Davika mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, diikuti kedua sahabatnya dan ketiga gelas dengan cairan kekuningan itu saling berdenting di udara seiring dengan sorakan yang keluar dari bibir para gadis itu.
“Hari ini kalian boleh pesen apapun, gue yang traktir,” ucapnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Pipinya sudah sedikit kemerahan efek dari minuman yang telah masuk ke dalam tenggorokannya.
“Beneran, Dav?” mata bulat gadis berambut blonde yang bernama Maura itu berbinar.
“Iya, gue yang traktir semuanya, kalo perlu gue borong semua minuman paling mahal di tempat ini.”
Tentu saja gadis itu sedang bahagia, apa lagi kalau bukan karena rencananya yang berjalan dengan lancar. Ammar sudah berada di genggamannya, tinggal bagaimana dia menyusun skenario selanjutnya untuk memperdaya sang papa dengan pernikahan palsunya nanti.
“Dav, lo nggak kasihan sama cowok itu? Dia nggak salah apa-apa tapi lo mainin dia kayak gini?” tanya Milly dengan serius. Masih ada nurani dan akal sehat yang tinggal di hati sahabat Davika yang satu ini.
Davika meletakkan gelas di tangannya dan menoleh pada Milly yang duduk tepat di sampingnya. “Lo kasihan sama dia? Tapi lo nggak kasihan sama gue?” ada nada yang sedikit meninggi dalam suaranya.
“Maksud gue bukan gitu, Dav, gue Cuma ngerasa kasihan dan bersalah sama Ammar. Lo tahu sendiri kan dia Cuma pemuda kampung yang polos dan nggak tau apapun. Kalo dia emang nerima lo dan mau nikahin lo, artinya dia emang ada rasa sama lo kan? Dan lo mainin perasaan dia gitu aja?” Milly menghela napas, sejak awal Davika menyebut nama pemuda itu untuk menjalankan rencana ini, Milly sudah merasa tak enak hati.
“Terus menurut lo, gue harus gimana? Batalin semuanya, setelah gue berusaha mati-matian? Nyerah gitu aja sama keputusan bokap gue buat kawinin gue sama anak temennya yang cupu? Lo nggak ngerasain ada di posisi gue sih, Mil,” terang Davika yang telah tersulut api emosi.
“Bukan gitu, Dav. Cuma gue ngerasa Ammar nggak pantes aja diginiin. Kenapa lo nggak cari orang lain, orang yang sama sekali nggak lo kenal, dan bisa lo bayar aja.” Entah kenapa, mendadak Milly benar-benar kasihan membayangkan pemuda kampung itu. Secara tidak langsung gadis itu merasa ikut bertanggung jawab atas semua ini, Davika bisa mengenal Ammar karena pertemuan tak terduga mereka saat Milly membawa Davika ikut serta pergi ke rumah asisten rumah tangganya kala itu.
“Lo lucu deh, Mil. Gue harus cari orang yang nggak gue kenal? Menurut lo , apa gue kenal sama Ammar sebelumnya? Enggak kan. Gue memilih dia karena emang dia orang yang sama sekali nggak gue kenal sebelumnya. Udah deh, lo nggak perlu ngomong yang aneh-aneh. Yang pasti, gue udah setengah jalan nggak mungkin gue berhenti sekarang. Gue Cuma butuh dukungan lo, jadi sekarang stop nggak perlu bahas itu, gue Cuma mau ngerayain keberhasilan gue dapetin Ammar sekarang.”
Milly terdiam untuk sesaat, Davika memang gadis keras kepala. dirinya tahu tak akan bisa melawan argumen sahabatnya itu sekarang. “Iya deh Dav, maaf. Gue pasti akan selalu dukung lo kok,” ucapnya akhirnya sambil meneguk sekali lagi isi gelas di hadapannya.
Pada akhirnya ketiga gadis itu larut dalam suasana, Maura sudah hampir tak sadarkan diri, gadis itu terlalu lemah hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya. Sementara Davika masih cukup sadar, gadis itu tahu caranya berhenti, dia tak ingin menambah masalah baru dengan ketahuan mabuk lagi sekarang.
*
Tujuh hari berlalu sejak adanya kejelasan hubungan antara Ammar dengan Davika. Bukan, bukan pacaran, tapi proses taaruf seperti yang selalu Ammar katakan. Proses untuk saling mengenal satu sama lain. Dan akhirnya tibalah hari ini, Ammar akan datang menemui papa Davika.
Ada perasaan gugup yang tak bisa Ammar ungkapkan, ini kali pertama baginya untuk memulai hal ini. Awal untuk menjalin hubungan baru yang serius dengan seorang gadis yang telah membuat hatinya terus berdesir setiap kali melihatnya. Pemuda itu bersiap dengan sebaik mungkin, Davika menawarkan pada Ammar untuk menjemputnya, tapi dia menolak. Harga dirinya sebagai lelaki akan dipertanyakan jika dirinya menyetujui hal itu.
Ammar mematut dirinya sekali lagi pada cermin yang menempel di lemari kamarnya yang telah usang dan sedikit lapuk. Rambutnya telah disisir rapi, mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hijau botol dan celana bahan berwarna hitam. Pemuda itu menarik napas panjang, mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dan kemudian keluar.
“Nek, Ammar berangkat dulu ya, doakan semuanya lancar.” Ammar meraih tangan tua sang nenek dan kemudian mencium punggung tangan itu dengan khidmat. Bergantian dengan sang kakek juga. Ada rasa haru terpancar dari wajah-wajah sepuh itu. Bagaimana tidak, cucu yang mereka besarkan selama ini, bocah lelaki yang telah mereka rawat dengan kedua tangan mereka sendiri itu kini telah dewasa. Sedikit lagi akan memasuki babak baru yang paling penting dalam hidupnya. Ada buliran bening di sudut mata tua yang berembun itu, tangannya mengelus perlahan rambut Ammar. Wanita tua itu terharu sekaligus teringat kepada putrinya yang telah dipanggil sang maha kuasa, mendiang ibu Ammar pasti bahagia jika saja masih diberi kesempatan untuk melihat ini semua. Ammar mereka telah benar-benar dewasa.
“Iya, nenek doakan semuanya lancar, semoga orang tua nak Davika mau menerima kamu untuk anaknya. Tapi nenek Cuma berpesan, apa pun hasilnya, bagaimanapun nanti kedepannya kamu harus sudah siap. Karena setiap orang tua di dunia ini pasti ingin yang terbaik untuk anak mereka, jadi kamu harus menghargai apapun keputusan orang tua nak Davika.”
“Iya nek, Ammar tahu.” Senyum itu menghiasi wajahnya yang gugup. Ammar melirik arloji dengan tali perak yang tak lagi bersinar yang melingkar di tangannya, arloji milik ayahnya dahulu, ayah yang bahkan Ammar sendiri tak ingat bagaimana rupanya. Ayah yang meninggalkan dirinya dan sang ibu saat usianya masih balita. Ada rasa rindu sekaligus benci yang tak terungkapkan setiap kali Ammar mengingat tentang itu. Tapi hatinya terlalu murni untuk memendam dendam terhadap sosok ayah yang bahkan mungkin tak sekalipun mengingat dirinya. Arloji itu dan selembar poto yang telah sedikit rusak dimakan air menjadi salah satu kenangan yang membuat Ammar terus mengingat sosok ayahnya.
Ammar tak ingin terlalu larut dalam kenangan buruk yang menyedihkan itu. Sudah cukup siang sekarang, perjalanan dari kampungnya ke alamat yang dikirim oleh Davika akan memakan waktu yang cukup lama. Dirinya harus bergegas sekarang.
Ammar menaiki motor butut miliknya, satu-satunya alat transportasi yang dia miliki. Ammar tak malu meski benda tua itu sudah terlihat menyedihkan untuk ukuran pemuda sepertinya. Di kampungnya saja, tak ada lagi selain dirinya yang masih mengendarai motor seperti itu. Motor bebek yang benar-benar sudah tidak bagus dilihat lagi, suaranya juga sudah cukup bising. Rata-rata pemuda di kampungnya telah mengendarai motor yang jauh lebih bagus dan modern seperti matic.
Dengan kecepatan yang sedang Ammar melaju, membawa segenap hati dan tekadnya untuk bertemu ayah Davika untuk pertama kali. Tak lupa buah tangan yang berupa pisang raja hasil dari kebun di belakang rumah ia bawa serta menggantung di motornya. Ammar berharap orang tua Davika senang dengan apa yang dia bawa sebagai oleh-oleh, hasil dari keringatnya sendiri.
*
Davika meremas jari-jari tangannya, rasa cemas sekaligus takut membuat darah seolah surut dari tubuhnya. Yang tersisa hanya rasa dingin di sekujur badan. Davika berulang kali melirik jam kayu besar yang berdiri megah di ruang tamu keluarga mereka. Bunyi detikan setiap kali jarum jam itu bergerak rasanya semakin kuat menembus hingga masuk ke gendang telinganya. Papa Davika duduk di sofa, menyandarkan punggung tegap yang masih kokoh itu pada sandaran sofa yang empuk. Kedua tangannya membuka lebar-lebar koran Sabtu pagi yang belum sempat dia baca.
Sesekali pria paruh baya yang masih terlihat sangat berwibawa itu melirik ke arah sang putri yang tampak begitu gelisah. Sebuah senyum terbit di sudut bibirnya tanpa menunjukkan ekspresi lain, masih tetap tenang membaca setiap baris kalimat yang tertulis di kertas abu-abu itu.
Davika bangkit dari duduknya secepat kilat saat mendengar sesuatu dari luar, suara gerbang yang dibuka diikuti suara motor butut yang sudah cukup familiar di telinganya. Mendadak nyali Davika menciut menghadapi situasi ini, akankah semua berjalan lancar? Ataukah papanya akan menolak Ammar dalam sekali pandang. Kerongkongannya mendadak tercekat seolah kering begiitu saja.
“Assalamu’alaikum,” sapa Ammar yang membuat degup jantung Davika bertabuh dua kali lipat lebih cepat karena takut sekaligus cemas. Gadis itu melirik ke arah sang papa yang juga telah mengarahkan pandangan matanya pada sosok yang sedang masuk ke arah mereka. Permainan yang Davika buat akan segera dimulai, tak ada jalan mundur sekarang.
“Wa’alaikum salam,” sahut Davika dan sang papa secara bersamaan. Ammar masuk dengan langkah sedikit membungkuk sopan layaknya orang penuh tata krama. Di tangannya membawa pisang raja yang telah dia persiapkan sebagai buah tangan. Di belakangnya sekuriti keluarga Davika yang tadinya mengantarkan Ammar masuk bergegas berbalik arah.
Senyuman manis terbit di wajah gugup Ammar saat melihat Davika, pemuda itu menyodorkan pisang yang tadi dibawanya pada Davika yang justru terbengong memandangi benda itu, dan Davika menerimanya dengan kikuk. Setelahnya Ammar segera mendekat menuju dimana papa Davika duduk, pria paruh baya itu segera berdiri menyambut sosok pemuda yang terlihat teramat sangat sederhana itu tengah mendekat ke arahnya.
Ammar menundukkan tubuhnya dengan sopan saat mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ayah Davika. “Selamat siang, om.”
Dengan wajah penuh kewibawaan, sang papa menerima uluran tangan itu. “Selamat siang, silakan duduk,” jawab Arman sambil menjulurkan jemarinya mengisyaratkan Ammar untuk duduk di sofa yang tepat berada di seberangnya, berhadapan langsung dengannya.
Ammar lagi-lagi mengangguk dengan sopan, tak sekalipun Ammar menegakkan tubuhnya demi terus menjaga sopan santunnya di depan keluarga Davika. Sejujurnya rasa rendah diri kini benar-benar mendominasi perasaannya. Ammar tahu dari tampilan Davika sejak awal, bahwa gadis itu pasti berasal dari keluarga yang cukup mampu. Tapi apa yang dia lihat dengan kedua bola matanya sendiri itu jauh dari apa yang dia bayangkan sebelumnya. Rumah keluarga Davika terlihat seperti istana yang sangat megah. Begitu luas dan dipenuhi perabotan mahal. Sejak langkah pertama Ammar memasuki halaman rumah Davika dirinya telah dibuat takjub, oleh gerbang yang bisa terbuka sendiri tanpa ditarik oleh seseorang, belakangan dia mengetahui bahwa satpam yang membuka itu secara otomatis dengan remot. Bagaimana takjubnya Ammar ketika dirinya disambut dan perlu diantar oleh satpam keluarga itu hanya untuk bertamu. Bagaimana luar biasanya ruang tamu yang kini tengah dia duduki berhadapan langsung dengan ayah dari wanita yang dia inginkan untuk dijadikan pendamping hidup.
Ammar merasa begitu kerdil sekarang, tak ada satupun yang bisa dia banggakan untuk bisa meminang Davika. Davika hidup layaknya seorang putri raja, terbiasa dilayani dan penuh kemewahan. Ammar merasa kini dirinya tak pantas meski hanya sekedar dalam angannya. Dirinya dan Davika bagai bumi dan langit. Mendadak ucapan sang nenek terngiang kembali di otaknya. Apapun hasilnya Ammar harus siap menerima itu semua itu, sebab setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jika memang orang tua Davika tak mengijinkan Ammar untuk meminang Davika, maka dia akan siap menerima itu semua. Tapi Ammar tak akan mundur sebelum mencoba. Jodoh adalah rahasia tuhan, jika tuhan berkehendak manusia bisa apa?
“Perkenalkan om, nama saya Ammar,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Saya Arman, papanya Davika,” jawab sang papa sambil memandang lurus pada Ammar, tanpa tahu bahwa putrinya yang duduk di sisi kiri mereka tengah gugup setengah mati sampai lupa terus menerus menahan napas gugup.
Arman memindai penampilan pemuda yang dia anggap memiliki keberanian lebih untuk menghadap padanya itu. Seorang pemuda biasa, pemuda sederhana yang sangat terlihat dari penampilannya itu. Wajahnya cukup tampan dengan postur tubuh yang bagus, tangannya sangat kasar, Arman bisa merasakan langsung saat pemuda itu menjabat tangannya.
Tapi satu hal yang mencuri perhatian lelaki paruh baya itu tentang Ammar. Kesopanan yang selalu dia tunjukkan secara alami itu terbilang langka di zaman sekarang. Arman hampir tak pernah melihat pemuda pada masa ini masih mengingat tentang tata krama yang baik dan santun. Pemuda itu bahkan tak lupa mengucapkan salam. Arman teringat tentang beberapa waktu terakhir ini, Davika sering mengucapkan salam saat datang ataupun pergi, entah dengan sengaja atau reflek begitu saja. Dan kini Arman tahu dari mana perubahan sang putri itu berasal. Satu poin positif untuk Ammar menurut sang papa.
“sudah berapa lama anda kenal dengan anak saya?” terbiasa tegas, Arman menanyakan itu dengan tanpa basa-basi.
“Baru beberapa....”
“Udah lumayan lama pa, kaya gitu aja ditanyain,” Davika memotong ucapan Ammar sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya.
“Papa lagi nggak tanya sama kamu, Dav.” Jawaban telak sang papa. Ujung jari Davika mendadak sangat dingin, gadis itu terdiam.
“Baru beberapa bulan terakhir ini, om.” Akhirnya jawaban itu meluncur dari bibirnya tanpa bisa Davika cegah.
“Lalu apa tujuanmu datang kemari ingin bertemu denganku?”
Ammar menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Menyiapkan dirinya untuk mengatakan maksud kedatangannya.
“Sa...saya bermaksud meminta restu om, eumm...saya dan Davika ingin saling mengenal lebih dekat, kalau memang ada jodohnya, saya bermaksud untuk menjadikan putri om sebagai istri saya nanti. Tapi sebelum itu, saya bermaksud untuk lebih mengenal Davika dan keluarga om lebih baik lagi.”
Jangan ditanya bagaimana rasanya jadi Ammar saat ini, gugup luar biasa. Mendapati pertanyaan tegas tanpa basa-basi dari papa Davika. Namun saat kalimat itu telah meluncur, yang ada adalah kelegaan, seperti sebuah batu besar terangkat dari pundaknya.
Namun atmosfer di sekitar mereka seolah berhenti, kelegaan itu tak bertahan lama. Arman terdiam dengan pandangan lurus tepat pada mata Ammar.