"Kamu kenapa?" Ammar bangkit dengan cemas. Memapah Davika yang masih meringis kesakitan dan membawanya ke ranjang mereka. "Perut aku sakit banget, Mar. Kayaknya diare deh." Gadis itu terus meringis dan mengelus-elus perutnya yang sakit sambil merebahkan diri. "Kita ke dokter, atau perlu aku cariin obat?" Ammar tampak kebingungan. Ini hari pertamanya berperan sebagai seorang suami dan mendapati hal semacam ini, tentu saja dia bingung dan khawatir. Davika menggeleng, "nggak perlu, mungkin aku cuma kecapekan dan salah makan aja. Nanti juga sembuh kalau istirahat." Ammar mengangguk setuju. "Ya, sudah kalau gitu kamu istirahat, langsung tidur sekarang," ucap Ammar sambil menutupi tubuh Davika dengan selimut. Davika mengangguk-angguk sambil memejamkan matanya. Ammar tampak berpikir sejenak,

