BAB 10 | Misi Meluluhkan Daisy

1377 Kata
Juan menghela napas kasar saat panggilannya lagi-lagi ditolak oleh Daisy. Gila! Apa gadis itu harus sampai semarah ini? Lagipula apa kesalahannya? Apa mengajaknya ke apartemen itu dosa besar? Gadis itu bersikap berlebihan dan membuatnya terlihat seperti bajingann mesumm! Mood Juan sedang buruk, dan Darren masuk ke ruangannya di saat yang tidak tepat. “Keluar. Mood gue lagi jelek hari ini, jadi jangan bikin gara-gara,” kata Juan sambil melirik tajam ke arah Darren. “Santai, bro. Lagi berantem sama cewek lo, ya? Gosip lo udah rame tuh di kalangan karyawan,” kata Darren yang semakin membuat wajah Juan keruh. “Gue denger lo maksa cewek sampai megang-megang tangannya kayak orang mesumm. Gosip itu beneran?” Juan langsung menatap tajam ke arah sahabatnya. “Siapa yang ngomong? Kasih tahu gue namanya, kerja di divisi apa? Gue mau kasih dia SP. Berani-beraninya nyebarin gosip nggak bener tentang atasannya!” “Sabar dulu! Jangan main SP gitu! Lagian saksinya banyak kali. Lo juga aneh, bisa-bisanya kayak gitu di depan banyak karyawan. Kalo skandal ini terendus media gimana? Lo mau sekalinya masuk berita isinya ‘CEO Wiyoko Group ketahuan memaksa perempuan berbuat mesumm di tempat umum’. Lo mau ada berita kayak gitu?!” Juan mendengus sebal. “Mesumm apanya?! Emang gue ngapain? Nyium anak orang di depan karyawan? Gue cuma pegang tangannya, itu doang!” “Megang tangan orang tanpa persetujuan itu juga dianggap mesumm, Juan! Katanya udah sering pacaran, tapi ngadepin cewek aja masih nggak becus. Banyak-banyak berguru lo sama gue biar agak pinteran dikit!” Juan kesal dengan ucapan Darren, namun ucapannya itu juga membuatnya termenung. Jika ucapan Darren benar, apakah saat itu Daisy marah karena menganggap dirinya mesumm? Juan menyugar rambutnya sambil menggeram frustasi. “Udah sadar sekarang?” kata Darren sambil tersenyum mengejek. Sepertinya sekarang Juan sudah mulai paham akan kesalahannya. “Sekarang gue harus gimana? Cewek itu sekarang nolak ketemu sama gue. Telepon gue juga di-reject dari kemarin.” Sahabatnya itu terlihat frustasi. Darren belum pernah melihat Juan seputus asa ini saat berhubungan dengan perempuan. Bahkan saat pacarnya tidak menghubunginya selama berhari-hari karena marah dengan sikap cuek Juan, pria itu juga tidak begitu peduli. Tapi kenapa kali ini berbeda? Sikap Juan ini seperti orang yang sedang… “Dia beneran cewek lo?” “Bukan.” “Oke, gue ganti pertanyaannya. Lo suka sama cewek itu?” “Nggak,” jawab Juan cepat. “Masa?” “Lo mau bantuin gue atau nggak?!” “Mau. Tapi lo harus jujur dulu.” “Gue udah jujur,” kata Juan keras kepala. “Terus kenapa lo harus sebegininya?” “Begini gimana maksud lo?” “Kalau dia marah ya udah, bukannya lo juga nggak pernah peduli waktu mantan-mantan lo marah? Kenapa sekarang lo peduli?” Ucapan telak Darren membuat Juan terdiam. Namun hanya sebentar, karena sedetik setelahnya Juan sudah menemukan jawaban yang tepat. “Karena gue butuh bantuan dia.” Ya, memang itulah alasannya. Memangnya apa lagi? “Bantuan apa?” Juan terdiam lama, menolak menjelaskan lebih lanjut. Dia tidak ingin kontraknya bersama Daisy diketahui orang lain—terlebih jika itu Darren yang terkenal sulit menjaga mulutnya. “Pokoknya ada lah, lo nggak perlu tahu. Jadi gimana? Lo bisa kasih gue solusi nggak? Katanya pengalaman lo banyak?!” ujar Juan mulai tidak sabar. Darren mulai memasang wajah sok berpikir. “Kasih dia bunga,” ucapnya kemudian. Kening Juan berkerut. “Bunga?” “Semua cewek di dunia ini suka bunga. Dia pasti bakal langsung luluh kalau lo kasih bunga,” saran Darren dengan tampang bak pakar cinta. “Bunga apaan?” “Bunga yang dijual di toko bungalah, masa bunga tabur! Jenisnya apa terserah, yang penting wangi dan kelihatan cantik!” balas Darren gemas. Dia tahu sahabatnya itu belum pernah membelikan pacarnya bunga, tapi masa iya hal se-basic ini saja Juan tidak tahu?! Kini Juan mulai berpikir keras mengenai bunga apa yang sekiranya cocok untuk gadis seperti Daisy. Dan sepertinya gadis itu memang suka bunga. Juan ingat saat pertama kali mereka bertemu, gadis itu mengenakan gaun bunga-bunga. Tidak hanya itu, bahkan sapu tangannya juga bermotif bunga-bunga. Ck, lagi-lagi dia jadi teringat sapu tangan sialan itu! Gara-gara sapu tangan itu hubungannya dengan Daisy jadi memburuk! *** Daisy baru selesai makan siang bersama Nessa, dan dia dibuat terkejut saat kembali ke meja kerjanya dan mendapati se-bucket bunga besar di atas mejanya. “Ih, cantik banget! Dari siapa, nih? Diem-diem lo udah punya pacar, ya? Bisa-bisanya nggak cerita ke gue!” kata Nessa tidak terima. “Pacar apaan? Jangan ngaco, deh!” balas Daisy sambil memandang bunga itu bingung. “Wah, jadi dari pengagum rahasia nih? Ih, ini tuh bunga Daisy tahu. Romantis banget sih yang ngirim, dia mau nyocokin jenis bunganya sama nama lo. Gemes banget!!” Nessa mulai kegirangan tidak jelas. Daisy menatap bunga itu dengan senyum tertahan. Bunga ini memang cantik. Ini rangkaian bunga daisy dengan kombinasi warna yang cantik—kombinasi antara Daisy putih dan pink. Apa pengirimnya juga tahu kalau warna favoritnya adalah pink? Tapi, Daisy tidak tahu siapa pengirimnya. Tidak mungkin dari Yeremia, kan? Jika memang ini dari Yeremia, Daisy akan langsung membuangnya! Sedetik setelahnya, satu notifikasi pesan muncul di layar ponselnya—menampilkan pesan dari orang yang sejak kemarin dia hindari. Juan : Sudah terima bunganya? Kamu suka? Daisy buru-buru mengambil bunga itu dengan kasar hingga membuat Nessa kaget. “Eh, mau diapain bunganya?!” “Dibuang!” “Kok dibuang, sih?” “Itu dari orang mesumm, jadi harus dibuang!” Nessa terlihat cengo. Mesumm? Siapa? Pengirim bunga ini? Namun dia tidak berani bertanya lebih lanjut setelah melihat wajah marah Daisy. Dia tidak pernah melihat Daisy sekesal ini. Apa yang sudah diperbuat si pengirim bunga hingga membuat sahabatnya itu sekesal ini? *** “Kamu apa-apaan, sih? Kenapa kirim bunga ke kantorku?!” Daisy menepi ke pantry untuk menelepon Juan—si pengirim bunga. “Bunganya sudah datang? Kamu suka?” “Jangan kirim apapun lagi ke kantorku! Aku nggak suka!” “Kamu nggak suka bunga? Jadi kamu sukanya apa? Tas? Perhiasan? Atau—” “Aku benci apapun yang kamu kirim, jadi jangan kirim apapun lagi!” Hening setelahnya. Daisy menggigit bibir bawahnya, sedikit menyesal karena sudah bicara sekasar itu pada Juan. Tapi mau bagaimana lagi? Dia masih kesal dengan sikap pria itu tempo hari. “Aku minta maaf.” Daisy meremas ponsel di telinganya. Pria itu meminta maaf? Daisy kira, Juan pria kaya arogan yang tidak mau mengakui kesalahan. “Maaf, karena hari itu aku bersikap seperti laki-laki kurang ajar. Aku salah.” Daisy hanya bisa menunduk sambil menatap high heels maroon yang saat ini sedang dikenakannya. Dia tentu sangat menghargai niat baik Juan yang sudah mau meminta maaf kepadanya, tapi dia juga belum bisa bersikap biasa seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. “Aku tutup teleponnya, aku harus balik kerja.” “Daisy, aku—” Daisy menutup teleponnya sebelum Juan sempat menjelaskan. Dia akan memaafkan pria itu, tapi tidak sekarang. Dia harus membuat pria itu jera dulu. *** “Apa ini?” Daisy baru saja sampai di mejanya dan dia menemukan bucket bunga yang sama seperti kemarin. Bahkan kali ini ukurannya jauh lebih besar dari kemarin! “Dari pengagum rahasia lo,” jawab Nessa seadanya. Tadi ada OB yang mengantarkan bunga itu, katanya dari jasa pengantaran yang ditugaskan mengirim bunga tersebut, namun kurir tersebut tidak bisa memberi tahu siapa pengirimnya. “Mau lo buang lagi?” tanya Nessa saat mendapati Daisy yang sudah akan membawa bunga besar itu entah kemana. “Ya.” “Janganlah. Mubazir tahu! Lagian lo juga suka bunga, kan? Kenapa nggak diterima aja?” “Gue nggak tahu lo punya masalah apa sama si pengirim bunga itu. Tapi kayaknya si pengirim bunga itu tulus dan bunga itu dibelinya juga pake uang, Daisy! Kita yang pengais rupiah ini juga tahu kan gimana susahnya cari uang di zaman sekarang? Jangan buang-buang duit lah, walaupun belinya bukan pake duit gue, tapi gue ikut sakit hati liatnya.” Ucapan Nessa membuat Daisy merasa tertampar, perasaan bersalah langsung menggelayutinya. Dia sudah meminta Juan untuk berhenti mengiriminya bunga, namun pria itu tidak mau mendengarkan. Namun benar kata Nessa, tidak seharusnya dia membuang bunga-bunga ini. Orang yang merangkai bunga ini juga pasti sedih jika hasil karyanya berakhir di tong sampah. Baiklah, hari ini dia akan membawa bunga itu ikut pulang bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN