Ibu mengabari ku katanya pesawat ibu sudah landing, aku yang dapat notif itu pun langsung mencari keberadaan ibu.
Tak jauh dari sana aku melihat ibu, sepertinya ibu sedang menunggu kopernya.
Setelah ibu dapat kan kopernya dan berjalan menghampiriku, aku langsung berhamburan memeluk ibu, rasanya rindu sekali selama 6 bulan tak bertemu ibu.
ya, aku bertemu ibu atau pulang ke Bali hanya jika libur semester an saja.
sedang asyik melepas rindu aku melihat ada seseorang yang mendekat kearah kami.
Entah lah aku tak tau siapa orang itu, tapi rasanya wajah itu tak asing, ketika orang itu sudah berada tepat di depan kami.
"Sayang ini Arya, masih ingat kan?" Kata ibu mengenalkan pemuda itu.
Aku diam sejenak, lalu menggeleng kan kepalaku, aku tak ingat siapa orang itu, tapi tetap aku mengulurkan tangan menyapanya.
"Hai ayra Dwi Ariyanti, apa kabar ?" Tanya pemuda itu.
"Aku kok lupa ya mas, maaf yaa.." jawab ku tak enak hati.
"Aku Arya anaknya pak Rama, teman ayah mu dulu Ra, walau pun rumah kita berjauhan tapi kita sering main bersama, Karna papah ku sering berkunjung kerumah mu, jadi kita berteman sejak saat itu" jawab Arya panjang lebar menjelaskan atau mengingatkan ayra lebih tepatnya.
"Oh iya mas Arya, aku lupa mas, minta maaf ya mas, kamu tinggi sekali dan berbeda sekali dari pas terakhir kita bertemu dulu mas, aku sampai tak mengenali kamu maaf mas ya mas." Ayra sangat malu, Karana lupa temannya sendiri padahal dulu mereka lumayan akrab.
"Mas Arya ganteng ya sayang, sampai pangling gitu" kata ibu menggodaku, sambil sikutnya menyenggol sikutku kananku.
"Oh iya mas Arya bertemu ibu Diamana? mau liburan ke Bandung? Kok bisa bersama ibu ?" Tanya ayra tak mau membalas ucapan ibu nya.
Saat sedang asyik mengobrol khayran datang menghampiri kami, aku sampai lupa kalau khayran ikut bersama ku, untuk menjemput ibu, lebih tepatnya dia ingin pdkt dengan ibu. Hiihihi gemas sekali pacarku ini.
Tepat saat khayran berada di antara kami mas Arya menjawab "aku sengaja ikut Tante Kadek, katanya kamu tak bisa pulang dan dia rindu, kebetulan aku lagi free, dan ingin bertemu kamu juga, lagi pula aku juga rindu sama kamu, sudah hampir 5 tahun tak bertemu kamu dek"
Deg, aku gelisah sekali mendengar jawaban mas Arya, pertama aku kaget dengan jawaban nya, kedua disini ada khayran, aku bahkan tak berani melirik wajahnya.
"Mas bisa saja bercandanya" jawabku, mencair kan suasana yang tiba-tiba panas ini.
Khayran berdehem, ya tuhan aku sampai lupa memperkenal kan khayran pada ibu dan mas Arya.
"Oh iya ini khayran mas,Bu. teman kuliah ku, kebetulan dia yang mengantar ku menjemput ibu" aku langsung memperkenal kan khayran.
"Khayran Bu , mas..." Jawab khayran memperkenalkan diri pada ibu dan mas Arya.
"Aku Arya" kali ini mas Arya.
Ibu hanya senyum lebar pada khayran.
"Ayo... kita cari makan dulu ibu pasti laper kan, ayra mau kasih coba ibu makanan khas Bandung" ini kali pertama ibu main ke kota kuliah ku, dulu waktu pertama kali aku memutuskan ke Bandung ibu tak ikut karna sedang sibuk-sibuknya di toko dan sampai saat ini pula ibu tak pernah datang kesini, selalu aku yang pulang saat liburan tiba.
Kita memutuskan mencari tempat makan, aku berjalan beriringan dengan khayran aku melirik, melihat wajah khayran, sepertinya ada rasa kesal di wajahnya, aku tak berani memulai obrolan, takut sekali rasanya, melihat khayran ber- ekspresi seperti itu.
Sedangkan di depan ada ibu dan mas Arya berjalan bergandengan, seperti pacaran saja.
Aku senang sekali mereka datang
Bandung memang surga nya jajanan, apalagi makanan pedas, tapi aku bingung mau memberi coba makanan apa pada ibu dan mas Arya.
Hari ini aku di antar pakai mobil oleh khayran, jadi terserah khayran saja mau mengajak makan dimana.
"Kita makan nasi liwet aja Bu?" Tanya khayran. Diperjalanan.
"Ibu mah apa saja mas khayran." Jawab ibu.
"Aa dong Bu kan khayran orang Bandung asli." Ledekku tersenyum dan sambil melihat ke- spion yang ada di antar mas Arya dan khayran, dan khayran hanya diam saja walupun dia juga melihat kearah spion itu, mungkin suasana hatinya sedang tak bagus gara gara tadi.
"Oh iya ya aa dong harusnya.." mereka sama sama tertawa, khayran hanya tersenyum.
"Mas Arya gak keberatan makan nasi liwet?" Tanya khayran pada Arya.
"Aku mah apa saja gampan ran" kata mas Arya.
Khayran pun melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih, agar cepat sampai.
Aku salut si pada khayran walaupun tadi terlihat jelas sekali dia marah, tapi dia bersikap normal sekali, tak menunjukan nya.
Lagi Aku menatap kaca dari kursi belakang dan khayran melihat ku, aku hanya menggerakkan mulut mengucapkan terima kasih, dan khayran hanya memejamkan matanya menandakan sama sama.
Setelah sampai di parkiran restoran khas Sunda, kami masuk dan memesan makanan, tak lama makanannya datang, tak terlalu lama kami menunggu karna memang ini masih jam 11 belum masuk jam makan siang jadi masih sepi pengunjung nya.
Selesai makan khayran berdiri ingin membayar makanan tapi mas Arya malah menghalangi.
"Tak usah, biar aku saja yang bayar, lagi pula kamu kan masih kuliah." Kata mas Arya menghalangi.
"Tidak apa-apa mas biar aku saja,biarpun masih kuliah aku berpenghasilan kok." Jawab khayran tak mau kalah.
Mas Arya mengalah setelah khayran bicara seperti itu, tiba tiba Suasananya jadi panas sekali sih, kenapa juga mas Arya segala datang ikut ibu, kan Khayran jadi makin sedikit punya waktu untuk mengambil hati ibu.
Khayran tetap pergi ke kasir untuk membayar bill nya.
Selesai makan kami memutuskan untuk pulang, kami berjalan menuju mobil, di mobil aku bertanya pada mas Arya mau tinggal dimana, karna tidak mungkin tinggal di kosan ku, yang cuma ada satu kamar dan ruangan kecil saja apalagi ada ibu tak cukup untuk bertiga.
"Mas tinggal di hotel de, dekat kosan ada hotel tidak ?"
"Ada mas sekitar 20 menitan ke kosan ku" jawab ayra.
"Ya sudah mas di sana saja"
"Berarti kita berhenti di hotel dulu?" Kini khayran yang bertanya.
"Iya" jawab mas arya.
Selesai mengantar mas Arya ke hotel, kami lanjut ke kosanku.
"Nak khayran sudah lama kenal ayra?" Tanya ibu.
"Sudah 3 tahun Bu,semenjak masuk kuliah" jawab khayran ramah.
"Ohh.. terima kasih ya, sudah mau menemani ayra menjemput ibu dan di traktir makan lagi"
"iya Bu sama-sama." Senyum khayran memancar.
****
Setelah selesai mengantar ibu dan ayra, khayran langsung pamit pulang.
Sesampainya dirumah khayran bertemu ka ira dan calonya suaminya.
"Assalamualaikum" khayran masuk kerumahnya dengan salam.
"Waaikumsalam sudah pulang de?"
"Sudah mas, aku masuk kamar dulu ya mas." Izinku pada mas Iqbal.
"Ade bawa mobil mamah ya?" Teriak ka Ita saat aku sudah hampir masuk kekamar, kebetulan kamar ku dekat dengan ruang tamu.
"Iya ka" sahutku, sambil menghampiri kakak dan calon kakak ipar ku di ruang tamu.
"Sudah selesai pakai mobilnya?" Tanya kakak perempuan ku itu.
"Sudah, kakak mau pakai?"
"Iya nih, Kakak mau pinjam soalnya mobil kakak rusak tadi nabrak tembok, mas Iqbal mobilnya juga sedang di servis."
"Ini pakai aja kak, aku sudah selesai kok"
"Pinjam ya, kakak sudah bilang mamah ko."
"Memang mamah di mana ka?"
"Mamah kan pergi ke Surabaya menemani papah."
"Oh kok gak bilang sama aku mamah."
"Buru buru kali de"
"Ya sudah kakak pergi dlu ya sama mas iqbal mau cari pendor buat acara pernikahan" pamit kak Ira.
"Tinggal dlu bro." Ucap calon kakak ipar ku, mas Iqbal.
Aku hanya mengangguk saja, setelah kakak ku pergi, aku masuk kamar sebelum nya aku bilang pada si mbok untuk di buatkan jus stroberi.
Setelah sholat ashar, jus ku datang, aku meminumnya di koridor kamar ku, aku sedang merasa cemburu pada mas Arya, aku rasa niat ku untuk mendekati ibunya ayra akan ada rintangan, perasaan ku mengatakan bahwa mas Arya menyukai kekasihku itu.
Aku takut orang dari masa lalu ayra berhasil menggeser keberadaan ku, saat sedang galau dengan pikiranku tetap saja aku menyelipkan dalam hal hal kecil, aku minum jus kesukaannya itu.
"Ayra kamu tau aku seperti gila Karnamu, seminggu saja kita putus aku seperti orang tak waras, apa lagi sekarang kehadiran mas Arya yang mengancamku membuatku prustasi" ucap khayran bicara sendiri sambil meremas rambut dan mengusap kasar wajahnya.