Hari ini Daisy kembali pulang dari kantor dengan menenteng bucket bunga dari Juan seperti hari-hari sebelumnya. Daisy pikir, Juan akan menyerah mengiriminya bunga setelah 2-3 hari berlalu. Namun sudah seminggu, dan pria itu belum juga menyerah.
Apa sekarang waktunya dia memaafkan pria itu? Sepertinya pelajaran yang dia berikan pada Juan sudah cukup. Pria itu juga kelihatannya sangat menyesal.
Daisy berjalan keluar dari perusahaan bersama beberapa karyawan yang lain, seperti biasa dia pulang menggunakan transportasi umum; kali ini dia akan menggunakan busway, kebetulan haltenya tidak jauh dari kantor Daisy.
Jika tidak busway, Daisy biasanya menggunakan MRT. Namun karena jaraknya agak jauh dibanding halte busway, jadilah Daisy memilih pulang naik busway saja hari ini. Sebenarnya ayah tirinya sudah berkali-kali menawarinya membeli mobil, namun Daisy selalu menolak. Dia ingin membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri.
Selain itu dia juga tidak mau hal itu dijadikan Rhea sebagai bahan untuk menyindirnya. Lagipula naik transportasi umum juga sudah cukup nyaman.
“Daisy.”
Tubuh Daisy menegang saat mendapati Yeremia yang sudah menunggunya di depan kantor. Mau apa pria itu ke sini?
“Aku ke sini buat jemput kamu,” kata pria itu tidak tahu malu.
“Aku nggak minta kamu jemput,” balas Daisy dingin. “Lagian aku juga nggak sudi satu mobil sama laki-laki nggak tahu malu kayak kamu.” Daisy tidak peduli jika ucapannya menyinggung Yeremia.
“Ada yang mau aku omongin.”
“Tapi aku enggak, nggak ada yang mau aku omongin ke kamu.” Daisy memeluk bucket bunganya erat dan berjalan melewati Yeremia.
Namun tangan Yeremia lebih dulu memegang pergelangan tangannya. Daisy terkejut hingga membuat bunganya terjatuh.
“Lepas!” geram Daisy marah. Dia benci disentuh oleh tangan menjijikkan itu. Membayangkan tangan yang pernah menjamah tubuh adiknya, kini justru menyentuhnya membuat perutnya mual.
“Bunga itu dari pacar kamu?”
“Bukan urusan kamu!”
“Kamu beneran udah move on dari aku? Secepat itu?” Daisy bisa melihat kilat marah di wajah Yeremia.
Jika sebelumnya Daisy senang melihat kemarahan Yeremia, kali ini Daisy justru merasa takut. Rasanya lebih menakutkan dibanding ketika Juan yang merengkuh pergelangan tangannya.
Dulu, genggaman Yeremia di tangannya selalu menghadirkan rasa aman bagi Daisy. Namun kali ini tidak lagi, yang ada hanya rasa jijik dan takut.
“Daisy, aku nggak akan nikah sama Rhea. Aku akan bertanggung jawab atas bayi itu, tapi nggak harus dengan menikahi Rhea kan? Jadi tolong kembali ke aku, jangan tinggalin aku. Aku nggak bisa lihat kamu pergi dengan laki-laki lain.”
Daisy menatap pria itu tidak percaya. Pria ini gila! Benar-benar sudah gila!
“Lepasin, Yere!”
“Tolong putus sama laki-laki itu.”
“Jangan gila! Urus aja urusan kamu sendiri. Jangan ganggu aku lagi!”
“Aku mohon, Daisy. Aku—”
“Dia bilang lepas, kamu nggak ngerti bahasa manusia?” Tiba-tiba ada seorang pria yang menginterupsi perdebatan antara Yeremia dengan Daisy. Pria itu menyentak tangan Yeremia hingga terlepas sepenuhnya dari tangan Daisy.
Yeremia hendak marah, namun dia telan kembali saat mendapati siapa orang tersebut. “Pak Gio?” Dia Gio—mantan atasan Yeremia saat masih bekerja di PopShift Management.
“Apa yang kamu lakukan ke Daisy?”
“Bukan apa-apa. Kami hanya sedikit berdebat. Kami mau bicara berdua dan berniat menyelesaikan urusan kami yang belum sepenuhnya selesai.” Meski Gio bukan lagi atasannya, namun Gio tetaplah orang yang berpengaruh. Yeremia tidak mau bersikap sembarangan di depan Gio karena hal itu bisa saja merusak reputasi karirnya.
“Benar begitu, Daisy?”
Daisy buru-buru menggeleng. “Nggak ada yang mau saya bicarakan dengan Yere. Laki-laki itu yang maksa saya buat ikut ke mobilnya,” kata Daisy sambil bergerak bersembunyi di balik punggung Gio.
“Pergi sekarang sebelum saya panggil polisi. Saya atasan Daisy, dan saya juga bertanggung jawab atas keamanan karyawan di perusahaan saya. Apalagi ini masih di kawasan kantor.”
Yeremia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia ingin menerjang Gio dan membawa Daisy bersamanya, namun dia sadar tindakan itu hanya akan merusak reputasinya.
Yeremia pun pergi dari hadapan keduanya. Mungkin hari ini memang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Daisy.
“Kamu nggak papa?” Gio memutar tubuhnya menghadap Daisy. Matanya mengamati tubuh Daisy naik turun—memastikan tidak ada anggota tubuhnya yang terluka.
“Pergelangan tangan kamu lecet.” Gio berusaha meraih pergelangan tangan Daisy yang terlihat memerah, namun Daisy buru-buru menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya.
“Saya nggak apa-apa,” cicitnya dengan tubuh gemetaran.
Gio menatap gadis itu dengan sorot mata khawatir. “Mau saya antar ke rumah sakit?”
Daisy menggelengkan kepalanya. “Nggak usah. Saya mau langsung pulang aja.”
“Kalau begitu biar saya antar.”
Daisy kembali menolak, “Nggak usah. Saya mau naik taksi aja, Pak.”
“Yere bisa saja menghadang kamu di suatu tempat. Terlalu berbahaya kalau saya membiarkan kamu pulang sendirian.”
Daisy meremas ujung roknya—tanda khawatir. Gio benar. Barusan Yeremia terlihat begitu menyeramkan. Dia tidak terlihat seperti Yeremia yang lima tahun ini dia kenal. Dia seperti sosok yang berbeda.
“Kalau begitu saya mohon bantuannya untuk kali ini saja, Pak. Maaf kalau saya merepotkan bapak,” ucap Daisy tidak enak.
Kali ini dia terpaksa meminta bantuan Gio untuk mengantarnya pulang ke rumah karena dia tidak bisa memungkiri kalau hari ini dia terlalu takut untuk pulang ke rumah sendirian.
***
“Sialan!”
Rhea membanting ponselnya yang layarnya menampilkan pesan dari Yeremia yang hendak membatalkan acara pernikahan mereka.
“Aku udah hampir dapetin kamu! Tinggal selangkah lagi aku bisa benar-benar merebut kamu dari Daisy, tapi bisa-bisanya kamu berubah pikiran semudah itu!”
Rhea melempar barang-barang di kamarnya. Dia membuang apapun yang dilihatnya, hingga kamarnya berubah bak kapal pecah.
Daisy selalu menjadi ancaman untuknya. Kakak tirinya itu selalu unggul dalam hal apapun sejak dulu, baik di bidang akademis, karir, bahkan dalam hal percintaan.
Rhea benci setiap kali ayahnya membanding-bandingkan dirinya dengan Daisy. Dia benci setiap kali ayahnya memuji-muji Daisy di hadapan dirinya.
Memang apa hebatnya Daisy? Dia hanya gadis miskin yang beruntung karena ibunya berhasil menikah dengan duda kaya raya seperti ayahnya. Jika bukan karena kebaikan ayahnya, gadis itu tidak akan punya kesempatan belajar di tempat yang bagus. Dia juga tidak akan memiliki karir yang bagus seperti sekarang.
Tapi bisa-bisanya gadis miskin itu bertingkah seolah dia anak kandung ayahnya, dan merebut semua pujian yang seharusnya menjadi milik Rhea!
“Lihat saja, Daisy… kali ini kamu nggak akan bisa merebut Kak Yere dari aku. Kamu mungkin berhasil dalam hal karir, tapi akan aku pastikan kamu gagal dalam percintaan. Kamu harus gagal!”
Dibutakan oleh rasa cemburu, Rhea tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Rasa cemburu itu menggerogoti hatinya hingga menjadikannya manusia jahat dan tidak berperasaan. Hal yang seharusnya terasa cukup, kini selalu terasa kurang akibat perasaan berbahaya yang disebut cemburu.
***
Karena kejadian dimana Yeremia yang menghadangnya di depan kantor, Daisy jadi kembali ragu untuk menerima project bersama Wiyoko Techware. Bagaimana jika penanggung jawab dari perusahaan tersebut adalah Yeremia?
Tapi sudah terlambat untuk mundur. Hari ini adalah pertemuan pertama bersama pihak Wiyoko Techware. Tadinya Daisy pikir mereka akan bertemu di perusahaan tersebut, namun pihak Wiyoko Techware malah meminta untuk bertemu di salah satu restoran dekat kantornya saja.
Daisy hanya bisa menurut. Toh hal itu justru menguntungkannya karena tempatnya dekat dari PopShift Management.
Daisy menunggu di meja restoran yang sudah direservasi oleh pihak Wiyoko Techware. Daisy menunggu dengan gugup, dia penasaran siapa penanggung jawab yang akan terlibat langsung dengannya.
Siapapun itu, Daisy hanya berharap semoga orang itu bukan Yeremia.
Namun jantung Daisy berdetak tidak keruan ketika sosok yang dia kenal berjalan memasuki restoran. Tidak hanya itu, orang itu bahkan berjalan mendekat dan berakhir duduk di hadapannya sambil tersenyum miring.
“Ke-kenapa kamu duduk disini?” Daisy bertanya dengan nada gugup, sambil menatap orang yang kini duduk di hadapannya dengan perasaan campur aduk.
Orang ini tidak mungkin menjadi penanggung jawab project ini, kan? Pasti bukan!