Azan magrib sudah berkumandang, Ammar telah siap dengan sarung dan kopiahnya. Sementara Davika masih asyik duduk di balkon kamar mereka sambil memainkan ponsel. “Dav, ayo Shalat dulu,” ucapnya sambil menepuk bahu istrinya. “Iya, sebentar,” sahutnya tanpa menoleh. Ammar kembali masuk dan mulai duduk di atas sajadah, sambil berzikir menunggu Davika menyusulnya agar segera bisa melaksanakan Shalat berjamaah. Sepuluh menit berlalu, Davika tak kunjung masuk, sementara waktu shalat magrib sudah hampir habis. Ammar bangkit dan kembali mendatangi Davika. Gadis itu masih dalam posisi yang sama di tempat semula. Mata dan tangannya masih asyik pada benda pipih berlayar jernih itu. “Davika, ayo!” suaranya sedikit meninggi, emosinya tersulut. “Iya, iya, kamu duluan aja deh,” ucapnya tanpa menatap Am

