BAB 15 | Miss Her So Bad

1842 Kata
Beberapa hari ini mood Juan benar-benar buruk. Dia tidak menyangka penolakan dari Daisy hari itu berhasil membuat suasana hatinya seburuk ini. Perubahan mood-nya tidak hanya berdampak pada dirinya, tapi juga bawahannya yang sering kena semprot. Mulut Juan yang sudah tajam jadi makin tajam saat sedang patah hati. “Juan ada di dalam, Fel?” Darren bertanya pada sekretaris Juan yang stand by di meja depan ruang kerja Juan. “Ada, Pak. Tapi…” “Kenapa?” tanya Darren penasaran. Wajah Feli yang gusar membuatnya penasaran hal gila apa lagi yang sudah dilakukan sahabatnya itu pada para bawahannya. “Mood-nya Pak Juan lagi kurang bagus, Pak.” “Memangnya kapan mood dia pernah bagus?” ujar Darren yang sudah hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu. “Tapi beberapa hari terakhir ini makin parah, Pak. Semua yang ada di lantai ini hampir semuanya kena semprot, bahkan OB yang biasa bersihin ruangannya juga kena semprot gara-gara masih ada debu dikit di meja kerjanya,” cicit Felicia. “Makin gila aja kelakuannya,” ujar Darren sambil terkekeh pelan. “Memang ada kejadian apa, Fel? Dia nggak mungkin ‘menggila’ kayak gini tanpa alasan, kan? Apa bawahannya ada yang bikin kesalahan fatal?” Felicia menggelengkan kepalanya lemas. “Nggak ada, Pak. Kerjaan kami aman-aman aja kok sejauh ini. Cuma sejak hari itu memang sikap Pak Juan jadi ngeri kayak gini. Mungkin memang benar gara-gara masalah itu,” ucap Felicia yakin. “Masalah apa?” “Hari itu Pak Juan minta saya buat nggak kirim bunga lagi ke kantor PopShift Management. Sejak hari itu sikapnya jadi uring-uringan.” Felicia mendekat sedikit ke arah Darren sambil berbisik pelan, “Kayaknya Pak Juan ditolak sama cewek itu.” Ucapan Felicia langsung membuat tawa Darren pecah. Jadi Juan menggila seperti ini hanya karena perempuan? Sepertinya doanya benar-benar didengar Tuhan. Keinginannya agar Juan jatuh cinta pada gadis yang tidak menginginkannya benar-benar terkabul. Sepertinya Darren harus ke gereja minggu ini. Dia perlu berterima kasih pada Tuhan karena sudah berbaik hati mengabulkan doa dari orang yang hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di gereja. “Saya masuk dulu ya, Fel,” ujar Darren masih dengan sisa tawanya. “Tapi jangan bikin masalah sama Pak Juan ya, Pak? Hari ini kami udah kenyang jadi sasaran amukannya beliau.” Lagi-lagi Darren tertawa. “Memangnya saya pernah bikin masalah sama bos kamu? Yang ada bos kamu tuh yang suka marah-marah nggak jelas ke saya.” Darren masuk ke dalam ruangan Juan tanpa peduli peringatan Felicia. Dia masuk dengan senyum mengembang sempurna, berbeda dengan Juan yang tepat seperti tebakan Darren—wajahnya masam seperti biasanya. “Apa kabar, Brother?” sapa Darren dengan cengiran khasnya. “Keluar.” “Kenapa? Lagi nggak mood karena ditolak cewek?” ucap Darren sambil cekikikan. Dan seperti biasa, pulpen mahal milik Juan lagi-lagi mendarat ke arahnya. Namun bukannya marah, Darren malah semakin puas menertawakan nasib sial sahabatnya. “Felicia ngomong apa aja ke lo? Memang minta dipecat itu anak!” “Selow, bro. Jangan tegang-tegang gitu ah, nanti cewek-cewek pada kabur,” katanya, masih dengan sisa tawanya. “Diem nggak lo!” Darren duduk di kursi depan meja Juan. Dia masih tertawa sambil memegang perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa. “Aduh, sakit perut gue. Gue nggak nyangka Juan yang dulunya sering bikin cewek patah hati, sekarang malah jadi korban. Kayaknya ini doa dari mantan-mantan lo yang sakit hati gara-gara kelakuan lo dulu. Akhirnya Juan Wiyoko kena karma juga.” “Diem atau gue robek mulut lo?” ancam Juan yang mulai jengah dengan tawa mengejek Darren. “Udah lah, Brother. Cewek bukan cuma dia doang. Masih banyak yang antri buat tuan muda pewaris Wiyoko Group macem lo,” kata Darren yang sudah berjalan mendekati Juan. Tangannya menepuk-nepuk pundak Juan berniat menyemangati, namun langsung ditepis kasar oleh Juan. Meski begitu Darren tidak tersinggung. Tuhan memang adil. Ketika Dia menciptakan Juan dengan segala kesempurnaannya, Namun Dia tidak memberinya satu hal—yaitu akhlak yang bagus. Ya, Tuhan memang seadil itu. “Nanti malem kita mau party, mau ikutan nggak?” ajak Darren. “Nggak.” Juan tidak tertarik dengan suasana ramai penuh sesak semacam itu. Belum lagi dengan perempuan-perempuan genit di sana, dia sama sekali tidak tertarik. “Sekali-kali cari hiburan, biar lo nggak ngenes-ngenes amat begini,” cibir Darren membuat Juan meliriknya kesal. “Gue nggak suka tempat ramai kayak gitu!” “Yaudah kita makan malem aja gimana?” Kali ini lirikan Juan berubah penuh waspada. “Lo udah kayak om-om kesepian aja! Makan sendiri aja sana! Ngapain ngajak-ngajak gue?” Darren langsung memukul keras pundak Juan. “Sialan lo! Gue begini karena khawatir sama sahabat gue yang baru pertama kali ngerasain patah hati, malah ngatain gue kayak om-om. Sahabat nggak tahu diri lo!” ujar Darren sambil berjalan menjauh, hendak keluar dari ruangan Juan. Ucapan Juan barusan sukses membuatnya kesal sekaligus merinding. “Lo atur reservasi restorannya,” kata Juan ketika Darren sudah di ambang pintu. “Ajak yang lain juga. Kayaknya gue butuh keluar goa biar nggak gila-gila amat,” lanjutnya yang dibalas Darren dengan acungan jempol sekaligus cengiran khas-nya. Mungkin dengan makan malam bersama sahabat-sahabatnya, suasana hatinya bisa seketika membaik. Siapa tahu juga sikap uring-uringannya selama ini hanya karena kurang piknik? Bisa saja, kan? Lagipula tidak mungkin sosok ‘Daisy’—gadis yang biasa-biasa saja itu, mampu membuatnya uring-uringan seperti ini. Ya, ini pasti cuma karena kurang piknik! *** Beberapa jam yang lalu, Juan masih sangat yakin kalau ‘kegilaannya’ akhir-akhir ini memang karena kurang piknik saja—setidaknya itulah yang dia pikirkan, namun begitu sampai di restoran yang sudah direservasi Darren dan melihat ‘seseorang itu’ langsung dengan mata kepalanya sendiri, hatinya langsung bergejolak. Terlebih saat melihat sosok itu tertawa bersama teman-temannya dengan lepas seolah tidak ada beban berarti yang mengganggunya akhir-akhir ini. Keadaannya saat ini sangat berbeda dengan apa yang Juan rasakan, dan hal itu semakin membuat pria itu kesal. “Wah, ada angin apa nih Juan mau keluar goa? Udah mulai sepet kan mata lo ngeliatin dokumen-dokumen di meja kerja?” ledek sahabat Juan yang lain saat dia dan Darren memasuki restoran. Juan tidak menanggapi ocehan sahabatnya. Matanya masih menyorot tajam pada meja yang berisi segerombolan pekerja kantoran yang sepertinya tengah menikmati makan malam selepas pulang kerja. Meja itu tampak seru, penuh dengan tawa dan obrolan yang menyenangkan—dan kenyataan itu semakin membuat hati Juan panas. “Udah jangan ganggu dia, mood-nya lagi nggak bagus,” tegur Darren pada sahabat-sahabatnya agar berhenti mengganggu Juan. Dia sudah susah payah membawa Juan keluar dari kandang, kalau tiba-tiba sahabatnya itu memutuskan untuk pulang maka sia-sia saja usahanya sejak tadi! Namun sepertinya, usaha Darren untuk mengkondusifkan suasana hati Juan tidak berjalan dengan baik, karena dilihat dari ekspresi Juan, sepertinya mood sahabatnya itu sudah terlanjur buruk. Apa Juan tersinggung dengan ucapan sahabatnya tadi? “Lo nggak papa?” tanya Darren khawatir. “Omongannya Leo nggak usah didengerin, dia emang suka—” “Berisik. Langsung pesen makan aja,” potong Juan, mengabaikan ucapan Darren. Mulut Darren gatal ingin memaki sahabat tidak tahu diuntungnya itu, namun karena dia sudah hafal orang seperti apa Juan, Darren pun berusaha mengabaikan sikap kurang ajar sahabatnya. Toh hari ini Juan-lah yang mentraktir mereka, jadi Darren harus sabar dengan sikap kurang ajar ‘tuan muda’ ini. “Seenggaknya tahan buat malem ini aja, Ren!”—ujar Darren dalam hati. Setelah berhasil menenangkan diri, Darren segera memanggil waitress. Teman-temannya yang lain sibuk membuka-buka buku menu, begitupun dengan dirinya—namun, berbeda dengan Juan yang masih asyik menatap tajam objek yang sejak tadi menyita perhatiannya. Sejak tadi Juan sibuk mengamati sosok gadis itu—Daisy, gadis yang menjadi penyebab kacaunya suasana hati Juan selama beberapa hari terakhir ini. Gadis yang sama yang membuatnya memarahi para bawahannya meski kesalahannya hanya seujung kuku. Gadis yang membuat sosok Juan untuk pertama kalinya tidak bisa fokus dan bahkan merasa muak hanya dengan melihat tumpukan dokumen di meja kerjanya. Gila! Juan tidak tahu jika dampak ucapan Daisy hari itu bisa membuatnya sampai ‘segila’ ini. Memang apa istimewanya gadis itu? Juan juga sudah biasa dimaki mantan-mantannya karena terlalu cuek menanggapi mereka, diomeli karena tidak mau menghabiskan waktunya bersama mereka, dan rentetan omongan menyebalkan lainnya dari mulut perempuan-perempuan itu, dan dia baik-baik saja dengan hal itu. Tapi kenapa kali ini berbeda? Kenapa kali ini dia merasa sangat marah? Terlebih saat melihat keadaan Daisy yang tampak baik-baik saja—tidak, bukan hanya baik-baik saja, gadis itu bahkan terlihat sangat bahagia setelah membuatnya seberantakan ini. Gadis itu bahkan masih bisa tertawa lepas bersama para rekan kerjanya. Dan kenapa juga dia harus terlihat sebahagia itu? Sialan! Tanpa sadar Juan menggebrak meja, hingga membuat para sahabatnya meliriknya was-was. Semuanya kompak memberi kode pada Darren, karena selama ini hanya Darren yang mampu menangani mood Juan yang susah ditebak. “Kenapa? Makanannya nggak cocok sama selera lo?” tanya Darren hati-hati. Juan melirik ke arah mejanya yang ternyata sudah penuh dengan pesanan mereka yang sudah ditata rapi di atas meja. Kapan waitress mengantarnya? Kenapa dia tidak sadar? “Nggak usah peduliin gue,” balas Juan sambil lalu. Matanya kembali melirik ke meja di ujung ruangan. Meski dia berusaha keras untuk tidak peduli, nyatanya sosok Daisy selalu berhasil menyita atensinya, terlebih saat dia menyadari sosok pria di samping Daisy yang sering mencuri pandang diam-diam pada gadis itu. “Sialan!” Juan tidak bisa menahan diri lagi. Pria itu bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke arah meja tersebut, namun lengannya ditahan Darren. “Lo mau kemana?” ujar Darren panik. “Lepas.” Namun bukannya melepas, Darren justru semakin mengeratkan pegangannya. “Lo mau ngapain?” desak Darren lagi. Dia tahu Juan memang agak gila, namun sahabatnya itu tidak akan berbuat ‘gila’ di tempat umum seperti ini, kan? “Gue ada urusan sebentar.” Kali ini Juan memelankan nada suaranya. Posisinya yang berdiri menjulang sudah cukup menyita seluruh perhatian pengunjung restoran, dia tidak mau menambah perhatian orang-orang ke arahnya dengan berteriak pada Darren, meski sebenarnya mulutnya gatal ingin meneriaki Darren saat ini juga! “Gue tahu mood lo lagi jelek, tapi jangan dilampiasin di tempat umum kayak gini dong. Bilang ke gue apa yang bikin lo nggak seneng? Lo marah karena meja di ujung sana berisik? Biar gue aja yang kesana dan negur mereka. Lo duduk manis di sini aja, oke?” oceh Darren panjang lebar—yang semakin menambah kadar kekesalan Juan. Dengan wajah menahan marah, Juan menghempas tangan Darren dari lengannya. Kesabarannya juga ada batasnya. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju meja yang sejak tadi menyita perhatiannya. Beberapa pasang mata tampak menatap ke arahnya penasaran, namun Juan tidak mengindahkannya. Fokusnya saat ini hanya pada sosok gadis dengan blouse baby pink dan rok broken white yang tengah menatapnya dari jauh dengan wajah pucat. Bibir Juan menyunggingkan senyum miring—merasa puas karena akhirnya gadis itu memberikan seluruh atensinya padanya. Juan mendesah dalam hati. Gadis yang selalu lekat akan warna pink itu… Betapa Juan sangat merindukannya. Tanpa sadar Juan semakin mempercepat langkahnya, seolah tidak sabar berada sedekat mungkin dengan gadis itu. Berbanding terbalik dengan Daisy yang tampak ingin kabur saat ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN