Aksa dan Alula menunggu di samping atuk Fadhil ketika dia sedang di periksa oleh dokter. Sedangkan atuk Fadhil yang diperiksa justru terus memandangi anak muda yang ada disampingnya itu. Karena baginya, Aksa dan Alula terlihat berbeda tidak seperti dulu ketika Alula tinggal bersama dengannya.
Selesai di periksa, dokter pun langsung memberitahukan keadaan atuk Fadhil yang masih harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Karena keadaannya belum stabil dan masih membutuhkan perawatan dokter. Alula, Aksa dan atuk pun menuruti apa yang di katakana dokter karena itu pasti yang terbaik untuk pasiennya. Setelah dokter keluar, dan di ruangan tinggal mereka bertiga, atuk Fadhil pun kembali merasakan kecanggungan itu.
“ Sa, makasih ya karena kamu sudah membawa atuk kemari. Sehingga keadaan atuk sekarang jauh lebih baik.” Ucap atuk Fadhil.
“ Ya tuk, Aksa pun lega karena sekarang keadaan atuk jauh lebih baik. Tapi Aksa mohon tuk, jangan paksakan diri atuk lagi kalau memang keadaan atuk sedang tidak sehat. Karena itu bisa membahayakan diri atuk sendiri, seperti halnya kemarin. Semua orang kampung yang hadir diacara kemarin benar-benar mengkhawatirkan keadaan atuk.” Balas Aksa yang menasehati atuk Fadhil.
“ Iya.. iya atuk akan dengarkan apa kata dokter. Tapi semua kejadian pasti ada hikmahnya, seperti sekarang karena atuk sakit dan di rawat disini cucu atuk jadi bisa menjenguk dan menemani atuk disini. Tapi kalau atuk sehat, berkali-kali meminta dia menjenguk atuk pasti ngga akan dikabulin sama dia.”
“ Atuk kenapa bicara seperti itu sih. Disini ngga ada yang mau atuk sakit termasuk Lula. Dan benar kata dokter tadi, mulai sekarang atuk harus mengurangi aktivitas atuk yang padat itu. Atuk ngga boleh kecapean lagi, mulai sekarang Lula akan mengecek keadaan atuk.”
“ Gimana kamu mau ngecek keadaan atuk, kan kamu udah ngga tinggal lagi sama atuk.”
“ Ya …. Ya.” Alula pun mulai bingung menjawab pertanyaan atuknya. Dia pun mencuri curi pandangannya pada Aksa.
“ Ya, apa.”
Sebelum menjawab pertanyaan atuknya, Alula pun menghela nafas. “ Ya, mulai sekarang Alula akan kembali tinggal sama atuk. Alula akan mengontrol keadaan atuk sampai atuk benar-benar membaik, baik itu makanan, aktivitas dan yang lainnya.”
“ Alhamdulillah, kalau begitu atuk kan jadi tenang karena ada yang merawat atuk. Inilah salah satu hikmahnya.” Ucap atuk Fadhil.
“ Mmm, tuk kalau begitu Aksa pulang dulu ya. Aksa doakan supaya keadaan atuk semakin membaik dan cepat pulang.” Pamit Aksa.
“ Tunggu sa.”
“ Kenapa tuk.”
“ Kamu pulang naik apa.” Tanya atuk.
“ Naik bus tuk.”
“ Sebaiknya, kamu pulang sama Lula aja. Lula pun sudah semalam disini. Dia juga butuh istirahat.” Saran atuk.
“ Tapi tuk, Lula ngga mungkin ninggalin atuk sendirian disini. Lula mau jagain atuk.”
“ Dengarkan atuk la, atuk disini ngga sendiri. Ada perawat dan dokter. Kalau ada apa-apa mereka akan langsung datang.”
“ Tapi tuk.”
“ Atuk ngga mau kalau sampai kamu ikutan sakit Cuma gara-gara jagain atuk. Kamu pun butuh istirahat la. Jadi sebaiknya kamu pulang ke rumah atuk dan istirahat. Baru nanti siang atau sore kamu datang kesini lagi.”
“ Terus kalau atuk butuh sesuatu gimana. Siapa yang nolongin atuk.”
“ Jangan mencari alasan. Atuk mohon sekarang kamu pulang sama Aksa. Istirahat dulu di rumah.” Atuknya terus memaksa Alula, namun Alula menolaknya terus karena dia merasa kurang nyaman jika sampai dia dan Aksa berada dalam satu mobil lagi.
“ Ok.. ok. Lula akan pulang.”
“ Nah begitu dong la, kan atuk senang kalau Lula nurut begini. Sa kamu ngga masalah kan pulang sama Alula sekalian anterin dia.”
“ Mmm, justru Aksa yang ngga enak tuk buat ikut mobil Alula pulang.”
“ Jangan begitu, Alula ngga masalah kok. Justru atuk berterima kasih ke kamu. Kamu sudah banyak bantu atuk, termasuk mengantarkan Alula pulang dan memastikan keadaannya dia baik-baik saja.”
“ Atuk jangan berlebihan begitu deh, tanpa pulang sama kak Aksa aja Lula bisa kok jaga diri. Nyatanya sampai sekarang Lula baik-baik aja.”
“ Ya kamu memang bisa jaga diri, tapi seringkali buat atuk khawatir.”
“ Udah deh Lula pulang dulu. Kalau Lula ngga pulang-pulang bisa-bisa atuk makin berisik.” Balasnya yang langsung berpamitan pada atuknya begitu juga dengan Aksa dia menyusul Alula keluar dari ruangan atuk Fadhil.
***
Selama perjalanan pulang, Aksa dan Alula tidak ada yang membuka pembicaraan setelah mereka saling bersikeras untuk mengendarai mobil. Tadinya Alula akan mengendarai namun, Aksa langsung menolaknya karena tadi atuk Fadhil meminta dirinya untuk mengantarkan Alula selamat sampai rumah. Jadi baginya ini sudah menjadi tanggung jawab baginya.
“ Jangan terlalu menuruti permintaan atuk kalau memang tidak sesuai dengan hati kakak.” Ucap Alula tanpa memandang wajah Aksa.
“ Maksud kamu.”
“ Kakak bisa saja menolak, kalau memang kakak ngga menginginkan untuk pulang dengan Lula. Jangan selalu mengiyakan keinginan atuk.” Jawab Alula.
“ Aku hanya menghormatinya la, aku minta maaf kalau seumpama jawabanku itu membuat kamu ngga nyaman.”
“ Justru Lula yang ngga enak, karena permintaan atuk ini sudah membuat Alula mengingkari janji Alula sendiri.” Ujarnya.
“ Janji apa la.” Tanya Aksa.
Mendengar pertanyaan itu, Alula langsung memandang Aksa. “ Kak Aksa sedang pura-pura lupa atau bagaimana sih.” Tanyanya.
“ Maksud kamu.”
“ Mulai dari malam dimana kak Aksa minta Lula menjauh maka, Lula berjanji kalau Lula ngga akan mengganggu kehidupan kak Aksa lagi.” Ucap Alula sambil menahan perasaannya yang terluka karena mengingat kejadian di malam itu.
Aksa langsung menghentikan mobilnya ketika mendengar jawaban dari Alula. Jadi benar dugaannya, Alula meninggalkan rumah atuk disebabkan dirinya.
“ Kenapa berhenti, kita kan belum sampai.”
“ Jadi sebab permintaanku kamu keluar dari rumah atuk.” Tanya Aksa. Namun Alula diam. “ Jawab la.” Dan Alula hanya mengangguk. “ Ya Allah kenapa jadi seperti ini, aku memang memintamu untuk berhenti menggangguku dan berharapa akan diriku. Tapi aku ngga memintamu untuk pergi dari rumah atuk sampai membiarkan atuk tinggal sendiri lagi. Padahal saat kamu memutuskan untuk tinggal dengan atuk, dia sudah sangat bahagia la. Atuk terlihat senang karena cucu satu-satunya mau menemaninya, mau tinggal bersama dengannya, tapi sekarang apa la. Hanya karena mau berhenti menyukaiku, kamu sampai harus mengorbankan kebahagiaan atuk.”
“ Iya, Alula pergi dari rumah atuk karena Alula ingin menjauhkan diri dari kak Aksa. Lula di kampus pun terus mencoba menjauh dari kak Aksa. Bahkan Lula sampai dekat dengan banyak lelaki pun itu di sebabkan karena kak Aksa, Lula ingin berusaha melupakan kak Aksa dan melakukan seperti apa yang kak Aksa minta. Tapi apa yang Lula sekarang dapat, Lula ngga bisa berbuat apa-apa karena semua yang Lula lakukan itu percuma, semua itu percuma karena mau bagaimanapun Alula mencoba melupakan kak Aksa tapi hati Alula terus menolak kak, Alula ngga bisa melakukan itu. Hati Alula sudah ada pemiliknya dan pemilik hati Alula itu kak Aksa.”
“ STOP LA.!! Jangan pernah ungkapkan hal konyol itu padaku.” Ujar Aksa yang langsung melajukan mobilnya lagi tanpa meneruskan pembicaraan mereka lagi.
Sesampainya di rumah, Aksa langsung keluar dari mobil Alula.
“ Makasih.”
“ Tunggu kak.” Ucapnya sehingga membuat Aksa menghentikan langkahnya. “ Alula harap kak Aksa bisa berubah dan menarik lagi kata-kata kak Aksa. Karena Alula ngga tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Alula tinggal lagi di rumah atuk. Alula takut kalau Alula tak lagi bisa menahan perasaan ini lagi kak.” Balas Alula, Aksa yang mendengarkan itu pun berusaha acuh, dia kembali melangkah menuju rumahnya.
***
Beberapa hari setelah atuk di rawat di rumah sakit akhirnya dia sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Alula yang sedang memasukkan semua baju atuk pun merasa bingung karena atuk terus memandanginya.
“ Atuk kenapa ngliatin Lula terus.” Tanya Alula.
“ Atuk kan menyuruhmu untuk mengajak Aksa. Kenapa dia ngga datang kesini. Kalau kamu sendiri nanti kamu akan kerepotan.” Tanya atuk balik.
Sebelum menjawab pertanyaan atuknya, Alula langsung menghentikan kegiatannya. “ Dia lagi sibuk. Atuk bisa ngga sih kalau atuk ngga minta bantuan sama kak Aksa. Dia pasti juga punya kesibukan. Jadi please mulai sekarang atuk jangan ngrepotin dia lagi. Lula bisa kok bawa atuk seorang diri.” Balas Alula.
“ Atuk sudah curiga dari awal, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Aksa. Apa kalian berdua sedang ada masalah.”
“ Kenapa jadi nyambung ke situ sih. Lula dan Aksa baik-baik aja kok.”
“ Atuk tahu pasti ada yang kalian sembunyikan dari atuk.”
“ Ngga ada tuk, Lula dan kak Aksa ngga punya masalah apapun. Lula Cuma ngga mau aja ngrepotin kak Aksa terus. Cuma itu kok.”
“ Atuk sudah menganggap Aksa sebagai cucu atuk la. Jadi kan ngga ada salahnya kalau atuk meminta tolong padanya.”
“ Terserah atuk aja deh. Ya jelas Lula ngga suka kalau atuk terus meminta tolong padanya.” Balas Alula yang kembali menyiapkan pakaian atuk Fadhil yang akan di bawa pulang.
***
Sesampainya di rumah, Alula dan atuk sangat terkejut karena ternyata di depan rumah atuk sudah ramai para warga yang ingin menyambut kepulangan atuk.
“ Atuk kan Cuma ketua kampung kenapa penyambutannya udah kaya presiden pulang aja.” Ledek Alula yang justru tertawa melihat penyambutan atuknya.
“ Itu namanya mereka peduli pada atuk la.”
“ Peduli sih peduli. Kalau mereka peduli mulai sekarang mereka juga harus peduli akan kesehatan atuk juga. Dan ingat janji atuk sama Lula kalau atuk akan benar-benar mengurangi aktivitas atuk.”
“ Iya la, atuk ingat kok.”
“ Lula ngga mau kejadian ini terulang lagi.”
Saat atuk dan Alula keluar dari mobil. Beberapa orang langsung mendekati atuk Fadhil dan membantu atuk Fadhil berjalan ke rumahnya. Dan orang itu salah satunya adalah Aksa.
“ Sa, kenapa kamu ngga datang kesana.” Tanya atuk pada Aksa. Dan pandangan Aksa langsung tertuju pada Alula. Karena dia sama sekali tidak tahu kalau atuk menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.
“ Lula kan tadi udah bilang kalau doktor Aksa lagi ada acara.”
“ Mmm, iya tuk tadi di kampus lagi ada acara jadi Aksa lumayan sibuk. Maaf ya tuk ngga bisa jemput atuk.” Ucapnya.
“ Ngga apa-apa sa. Ada Lula, atuk Cuma khawatir kalau Lula tadi kerepotan.” Balas atuk.
Kemudian dia langsung menemui warga yang sudah datang ke rumahnya. Dan banyak warga yang menyiapkan makanan untuk atuk Fadhil.
Sudah satu jam para warga belum juga berpamitan. Alula pun semakin geram karena sekarang atuknya harusnya sedang beristirahat, tapi justru yang dia lihat adalah sebaliknya. “ STOP.” Ucap Alula sehingga membuat para tamu pun diam dan memandang kearahnya termasuk juga atuk Fadhil. “ tak mengurang rasa hormat saya pada pak cik, mak cik. Saya nak minta tolong sebaiknya semua pulang. Kerana atuk saya butuh waktu untuk berehat.” Ucap Alula yang penuh dengan keberanian. Atuk Fadhil merasa tidak enak hati dengan ucapan Alula.
“ Alula stop.”
“ Harusnya atuk yang stop. Atuk butuh masa tuk rehat. Kalau atuk memang peduli pada Lula dan kesehatan atuk maka atuk harusnya ikuti apa kata dokter dan Lula.” Ucapnya dengan suara yang sedikit keras.
Aksa melihat atuk Fadhil merasa tidak enak pada para tetangga pun langsung ikut menenangkan keadaan yang mencanggungkan ini.
“ Maaf pak cik, mak cik. Mungkin maksud Lula, atuk butuh waktu untuk berehat karena dia memang kondisi atuk Fadhil belum benar-benar baik. Jadi saya selaku doktor pun menyarankan begitu.” Ucap Aksa dengan nada yang lembut sehingga tidak menyinggung perasaan para warga kampung.
Akhirnya setelah mendengar nasehat Aksa para warga pun pulang ke rumah. Ada sebagian yang membersihkan rumah atuk karena sisa-sisa makanan. Atuk Fadhil pun langsung di tuntun oleh Aksa untuk masuk kedalam rumah. Didalam dia melihat Alula yang sedang duduk dengan wajahnya yang masam.
“ Atuk benar-benar ngga suka dengan ucapan Alula yang benar-benar lancang.” Balas atuk.
“ Atuk yang ngga pernah mau dengerin Lula. Lula bicara seperti itu karena Lula peduli.”
“ Tapi tadi Alula ngga sopan bicara seperti itu.”
“ Tuk, Aksa mohon atuk tenang jangan emosi seperti ini. Karena ngga baik juga untuk kondisi atuk Fadhil. Sebaiknya sekarang atuk istirahat. Karena apa yang Alula ucapkan benar. Atuk butuh waktu untuk istirahat.” Akhirnya atuk pun mengikuti apa yang Aksa ucapkan.