BAB 13 | Terlihat Berbeda

1361 Kata
Sejak dia menyetujui permintaan ayahnya untuk membantu Wiyoko Techware yang selalu gagal menyumbang keuntungan di beberapa quarter ini, Juan jadi semakin sering bertemu dengan Daisy yang tanpa dia duga menjadi ‘jembatan’ antara dirinya dengan PopShift Management. Ini tentu hal yang mengejutkan dan menguntungkan baginya, setidaknya berkat kerja sama ini, Daisy jadi tidak punya alasan untuk menghindarinya. Namun ekspresi gadis itu setiap kali bertemu dengannya selalu mengganggunya. Wajah tidak sukanya itu terlalu kentara. “Kenapa? Kamu kelihatan nggak senang?” “Bukan apa-apa.” Gadis itu berusaha menormalkan kembali ekspresi wajahnya. “Kamu nggak senang karena kita harus sering ketemu lewat proyek kerja sama ini?” Tanpa sadar bibir gadis itu mencebik. Ekspresi itu tertangkap jelas oleh indra penglihatan Juan. Ada apa dengan ekspresinya itu?! “Selain partner kerja, kamu masih ingat kan kalau kita ini juga partner di atas kertas? Perlu aku ingatkan isi perjanjian kita? Kebetulan aku masih ingat isi perjanjiannya, aku bahkan sudah hafal di luar kepala—” “Nggak perlu! Aku masih inget!” potong Daisy cepat. Daisy yang menyimpan lembar bermaterai itu dan dia juga yang menulis isi kontraknya, tentu saja dia masih ingat. “Kita ini partner dalam segala hal, Daisy. Jadi apa nggak bisa kamu sedikit mengurangi rasa benci kamu itu? Seenggaknya jangan melihatku seolah aku ini serangga.” Sejujurnya, belum ada perempuan yang membuatnya merasa se-tidak diinginkan ini. Tiga puluh tahun Juan hidup, baru kali ini dia diperlakukan seperti ini. Harga dirinya serasa diinjak-injak! Namun anehnya, dia juga tidak bisa marah. Tidak tahu kenapa Juan tidak bisa mengeluarkan taringnya di hadapan gadis itu. Dia selalu lemah jika berhadapan dengan Daisy. “Benci? Kapan aku bilang aku benci kamu?” Si gadis malah menatapnya dengan tampang tidak bersalah, seolah lupa siapa yang tadi berdecak dan melempar tatapan tidak suka. Apa sekarang dia mau berlagak amnesia? “Kamu selalu ngeliat aku dengan tatapan seolah aku ini serangga menjijikkan,” desis Juan menahan kesal. “Aku nggak benci kamu kok,” cicit Daisy sambil meremas ujung roknya—lagi-lagi kebiasaan itu. Sejak rutin bertemu dengan Daisy karena alasan pekerjaan, Juan jadi hafal dengan kebiasaan gadis itu. Daisy selalu meremas ujung rok, atau jari-jarinya setiap kali merasa cemas atau gugup. Juan juga sadar kalau gadis di depannya ini ternyata maniak strawberry. Setiap kali mereka bertemu di kafe atau restoran, gadis itu selalu memesan sesuatu yang berhubungan dengan strawberry—entah itu strawberry milkshake, strawberry cheesecake, strawberry smoothie, pokoknya semua yang berbau strawberry! Selain suka warna pink, gadis itu juga ternyata pecinta strawberry. Tanpa sadar Juan jadi mencatat setiap hal yang dia tahu tentang Daisy di otaknya. “Terus kenapa wajah kamu selalu begitu setiap kali kita ketemu? Kamu masih marah karena insiden di lobby waktu itu?” Kejadian itu sudah lama. Namun sejak insiden itu, Juan masih rutin mengirimi Daisy bunga hingga detik ini. Itu semua dia lakukan demi mendapat maaf dari gadis di depannya ini. Tapi tampaknya usahanya itu belum juga membuahkan hasil. “Apa kamu marah karena aku masih aja ngirim bunga ke kantor kamu?” Kesimpulan itu muncul begitu saja di otaknya. Mungkin saja Daisy sudah muak dengan bunga-bunga yang dikirimkannya? Darren bilang semua perempuan suka bunga, tapi bisa saja pengecualian bagi Daisy? “Enggak. Aku suka kok sama bunganya,” cicit Daisy tidak enak. “Makasih atas kiriman bunga-bunganya. Bunga Daisy-nya cantik, aku suka,” lanjutnya malu-malu. Hati Juan sedikit lega begitu tahu kalau Daisy tidak membenci bunga-bunga darinya. “Jadi apa alasannya?” “Alasan apa?” “Alasan ekspresi kamu selalu begitu?” ucap Juan gemas. Perasaan Juan selalu tidak enak setiap kali bertemu Daisy, bukan karena tidak menyukai pertemuan mereka, melainkan karena ekspresi Daisy yang seolah tidak suka setiap kali melihat wajahnya. Daisy kembali menghela napas—persis seperti yang dilakukannya beberapa menit yang lalu. “Akhir-akhir ini aku memang lagi ada masalah, jadi mood-ku agak jelek. Maaf kalau sikapku bikin kamu salah paham.” Masalah? Masalah apa? Sebesar apa masalahnya hingga membuat gadis itu muram selama beberapa hari ini? Apa ini ada hubungannya dengan bekas luka di pergelangan tangannya? Mulut Juan gatal ingin bertanya lebih rinci, namun dia sadar kalau dia tidak punya hak mendesak Daisy untuk menceritakan masalahnya lebih jauh karena dia bukan siapa-siapa. *** Sudah beberapa hari sejak deep talk—yang tidak dalam-dalam amat—bersama Daisy hari itu. Namun, Juan masih kepikiran soal masalah apa yang sedang menimpa gadis itu. Juan juga jadi semakin khawatir soal bekas luka di pergelangan tangan Daisy, meskipun terakhir kali dia lihat bekas itu sudah mulai memudar. Tapi dia masih penasaran dengan siapa yang membuat gadis ringkih itu terluka? Ngomong-ngomong soal ringkih, otak Juan jadi berkelana memikirkan postur tubuh Daisy. Tubuhnya pendek—mungkin hanya sedada Juan. Tubuhnya kurus, begitu juga dengan lengannya. Kulitnya putih pucat—sepucat pasien penderita anemia. Juan berdecak. Apa gadis itu sudah makan dengan benar? Kenapa tubuhnya sekurus dan seringkih itu? Saat Juan menggenggam tangannya saja gadis itu sudah merengek kesakitan, apalagi saat dia mendapatkan luka itu di pergelangan tangannya? Mungkinkah saat itu Daisy menangis? “Sialan.” Membayangkan gadis itu menangis entah kenapa membuatnya marah. “Halo, Fel.” Secara impulsif, Juan menghubungi sekretarisnya yang mejanya terletak tepat di depan ruangannya. “Kirimkan makanan ke alamat biasa.” “Makanan? Makanan apa, Pak?” “Apa aja yang penting enak dan sehat. Kirimkan dalam jumlah besar.” Mungkin saja Daisy ingin berbagi makanan itu bersama teman-temannya. “Lalu bunganya, Pak? Mau berhenti dikirim atau—” “Tetap kirimkan bunganya seperti biasa.” Lagipula Daisy bilang dia menyukai bunga-bunga yang dikirimkannya. “Baik, Pak. Segera saya laksanakan.” “Lo masih aja ngirimin bunga buat cewek itu?” tanya Darren tepat setelah Juan menutup panggilannya. Pria itu dengan wajah shock berjalan cepat menuju sahabatnya. Sejak kapan orang ini ada disini? “Ada perlu apa?” ucap Juan malas. “Jawab pertanyaan gue barusan!” “Lo bilang gue harus ngasih dia bunga biar dia nggak marah lagi?” Juan hanya melakukan apa yang Darren suruh, jadi apa masalahnya? “Iya, tapi cuma sekali aja, Juan! Sekali! Ini udah hampir dua minggu sejak insiden itu, jadi lo udah ngirimin dia bunga sejak dua minggu yang lalu? Udah kebanyakan duit lo?!” Memang! Saking banyaknya sampai rasanya Juan ingin membelikan satu toko bunga saat Daisy bilang menyukai bunga darinya. “Gini, gue tahu lo banyak duit. Tapi bukan berarti lo bisa ngelakuin hal tololl kayak gini.” Juan menatap sinis ke arah Darren. “Tololl gimana maksud lo?” “Gue emang nyaranin lo buat ngasih dia bunga biar dia mau maafin lo. Tapi kalo dia masih juga nggak mau maafin lo, itu artinya dia emang nggak mau sama lo! Waktunya mundur teratur, jangan ngabisin duit buat orang yang jelas-jelas nggak mau sama lo.” “Jangan sembarangan kalo ngomong. Siapa bilang dia nggak mau sama gue?” Tiba-tiba harga dirinya terluka. “Gue ngirimin bunga itu karena memang gue mau. Lagian dia juga udah maafin gue kok,” ucap Juan dengan sisa-sisa harga dirinya. Namun ucapan Juan justru semakin membuat Darren shock. Orang di depannya ini benar-benar Juan? Juan sahabatnya yang selalu cuek ke pacarnya itu? “Jadi, kalian beneran pacaran?” “Pacar apanya!” “Berarti lo belum sempet nembak?” Wajah Juan jadi semakin keruh. “Lo ngomong apa sih?! Nembak buat apa, orang gue nggak suka sama cewek itu!” “Bohong. Kalau nggak suka, lo nggak akan se-effort ini,” ucap Darren dengan senyum jahilnya. “Jadi siapa perempuan beruntung itu? Cewek mana yang udah berhasil bikin Juan sebucin ini?” Lagi-lagi Darren mengejeknya. “Diem lo! Udah dibilang gue nggak suka!” “Iya-iya, nggak suka. Percaya kok.” Darren pergi meninggalkan ruangan Juan sambil terkikik geli. Bantahan dari Juan justru menegaskan kalau memang ada ‘sesuatu’ di antara keduanya. Sementara itu, Juan masih bersikeras kalau dirinya tidak menyukai Daisy. Dia memang tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta, tapi dia sangat sadar jika perasaannya pada Daisy bukanlah perasaan cinta. Bukankah orang bilang jantung kita akan berdebar setiap kali bertemu dengan orang yang kita cintai? Nah, jantung Juan tidak begitu! Sejauh ini jantungnya selalu aman setiap kali berdekatan dengan Daisy. Itu artinya, dia tidak suka Daisy kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN