“Hai, Daisy. Udah lama kita nggak ketemu. Apa nomorku sengaja kamu blokir? Aku selalu kesusahan buat hubungin kamu.”
Cowok itu! Gimana bisa Juan ada di sini?!
“Ka-kamu… penanggung jawab project ini?” tanya Daisy ragu.
Senyum Juan semakin mengembang, seolah telah memenangkan lotre. “Benar. Aku penanggung jawab project ini. Ke depannya kita akan semakin sering ketemu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya,” kata Juan, masih dengan senyum mengembangnya.
Nggak. Nggak mungkin! Gimana bisa seorang CEO perusahaan induk mau repot-repot menjadi penanggung jawab project dari anak perusahaannya? Memangnya Juan se-nggak ada kerjaan itu?!
Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Daisy pun menanyakan hal tersebut langsung ke orangnya, “Bukannya kamu kerja di perusahaan induk? Kenapa kamu mau repot-repot ngurusin project dari anak perusahaan kamu?”
“Memang apa salahnya?”
Ya nggak ada salahnya, sih. Cuma agak janggal saja…
“Kamu nggak mikir kalau aku sengaja handle project ini cuma buat ketemu kamu, kan? Kamu jelas tahu aku nggak se-kurang kerjaan itu,” ujar Juan seolah bisa membaca isi pikiran Daisy. Dia memang ingin bertemu Daisy, tapi dia tidak suka mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.
Ya, meski kadang suka kelepasan juga sih—mengingat dia hampir memberikan surat peringatan pada karyawannya yang menyebarkan gosip tentang dirinya dan Daisy soal kejadian di lobby perusahaan beberapa hari yang lalu.
“Bagus kalau memang bukan. Saya harap Bapak Juan yang terhormat bisa terus bersikap profesional selama kerja sama ini berlangsung.” Kali ini Daisy mulai memasang sikap profesional.
Daisy berusaha menyadarkan dirinya kalau orang yang duduk di depannya ini bukanlah Juan si laki-laki mesumm yang tempo hari memegang tangannya secara paksa, melainkan Juan—CEO Wiyoko Group sekaligus perwakilan Wiyoko Techware yang akan menjadi partner-nya selama kerja sama ini berlangsung. Tetap profesional, Daisy!
“Kalau begitu saya akan langsung ke inti pembicaraan saja mengingat Pak Juan orang yang sibuk, dan saya tidak mau membuang-buang waktu bapak yang berharga,” ucap Daisy sambil membuka-buka lembar dokumen yang dia bawa.
Juan tersenyum. Rasanya aneh mendengar Daisy menggunakan bahasa seformal ini padanya. Dia terbiasa dengan Daisy yang berbicara dengan berbagai ekspresi di wajahnya, jadi melihat Daisy yang datar dan kaku seperti ini rasanya sedikit aneh.
“Sebelumnya perkenalkan, saya Daisy—brand partnership yang ditunjuk langsung oleh CEO PopShift Management untuk menangani project kerja sama dengan Wiyoko Techware.”
“Seperti yang kita tahu, Wiyoko Techware akan meluncurkan product baru berupa smartwatch yang dikhususkan untuk orang-orang yang gemar berolahraga. Saya sudah dengar detail product-nya, dan sudah membuat daftar influencer yang berada di naungan perusahaan kami, yang kemungkinan cocok untuk digunakan sebagai brand ambassador produk terbaru Anda.”
Juan membuka-buka dokumen dari Daisy. Dia membaca dengan cermat daftar influencer yang disusun Daisy secara lengkap.
“Selain itu, kami juga menyusun beberapa list artis yang sekiranya cocok untuk menjadi brand ambassador product smartwatch terbaru Anda. Meski dari pihak Wiyoko Techwear tidak meminta, namun saya pikir tim Anda mungkin juga butuh mengingat kebanyakan perusahaan selalu memilih artis besar sebagai brand ambassador dibanding influencer.”
Juan hanya melihat sekilas dokumen dari susunan artis-artis yang Daisy buat. Pria itu tampak tidak tertarik. “Tidak perlu. Tim kami cuma butuh daftar influencer saja.”
Seharusnya Daisy tidak perlu mempertanyakan keinginan klien. Dia hanya perlu mengiyakan apapun yang klien butuhkan. Namun sejak kemarin dia sangat penasaran dengan alasan Wiyoko Techware memilih influencer sebagai brand ambassador dibandingkan artis yang sudah punya nama besar. Jelas masalah dana bukan alasannya mengingat Wiyoko Techware berada di bawah naungan Wiyoko Group yang merupakan perusahaan teknologi terbesar di Indonesia.
“Maaf kalau pertanyaan saya tidak sopan, tapi boleh saya bertanya kenapa Anda memilih influencer dibanding artis yang sudah jelas punya nama besar?”
Juan mengalihkan perhatiannya sebentar dari lembar dokumen ke wajah Daisy. “Apa kamu juga berpikir kalau setiap product akan bagus penjualannya jika dipromosikan oleh artis yang punya nama besar?”
Tentu saja. Bukankah itu sudah jelas? Perusahaan besar lebih mudah mencapai kesuksesan ketika meluncurkan product baru karena punya dana yang besar untuk menggaet artis ternama sebagai brand ambassadornya.
“Ya. Saya pikir begitu.”
Juan tersenyum kecil. “Pola pikir kamu sama seperti orang-orang di Wiyoko Techware. Itu sebabnya product sebelumnya gagal.”
Daisy mengerutkan dahinya bingung. Apa ada yang salah dengan jawabannya? Bukankah penjelasannya tadi sudah benar?!
“Maaf, apa maksudnya product sebelumnya gagal? Bukannya product yang diluncurkan Wiyoko Techware selalu laku di pasaran?”
Juan meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja, dan fokusnya kini beralih sepenuhnya ke gadis di depannya yang sedang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Wajah seriusnya itu lucu juga.
“Itu berdasarkan pengamatan orang awam seperti kamu, tapi secara perhitungan, product itu sebenarnya rugi. Wiyoko Techware punya branding menjual barang teknologi berharga ekonomis. Menggunakan artis besar memang bisa mendongkrak penjualan, namun sebanyak apapun product yang dijual, hasilnya tetap tidak bisa menutup biaya operasional.”
“Kita memang bisa saja menggunakan artis besar, dananya jelas ada. Tapi kita juga harus memikirkan apakah penjualan dan pendapatannya seimbang. Kalau hanya menjual barang, semua orang juga bisa. Selain menjual, kita juga perlu memperkirakan estimasi biaya operasional secara keseluruhan agar tidak rugi,” jelas Juan panjang lebar.
Jika itu bukan Daisy, jelas Juan tidak akan mau menjelaskan sedetail ini. Jangankan menjawab secara detail, menjawab secara singkat saja dia enggan.
“Terima kasih atas penjelasannya, Pak Juan. Berkat Anda, hari ini saya dapat ilmu baru,” ucap Daisy sungguh-sungguh.
Juan termenung. Tatapan Daisy padanya saat ini tampak berbeda. Tatapannya tampak berbinar-binar seolah gadis itu kagum kepadanya. Apakah Daisy tipe orang yang kagum akan kepintaran seseorang? Apa Juan harus sering-sering begini agar Daisy mau menatapnya dengan mata berbinar-binar seperti itu?
“Ehem, bisa kita lanjutkan soal pemilihan influencernya?” ujar Juan salah tingkah. Lama-lama ditatap seintens ini agak membuatnya kikuk juga.
“Ah, iya, Pak. Silakan,” ucap Daisy tampak tidak terpengaruh dengan rasa tidak nyaman Juan. Sikapnya masih santai seperti biasanya.
Apa di sini hanya dirinya saja yang merasa tidak nyaman? Kenapa gadis itu tampak biasa saja?!
***
“Karena pembahasan mengenai pekerjaan sudah selesai, bisa kita bicara tentang masalah pribadi kita?”
Juan dan Daisy baru saja menyelesaikan pembicaraan mengenai pekerjaan, dan sekarang mereka sedang makan siang bersama, mengingat saat ini memang sudah waktunya jam makan siang dan kebetulan mereka juga sedang berada di restoran.
“Saya nggak mau,” balas Daisy dengan tatapan yang tidak berpaling dari daging steak yang saat ini sedang dipotongnya.
Juan menatap gadis itu geram. Apa saat ini daging steak itu lebih menarik dibanding dirinya?! Gadis ini benar-benar!
“Lihat aku, Daisy!”
Gadis itu menoleh, namun tatapannya masih terlihat tidak berminat. Bahkan bibir tipis merah muda itu tampak cemberut.
Apa-apaan itu? Kemana perginya tatapan kagum tadi?!
“Saya nggak mau membicarakan hal di luar pekerjaan.”
“Berhenti bicara formal!”
“Tapi saya kesini untuk urusan pekerjaan.”
“Urusan pekerjaannya sudah selesai.”
“Kalau begitu saya akan langsung pulang begitu makanan saya habis.”
Juan memijat pangkal hidungnya. Dari banyaknya wanita yang pernah berhubungan dengannya, Daisy-lah gadis yang paling membuatnya pusing!
“Aku minta maaf, Daisy.”
“Minta maaf kenapa?”
“Maaf karena hari itu aku berbuat kurang ajar ke kamu,” kata Juan sungguh-sungguh.
“Kurang ajar gimana? Memangnya Pak Juan ngapain saya?”
Juan mengepalkan tangannya di atas meja. Gadis ini sengaja ingin menguji kesabarannya.
“Maaf karena sudah memaksa kamu ikut saya ke apartemen. Maaf karena saya pegang tangan kamu sembarangan. Maaf karena sudah bikin tangan kamu—”
“Ini kenapa?!” Ucapan Juan terhenti karena fokusnya teralih pada pergelangan tangan Daisy yang tampak membiru.
Apa ini? Apa ini karena dirinya? Apa luka yang disebabkannya separah ini?
“Ini… karena aku?” Tanpa sadar Juan sudah menggenggam lembut tangannya, namun Daisy langsung melepas paksa genggaman itu dan menyembunyikan tangannya dibalik tubuh dengan panik.
“Bukan.” Daisy terlihat gugup, dia tidak menyangka Juan akan memperhatikan luka di pergelangan tangannya sedetail itu.
“Siapa yang lakuin itu?”
Juan memang memegang paksa tangan Daisy saat kejadian di lobby hari itu, namun dia yakin lukanya tidak separah itu. Apalagi kejadiannya juga sudah lama, sedangkan luka Daisy saat ini terlihat masih baru—seolah baru terjadi beberapa hari yang lalu.
“Bukan urusan kamu,” jawab Daisy sambil menunduk—sengaja menghindari tatapan menelisik Juan.
“Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi, saya permisi. Terima kasih atas makan siangnya.” Daisy buru-buru bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Juan yang masih menatap kepergiannya dengan perasaan tidak tenang.
Aneh. Gadis itu bukan siapa-siapanya. Mereka juga belum lama kenal. Tapi kenapa perasaan Juan jadi tidak tenang saat melihat gadis itu terluka? Apa ini karena gadis itu adalah pacar pura-puranya?
Ya, mungkin itu alasannya. Mungkin ini hanya perasaan empati semata.
Mau bagaimanapun mereka ini kan masih partner di ‘atas kertas’, peduli pada sesama partner bukannya hal yang wajar?