11.00. Mas Adri mulai membuka matanya, menggeliat sebentar dan kemudian dia bangun dan mengambil bajunya yang sebelumnya berserakan di lantai. Dia melihatku yang masih terlelap, tersenyum bahagia, karena pada akhirnya bisa mendapatkanku, berc***a habis-habisan denganku pula, gadis yang sudah lama sekali dia incar dan dicintainya. “Bangun Sayang, ayo bangun.” Dia mencium bibirku sekilas dan membelai lembut puncak kepalaku. Aku mulai mergerjap-ngerjapkan mataku, merasa terganggu dengan apa yang dilakukannya. Aku menggeliat. “Ayo Sayang.” Dia mulai usil memilin-milin ujung put**gku. “Enghhh.” Desahan otomatis lolos dari mulutku dan mataku langsung terbuka. “Mas, m***m. Iiiihhhh.” Aku segera menarik selimut dan menutupi area d**aku. “Mau mandi bersama atau ....” Dia mengerling nakal.

