya. “ Mmm, Alhamdulillah atuk udah sadar kak. Dan sekarang Lula mau panggil doktor untuk memeriksa keadaan atuk.”
“ Owh gitu, ya udah biar aku aja la. Kamu masuk aja nemenin atuk. Siapa tahu atuk butuh sesuatu.” Ucap Aksa menawarkan diri.
“ Ngga apa-apa kok kak. Biar Lula aja. Sebaiknya kak Aksa pulang aja. Pasti kak Aksa kecapean dari kemarin belum pulang.” Tolak Alula.
“ Itu gampang la, aku bisa pulang nanti. Kamu tenang aja. Yang penting sekarang aku harus benar-benar tahu keadaan atuk, aku akan memastikan dulu kalau atuk sudah benar-benar baik. Kalau gitu aku panggil doktor dulu ya.” Balas Aksa yang langsung pergi meninggalkan Alula yang masih termenung di depan pintu.
“ Gimana aku bisa melupakanmu kalau apa yang kamu lakukan selalu membuat jantungku berdebar seperti ini kak. Apa iya aku benar-benar bisa menghilangkan perasaan cintaku ini padamu. Apa benar, aku harus benar-benar berhenti memperjuangkan rasa cintaku yang baru pertama kali aku rasakan ini.” Ungkap Alula sambil memegangi dadanya yang terus berdebar memandangi Aksa yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.