Sepuluh

1800 Kata
Seminggu berlalu terlalu cepat. Dikta menghela napas, menyaksikan bagaimana Elisa berkali-kali memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Beberapa kali dia mengeluarkan bedak dari dalam tas, lantas memeriksa riasannya dari kaca yang ada di dalam bedak tersebut. Ketika Elisa merasa bau parfum yang ia semprotkan sebelumnya tak lagi tercium, dia akan menyemprotkannya lagi dan lagi. Sebuah pemandangan yang cukup membuat Dikta jengah, sebab temannya itu bersikap seolah mereka akan berhadapan dengan orang paling penting di muka bumi ini. "Kalau lo semprot parfum sekali lagi, yang ada bu bos malah pingsan karena wangi lo terlalu menyengat." Gumaman Dikta barusan, sukses menghentikan Elisa untuk menyemprotkan parfum. Sang puan menyengir lebar, lantas memasukkan kembali parfumnya ke dalam tas. "Emang beliau kapan datang?" "Sekitar 15 menit lagi, kayaknya." Elisa melirik jam kecil yang memang diletakkan di atas mejanya. Ia lantas menoleh pada Dikta menyadari bahwa laki-laki itu hanya mengenakan kemeja garis-garis putih dan celana bahan hitam. Berpenampilan santai namun tetap rapi, berbanding terbalik dengan Elisa yang mengenakan blazer dan rok berwarna biru muda. "Pin lo mana Dikta?" Pertanyaan sang puan, refleks membuat Dikta melirik ke pakaiannya. Menyadari bahwa tak ada pin berbentuk teratai berwarna putih yang tersemat di dadanya. Sebuah pin yang menjadi identitas tambahan untuk mereka yang bekerja dengan galeri seni Serenade d'Amore. Untuk pekerja biasa pinggiran dari pin itu berwarna perunggu, sementara yang Elisa kenakan saat ini pinggirannya berwarna silver berpadu emas. Menandakan dirinya menjadi orang terdekat untuk Adelia Padmasari nanti. "Oh iya hampir lupa." Dikta membuka laci di mejanya, menemukan pin berbentuk teratai dengan pinggiran berwarna emas tergeletak di atas tumpukan kertas di dalam sana. Pin itu menandakan bahwa dia termasuk orang yang menduduki jabatan tinggi di galeri seni ini, dengan Adelia sebagai satu-satunya pimpinan yang dirinya punya. Bergegas memasang pin tersebut, bersamaan dengan pintu ruangannya terbuka oleh Rita. "Elisa saya mencari kamu, ternyata ada disini." Rita memaklumi keberadaan Elisa di ruangan Dikta ketika meja sang puan berada di dalam ruangan Adelia. Mengingat ada beberapa berkas dan jadwal yang harus mereka pelajari bersama. "Jadwal Adelia untuk pagi ini kosong?" "Kosong bu, jam 12 nanti baru ada pertemuan dengan pemahat Adam Simatupang soal konsep pameran beliau di November ini." Jawaban itu diberikan oleh Elisa begitu cepat, tanpa melihat tablet yang ada di tangan. "Ada apa ya Bu?" "Saya lupa kasih tau kamu kalau galeri kita dapat undangan pameran dari galeri lain." Sebuah undangan yang didominasi warna coklat kayu diberikan Rita pada Elisa. "Dari Sukma Asih." Berbeda dengan Serenade d'Amore, galeri yang disebutkan Rita barusan sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. Dari tumpukan berkas yang diberikan pada Dikta untuk ia pelajari, dirinya ingat ada berkas khusus berisi beberapa galeri yang cukup terkenal. Salah satunya Sukma Asih. Sukma Asih adalah salah satu galeri yang menjadi awal mula dari kejayaan sebuah keluarga hingga hari ini. "Galerinya keluarga Sukma?" tanya Dikta, seolah memberitahukan bahwa dia mengenali galeri itu. "Saya pernah beberapa kali menjadi perantara galeri itu dengan seorang seniman kontemporer yang ada di Miami. Tapi tawaran mereka pada karya-karyanya terlalu rendah, jadi seniman itu menolak tawarannya." Bukan hal lazim menawar harga sebuah lukisan menjadi lebih murah, apalagi jika sang seniman sudah mematok harga-harga tertentu. Fakta bahwa orang dari Sukma Asih secara terang-terangan menawar beberapa karya dari seniman yang Dikta dampingi, sempat membuat dirinya merasa tak enak. Untung saja seniman itu tidak marah pada Dikta karena sudah memperkenalkan calon pembeli buruk. Apalagi Sukma Asih menawar karya-karya itu lebih rendah dengan alasan sang seniman merupakan pendatang baru di dunia seni. "Iya, mereka mau ngadain pameran-" "Bu Rita, Nona Adelia sudah tiba." Panggilan dari asisten pribadi Rita, memutus percakapan mereka. Rita tertawa kecil, menyadari bahwa Elisa mendadak menegang. Jelas sekali mendadak gugup sembari mengecek penampilannya untuk terakhir kali. Berbanding terbalik dengan Dikta yang bersikap biasa-biasa saja dari panggilan itu. Rita menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum keibuan. "Dikta, Elisa saya titipkan keponakan saya itu ya." *** Sudah begitu lama sejak terakhir kali Adelia menginjakkan kaki di galeri yang didirikan oleh sang ibu. Bagi Adelia kenangan akan sang ibu tidak ada sama sekali. Ayahnya kerap berkata bahwa sang ibu sangat menyayanginya, namun rasa sayang itu dirasa bagaikan sebuah dongeng belaka. Secara ia tidak yakin ibunya benar-benar menyayanginya, ketika beliau menghembuskan napas terakhir beberapa menit setelah melahirkannya. Satu-satunya tali yang menghubungkan Adelia dengan sang ibu, adalah kecintaan mereka pada dunia seni. Sudut hati Adelia sedikit tercubit, kala dirinya disambut oleh satu potret besar milik sang ibu. Perempuan berambut pendek yang tersenyum lebar nan hangat. Aneh rasanya melihat potret itu cukup untuk membuat Adelia menyadari sampai kapanpun dia akan selalu memiliki kekurangan yaitu tidak pernah merasakan kasih sayang sang ibu. "Adelia." Adelia cepat-cepat merubah air mukanya yang murung menjadi lebih cerah. Tersenyum kecil kala mendapati Rita mendekat. "Pagi Tante, maaf sedikit terlambat tadi sedikit terjebak macet." "Tante ngerti sayang," balas Rita lembut seraya mengusap kepala sang keponakan. Ia kemudian menoleh pada Elisa dan Dikta yang berdiri tepat di belakangnya. "Oh ya kenalin, mereka berdua adalah orang yang akan membantu kamu mengurusi galeri ini ke depannya." "Lama tidak bertemu, Kak Elisa." Sapaan itu nampaknya sedikit mengejutkan Elisa, sebab sang puan terdiam beberapa saat sebelum malu-malu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Adelia. Mungkin tidak mengira bahwa Adelia masih mengingatnya, walaupun pertemuan terakhir mereka terjadi beberapa tahun lalu. "Mohon bantu saya kedepannya ya Kak." "Senang bisa bertemu Bu Adelia lagi. Saya juga mohon bantuannya." Panggilan 'Bu' yang dipakai oleh Elisa sempat membuat Adelia mengernyit sebelum dirinya tertawa kecil. "Kak, panggil nama aja. Nggak usah pakai embel-embel gitu." Pandangan Adelia kemudian teralih pada Dikta yang dengan lihainya bersikap profesional. Tak ada tatapan benci dan amarah yang terlihat di matanya kala dia menjadikan Fira sebagai alat untuk bisa mengikat Dikta dalam kesepakatan mereka. Tergantikan tatapan ramah seiring sang pria menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. "Senang bisa bertemu dengan anda, Adelia. Alex tidak pernah mengatakan kalau dia punya adik perempuan." "Senang bisa bertemu anda juga, Mas Dikta. Kakak saya justru sering sekali menceritakan soal anda dan bagaimana anda membantu dia membeli beberapa karya seni." Adelia ikut tersenyum hangat. "Terima kasih sudah mengiyakan tawaran Kak Alex untuk menjadi mentor saya." "Dengan senang hati saya akan membantu." Dikta kemudian memandangi Rita dan Elisa bergantian sebelum berucap. "Apa kita harus keliling galeri dulu sebelum mulai bekerja." "Bagaimana kalau-" "Bu Rita perwakilan dari galeri Sukma Asih sudah datang." Salah seorang petugas keamanan galeri, memecah sapaan pagi keempatnya. Nama galeri itu jelas tidak asing bagi Adelia, secara galeri yang dioperasikan oleh keluarga kalangan atas mencuri perhatian lebih bagi keluarganya. Terlebih direktur galeri itu adalah Nyonya Harini yang jika mengingat cerita ayahnya dulu, ia merupakan salah satu kerabat dekat mendiang sang ibu. "Adelia tante lupa kalau beberapa hari lalu kita dapat undangan pameran dari galeri Sukma Asih. Tante baru kasih tau Elisa soal ini pagi tadi, tapi belum sempat ngasih tau kalau perwakilan dari galeri mereka mau datang soalnya kamu keburu datang." Tatapan Rita teralih pada Dikta, " Galeri itu mau meminjam beberapa koleksi kita untuk dipamerkan pada pameran itu. Jadi Dikta bisa sekalian kamu dampingi Adelia ya." "Tante dari sini biar aku yang urus." Tangan Rita yang memegang pundaknya, ditepuk Adelia pelan. Seolah menyiratkan bahwa ia tak perlu ditemani. "Tante harus segera ke bandara buat nyusul Om dinas luar negeri kan? Nggak perlu khawatir Tante bisa tinggalin aku sekarang." "Tapi-" "Tante Rita, terima kasih sudah mengurusi galeri ini selama aku nggak ada." Rita tersenyum, untuk kesekian kali mengakui bahwa putri bungsu dari Heri Padmana ini mirip sekali dengan sang ibu. Sahabat tersayangnya. Itulah kenapa sampai kapanpun akan ada sisi lembut sendiri untuk Adelia dari dalam hati Rita. Tangan Rita terangkat menepuk puncak kepala Adelia sebelum dia akhirnya berpamitan. Resmi meninggalkan jabatannya di Serenade d'Amore. Mengembalikan galeri besar itu ke pemilik aslinya. Adelia Padmasari. "Kalau begitu, kita langsung temui mereka ya." Ajakan Adelia itu dipatuhi oleh Elisa yang langsung mengangguk setuju. Sikap Elisa yang tadinya lebih banyak seperti seorang penggemar bertemu idolanya, kini berubah tenang. Menunjukkan ekspresi profesionalnya, seiring mengikuti langkah Adelia menuju ruang tamu khusus tamu galeri. Tak lupa memberi perintah pada pekerja urusan rumah tangga untuk menyiapkan minuman dan kudapan untuk menjamu tamu mereka. Dikta memilih mengikuti semua itu dalam diam, berjalan bersisian dengan Adelia. "Saya penasaran koleksi apa yang ingin mereka pinjam dari kita." Dikta tak bisa menahan diri dari rasa penasarannya. "Beberapa bulan lalu saya pernah membantu direktur dan perwakilan dari galeri itu untuk membeli karya seni dari salah satu seniman di Miami. Tapi mereka meninggalkan kesan buruk pada seniman itu. Sepertinya waktu itu mereka hendak memamerkan karya sang seniman di pameran ini." "Kesan buruk? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Adelia tak mengerti, seingatnya galeri Sukma Asih sangat menghormati para seniman dan salah satu galeri yang kerap mematok nilai tinggi ketika membeli karya-karya seni untuk koleksi mereka. "Menawar harga hingga ke titik bawah." Dikta menjawab begitu tenang, seolah tak sadar bahwa jawabannya itu sukses membuat Adelia mengernyitkan dahi bingung. "Untung saja seniman itu tidak marah karena saya mengenalkan calon pembeli buruk padanya." "Kamu yakin itu dari galeri Sukma Asih, Mas?" Kepala Adelia menggeleng pelan, tidak yakin akan cerita Dikta barusan. "Tante Harini nggak mungkin ngelakuin itu." Kini giliran Dikta yang mengernyitkan dahi. "Tapi direktur Sukma Asih bukan-" Suara dering ponsel Dikta yang berbunyi nyaring, membuat ketiganya sama-sama menghentikan langkah. Cepat-cepat Dikta merogoh ponsel di dalam saku celananya, menemukan nama Alex di layar. "Alex telpon saya. Kalian duluan saja biar saya nyusul." Adelia tersenyum kecil, entah kenapa sudah bisa menebak alasan kenapa sang kakak menelpon laki-laki itu. Apalagi kalau bukan untuk memastikan Dikta melakukan semuanya sesuai rencana. "Bilang saja ke Kak Alex, kalau aku baik-baik aja Mas Dikta." "Iya nanti saya sampaikan." Setelah mendapat jawaban dari Dikta, Adelia lantas kembali berjalan menuju ruang tamu yang sudah dekat dari tempat mereka berhenti. Tentu ditemani oleh Elisa yang menyempatkan diri memberi tau jadwal sang puan selama sehari ini. Dikta menoleh kanan-kiri memastikan tidak ada orang di sekitarnya sebelum mengangkat panggilan itu. "Hal-" "Kalau ada undangan dari galeri Sukma Asih, langsung tolak. Jangan sampai Adelia tau." Perintah yang diberikan Alex tanpa basa-basi itu, sontak membuat Dikta mengernyitkan dahi. "Kenapa? Justru sekarang perwakilan dari galeri itu datang ke galeri. Mereka mau pinjam beberapa koleksi dari galeri Padma." Di ujung sana terdengar suara kertas dibolak-balik terhenti, disusul sayup-sayup suara Bima yang bertanya kenapa atasannya itu mendadak terdiam. "Siapa? Siapa perwakilannya?" Pertanyaan Alex yang disuarakan dengan nada sedikit panik itu, membuat Dikta menghentikan petugas keamanan yang tadi memberitahukan kedatangan perwakilan galeri Sukma Asih yang hendak kembali ke pos. "Pak, maaf perwakilan dari galeri Sukma Asih siapa ya?" "Oh itu, Pak Damar kurator utama galeri Sukma Asih." "Pak Damar yang-" "Sama Pak Januar." Dikta yang langsung mengulang ucapan petugas keamanan itu ketika nama Pak Damar tersebut, sontak terdiam sebelum kembali menyahut. "Mas Alex dengar kan?" "Dikta saya mau minta tolong sama kamu." Dahi Dikta mengernyit, menyadari kini suara Alex terkesan panik. "Tolong bawa Adelia pergi dari pertemuan itu sekarang." "Kenapa-" "Januar itu mantan suami Adelia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN