“Apa yang kamu miliki untuk bisa membahagiakan anak saya kelak?” pertanyaan Arman seperti pedang yang menghunus tepat di jantung Ammar. Tentu dengan sekali pandang saja sudah jelas bahwa pemuda itu bukanlah orang berpunya. Ammar semakin yakin kemungkinannya untuk gagal dan ditolak melebihi lima puluh persen.
Pemuda malang itu menunduk, tak sadar bahwa dirinya tengah terombang-ambing oleh permainan yang Davika ciptakan. Dengan helaan napas yang berat dan tekad yang telah dia bulatkan dalam hati, Ammar menegakkan tubuhnya, menatap lurus pada papa Davika.
“Saya memang tidak memiliki apa-apa yang bisa saya banggakan, tapi saya pastikan akan menjaga Davika dengan segenap jiwa dan raga saya, memenuhi kewajiban saya untuk membahagiakan dan selalu membimbing Davika. Karena bagi saya menikah itu bukan hanya untuk saling memiliki satu sama lain, tapi yang terpenting dalam menikah adalah ibadah.” Jawaban Ammar cukup membuat papa Davika terkesima. Lelaki itu menatap Ammar dan Davika bergantian.
Tak ada sedikit pun keraguan dalam setiap jawaban yang Ammar berikan. Bukan Ammar tak khawatir dan gelisah menghadapi situasi ini, lututnya saja rasanya bergetar karena gugup. Hanya saja, apa yang Ammar katakan memang berasal dari hatinya yang paling dalam, dirinya memegang teguh akan hal itu.
“Bagi saya, pernikahan itu sangat sakral, mengikat manusia pada janji yang suci di hadapan Tuhan. Jadi saya selalu berharap memiliki pernikahan yang baik, menikah sekali dan menjaga pernikahan itu sebaik mungkin, saling menjaga dan mengasihi sampai di akhirat kelak bersama-sama.”
Deg! Jantung Davika seolah berhenti, ucapan Ammar membuatnya terkejut. Dirinya tak menyangka pemuda itu berpikiran sangat jauh dan dewasa. Menikah sekali untuk selamanya? Bersama-sama hingga kelak di kehidupan selanjutnya? Gadis itu mendadak gelisah, duduknya terus bergerak tak tenang. Davika mendadak tak yakin dengan keputusannya menyeret Ammar dalam masalah ini. Apa dia telah salah memilih orang? Tapi tak ada jalan mundur sekarang, semua sudah terlambat.
Tidak, tidak! Dirinya akan terus melanjutkan rencananya sampai papanya setuju. Ammar tak akan tahu jika dirinya berencana menceraikan pemuda malang itu setelah kuliahnya selesai. Hanya menunggu sedikit waktu dan kemudian menjalankan rencana untuk bercerai. Ya, semua akan baik-baik saja selama Davika tak melibatkan perasaannya, bukan? Masa bodoh dengan perasaan Ammar. Sejak awal begitulah rencananya, dirinya tak akan goyah hanya karena bisikan nuraninya mengalahkan ambisinya saat ini.
Arman mengangguk mendengar penuturan pemuda itu, semua yang dikatakan adalah hal yang benar. Sejujurnya dalam sekali pandang, papa Davika itu bisa melihat bahwa Ammar adalah pemuda yang tulus. Intuisi seorang ayah tak pernah salah, perasaannya mengatakan bahwa pemuda itu benar-benar baik dan memiliki apa yang dirinya cari dari sosok lelaki yang bisa mengayomi dan membimbing Davika kelak.
“Kamu sendiri bagaimana, Dav?” kali ini sang papa melempar pertanyaan itu pada putrinya yang tampak sedikit salah tingkah dan gelisah.
“A...aku nggak akan kenalin Ammar ke papa kalau aku sendiri nggak yakin.” Ada nada bergetar dari suaranya, namun Davika berusaha sebaik mungkin agar terlihat normal dan biasa saja.
Arman mengangguk, bukan karena dirinya langsung setuju. Ada beberapa hal yang dirinya perlu cari tahu. Dirinya tak akan semudah itu memberikan keputusan, apalagi menyangkut masa depan anak gadis satu-satunya.
Banyak pertimbangan jika itu menyangkut kebahagiaan dan kelangsungan hidup bagi putrinya itu. Ammar bukan pemuda mapan yang bisa diandalkan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup Davika yang terbiasa mewah. Namun jika hanya untuk urusan harta benda, semua yang mereka miliki sekarang tidak akan habis jika hanya untuk menghidupi Davika bahkan hingga keturunannya kelak. Namun Arman tak bisa menjamin bisa mendapatkan sosok lelaki yang memang paham tentang agama dan bisa membimbing Davika kelak. Terlebih pemuda itu adalah pilihan Davika sendiri.
“Baik, saya akan izinkan kalian untuk mengenal satu sama lain, saya juga perlu mengenal kamu dan keluarga kamu terlebih dahulu. Tapi itu semua bukan berarti saya akan memberi restu untuk kamu bisa menikahi anak saya. Tentang bagaimana kelanjutan hubungan kalian nanti, itu urusan nanti.” Arman tentu tak ingin gegabah.
“Alhamdulillah kalau begitu om, saya ucapkan terima kasih atas kesempatannya untuk kami berdua lebih mengenal lebih baik lagi. Dan mengenai keluarga saya....” ucapan Ammar menggantung, ragu antara harus menjelaskan tentang itu atau tidak.
“Saya tinggal hanya dengan kakek dan nenek saya, ibu saya sudah meninggal dua tahun lalu.” Ammar mulai membuka cerita yang sejujurnya selalu berusaha dia tutup rapat untuk dirinya sendiri. “Sementara ayah saya ... saya tidak tahu beliau ada dimana,” lanjutnya membuat baik Davika maupun sang papa terhenyak.
“Maksudmu?” tanya Arman sekaligus mewakili rasa penasaran yang sama dalam benak Davika. Gadis itu mengerutkan kening, seperti menunggu sesuatu yang sangat ingin dia ketahui.
“Ayah saya pergi ninggalin ibu saat usia saya masih balita, kata ibu, ayah cari kerja di kota karena saat itu kondisi ekonomi keluarga kami di desa sangat sulit. Hanya sebagai buruh lepas yang tidak setiap hari mendapatkan pekerjaan itu terasa berat untuk mencukupi kebutuhan kami. Tapi ... sejak saat itu ayah saya tidak pernah lagi pulang, bahkan memberi kabar saja tidak.” Ammar menceritakan itu dengan senyum di wajahnya, senyum yang masam, senyum yang sesungguhnya menyimpan begitu banyak kegetiran yang telah terbiasa mampir dalam hidupnya sejak kecil.
Arman memandang dalam kedua mata pemuda yang duduk tepat di seberangnya itu. Bibirnya memang tersenyum, namun matanya menyiratkan begitu banyak luka dan kesedihan yang kentara. Davika bahkan menoleh, terkejut sekaligus tak menyangka bahwa pemuda polos itu menyimpan rasa sakit yang sedemikian.
“Ibumu tidak pernah mencarinya?” Dengan menepis rasa tak enak hati Arman mengulik apa yang telah pemuda itu mulai ceritakan .
“Sering om, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Pernah satu kali kami mencari di alamat majikan dimana ayah menjadi sopir, tapi keluarga itu sudah pindah dan sulit sekali untuk menemukannya. Pengalaman dan komunikasi dahulu tidak selancar seperti saat ini. jadi... sejak saat itu ibu menyerah.”
“Tapi ... pernah satu kali ibu saya mendapatkan kabar dari seorang tetangga yang kebetulan bekerja di kota, bahwa dia pernah melihat orang mirip dengan ayah saya tapi sedang bersama wanita.” Lagi-lagi Ammar menceritakan itu dengan senyum getir penuh luka. Bahkan Davika yang jarang sekali tersentuh saja merasakan hatinya nyeri hanya mendengar cerita Ammar. Sebuah pengkhianatan, Davika tahu sendiri betapa sakitnya dikhianati, setiap kali dirinya ingat kata-kata dikhianati, maka setiap itu pula Davika ingat dengan Fabio. Dan itu membuatnya sangat muak.
“Kamu sendiri nggak pernah berusaha cari ayah kamu?” Davika tak bisa membendung pertanyaan itu di benaknya saja.
Ammar menggeleng, “Wajahnya saja aku lupa, Cuma dari foto yang bahkan sudah gak begitu jelas lagi.”
Suasana mendadak hening untuk sesaat. “Seperti itulah om, tentang keluarga saya. Tidak ada hal yang bisa diceritakan. Kakek dan nenek saya sudah tua, dulu kakek saya ikut bekerja di ladang, tapi sekarang tidak lagi. Saya sendiri bekerja di toko sembako.”
“Apa itu cukup? Maksud saya dengan pekerjaan kamu itu, apakah cukup untuk kehidupan kamu dan keluarga kamu?”
“Cukup atau tidaknya sebetulnya bukan bergantung dari seberapa banyaknya uang yang kita dapat. Tapi seberapa banyaknya kita bersyukur. Mungkin untuk beberapa orang, penghasilan yang saya peroleh memang sangat kecil, tapi itu terasa cukup bagi saya dan kakek nenek saya. Yang terpenting, kami masih bisa makan, tidur dengan nyenyak dan tidak pusing memikirkan hutang, itu sudah cukup.” Lanjut Ammar.
“Lalu kalau saya izinkan kamu menikahi Davika, apa kamu bisa menjamin bisa mencukupi kebutuhannya juga?” realistis, seperti itulah cara berpikir setiap ayah di dunia ini.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin, selama Tuhan masih memberikan kekuatan dan kesehatan, saya akan berusaha agar bisa memenuhi tanggung jawab sebagai seorang lelaki. Karena harga diri lelaki adalah berjuang menafkahi keluarganya.”
*
Ammar merebahkan tubuhnya di atas dipan hingga menimbulkan suara deritan akibat kayu lapuk yang saling bergesek. Tubuhnya tak penat, hanya saja pikirannya tak berada di tempatnya. Bayangan pertemuannya dengan ayah Davika masih membekas diingatannya.
Masih terbayang dengan jelas bagaimana megahnya rumah gadis itu. Sekali lagi Ammar menyadari begitu jauhnya jarak antara dirinya dan Davika. Tapi tak mengapa, apa pun nanti yang akan terjadi di depannya, Ammar telah menyiapkan hati.
Pemuda itu bangkit dan duduk di tepian ranjang, meraih sebuah pigura kecil dari atas meja. Jemarinya mengelus gambar wajah yang terdapat dalam potret usang yang telah dimakan usia itu. Sosok lelaki yang terlihat masih muda, tersenyum menampilkan barisan giginya tengah menggendong bayi lelaki yang masih kecil. Ya, foto sang ayah dan dirinya bertahun-tahun lalu. Satu-satunya kenangan yang bahkan tak dia ingat.
Hari ini Ammar telah membuka cerita itu pada orang lain selain keluarganya. Menceritakan bagaimana sosok ayah yang tak pernah hadir itu terhadap Davika dan keluarganya. Membuka memori yang dia paksa hapus namun justru selalu terngiang di benak dan hatinya sepanjang waktu.
Tangannya beralih meraih foto dirinya saat mengenakan seragam putih abu-abu, tengah duduk berdua dengan sang ibu yang sangat cantik. Kecantikan yang mewariskan hidung bangir dan senyum menawan itu padanya. Ammar memeluk foto itu sebentar, dadanya bergetar, rasa rindu yang menyakitkan itu masih selalu hadir saat dirinya teringat sang ibu. Ibu yang meninggalkannya di saat bahkan belum sempat melihatnya berhasil.
“Namanya Davika, bu. Orangnya sangat cantik dan baik hati,” gumam Ammar lirih sambil memeluk pigura berisi foto dirinya dan sang ibu tersebut. Dadanya sesak menahan air mata kerinduan. Dahulu hanya ibunya lah tempatnya mengadu dan bercerita. Dan kini masih sama, meski ibunya tak lagi ada di sampingnya, Ammar akan tetap mengadu dan bercerita.
Ammar menyeka sudut matanya yang sedikit berair. “Kalau ibu masih ada, ibu pasti senang kenalan sama Davika, Nenek juga suka dengan Davika. Menurut ibu apa dia benar-benar jodoh yang Allah kasih untuk Ammar?”