Keesokan harinya ayra kekampus tapi tak melihat khayran sama sekali, ayra ke kampun ingin bertemu dosennya dan di arahkan untuk menemui dosen pembimbing yang akan membantunya menyelesaikan skripsi nya, karna dia sudah mulai mengerjakan skripsi.
Sudah 3 hari dia tidak bertemu dengan khayran, bahkan dia tidak menelpon atau pun menge- chat nya, sepertinya khayran benar benar marah pada ku.
Setelah menyelesikan segala urusan di kampusnya ayra pulang ke kosannya, dan ini hari terakhir mas Arya di Bandung, dia sudah harus kembali mengerjakan Pekerjaan nya.
Setelah empat hari dia di Bandung hanya untuk mengajak aku dan ibu main dari tempat satu ke tempat yang lain, pastinya di saat aku sedang tidak sibuk.
Setibanya di rumah kos, ibu bicara padaku katanya nanti malam mau dinner sama mas Arya, aku sudah menolaknya tapi ibu memaksaku untuk tetap pergi, dengan terpaksa aku pergi, tapi dengan satu syarat ibu harus ikut.
Karna ibu masih mau menemaniku di Bandung, jadi tak ikut pulang ke Bali, lagi pula toko ibu ada Tanteku, adiknya ibu yang menjaga dan mengurusnya, karna mungkin sampai skripsi ku selesai aku tak akan pulang ke Bali jadi ibu memutuskan tinggal di Bandung tiga sampai empat mingguan lagi.
Setelah mandi saat ingin mengambil baju untuk kupakai, ibu datang ke kamar membawa kan ku baju, dan menyuruhku memakainya.
"Pakai baju yang ini ya, ay." Kata ibu sambil mengulurkan baju, tas, dan sepatu yang dia pegang dalam satu paper bag besar.
"Kenapa ibu membelikan aku baju baru?" Tanya ku.
"Ini dari mas Arya sayang, katanya suruh dipakai"
"Gak usah lah Bu aku kan punya baju" jawab ku menolak.
"Enggak boleh gitu Ra, kita harus menghargai pemberian dan perhatian orang lain, apa lagi kelihatanya Arya tulus kok memberikannya padamu." Ibu menasehati ku.
Tidak tulus Bu tapi ada maunya, jawabku yang pastinya dalam hati, aku tidak mau berdebat dengan ibu, sudah habis tenagaku.
"Iya Bu..." Jawabku singkat.
Aku mau tak mau membuka nya dan ternyata ini dress panjang se bawah lutut, Sling bag kecil dan sepatu heels yang tidak terlalu tinggi, dalam hati ku, pintar juga mas Arya memilihkan nya untukku sesuai selera ku.
Aku langsung bersiap, dan memakai riasan tipis, hanya pakai cushion, lip tint, maskara dan softles, setelah kurasa cukup aku pun keluar kamar.
Di keluar kamar ternyata ibu juga sudah siap dengan pakaiannya, Karna ini sudah jam tujuh malam, dan mas arya juga sudah memberi tahu ku sebentar lagi sampai.
Tak lama mas Arya datang, saat aku dan ibu keluar kami bertemu Sisil yang sepertinya habis pergi membeli makan dengan Deni.
"Wih cantiknya cabatku, mau kemana si beb?" Tanya si bar bar itu menggoda ku.
"Mau makan malam dulu nak Sisil" ibu yang menjawab.
Lalu Sisil menghampiriku dan berbisik " nanti si khayran marah loh Ra, pergi sama cowok dandan canti banget lagi." Kata cewek mulut bar bar ini, sambil tersenyum dia memberitahuku.
Aku tak menanggapinya, karna memang mas Arya sudah membuka kan ku pintu mobilnya, ya, dia naik taksi online kesini.
Aku membuka pintu kaca mobil dan pamit pada Deni dan Sisil.
Sampai di dalam Resto mewah itu, resto ini sangat mewah, bahkan tiga tahun sudah ayra tinggal di Bandung, ini kali pertama nya dia pergi kesani.
Ayra melihat lihat sekeliling resto yang benar benar mewah ini, kami duduk di kursi yang sudah di arahkan, ternyata mas Arya sudah reservasi, mas Arya sudah mempersiapkan ini dengan sangat matang.
Kami menikmati hidangannya, dan makanan nya pun sungguh lezat, dan di depan sana ada orang yang memainkan musik juga ada seseorang yang bernyanyi dengan sangat merdu.
Ini seperti di caffe caffe lainnya, cuma di kemas dengan lebih elegan, Karan resto berbintang.
Selesai makan mas Arya berdiri ,ku ikuti langkah mas arya dengan mataku kemana dia pergi, ternyata mas Arya ke arah panggung, dan ntah apa yang iya katakan kepada orang itu tapi setelah nya dia memangilku untuk kearahnya.
"Ayra kamu Dipanggil sana." Kata ibu karna aku melihat tapi diam saja.
Aku menghampiri mas Arya, "ada apa mas?"
"Kamu nyanyi yaa, aku sudah bilang sama orangnya, kalau kamu ingin menyumbangkan satu buah lagu." kata mas Arya meminta ku membawa kan satu lagi.
Ini yang aku tak suka dari Ama arya terlalu mendominasi, tak menanyakan dulu pada ku, aku mau tolak juga tak enak.
Terpaksa aku mengambil microphone itu dan berbincang ingin membawa kan lagu apa pada pianis ini.
Sebenarnya aku tak pernah bernyanyi didepan umum, aku bisa bernyanyi tapi tak pernah kutunjukan dan yang tau aku bisa bernyanyi hanya keluarga dekatku saja, karna sekarang itu aku tak pernah bernyanyi didepan umum bahkan Sisil pun tak tau bagaimana suaraku saat bernyanyi.
Mas Arya tau juga Karana dulu, aku pernah tampil pada acara ulang tahun nya yang aku dan ayah ku Hadiri saat kami masih kecil.
Setelah sepakat musikpun langsung di mainkan.
***
POV khayran
Ternyata khayran di ajak papah mamah, kakaknya. Serta keluarga kakak iparnya ya itu mas Iqbal, untuk makan malam keluarga, mereka agak malam datangnya sekitar jam 8-an baru sampai di restorannya.
Mereka ingin membicarakan tentang pernikahan kakaknya, dan juga agar lebih dekat dengan keluarga kakak iparnya.
Ketika khayran masuk dia mendengar suara nyanyian yang tak asing di telinga nya, dan ternyata itu suara perempuan yang dia cintai, suara ayra sedang menyanyikan Sebuah lagu.
Khayran mendekat mendengarkan lagu yang sedang ayra bawakan.
Angin, bisikkanlah
Bahwa rasa ini tak mau kompromi
Satu, triliun pilihan
Hatiku tetap tertuju padamu.
Ada yang tak mudah
dicinta kita
Dan tak mungkin aku abaikan
Sebab ini penting.
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Untuk padamu.
Tabu tak mungkin kita lawan
Namun ku tetap mau kamu
Cinta dan keyakinan bisa searah..
Brisia Jhody, tabu
Referensi.
Saat kalimat itu nyanyikan, aku melihat Ayra meneteskan air mata, sangat dalam sekali, sepertinya ini bukan lagu tapi kisah percintaan kita, aku tanpa sadar ikut menitihkan air mata.
Dan keluarga ku ikut menyaksikan penampilan ayra dan menatapku yang berdiri di sebelah panggung, mereka terharu melihat ayra bernyanyi ibu dan kak Ira pun menangis melihatku menitihkan air mata.
"Ternyata cinta khayran dan ayra begitu besar Ira, bagaimana kita bisa menghalang ini," ucap mamah pada Kaka perempuan ku itu, papah yang tidak tau hanya diam saja.
Papah nya sangat jarang pulang Karna papahnya khayran itu dokter, dan sedang di pindah tugas kan di Surabaya, lagi pula ayra juga jarang kerumahnya jadi dia tidak tau sama sekali tentang hubungannya dengan khayran.
Ayra melanjutkan nyanyiannya.
Satu Trilian pilihan
Hatiku tetap tertuju pada..mu
Ada yang tak mudah dicinta kita
Dan tak mungkin aku abaikan ini
Sebab ini penting.
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Untuk padamu...
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Untuk pada mu...
Tabu tak mungkin kita lawan
Namun ku tetap mau kamu
Cinta dan keyakinan Bisakah searah?
Cinta kita tabu...
Air mata ayra tak hentinya mengalir dia seperti bercerita pada semua yang di sini kalo cinta nya dan khayran tabu.
Selesai lagu itu ayra membuka matanya dan betapa terkejutnya dia, melihat keluarga khayran ada di depan sana walaupun sedang duduk tapi mereka melihat penampilan ayra.
Ayra menunduk lalu berdiri dan saat mengangkat kepalanya dia lebih terkejut ada khayran di sana.
Ternyata khayran juga menyaksikan penampilannya, ayra sangat rindu wajah itu, wajah yang sudah tiga hari ini tak dia lihat, orang yang dia rindukan kabarnya, yang menghilang karna marah sekarang ada di depannya.
Tapi khayran diam saja, saat ayra ingin meng hampiri khayran, tiba tiba di hadang oleh mas Arya yang langsung memeluknya erat tepat di hadapan kekasihnya itu.
Khayran berbalik dan pergi, dia menuju ke arah meja keluarganya.
"Mam aku mau sendiri dulu boleh?" Tanya khayran pada mamahnya.
"Tapi kita lagi makan de, kok pergi gitu aja" tanya papah yang tak tau apapun.
"Ya udah lagi pula ini acara Ira, ya sudah lah gak apa-apa pah." ucap mamah.
"Minta maaf kak" kata ayran pada kakaknya.
"Gak apa-apa dek, kakak ngerti kok." Ucap Ira.