Daisy sedang sibuk dengan layar monitor di depannya. Tatapan sayunya tampak fokus menekuri layar komputer, sedangkan jemari lentiknya dengan cepat menari di atas keyboard komputer.
Nessa menatap gadis itu khawatir. Sekilas, Daisy mungkin terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan dengan seksama, wajah pucat serta kantung hitam di bawah matanya menandakan jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
“Semalem lo susah tidur lagi?”
Daisy masih menggerakkan jari-jarinya sambil menanggapi pertanyaan itu sekilas. “Hmm,” ujarnya tampak lelah.
“Orang itu masih ganggu lo terus?”
Daisy menghentikan kegiatan mengetiknya sejenak. Wajahnya tampak lebih pucat. Rasa takut itu selalu menyerang setiap kali diingatkan akan ‘orang itu’ dengan segala tingkah gilanya akhir-akhir ini.
“Lo harus lapor polisi deh, Sy! Orang sinting kayak gitu nggak bisa dibiarin gitu aja.”
Lapor polisi? Andai saja dia bisa.
“Kalo lo nggak mau lapor, biar gue aja deh yang lapor! Gue kan termasuk saksi mata. Gue bakal laporin dia atas kasus penguntitan dan tindakan tidak menyenangkan!” kata Nessa menggebu-gebu.
Dia sudah cukup sabar membiarkan pria sinting itu hingga saat ini. Kali ini dia tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak mau lagi melihat sahabatnya diteror hingga membuatnya parno dan susah tidur. Jangan dikira stock sabar Nessa sebanyak itu!
“Jangan,” gumam Daisy sambil memijat pelipisnya yang lagi-lagi terasa pening.
“Ck, lo masih aja belain mantan sinting lo itu! Tindakannya ini udah ngarah ke tindak kriminal, Daisy! Tiap hari nyegat lo di depan kantor kayak orang nggak punya kerjaan, nelponin lo 24 jam non stop, dan yang terbaru masang kamera tersembunyi di hadiah yang dia kasih. Kurang gila apalagi coba?!”
Daisy mengerutkan dahi saat dirasanya kepalanya yang semakin pusing. Rasa pusing itu semakin parah setiap kali ia mengingat hal gila yang dilakukan Yeremia selama seminggu terakhir ini. Daisy pikir dia sudah sangat mengenal pria itu setelah tahun demi tahun yang mereka lewati bersama, namun ternyata Daisy belum cukup mengenal bagaimana sosok ‘asli’ Yeremia.
Entah karena Daisy yang bodoh, atau memang Yeremia yang terlalu lihai menyembunyikan sikap gilanya selama ini.
“Mbak Daisy, ada kiriman makanan nih. Katanya buat Mbak Daisy. Makanannya banyak banget lagi,” ucap OB kantornya yang tampak kewalahan menenteng paper bag makanan di tangan kanan dan kirinya.
Mendapat kiriman itu membuat wajah Daisy pucat seketika. “Buang…” lirihnya tampak takut. “Buang aja makanannya!” sentak Daisy tanpa sadar.
Kakinya perlahan mundur satu langkah. Beberapa hari ini Yeremia sering mengirimkan sesuatu ke kantornya, entah itu makanan hingga hadiah-hadiah yang selalu Daisy tolak mentah-mentah.
Namun ada satu waktu dimana Daisy terpaksa menerima hadiah dari pria itu. Hal itu dia lakukan semata-mata agar Yeremia berhenti mengirimkan sesuatu ke kantornya lagi, karena selain mengganggu ketenangan Daisy, hal itu juga turut mengganggu ketenangan rekan kerjanya yang lain.
Namun tindakannya itu justru mengantarkan Daisy pada trauma hebat. Hari itu dia menerima hadiah boneka teddy bear dari Yeremia. Dia hanya berencana meletakkannya sebentar di meja kantor sebelum nanti membuangnya, namun karena pekerjaannya hari itu terlalu hectic, Daisy sampai lupa dengan boneka itu.
Suatu hari ada petugas CCTV yang kebetulan ditugaskan membenarkan kamera pengawas di ruang divisinya, tepat setelah membetulkan kamera di sana, pria itu berjalan mendekati mejanya dan mengatakan kalau ada yang janggal dengan boneka di atas mejanya.
Pria itu melepas hiasan lonceng berbentuk kalung di leher teddy bear itu dan memberitahunya kalau itu adalah kamera pengintai yang sering disalahgunakan oleh para penguntit mesumm.
Daisy tentu saja shock, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Rasa takut langsung menyerangnya, dia tidak menyangka jika selama ini Yeremia telah mengawasi gerak-geriknya lewat boneka itu. Hari itu juga Daisy langsung membuang boneka itu dan memutus segala komunikasinya dengan Yeremia. Dia bahkan sampai menginap di kos Nessa demi menghindari Yeremia.
Sebenarnya bisa saja Daisy melaporkan Yeremia seperti saran Nessa barusan, apalagi tindakan Yeremia kali ini memang serius. Namun beberapa hari lagi Yeremia akan menikah dengan adiknya.
Ibunya pasti akan marah besar padanya jika dia melaporkan calon suami adiknya ke kantor polisi. Bukannya Daisy tidak mau menjebloskan Yeremia ke penjara, dia hanya tidak ingin menambah kerumitan dalam hidupnya. Lagipula hidupnya juga sudah cukup rumit. Dia tidak butuh drama lagi!
“Ma-maaf, Mbak Daisy. Tapi ini banyak banget lho, sayang kalau mau dibuang semua.” Ucapan OB di depannya membuat Daisy kembali sadar dari lamunannya.
Daisy sudah bulat dengan keputusannya. Dia ingin membuang apapun pemberian dari laki-laki itu! Namun usapan lembut dari Nessa di pundaknya membuat ketegangan yang dirasakannya berangsur-angsur melemah.
“Tenang dulu, Sy. Siapa tahu itu bukan dari Yere. Tenangin diri lo dulu, muka lo tegang banget. Tuh, Pak Asep sampe gemeteran gitu.”
Ucapan Nessa menyadarkan Daisy dari sikap impulsifnya barusan. Efek dari paranoid-nya akhir-akhir ini adalah dia jadi sering bertindak di luar kesehariannya.
“Ma-maaf, Pak Asep. Saya nggak maksud ngebentak bapak…” ucap Daisy tidak enak.
“Saya cuma lagi banyak pikiran aja. Maaf ya, Pak.” lanjut Daisy dengan wajah menyesal. Akhir-akhir ini memang merasa seperti bukan dirinya.
Sebenarnya aku ini kenapa?
“Ada nama pengirimnya nggak, Pak?” Nessa mengambil alih pembicaraan karena dilihatnya Daisy yang tampak linglung.
“Di sini tulisannya cuma dari Wiyoko Group. Oh iya, ini dikirimnya bareng sama bunga yang biasanya, Mbak. Mungkin pengirimnya juga sama?” Pak Asep buru-buru mengambil satu bucket besar bunga Daisy pink milik Daisy yang tadi lupa dia bawa. Bunga itu kini tidak lagi asing di mata para OB juga para teman se-divisi Daisy karena rutin dikirimkan ke kantor selama hampir dua minggu ini.
“Coba deh lo telpon Juan,” suruh Nessa pada Daisy. Ngomong-ngomong soal Juan, Daisy juga sudah menceritakan alasannya dekat dengan Juan termasuk isi perjanjiannya dengan Juan pada Nessa.
“Lo tanyain apa bener makanan-makanan ini dari dia? Takutnya kita malah buang-buang makanan dari orang yang nggak salah apa-apa. Sayang juga kalo makanan sebanyak ini dibuang gitu aja,” saran Nessa pada Daisy.
Tapi apa benar makanan-makanan ini dari Juan? Tapi kenapa? Apa alasan pria itu mengirimkan makanan sebanyak ini padanya?
Apa pria itu masih berpikir kalau Daisy belum memaafkannya? Atau ini cara lain Juan agar Daisy mau memaafkannya? Tapi bukankah kemarin mereka baru saja bertemu dan bahkan Daisy sudah mengatakannya dengan jelas kalau dia sudah memaafkannya?
Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya, hingga rasanya kepalanya mau pecah!
***
Juan menatap benda pipih persegi panjang di atas mejanya dengan tidak sabar. Tingkahnya saat ini sudah seperti sedang menunggu notifikasi penting dari klien.
Tangannya mengetuk-ngetuk di atas meja dengan mata yang terus menyorot tajam ke arah layar ponselnya. Sesekali ia membuka kunci layarnya, kemudian mematikannya dengan kesal begitu tidak menemukan notifikasi yang diinginkannya. Sial!
“Felicia, masuk ke ruangan saya!” suruh Juan pada sekretarisnya melalui intercom di atas mejanya. Tidak lama kemudian si sekretaris datang dengan wajah was-was setelah mendengar nada ketus dari atasannya.
“Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”
“Gimana makanannya? Sudah kamu kirim?”
“Sudah, Pak. Beberapa menit lalu sudah diterima oleh—”
Tiba-tiba ponsel Juan berdering, menampilkan nama kontak yang sejak tadi sedang dia tunggu. Senyum tipis Juan langsung terbit, meski hanya segaris namun tetap ter-notice oleh sekretarisnya yang tampak keheranan. Dia heran orang yang beberapa saat tadi memberengut kini justru tampak kegirangan.
“Keluar. Saya ada telepon penting,” usir Juan yang kini sudah sibuk dengan ponsel miliknya.
Felicia hanya mampu undur diri sesuai perintah atasannya yang sulit dimengerti itu. Tapi siapapun si penelepon, Felicia harus berterima kasih karena berkatnya dia jadi terbebas dari amukan sang bos.
“Sudah terima makanannya?” tanya Juan dengan senyum mengembang.
“Jadi kamu yang kirim makanan-makanan itu?” sahut Daisy dari seberang.
Tanpa sadar Juan mengangguk. “Kamu suka?” Sejak tadi dia sungguh penasaran dengan reaksi Daisy.
Apa gadis itu suka? Apa dia menelepon untuk berterima kasih padanya? Saat ini gadis itu pasti sedang tersenyum manis sambil meremas ujung dress-nya malu-malu.
“Ambil lagi makanannya.”
Senyum Juan langsung lenyap. Tunggu, barusan dia salah dengar kan?
“Apa? Kamu tadi bilang apa?”
“Aku bilang, ambil lagi makanannya. Aku nggak mau nerima makanan-makanan ini.”
Juan merasa kesal bukan main. Rasa antusiasnya sejak tadi hancur tak bersisa.
Namun dia berusaha sabar. Daisy pasti punya alasan kenapa dia menolak makanan-makanan pemberiannya. “Kenapa? Kamu nggak suka makanannya? Mau aku kirim makanan yang lain? Makanan apa yang kamu suka?” tanya Juan dengan nada selembut mungkin. Dia berusaha keras menjaga nada suaranya agar tidak tiba-tiba meninggi.
“Mau kamu yang ambil atau aku yang balikin makanan-makanan ini ke kantor kamu?”
“Aku tanya, apa kamu nggak suka makanannya? Jelasin ke aku apa yang salah di sini?” Rahang Juan mulai mengeras.
“Nggak ada yang salah. Aku cuma nggak suka aja. Pokoknya jangan kirim apapun lagi ke kantorku. Apapun. Termasuk bunga-bunga yang selalu kamu kirim.”
Sial! Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya. Beberapa hari yang lalu gadis itu dengan manis mengatakan kalau dia menyukai bunga darinya, namun hari ini dia menyuruhnya untuk berhenti mengirimkan bunga-bunga itu kepadanya. Apa gadis itu sedang mempermainkannya? Dan kenapa juga Juan harus sesenang itu saat tahu Daisy menyukai bunga-bunga darinya?!
“Jadi kamu benci semua yang aku kasih ke kamu selama ini?”
Hening beberapa saat. “Ya. Jadi tolong berhenti kirim apapun lagi ke kantorku.”
Rasanya Juan ingin membanting ponsel di tangannya. “Buang aja,” balas Juan dingin. “Kalau kamu nggak suka, kamu bisa buang semuanya,” lanjutnya sambil menutup panggilan dan meletakkan benda pipih itu ke meja dengan kasar.
Juan menyugar rambutnya gusar. Dalam sejarah hubungannya dengan perempuan, belum pernah dia dibuat sefrustasi ini. Tapi kenapa dengan Daisy berbeda? Kenapa gadis itu selalu berhasil menjungkir balikkan perasaannya?