Sejak pagi keadaan di rumah keluarga Ammar telah begitu sibuk, beberapa tetangga datang membantu nenek Siti untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara hari ini. Ya, Ammar beserta kedua kakek neneknya akan datang untuk melamar Davika secara resmi. Ditemani oleh rt dan beberapa tetangga dekat mereka nantinya.
Hati Ammar gugup sekaligus berbunga-bunga, dirinya tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba. Hari dimana tuhan mengirimkan sosok gadis yang ditakdirkan sebagai tulang rusuknya. Semalaman pemuda itu bahkan sulit untuk memejamkan mata barang sekejap saja. Ammar duduk di dalam kamar, memegang erat foto bergambar mendiang ibunya. Pemuda itu telah rapi dengan setelan batik dan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya disisir dengan halus menyamping.
“Ammar.” Sebuah suara lembut menyapa telinganya dan mengembalikannya dari keheningan pikirannya sendiri. Ammar menoleh, sosok tua dengan senyum lembut mirip dengan sang ibu itu masuk. “Ya, nek, ada apa?” jawabnya pada panggilan sang nenek.
“Di luar ada Zafiah, katanya mau ketemu sama kamu,” terang nenek Siti sambil menunjuk arah luar. Ammar hanya mengangguk dan kemudian segera bangkit berdiri dan keluar kamar diikuti sang nenek.
Ammar mendapati Zafiah tengah duduk dengan menautkan kedua jemari tangannya di pangkuan. Gadis itu menunduk, hingga tak menyadari lelaki yang hendak ditemuinya itu telah datang dan berdiri tepat di hadapannya.
“Zafiah,” panggil Ammar, gadis itu lekas mengangkat kepalanya. Menatap dengan tatapan yang Ammar tak mengerti.
“Assalamu’alaikum kak Ammar,” sapanya dengan lembut seperti biasa, namun tak ada senyum indah menghiasi wajah gadis itu seperti yang selalu dia lakukan.
“Wa’alaikum salam, Fiah. Oh iya kata nenek Fiah mau ketemu saya, ada apa?”
“Bisa minta waktu kak Ammar sebentar? Ada yang mau Fiah bicarakan.” Nada suara gadis itu terdengar sedikit bergetar.
“oh, tentu. Silakan.” Ammar mengambil duduk di seberang, berhadapan dengan Zafiah berbatasan meja.
Zafiah menoleh ke kiri dan ke kanan, rumah Ammar cukup ramai oleh beberapa tetangga yang sibuk membantu. “Tapi jangan di sini,” pinta Zafiah masih sambil melihat sekeliling.
Ammar melirik sekilas arloji tua yang melingkar di tangannya, masih ada waktu. Mungkin tak ada salahnya mendengarkan apa yang ingin Zafiah sampaikan. Ammar mengangguk. “Ya sudah, ayo.”
Ammar melangkah ke samping rumah, Zafiah mengekori di belakang layaknya anak kucing yang tak ingin kehilangan jejak induknya. Langkah Ammar terhenti tepat di dekat kolam ikan, memang tempat itu adalah tempat favorit Ammar. Tempatnya kala ingin menyendiri menikmati embusan angin. Namun di tempat itu juga lah kini telah terukir kenangan dengan Davika, saat keduanya sering duduk dan berbicara di sana.
Kini telah terdapat bangku panjang di tepian kolam itu. Ammar membuatnya beberapa waktu yang lalu. Pemuda itu mempersilahkan Zafiah untuk duduk, dan dirinya sendiri memilih duduk di batu besar yang berada di sekitar rerumputan.
“Ada apa, Zafiah?”
Bukannya menjawab, gadis berhijab yang hari ini mengenakan jilbab lebar berwarna krem itu malah menunduk. Kemudian yang terdengar adalah tangisan lirih yang tersedu. Ammar terkejut, apa yang menimpa putri dari juragannya itu hingga gadis muda itu menangis begitu pilu.
“Zafiah, kamu kenapa? Kamu sakit?” Ammar benar-benar cemas kali ini. Zafiah telah dia anggap seperti adiknya sendiri. Ammar tak ingin sesuatu yang buruk menimpa sosok yang dia anggap adik perempuan itu.
Zafiah mengangkat wajahnya, wajah itu memerah dengan deraian air mata membasahi kedua mata jernihnya dan turun ke pipi. Ada luka yang terlihat dari sorot mata itu, namun Ammar masih belum mengerti apa yang menyebabkan gadis itu bersedih sedemikian rupa.
“Fiah dengar, kak Ammar mau lamaran hari ini?” gadis itu telah memulai. Ammar mengangguk, namun masih meraba ke mana arah pembicaraan Zafiah.
“Sejak kapan kak Ammar dekat dengan mbak Davika?” pertanyaan itu mengandung kecemburuan yang sesungguhnya terdengar jelas bagi siapa pun.
“Sebenarnya belum lama, tapi kenapa kamu tanya seperti itu?”
“Apa kak Ammar mencintai mbak Davika?” Zafiah mengucapkan kalimat tanya itu dengan bibir bergetar. Sesuatu yang sudah jelas, namun Zafiah ingin mendengar langsung dari Ammar.
Ammar bingung harus menjawab bagaimana, perasaannya pada Davika memang tumbuh begitu saja. Cinta? Mungkin memang seperti inilah yang disebut cinta, Ammar tak paham sepenuhnya. Tapi ada getaran di hatinya setiap kali berada di sekitar Davika. Ada debaran aneh yang belum pernah dia rasakan, setiap kali gadis itu tersenyum jantungnya seperti dipompa dengan cepat. Dan Ammar merasakan rindu meski baru beberapa waktu tak bertemu.
Tanpa Ammar menjawab dengan mulutnya, Zafiah sudah tahu apa arti dari kebisuan Ammar itu. Gadis itu semakin terisak, sesak di d**a yang telah dia tahan sejak beberapa waktu lalu saat mendengar bahwa Ammar akan melamar seorang gadis, gadis lain. Bukan dirinya.
“Sebenarnya ada apa, Zafiah? Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu? Dan kenapa kamu nangis seperti ini?”
“Apa kak Ammar benar-benar tidak tahu selama ini? Atau pura-pura tidak tahu?” Ada sorot kecewa dari tatapan mata berair Zafiah.
“Tahu apa, Zafiah?”
Zafiah memalingkan wajah ke arah lain, mengusap air mata yang tumpah itu dengan punggung tangannya, gadis itu tersenyum miris.
“Fiah suka dengan kak Ammar, Fiah pikir selama ini kak Ammar baik terhadap Fiah dan tidak pernah punya hubungan dengan siapa pun karena kak Ammar juga memiliki perasaan yang sama dengan Fiah. Tapi ternyata Fiah salah, Fiah yang terlalu percaya diri.” Gadis itu tersedu, perasaannya yang dia simpan selama bertahun-tahun akhirnya dia tumpahkan juga. Bersamaan dengan rasa sesak karena menyadari bahwa cintanya hanyalah angan kosong belaka, bertepuk sebelah tangan.
Ammar kehilangan kata mendengar pengakuan Zafiah yang secara tiba-tiba. Sesungguhnya bukan Ammar tak tahu gadis itu menaruh perhatian yang lebih padanya selama ini. Namun Ammar tak pernah menyangka perasaan gadis itu terlanjur dalam padanya. Zafiah bukan gadis yang mudah mengungkapkan isi hati, dia adalah gadis yang anggun dan selalu menjaga tutur kata dan perilakunya selama ini. Tapi hari ini Ammar menemukan hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya dari gadis itu. Dengan berani Zafiah mengungkapkan cintanya, menunjukkan kecemburuannya.
“Fiah, maafkan saya, bukannya saya tidak menyukai kamu. Hanya saja, saya menyayangi kamu sebagai seorang adik. Dari dulu selalu seperti itu, dan saya harap tidak akan berubah.” Ammar merasa tidak enak hati, tak menyangka akan menyakiti perasaan Zafiah meski tanpa dia sengaja.
Zafiah menengadah menatap langit, berusaha menahan air mata yang kian deras namun percuma. Rasa sakit dan sesak itu mengerikan, inilah cinta pertama sekaligus patah hati pertama untuknya. Dunianya runtuh, angan-angan gadis muda yang jatuh cinta yang selalu dia hidupkan dalam benaknya hancur seketika oleh kenyataan pahit bahwa pemuda impiannya itu memilih orang lain.
“Apa karena Fiah Cuma gadis kampung? Tidak modern seperti mbak Davika? Tidak cantik dan kaya seperti mbak Davika?”
Ammar menggeleng, “ Bukan seperti itu, Fiah. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa kita tahu kenapa dan bagaimana. Bahkan tidak bisa memilih hati kita ingin mencintai siapa. Kamu gadis yang sangat baik, solehah dan cantik, Zafiah. Suatu saat nanti Allah pasti akan mengirimkan jodoh yang terbaik untuk kamu.
Zafiah menggeleng, jika bisa memilih dirinya pun tak ingin merasakan cinta yang seperti ini. Jika boleh, dirinya pun ingin egois. Mengapa tuhan menumbuhkan rasa cinta ini yang teramat dalam untuk Ammar, namun pemuda itu tak memiliki perasaan yang sama untuknya. Kenapa semua terasa tak adil.
Gadis itu menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang. Biarlah dia kehilangan harga diri dengan menyatakan cinta dan luka nya dengan terang benderang pada Ammar kali ini. Tak ada yang bisa dia perbuat lagi, menutupi dan berusaha menguburnya dalam hati sendirian rasanya seperti di neraka.
Ingin rasanya Ammar menenangkan Zafiah, ingin menepuk bahu ringkih gadis itu yang bergetar, namun Ammar selalu menghormati ajaran agama yang selalu dia pegang teguh selama ini.
“Fiah ....”
“Apa kak Ammar bahagia?” gadis itu memotong ucapan Ammar yang belum sempat terucap.
“Apa kak Ammar bahagia dengan mbak Davika?” sorot mata Zafiah menajam, meski wajahnya benar-benar berantakan oleh tangisannya.
Ammar mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat namun semakin meruntuhkan kepingan hati Zafiah yang tersisa. Itulah kenyataannya, bukan ingin menyakiti Zafiah lebih dari ini, hanya saja itulah yang sejujurnya dia rasakan.
Zafiah kembali menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya. Hening menyelimuti keduanya untuk beberapa lama, hanya isakan Zafiah yang terdengar semakin melemah dan menghilang. Gadis itu mengangkat wajah, mengusap air mata yang tersisa di wajahnya dengan cepat. Menatap kedua mata Ammar, dan berusaha tersenyum meski senyum palsu dan sangat terpaksa.
“Baik, kalau memang kak Ammar bahagia, Fiah bisa apa. Asalkan kak Ammar bahagia, Fiah rela. Kalau memang kebahagiaan kak Ammar bukan berada di dekat Fiah, dan hanya bersama mbak Davika, Fiah Cuma bisa pasrah ... dan berusaha untuk ikhlas.” Semua yang gadis itu katakan menyakiti hatinya sendiri. Mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk bersama orang lain bukanlah hal yang mudah semudah yang diucapkan. Tapi sekali lagi, gadis itu sadar tak ada harapan lagi untuknya. Semua sudah jelas.
Ammar, pemuda yang namanya telah dia biarkan tinggal di hatinya selama bertahun-tahun. Pemuda yang namanya selalu dia lafalkan dalam doanya, yang selalu dia sebut di sepanjang hari dan malamnya telah memilih hati lain untuk disinggahi.
“Zafiah akan berusaha ikhlas, kak. Semoga kak Ammar dan mbak Davika selalu bahagia.” Tangisnya tak terbendung lagi, gadis itu bangkit dan berlari. Menunduk dan menutupi wajahnya sambil terus berjalan tanpa menoleh. Meninggalkan Ammar dengan perasaan bersalah yang berkecamuk di dadanya.