Selama Alula di rumah atuknya dia benar-benar sangat menjaga keadaan atuknya. Sampai Alula mencarikan atuknya perawat yang mau merawat atuknya, disaat dirinya sedang kuliah. Atuk Fadhil pun cukup bahagia karena melihat perhatian yang Alula curahkan padanya, dan untuk masalah beberapa hari yang lalu ketika atuk baru pulang dari rumah sakit Alula tetap mendapat nasehat yang dalam. Terlebih lagi sekarang pandangan orang kampung kepadanya. Mereka terlihat tidak suka ketika bertemu dengan Alula, namun tetap saja Alula bersikap cuek dia tidak peduli dengan pandangan orang lain.
“ La.”
“ Iya tuk.”
“ Apa hari ini Lula ada kuliah.”
“ Ngga tuk, makannya kak Nina hari ini ngga datang.”
“ Owh, terus yang ngantar atuk ke puskesmas siapa dong.” Tanya atuk Fadhil. Alula pun kembali berpikir, karena dia sebenarnya enggan untuk berjumpa dengan Aksa. “ La.”
“ Mmm, iya Lula akan anterin atuk ke puskesmas.” Balas Lula.
Akhirnya Alula mengantarkan atuknya pergi ke puskesmas untuk mengontrol keadaannya. Atuk pun sudah meminta izin pada dokternya yang ada di rumah sakit untuk memeriksakan dirinya di puskesmas yang ada di kampungnya. Dan dokter pun mengizinkannya, terlebih lagi dokter atuk mengenal beberapa dokter yang bekerja di puskesmas tersebut.
“ Tuk kok ramai banget sih.” Tanya Alula yang memang heran melihat keramaian di puskesmas.
“ Tiap hari juga begini la.”
“ Tapi ini beda dari dulu tuk. Kok diliat-liat sekarang yang sakit seringan anak muda ya.” Ujarnya yang mulai curiga dengan keadaan sekarang. Dia menebak kalau kejadian seperti dulu terakhir dia bertengkar dengan Aksa. Alula pun langsung terlihat kesal, karena dugaannya benar. Kalau sekarang banyak yang mengantri untuk di periksa oleh dokter Aksa.
“ Benar kan dugaan Lula, mereka tuh ngga sakit tuk. Mereka Cuma pura-pura sakit aja biar bisa ketemu sama cari perhatian ke dokter Aksa.” Ucap Alula dengan emosi.
“ Namanya juga anak muda la, pasti ada-ada aja sikapnya. Terlebih lagi kalau liat cowok ganteng.”
“ Tapi mereka ngga tahu malu banget tuk. Masa mereka rela bolos sekolah hanya demi ketemu sama dokter Aksa.”
“ Sudah la, biarkan saja. Kalau gitu atuk menemui dokter Emir dulu ya.”
“ Hmmm, Alula tunggu di depan aja.” Jawabnya yang langsung keluar dari dalam puskesmas. Dia tidak ingin terpancing emosi lagi ketika melihat banyak wanita yang mengaggumi sosok laki-laki yang ia cintai.
“ Alula.” Panggil kak Alya.
“ Kak Alya.”
“ Kenapa Lula ada dekat sini.”
“ Owh, Lula antar atuk periksa kak.”
“ Owh, biasanya Nina yang antar atuk.”
“ Ya, hari ini kak Nina libur jadi Lula yang antar atuk.” Ucapnya namun pandangan Alula tidak bisa berhenti melihat kearah anak-anak muda yang sedang mengoles wajah mereka ketika ingin bertemu dengan dokter Aksa. Dan ternyata kak Alya menyadari tentang tatapan Alya itu. Dia juga dapat rasa kalau Alula memiliki hati dengan doktor Aksa, terlebih lagi dengan kejadian dulu.
“ Jangan hiraukan anak-anak muda itu la, tenang saja doktor Aksa sama sekali tak pernah menatap mereka. Awak kan tahu doktor Aksa macam mana.” Ucap kak Alya.
“ Apaan sih kak, Lula tak peduli dengan masalah tu.” Balas Alula yang masih mengelak.
“ Iya … iya kak hanya beritahu saja. Siapa tahu Alula akan bertindak macam dulu.” Balas kak Alya.
“ Kak.”
“ Kak Alya hanya bercanda la. Kalau begitu kakak masuk dulu ya la.” Balasnya Alula pun mengangguk.
Alula menunggu atuk Fadhil sudah hampir satu jam, dan selama itu pula dia menahan rasa cemburunya melihat gadis-gadis itu tidak berhenti menggoda Aksa. Tapi yang membuat Alula lega, setiap gadis-gadis itu keluar dari ruangan Aksa pasti wajah mereka terlihat kecewa. Karena Alula tahu kalau Aksa pasti tidak merespon gadis-gadis itu.
“ Ya Allah, apa iya Alula akan bisa melihat semua ini terus. Sampai kapan Alula bisa menahannya. Disaat Alula ingin menyerah kenapa kita harus dipertemukan lagi. Apa iya ini tandanya Alula harus kembali berjuang untuk mendapatkannya.” Batin Alula sambil menatap pintu ruangan Aksa yang tertutup.
***
Hari ini Aksa lumayan lelah dalam memeriksa keadaan pasien. Namun bukan hanya itu, tapi sikap gadis muda-muda tadi pun membuatnya muak. Karena mereka semua hanya berpura-pura sakit demi bertemu dengannya. Mungkin jika satu atau dua orang Aksa masih memakluminya namun hari ini sudah benar-benar berlebihan. Maka dari itu setiap gadis yang masuk, Aksa akan langsung bertindak tegas. Karena dia tidak ingin para gadis itu mempermainkan kesehatan hanya karena menganggumi sosok laki-laki.
Dan hari ini, Aksa juga harus mengantarkan surat yang berisi tentang kegiatan dan jadwal kesehatan yang akan di laksanakan di kampung ini. Dari puskesmas sudah banyak memprogramkan banyak kegiatan untuk membuat warga kampung hidup lebih sehat dan baik. Walaupun mereka orang-orang yang tidak terlalu paham tentang dunia kesehatan tapi tetap setiap orang harus mengenal berbagai hal yang menyangkut kesehatan untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarganya.
Setelah kejadian-kejadian di masa lalu, memang banyak hal yang membuat Aksa merasa canggung untuk bertemu dengan Alula. Karena dia tahu kalau sekarang Alula sedang mencoba menghindarinya. Tapi untuk kali ini dia pun tidak bisa menolak atau menghindarinya karena ini salah satu dari tugasnya sebagai dokter.
“ Assalamualaikum.” Salam Aksa ketika ada di depan rumah atuk Fadhil. Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah. “ Assalamualaikum.” Salamnya lagi sambil mengetuk pintu rumah atuk Fadhil.
“ Apa iya ngga ada orang di dalam. Mobil Lula aja terparkir di sini.” Pikirnya.
Aksa pun kembali mengucapkan salam. Tapi tetap saja taka da sahutan dari dalam rumah, sampai akhirnya listrik kampung padam.
“ Astagfirullah, kenapa tiba-tiba padam begini.” Ucapnya sendiri yang terkejut. Ketika dirinya akan mengambil ponsel dan menyalakan senter dia mendengar suara teriakan dari dalam rumah atuk Fadhil.
“ AAAAAAAAAAA”
“ Ya Allah ada apa didalam.” Ucap Aksa yang terkejut karena bukan hanya suara teriakan yang ia dengar, namun dia juga mendengar ada barang jatuh di dalam rumah. “ Apa iya aku harus masuk kedalam.” Pikirnya, namun jiwa penolongnya pun kembali muncul. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk di dalam rumah atuk Fadhil. Dengan langkah hati-hati Aksa pun masuk kedalam rumah atuk Fadhil. Dia sedikit kesulitan mencari asal suara tersebut karena dalam keadaan gelap.
Ketika Aksa sampai di dapur, dia hampir saja terjatuh karena menendang sesuatu.
“ Ya Allah, kenapa barang-barang ini pada jatuh.” Ucapnya. Kemudian dia mengarahkan senternya kearah barang-barang yang jatuh. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang yang tergeletak di lantai.
“ Astagfirullah, ya Allah.” Aksa langsung saja berlari, dia langsung mengangkat kepala Alula. Namun Aksa ragu, karena Alula baru saja keluar dari kamar mandi. Dan pakaian yang dikenakan Alula sekarang yaitu kimono. “Alula… Lula… la.” Panggil Aksa, namun Alula sama sekali tidak merespon. “ Aduh gimana ini. Ngga mungkin aku, angkat dia. Tapi ngga mungkin aku biarin Alula ada disini terus.” Dengan terpaksa, Aksa mengangkat tubuh Lula, tapi dia sedikit kesulitan karena dalam keadaan gelap.
Akhirnya Alula sampai di sofa, Aksa langsung meletakkan Alula di sofa. Tidak lama kemudian, lampu pun menyala.
“ Alhamdulillah, akhirnya lampu menyala.” Ucapnya. “ La … Lula.” Panggilya.
Dan kemudian, Aksa memanggil atuk Fadhil yang dari tadi tidak terlihat. “ Tuk… atuk.” Panggil Aksa, namun tetap tidak ada sahutan. Aksa tidak bisa membiarkan Alula pingsan seperti sekarang. Dia akhirnya mencari kotak P3K, setelah menemukannya Aksa langsung menciumkan Alula dengan minyak kayu putih.
“ La … Lula.” Panggil Aksa. Dan akhirnya Alula mulai mengedipkan matanya. “ Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar.” Ucap Aksa yang lega. Namun Aksa tidak menduha dengan Alula yang langsung memeluk dirinya sambil menangis dengan keras.”
“ La … kamu kenapa. La.” Ucap Aksa bingung harus berbuat apa. Karena Alula memeluknya begitu erat, apalagi dari sikapnya Alula terlihat ketakutan.
“ Ngga, Lula mohon jangan tinggalin Lula. Lula takut.” Ucap Lula berkali-kali.
“ Astagfirullah.” Ucap beberapa orang yang masuk kedalam rumah atuk Fadhil. Aksa dan Alula yang masih berpelukan pun terkejut mendengar suara itu. Dengan cepat mereka berdua langsung melepaskan pelukan itu dan kebingungan dengan situasi sekarang.
“ Apa yang sudah kalian lakukan berdua di rumah ini.” Ucap salah satu warga yang hanya melihat sekilas adegan tersebut.
“ Saya dan Lula ngga melakukan apapun tuk, pak. Kalian salah paham.” Ucap Aksa yang membela dirinya.
“ Macam mana kita bisa salah paham, kalian sudah berbuat zina dengan berduan di dalam rumah, kalian pun bermesra-mesraan seperti tadi. Kalian ini bukan muhrim dan itu dilarang di kampung kita.” Celetuk orang kampung lainnya.
Alula yang masih lemas pun bingung dengan keadaan ini, apalagi dirinya baru sadar jadi dia tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya.
“ Ya Allah pak, saya bersumpah kalau saya dan Alula tidak melakukan apapun. Kalian salah paham saya tadi hanya menolong Alula yang pingsan. Ngga lebih dari itu.”
“ Kamu bilang, kamu menolongnya tapi kenapa harus berpelukan seperti tadi. Dan lihat cara Lula berpakaian.” Balas warga lainnya yang terus saja memojokkan Alula dan Aksa.
Atuk langsung lemas ketika melihat cucu serta orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga tertangkap basah seperti sekarang.
“ Tuk, atuk harus bertindak tegas. Hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Kita harus meneggakkan peraturan yang sudah kita buat. Kampung kita akan tercoreng nama baiknya kalau hal seperti ini di biarkan begitu saja.” Celetuk warga lainnya.
“ Ya Allah, kenapa jadi seperti ini sih. Saya benar-benar tidak berbuat zina pak, tuk. Kalau kalian berkata seperti ini, sama saja kalian menfitnah saya. La, tolong dong beritahukan pada mereka apa yang terjadi pada kita, kamu ngga bisa diam saja seperti ini.” Ucap Aksa yang tidak terima, dia pun mengharapkan penjelasan keluar dari mulut Alula.
“ Gimana Alula mau menceritakannya kak, Alula sendiri saja ngga tahu apa yang terjadi sampai Alula bisa pingsan dan berpakaian seperti ini. Jadi Alula pun ngga tahu apa yang, kak Aksa sudah lakukan pada Lula.” Ungkap Alula sambil menangis dan memeluk dirinya, dia pun malu karena di depan warga dia masih mengenakan pakaian kimono seperti sekarang.
“ Ya Allah la, aku ngga mungkin melakukan hal yang buruk terhadapmu. Tolong la, ini bukan saatnya untuk bercanda. Tolong tuk, atuk harus percaya pada Aksa, atuk tahu kan seperti apa Aksa dan cucu atuk. Kita ngga mungkin berbuat hal yang tidak benar.”
“ Alula kamu masuk kedalam dang anti pakaianmu.” Suruh atuk, dan dengan langkah pelan Alula masuk kedalam kamarnya.
“ Atuk tahu kamu dan Alula anak yang baik dan juga sulit bagi atuk untuk percaya kalau sampai kalian berbuat seperti ini. Tapi disini bukan atuk yang bertindak sa, semua keputusan ada di tangan semua yang hadir disini. Dan disini atuk tidak bisa bertindak sebagai keluarga lagi.” Balas atuk yang sebenarnya sulit mengatakan hal ini di depan Aksa dan para warga. “ Tolong ambilkan surat yang ada di almari itu. Surat yang sudah di sepakati oleh warga kampung ini.” Ucap atuk Fadhil.
Kemudian sebuah map pun di berikan kepada Aksa. Dengan ragu, Aksa mengambil surat tersebut dan membaca isi dari kertas yang ternyata berisi tentang peraturan-peraturan yang sudah di buat dengan persetujuan warga kampung. Dengan mata terbelalak, Aksa membaca dengan cermat salah satu poin di peraturan tersebut.
“Sekiranya ada wanita dan lelaki yang bukan mahram ditangkap berzina atau hendak berzina maka mereka berdua wajib berkahwin. Untuk menjaga nama baik keluarga dan kampung”
“ Ngga mungkin, ngga mungkin Aksa menikahi Lula pak cik, atuk.” Tolak Aksa dengan cepoat setelah membaca point tersebut. Dia tidak terima karena perbuatannya menolong orang menjadi seperti ini.
Alula yang berada di kamar ternyata mendengarkan semua pembicaraan yang ada di luar. Hatinya saat ini benar-benar bimbang, apalagi setelah Aksa menolak untuk menikah dengannya.
“ Ya Allah, Alula ngga bermaksud menfitnah kak Aksa. Alula pun ngga menyangka kalau akan terjadi seperti ini. Tapi jika memang ini salah satu cara Lula bisa memiliki kak Aksa dan membuatnya tetap bersama Lula, maka Lula ngga masalah walau Lula tahu semua ini bukan kesalahan kak Aksa. Kak Aksa tolong maafkan Lula ya, Lula ngga bisa membela apapun kak. Karena menikah dengan kak Aksa adalah salah satu impian Alula. Semoga suatu saat kak Aksa bisa mengerti perasaan Lula.” Batin Lula.