Sampai di kosan ayra merapihkan barang barang ibunya, sedangkan ibu Kadek mandi, setelah ibunya keluar dari kamar mandi ayra langsung masuk untuk membersihkan dirinya.
Saat ayra sedang menjalankan rutinitas malamnya, yaitu memakai skin care, ibunya datang menghampiri.
"Ay, menurutmu bagaimana mas Arya?" Tanya ibu antusias, aku sudah merasa anah saat ibu datang dengan mas Arya ke kesini, ditambah lagi ibu menanyakan pendapatku tentang mas Arya.
"Gimana apanya Bu?" Tanyaku memastikan.
"Ya orangnya." Kata ibu.
"Baik." Jawabku singkat.
"Masa baik aja si ay, besic banget." Protes ibu.
"Ayra gak ngerti maksud arah pembicaraan ibu." Tanya ayra meminta penjelasan.
"Kamu kan sudah kenal Arya dari lama, ibu juga kenal orang tuanya cukup baik, ibu rasa Arya juga tertarik pada mu ay, dan ibu berniat menjodohkan kamu dengan Arya, bagaimana?" Ucap ibu to the point.
Ayra menghentikan kegiatannya, menoleh pada ibunya, dia kaget bukan main dengan kejujuran ibunya yang mendadak ini, lalu dia menatap manik mata ibunya mencari tau rasa apa yang terpancar pada mata ibunya.
Dia bingun harus merespon seperti apa dan bagaimana menceritakan tentang khayran dan juga tentang hubungannya dengan khayran.
Ayra berjanji pada khayran akan menceritakan tentang hubungan nya ke pada sangibu, Karana mereka sudah sepakat menuju yang lebih serius, dan langkah pertama bicara pada orang tua masing-masing tentang hubungan mereka.
"Kenapa malah menatap ibu seperti itu, dan diam saja lagi, ibu lagi ngomong juga." tanya ibu Kadek, Karna heran dengan tingkah anaknya yang menatapnya dengan intens dan hanya diam saja.
"Ibu... Sebenarnya ayra dan khayran sudah lama mempunya hubungan." jawab ayra mengalihkan pembicaraan tentang Arya.
"Sudah berapa lama?" Dengan wajah berubah datar.
"Sudah 3 tahun Bu." Kartu pada ibu.
"Kenapa tak kamu tidak pernah cerita? Kamu juga tidak pernah membicarakan khayran sama sekali, bahkan hari ini, hari pertama ibu tau kamu punya teman bernama khayran."
"Ayra kira, hubungan kita tak akan pernah serius Bu."
"Serius? Serius bagaimana maksud kamu?"
"Ayra fikir ini hanya cinta masa kuliah Bu, tapi ternyata ayra ingin hubungan ini serius Bu."
"Serius bagaimana ay, ibu tak mengerti?" Ibu masih pura pura tak mengerti.
"Ayra ingin menikah dengan khayran Bu."
"Menikah?" Kaget Bu Kadek.
"Khayran Islam kan? "
"Iya Bu." Aku menggukan kepala.
"Kalian tau berbeda kenapa memaksa kan?"
Ayra diam sesaat, "Tapi masih bisa kan bu."
"Siapa yang akan pindah?"
Ayra hanya diam saja, dia juga bingung harus bicara apa pada ibunya.
"Kamu sudah bertemu keluarganya?" Karna melihat ayra yang hanya diam saja, Bu Kadek pun bertanya lagi.
"Sudah Bu"
"Apa responnya?"
"Mereka baik pada ayra bu, mereka menerima ayra."
Ibunya hanya diam saja.
"Tidak bisa kah kamu dengan Arya saja ay, yang sudah pasti sama dengan kita, ibu mengenal orang tuanya, keperibadian nya juga baik, mapan juga, bahkan agamanya pun Sama dengan kita ay, kurang apa lagi Arya ay."
"Tapi ayra cinta nya dengan khayran Bu."
"Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu ay, kamu bisa mulai membuka hati mu untuk Arya dulu." Ibu masih bersikeras dengan pendapatnya.
"Ayra hanya mau menikah dengan khayran Bu, ibu juga tolong hargai keputusan ayra."
"Ibu juga akan dengan sangat membuka tangan kalo saja khayran sama dengan kita ay, tapi ini tembok kalian sangat menjulang tinggi, tuhan yang kalian sembah berbeda, dasarnya saja berbeda ay, bagaimana nantinya, akan masih banyak perbedaan- perbedaan lainnya yang akan kalian jumpai, apalagi kalo benar kalian akan menikah dan punya anak nanti."
"Kita bisa Bu setelah menikah masih mempertahankan kepercayaan masing-masing, walau pun berbeda kita bisa menghargai itu, ayra yakin."
"Memang sangat mudah jika hanya bicara ay, tapi Sulit realita nya."
Aku hanya diam saja setelahnya.
"Ya sudah kita bahas lagi nanti, sekarang kita istirahat saja dulu, ibu mau tidur lelah sekali rasanya." Kata ibu menutup pembicaraan tapi aku bisa merasakan ada kesal di dalam perkataannya.
Langkah pertama sudah aku selesaikan, walau tak sesuai ekspektasi ku, setidaknya aku sudah bicara pada ibu tentang hubunganku dengan khayran.
Saat sedang ingin tidur hp nya bergetar, ada notif chat dari khayran.
Khayran : ay bisa bicara sebentar, aku di luar .
"Bu ayra keluar dulu sebentar yaa" izin ayra pada ibunya yang sedang istirahat.
"Mau kemana ay, sudah malam" tanya ibunya.
"Sebentar saja Bu, ada khayran diluar, ayra hanya akan bicara sebentar saja."
"Ya sudah, jangan lama-lama yaa."
Ayra keluar kamar dan bertemu khayran, ntah apa yang akan di bicara kan khayran, tapi sepertinya penting sampai malam malam kesini padahal dia tau ada ibu.
Diluar aku melihat khayran dan mendekat ke arahnya, kami memutuskan untuk bicara di luar, kebetulan di depan gang ada jalan raya besar yang banyak menjual makanan khas malam malam.
Kami memutuskan untuk bicara di tukang angkringan, yang tak jauh dari kosan ayra.
"Ada apa ka?" tanya ayra Setelah keduanya duduk dan memesan s**u jahe.
"Aku mau bicara tentang mas Arya, aku rasa dia ada rasa pada mu Ra" ucap khayran, dia akhirnya memberanikan diri bicara pada ayra, Karana dari tadi sore pikirannya berkemelut tentang itu.
Ya Tuhan khayran, jauh jauh kesini hanya ingin mengatakan itu, baru saja aku habis bicar pada ibu, belum hilang rasa pusing ku memikirkan pembicaraan dengan ibu, kini khayran membahas masalah yang sama.
"Aku bisa biasa aja jika ini Riko atau David atau cowok cowok lain yang ingin mendekatimu Ra, tapi aku rasa mas Arya berbeda dia punya satu poin plus yang cowok cowok itu tak punya Bahkan aku sendiri tak punya, dia punya restu ibu mu Ra."
Ya Tuhan feeling nya khayran kuat sekali, tentu saja hanya dalam hati ayra bicara ini.
"Kamu kesini malam malam gini hanya menghawatirkan itu ka" ayra menjawab sebisa mungkin dengan tenang, padahal hatinya sudah dah Dig dug ser.
"Aku khawatir kamu di jodohkan dengan mas Arya, apa lagi dia juga kelihatannya naksir denganmu" lagi khayran mengutarakan isi hatinya pada ayra.
"Ngaco kamu, kami ini hanya berteman aja ka gak lebih" kilah ayra, agar khayran bisa lebih tenang.
"Aku ini lelaki ay, aku tau apa yang dipikirkan sesama laki laki"
Ternyata khayran tak bisa di tenangkan, aku tidak tau kenapa dia bisa sekhawatir itu.
"Oke... aku mau jujur ka, sebenarnya memang iya, kedatangan ibu dan mas Arya kesini memang ada kaitannya dengan perjodohkan, aku tak tau apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti ka, aku sudah menolak itu."
"Tuh kan aku tau itu ay, lalu bagai mana dengan ku? Dengan nafas mulai naik turun khayran bertanya, aku tau dia sedang menahan emosinya.
"Kamu tenang ka, Aku juga sudah membicarakan tentang hubungan kita pada ibu ka."
Khayran diam saja, aku masih melihat raut wajah khawatir pada wajahnya.
Aku mengerti kegundahan hati khayran ini, tapi tak bisa mengucapkan apa pun, kenapa tiba tiba mulut ku keluh, khayran terlalu khawatir, padahal dia tau aku masih sangat mencintainya.
Karna aku diam saja khayran langsung menarik wajahku, dan mencium kasar bibirku, aku yang kaget dengan aksi khayran yang tiba tiba itu hanya bisa membulatkan mata.
Ya benar kita memang sedang berada di tempat umum, di tempat tukang angkringan, tapi beruntungnya kita berada di belakang gerobak dan terhalang spanduk angkringan, dan walaupun didepan jalan raya keadaanya memang di depan sebuah toko, yang kebetulan berada di ujung, dan lebih beruntung ya lagi tak ada orang di sekitar kita, tapi yang masih memmbuat ku takut, ada orang lain yang melihat aksi kita ini.
Khayran mencium ku semakin dalam dan semakin kasar, aku yang kaget karna ciuman itu, membulatkan mata dan itu membuatku membuka mulutku, dengan leluasa khayran memainkan lidah nya di dalam mulutku, lidahnya menjelajahi mulutku, menyapu setiap inci dalam mulutku, sepuas nya dia melampiaskan marahnya kepada ku, aku hanya menutup mata ku dan menikmati saja ciuman itu.
Sampai pada akhirnya khayran melepas pangutan itu, lalu menggenggam wajahku dan menatap ku, aku membuka mata dan melihat matanya, lalu aku menurunkan tangan khayran, aku menengok kekanan dan kekiri memastikan tak ada orang di sana.
Setelah itu aku memukul tangan khayran, aku marah pada sikap Khayran yang seperti ini, walaupun sebenernya aku juga menikmatinya.
"Kamu apa apaan si ka, ini tuh dimana? Kamu harus menjaga sikap ka," kataku marah.
Khayran hanya diam saja, tapi matanya tak lepas menatap ku.
"Ayo ka, aku mau pulang" ajakku karna sudah tak tau mau apa lagi.
Khayran berdiri, dan dia pun mengantarku pulang ke- kosan ku, tanpa mengatakan sepatah kata pun, setiba di depan kamar kos khayran hanya pamit pulang tanpa bicara apa pun lagi, aku menunggu motornya pergi sampai tak terlihat, setelah nya baru aku masuk.