Lily mengenakan dress selutut berbahan suede dengan sentuhan pita besar pada bagian punggung yang sedikit terbuka itu. Meski itu nampak cantik pada Lily, namun Reiga sendiri merasa kurang nyaman saat semua orang memandangi gadis di sampingnya dengan pandangan memuja.
" Rei, anaknya ibu Ariani yang mana sih?"
" Saya nggak tahu. Tapi ingat, kita harus kelihatan siap menikah."
" Caranya?"
" Seperti ini" ucap Reiga langsung memeluk pinggang Lily lalu mengecup pelipisnya dengan mesra.
" Jangan protes. Ada ibu Ariani di belakang kita" bisik Reiga lagi ketika melihat sosok Ariani dari pantulan kaca jendela.
" Pak Reiga..." sapanya.
" Ibu Ariani.. Pestanya meriah sekali." ucap Reiga sambil mengecup punggung tangan wanita blasteran di hadapannya itu.
" Tunangan bapak cantik sekali. Andai masih single, maka saya senang hati untuk mengenalkan sama anak saya. Ah, itu dia. Vik, kemari sebentar sayang. Mami mau kamu kenalan sama teman mami." tutur Ariani pada seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip Ariani namun dalam bentuk lebih maskulin.
" Ini pak Reiga, dan tunangannya Zelykha"
" Viko. Senang ketemu kalian." jawab pria tersebut dengan ramah dengan berjabat tangan.
" Vik, tau nggak? Mereka ternyata nggak lama kenalan trus langsung mutusin untuk tunangan. Baguskan Vik?"
" Oh ya? Selamat kalau gitu. Tapi sayang saya tidak seberuntung kalian. Tidak ada yang mau sama saya." ucap Viko bercanda.
" Makanya kamu cari jodoh cepet dong sayang. Punya pacar apalagi tunangan itu enak lho Vik. Ada yang manjain, ada yang ngurusin, ada teman ngobrol, pokoknya satu paket lengkaplah. Bener kan pak?"
Reiga hanya tersenyum ramah sementara Lily mencubit lembut lengan berototnya.
" Mi, emang nyari pacar atau tunangan itu bisa dengan ketemu di jalan aja? Atau kita nggak sengaja tabrakan di jalan terus langsung bisa jadi tunangan? Seperti di sinetron-sinetron mami. Nggak kan mi... Nggak segampang itu."
Lily tersenyum sambil membelalakkan matanya pada Reiga yang juga mengulum senyumnya.
" Apa anaknya ini peramal?" bisik Reiga.
" Iya, iya. Mami tahu. Tapi kan setidaknya bisa kamu coba"
" Maaf, tapi sebenarnya kami memang ketemu di jalan. Iya kan sayang?" ucap Lily tiba-tiba yang membuat Reiga memaksakan tersenyum.
" Ng...Iya. Benar bu. Kami ketemu di jalan. Dia melempar barangnya sampai terkena motor saya. Akhirnya saya jatuh dari motor, terluka, dan motor saya rusak."
" Really?" tanya Ariani tak percaya dan antusias.
" Iya bu. Sampai akhirnya saya diminta ganti rugi dan sekarang saya malah diminta jadi tunangannya"
" Wah, pak Reiga boleh juga. Udah kayak sinetron aja" ucap Viko.
" Tapi kita emang nggak tahu kapan cinta itu bisa timbul. Dan sekarang lihat kalian berdua, sangat dimabuk cinta" puji Ariani.
Lily dan Reiga lalu saling bertatapan dan terkekeh dengan terpaksa.
" Iya, bu. Reiga memang sangat manis ke saya. Juga saaaaangat manja.Dia bahkan selalu minta saya untuk suapin dia saat makan. " ujar Lily melebih-lebihkan.
Reiga meremas tangan Lily sambil memberikan sedikit tekanan agar Lily berhenti melebih- lebihkan tentang hubungan mereka.
" Oh ya? Wah, ibu nggak nyangka loh orang sesibuk pak Reiga bisa romantis juga. Bahkan malah lebih manja ya kayaknya."
" Iya, bu saya juga tidak menyangka" jawab Reiga dengan wajah kikuknya yang menurut Lily sangat lucu.
" Baik kalau gitu, pak Reiga, Zelykha, silahkan menikmati pesta kecil saya. Sekertaris saya akan ke kantor bapak besok"
Reiga tersenyum puas dengan apa yang ia dengar dari wanita tersebut. Akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang perusahaannya butuhkan.
" Rei... Aku ke toilet dulu ya..." bisik Lily.
" Mau aku antar?"
" Nggak usah, aku bisa nanya sama orang kok"
" Ya udah, aku tunggin disini"
Lily mengangguk dan langsung berjalan menjauhi Reiga yang kini nampak sedang berjabat tangan dengan seseorang.
" Toilet dimana sih?" tanyanya pada dirinya sendiri.
" Lily?" sapa seseorang yang menatap dirinya dengan tatapan tak percaya.
" Kamu...?" tanya Lily pada seorang wanita yang sangat cantik dengan dandanan mencolok itu.
" Kamu ngapain disini?" tanya Lily.
" Aku kan di undang. Kamu sendiri? Jangan bilang kamu juga diundang. Ibu Ariani nggak mungkin kenal sama kamu" jawabnya sambil menatap Lily dari atas ke bawah dengan pikiran seolah tak rela Lily terlihat sangat cantik.
" Kenapa nggak mungkin?" tanya seorang pria tiba-tiba.
" Pak Viko..." ucap Diza.
" Bapak kenal Zelykha?" lanjut Diza.
Diza menatap Lily dengan pandangan mengejek.
" Tentu saja kenal. Dia kan calon istri pak Reiga. Rekan bisnis mama saya. Kami baru saja kenalan."
" Calon istri?" tanya Diza tak percaya karena setahunya dulu ia adalah calon istri dari Devan.
" Iya. Dia calon istri saya. Apa ada yang salah?" tanya Reiga yang kini berdiri di samping Lily dengan gagahnya.
" Kalian saling kenal?" tanya Reiga pada Viko dan Diza.
" Dia karyawan saya. Dan kami kebetulan bertemu tadi ,jadi skalian saya ajak."
Lily mengulum senyumnya mendengar ucapan Viko yang langsung membuat Diza nampak malu.
" Sayang, kamu udah ke toilet?"
Lily menggeleng.
" Aku belum ketemu. Tungguin bentar ya"
" Ya udah, aku antar aja. Pak Viko, kami permisi sebentar"
" Silahkan..."
Reiga lalu berjalan beriringan tepat di belakang Lily dengan tujuan menutupi punggung mulus terbukanya. Entah mengapa melihat hal tersebut Diza merasans sangat kesal.
(" Kok bisa sih Lily dapat pengganti Devan secepat itu? Nggak mungkin deh. Mana orangnya kayak gitu lagi!") batin Diza melihat Reiga yang nampak melindunginya.
***
" Gimana hubungan kamu sama saudara tiri kamu itu?" tanya Reiga ketika mereka sedang berkendara untuk pulang ke rumah mereka.
" Yeah, seperti yang kamu lihat. Dia nggak suka sama aku."
" Apa itu mengganggu kamu?"
Lily tersenyum.
" Ya nggaklah. Buat apa? Aku nggak pernah terganggu denga kesan ataupun sikap orang ke aku. Ya kalau mereka baik ke aku, aku akan merasa kalau itu yang mereka rasain untuk aku. Tapi kalaupun mereka jahat, ya aku juga merasa mungkin menurut mereka aku emang pantas digituin. Dan itu hak mereka kan? Selama aku sendiri nggak pernah menjahati mereka."
Lily lalu membenarkan posisi duduknya.
" Cuma nih ya, yang aku nggak ngerti, kenapa mereka nggak suka sama aku. Padahal aku sama skali nggak pernah ngapa-ngapain mereka. Saking nggak maunya, aku malah nggak banyak ngobrol sama mereka. Tapi tetap aja mereka seolah kesel sama aku."
Reiga melirik Lily sekilas.
" Masalahnya bukan sama kamu. Merekalah yang bermasalah."
( " Terlalu naif...") lirih Reiga dalam hati