Part.11

1118 Kata
"Hmm, terimakasih informasinya," Arman mengangguk dengan kedua jemari tangan yang terjalin di depan d**a. Dengan pandangan matanya, lelaki itu memerintahkan orang yang baru saja memberinya laporan untuk meninggalkan ruangan itu. Arman menghela napas dalam dan merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Ada kelegaan, sekaligus pemikiran yang panjang. Apa benar tidak apa-apa menyerahkan kebahagiaan Davika pada pemuda kampung yang hidupnya saja sangat sederhana itu? Tapi dari informasi yang baru saja dia dapat, Ammar jelas-jelas memiliki kriteria yang sangat dia cari sebagai sosok pelindung dan pembimbing Davika. Jika harta yang menjadi tolok ukurnya, sudah jelas Ammar bukan orang yang tepat. Namun, pemuda itu paham betul tentang agama, pendirian dan sikapnya sangat baik. Arman telah mengambil keputusan, tak akan ada lagi pemuda yang seperti Ammar yang bisa dia dapatkan sebagai jodoh untuk Davika. Kalau hanya urusan kemapanan, Arman pastikan Davika tak akan pernah kekurangan meski Ammar tak bekerja sekalipun. Ammar adalah jawaban yang tepat untuk perubahan putrinya menjadi lebih baik. Sebuah didikan yang telah gagal dia berikan untuk buah hatinya sendiri, sebab dirinya pun bukan orang yang mampu untuk memberikan nilai-nilai baik pada putri semata wayangnya tersebut. Seperti itulah penyesalan orang tua ketika melihat bagaimana buah hati mereka tumbuh dalam kesesatan. Terlebih Arman mendapatkan laporan bahwa beberapa hari yang lalu Davika masih mengunjungi bar untuk minum bersama teman-temannya. Perubahan itu harus segera dimulai demi kehidupan Davika yang lebih baik. Arman meraih handphone dan menekan beberapa nomor di sana, kemudian menunggu untuk beberapa waktu sampai terdengar sahutan di seberang sana. "Davika, minta Ammar untuk datang ke rumah secepatnya, ada yang perlu papa sampaikan." Ada nada terkejut yang terdengar dari Davika di seberang sana. Tapi Arman tak ingin menjelaskan apapun sekarang, kemudian memilih untuk menutup telepon setelah mendengar Davika menyanggupi meminta Ammar untuk datang. * Dan disinilah Ammar, duduk dengan rasa gugup yang bahkan lebih banyak dibanding saat pertama kali datang beberapa waktu yang lalu. Sofa di ruangan itu terasa dingin, denting jam besar berukiran kayu yang terlihat klasik di sudut ruangan itu terdengar menggema di telinga. Davika datang membawa minuman dari dapur. Minuman yang sebenarnya telah disiapkan oleh sang bibi, dan Davika hanya perlu membawanya saja. "Kamu kenapa ngelamun? Minum dulu nih," ucap Davika sambil membawa baki berisi minuman. Ammar tersentak, sedikit kaget tak menyadari kehadiran Davika. Pikirannya berkelana dan menduga banyak hal, tentang papa Davika yang mendadak memintanya untuk datang seperti ini. Ada apa? "Iya, terimakasih," jawab Ammar sambil meraih gelas berisi sirup berwarna merang menyala dengan beberapa bongkah es batu menambah segar dilihat. Ammar memang butuh minum, tenggorokannya rasanya kering karen gugup yang luar biasa. "Sebenarnya ada apa, kenapa papa kamu minta saya untuk datang?" Davika mengangkat bahu, memang karena dirinya pun tak tahu. Papanya tak memberikan gambaran tentang apa yang sedang lelaki itu rencanakan. "Aku juga nggak tahu, papa nggak bilang apa-apa sama aku. Mending kita tunggu papa aja." Ammar mengangguk, tak perlu menunggu lama beberapa detik kemudian langkah kaki sang pap terdengar mendekat. Arman datang dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Sementara dengan sigap, Ammar bangkit dari duduknya. Bergegas menyambut ayah dari gadis yang dia sukai. "Assalamualaikum, om," ucapnya sambil menjulurkan tangan. Arman menyambut tangan pemuda itu dan menjawab salamnya. "Silakan duduk," ucapnya sambil menggoyangkan tangannya. Ammar menurut, mengangguk sedikit dalam kemudian kembali mendaratkan pantatnya pada sofa yang empuk tersebut. "Davika adalah anak perempuan saya satu-satunya, kebanggaan, harga diri dan harta kami yang paling berharga. Kalau saya izinkan kamu untuk menjadikan Davika sebagai istri, apa kamu berjanji akan menjaganya dengan baik? Apa kamu bisa pastikan dapat membahagiakan dia dan tidak akan pernah membuatnya menangis karena sedih?" Langsung tepat sasaran, Arman tak perlu berbasa-basi untuk mengutarakan pemikirannya. Mendengar hal yang disampaikan oleh papa Davika, mendadak ada hawa panas menjalari tengkuknya hingga ke wajah. Rasanya terbakar oleh sesuatu yang membuat kepalanya sedikit pening secara tiba-tiba. Ammar menarik napas dengan keras. "Saya pasti akan berusaha yang terbaik untuk membahagiakan Davika, om. Saya tidak akan membuat dia menangis. Saya akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga saya," jawabnya dengan mantab. Namun ada getaran di setiap kalimatnya penuh emosi yang membuncah. Davika terdiam, tak mampu berkata-kata apapun. Inikah akhirnya? Bukankah rencananya sebentar lagi akan tercapai? Tapi tetap saja keterkejutan itu muncul bagaikan bom api yang tiba-tiba meledak. Arman mengangguk, kedua kakinya saling bertumpu. Postur tubuh yang sangat berwibawa dan membuat Ammar segan. "Bagus, saya akan pegang janji kamu." Tatapan matanya tajam menatap lurus pemuda yang juga menatapnya dengan masih menyisakan rasa terkejut dan gugup itu. "Jadi kapan kamu akan melamar Davika secara resmi?" Lanjut Arman membuat Ammar dan Davika membulatkan matanya. "Apa itu artinya om memberi restu untuk kami?" Ammar memastikan, tak ingin salah sangka. "Ya. Saya tunggu kamu dan keluarga datang untuk melamar Davika secara resmi. Secepat mungkin sebelum saya berubah pikiran." Jawab pria itu dengan tenang. "Ba-baik, om. Saya akan bicarakan ini dengan kakek dan nenek saya segera setelah saya pulang dari sini." Ammar mengangguk-angguk semangat, meski hatinya masih tak mempercayai apa yang baru saja dia dengar dan alami. Papa gadis itu merestui mereka? Takdir seindah ini, Ammar tak pernah sekalipun membayangkan dulu. Tuhan tidak sedang bercanda padanya kan? Sementara itu di ruangan lain, tepat di samping ruang tamu tempat dimana Ammar tengah berada bersama Davika dan sang papa, ada sosok wanita yang tengah meremas jemari tangannya. Wanita itu mengerutkan kening, tampak sesuatu yang mengganjal di hatinya terbias jelas dari raut wajah paruh baya itu. Ya, wanita itu tak lain adalah mama Davika. Dirinya tak pernah sekalipun membantah apa yang suaminya putuskan. Sekalipun itu tentang Davika. Namun keputusan suaminya kali ini bertentangan dengan hatinya sendiri. Sang mama memang tak membantah saat papanya hendak menjodohkan putri mereka, menikahkan Davika dengan beberapa calon yang sempat dipilih. Mamanya juga sempat mencium gelagat ketika Davika terlihat sedang dekat seseorang. Tapi Ammar? Sosok Ammar sangat-sangat mengejutkan untuknya. Jauh dari apa yang bisa dia bayangkan. Pemuda itu terlalu jauh untuk anak gadis mereka satu-satunya, dilihat dari sisi manapun. Davika gadis cantik yang hidup bagai seorang putri. Kehidupannya dari kecil selalu terjamin. Tak pernah tahu apa yang namanya kekurangan. Tapi lihatlah bagaimana Ammar? Pemuda itu terlalu sederhana. Sekilas melihat saja mama Davika sudah langsung tahu. Motor butut yang dibawanya itu? Kenapa tidak dibuang di tempat sampah saja? Ah mata wanita itu mendadak berkunang-kunang saat akhirnya mendengar sang suami memberikan restu untuk Ammar. Padahal sudah berhari-hari ini dirinya berusaha untuk membuat suaminya mengerti, berusaha membuka mata suaminya, bahwa pemuda yang datang meminta izin untuk ta'aruf dengan Davika itu benar-benar tidak pantas untuk putri mereka. "Ahh, Davika, sial banget nasib kamu, sayang." Wanita itu bergumam sambil mengelus d**a. Mengapa anak gadisnya itu mendadak bodoh, memilih pasangan hidup saja tidak becus, malah mendapatkan pemuda yang jauh dari ekspektasi. Wanita paruh baya itu terus mendesah frustrasi. Mendapatkan seorang menantu yang tak bisa dia banggakan kala berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Ah, reputasinya sedang dipertaruhkan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN