BAB 9 | Ayo ke Apartemenku!

1556 Kata
“Kalau begitu ayo ke apartemenku.” Ajakan itu membuat Daisy langsung memasang sikap defensif. “Nggak mau,” tolaknya tanpa basa-basi. “Kenapa?” Tanpa sadar Juan meninggikan nada suaranya. “Kamu aja yang cari. Kalau udah ketemu, besok aku bakal ambil di kantor kamu.” Kemarin Daisy sedang gila makanya dia mau-mau saja diajak ke apartemen pria itu. Seumur hidupnya, Daisy tidak pernah menginjakkan kakinya di kediaman pribadi seorang laki-laki. Bahkan selama lima tahun berpacaran dengan Yeremia, Daisy tidak pernah mau diajak ke apartemennya. Namun pria asing yang belum genap seminggu ini dia kenal malah dengan gampangnya mengajak dirinya ke apartemennya. Apa Juan memang sudah biasa mengundang orang yang belum dikenalnya lama untuk masuk ke apartemennya? Daisy benar-benar tidak paham dengan pola pikir anak orang kaya! “Kalau mau sapu tangan itu balik ya cari sendiri. Aku nggak ada waktu buat cari benda nggak berguna kayak gitu!” Nggak berguna katanya?! Daisy melotot tidak suka. Namun dia juga tidak bisa memaksa Juan untuk mencarikan benda itu untuknya. Dia sadar ini sepenuhnya kesalahannya. Daisy sendiri yang ceroboh dan meninggalkan benda penting itu di apartemen Juan, dia juga tidak bisa memaksa orang yang punya banyak kesibukan seperti Juan untuk mencarikan benda yang ‘menurutnya’ penting. Penting baginya kan belum tentu penting bagi Juan. “Oke, aku bakal ke apartemen kamu.” Sudut bibir Juan berkedut menahan senyum. “Tapi aku mau bawa teman. Aku nggak mau datang ke sana sendirian.” “Sendirian apanya? Kan ada aku.” “Justru karena ada kamu. Aku nggak mau cuma berduaan aja di rumah laki-laki asing.” Terserah kalau Juan mau mengatainya kolot, dia tidak peduli! Ini prinsip hidupnya, dan Juan harus menghargainya. “Begitu, ya? Terus yang kemarin itu apa? Kemarin kamu mau-mau aja aku bawa ke apartemen,” ledek Juan, membuat wajah putih Daisy memerah. “Wa-waktu itu, aku lagi gila.” “Pokoknya aku nggak mau ke sana kalau cuma berdua!” “Apa yang bikin kamu takut? Kamu takut aku macam-macam?” Tentu saja tidak! Daisy yakin pria itu tidak akan macam-macam padanya. Pria sekelas Juan jelas tidak akan tertarik dengan gadis sepertinya! Namun setan kan tidak kenal tempat, takutnya ada setan yang lewat sehingga Juan jadi khilaf. Kan nanti Daisy yang repot! “Pokoknya kalau kamu mau sapu tangan itu, cari sendiri di apartemenku,” putus Juan final. “Yaudah, kalau gitu sapu tangannya buat kamu aja. Aku pergi!” Juan langsung menangkap lengan mungil itu hingga membuat si gadis berbalik dengan wajah sebal. Masa dia mau menyerah begitu saja? Yang benar saja! “Apa lagi?!” sembur Daisy galak. “Kamu nggak mau sapu tangannya?” Tentu saja Daisy mau! Tapi dia juga tidak akan mau mengorbankan prinsipnya demi sapu tangan itu. Mendiang ayahnya pasti akan mengerti jika sapu tangan itu hilang, ayahnya pasti tidak akan marah di atas sana. Lagipula Daisy juga masih punya banyak barang kenangan dari ayahnya di rumah—ya meskipun sapu tangan itu memang barang favoritnya. “Nggak. Buat kamu aja!” Daisy pikir setelah itu Juan akan segera melepaskan tangannya, namun pria itu tetap tidak bergeming. “Kamu mau kemana setelah ini?” “Pulang!” “Mau makan malam dulu? Kamu kan udah jauh-jauh ke sini, kita bisa makan malam bareng, kebetulan aku belum makan.” “Nggak mau! Aku mau makan malam di rumah aja.” Daisy berusaha keras melepaskan lengannya dari rengkuhan tangan Juan, namun sekeras apapun ia berusaha, tangan besar itu tetap tidak mau lepas. “Sakit, Juan…” rengek Daisy saat dirasakan pergelangan tangannya mulai memerah. Juan buru-buru melonggarkan genggamannya—namun masih tidak melepaskan tangan gadis itu. Ibu jarinya tanpa sadar mengelus lembut kulit tangan Daisy yang memerah hingga membuat si pemilik tangan merinding dan kembali menarik tangannya. “Kamu ngapain, sih?!” kata Daisy hampir menangis, sikap Juan ini benar-benar membuatnya takut! Daisy mungkin pernah berpacaran selama lima tahun dengan Yeremia, namun jangan dikira pengalamannya dengan lawan jenis sebanyak itu! Selama dua puluh lima tahun dia hidup, dia bahkan hanya pernah berpacaran sekali—ya, sejauh ini mantan pacarnya hanya Yeremia! “Aku antar kamu pulang.” “Enggak!” “Aku cuma mau anter kamu pulang, kenapa kamu setakut itu?” “Kalau gitu lepasin dulu tanganku!” Juan menatap gadis itu waspada. “Tapi jangan kabur,” ucapnya penuh peringatan. Namun Daisy mana mau mendengar ucapannya. Begitu tangannya terlepas, Daisy langsung berlari sekencang yang ia bisa, meninggalkan Juan yang sibuk mengumpat hingga menjadi tontonan para bawahannya di lobby perusahaan. *** Daisy pulang ke rumah dengan lesu. Hari ini benar-benar menguras emosinya! Juan—pria itu benar-benar, deh! Sebenarnya apa yang ada di pikirannya sampai memaksa Daisy agar mau ke apartemennya? Kenapa pria itu begitu bersikeras? “Bikin orang merinding aja!” Daisy bergumam seorang diri. Dia terlalu sibuk memaki Juan hingga tidak sadar ada sesosok gadis yang terus memperhatikannya sejak tadi. “Kak Daisy udah pulang?” Rhea bertanya dengan senyum ramah—sok ramah lebih tepatnya. Gadis itu sejak tadi duduk di sofa ruang tamu sambil membolak-balik katalog gaun pengantin yang akan dia coba saat fitting besok bersama Yeremia. “Aku lagi milih-milih gaun pengantin, Kak. Kak Daisy bisa bantu pilihin nggak? Selera Kak Daisy kan bagus, apapun yang kakak pilih, aku pasti suka.” Tentu saja. Semua yang Daisy suka, Rhea pasti juga suka. Dari mainan, baju, hingga pacar Daisy juga Rhea suka! “Aku capek. Mau langsung istirahat.” “Capek? Tapi kerja kakak kan cuma duduk di kantor seharian. Masa gitu aja capek?” ucap Rhea, masih dengan wajah sok polosnya. “Duduk disini sambil bantu aku pilih gaun nggak akan sampai lima menit kok, Kak. Masa gitu aja kakak nggak bisa?” Daisy meremas roknya dengan perasaan kesal. Kok ada orang tidak tahu malu seperti Rhea? Bisa-bisanya orang yang menganggur sepertinya berkata seolah bekerja di kantor itu bukan apa-apa. “Kalau gitu coba aja kamu ngerasain kerja kantoran sehari aja, kamu bakal ngerti gimana capeknya. Orang yang seharian cuma ongkang-ongkang kaki di rumah, jelas nggak akan tahu rasanya.” Balasan telak Daisy membuat Rhea merasa tersinggung. Sejak lulus kuliah, Rhea memang tidak ada niatan melamar kerja. Seharian kerjaannya hanya duduk-duduk manis di rumah, hangout bersama teman-teman, atau shopping bersama ibunya. Rhea tidak perlu khawatir soal uang karena ayahnya masih rutin memberinya uang jajan setiap bulannya. Berbeda dengan Daisy yang harus bekerja keras agar tidak dianggap menumpang di rumah ayah tirinya. Sebenarnya, ayah tirinya bukan orang yang jahat. Bahkan ayahnya yang memintanya untuk tetap tinggal di rumah meski dia sudah bekerja. Hanya sikap Rhea saja yang membuat Daisy tidak betah di rumah ini. Rhea bukan tipe orang yang akan menindas korbannya secara terang-terangan, namun lebih suka menggunakan cara halus, seperti menyindir dengan tampang tidak bersalah, serta merebut hal-hal yang dimiliki Daisy secara perlahan. “Kak Daisy sengaja nyindir aku?” Gadis itu marah. Daisy bisa melihat jelas kilatan kemarahan di wajah gadis itu, meski hanya sekilas. Rhea gadis yang pandai menyembunyikan wajah aslinya. Gadis itu pandai berakting. Daisy saja heran, dengan kemampuan akting sebagus itu kenapa Rhea itu tidak menjadi aktris saja? Kenapa malah memilih menjadi pengangguran? “Kamu merasa tersindir?” “Kenapa Kak Daisy begini? Apa Kak Daisy marah karena Kak Yere lebih milih aku daripada kakak?” Lihat? Gadis itu mulai lagi. “Kak Daisy kan tahu aku nggak punya pilihan lain. Bayi kami butuh sosok ayah, aku nggak bisa ngelepasin Kak Yere, apalagi Kak Yere juga bersikeras buat nikahin aku. Aku bisa apa, Kak?” ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata. “Nggak punya pilihan? Kamu yang secara sadar memilih tidur dengan calon suami kakak kamu sendiri, dan kamu—” “Daisy!” Daisy menoleh dan mendapati ibunya berjalan mendekatinya dengan tampang marah. “Apa-apaan sih kamu? Kamu mau nyalahin Rhea karena masalah itu lagi? Mau sampai kapan kamu mau ungkit-ungkit masalah itu terus? Move on, Daisy! Mungkin memang Yere bukan jodoh kamu. Berhenti nyalahin Rhea, adik kamu juga sudah cukup menderita dengan keadaan ini.” Menderita, ya? Lalu Mama pikir aku nggak menderita? Aku yang paling menderita di sini! Tapi percuma mengatakan hal semacam itu pada orang yang jelas-jelas tidak akan membelanya. “Udah, Ma, Rhea nggak papa kok. Mungkin Kak Daisy masih belum bisa ngelupain Kak Yere. Mau gimana pun hubungan mereka kan terjalin cukup lama.” Rhea kembali dengan akting luar biasanya. “Walau begitu, kakak kamu tetap nggak boleh kayak gini. Dia nggak bisa terus-terusan terjebak di masa lalu, apalagi sebentar lagi Yere bakal jadi adik iparnya.” “Ma, aku nggak papa kok. Kita juga nggak bisa atur perasaan orang. Kalau Kak Daisy memang masih mencintai Kak Yere, aku nggak masalah kok.” Kenapa jadi dia yang berlagak jadi korban?! “Daisy mau ke kamar dulu. Daisy capek.” Daisy pergi meninggalkan dua orang yang masih asyik berdrama itu, dan memilih masuk ke kamarnya. Teriakan ibunya sama sekali tidak dia gubris. “Sebentar lagi Papa kamu pulang. Cepet mandi dan setelah itu turun buat makan malam bersama. Jangan bikin Papa kamu kepikiran, Daisy. Dia sudah banyak membantu kita.” Teriakan ibunya masih bisa dia dengar dari dalam kamar. Daisy menutup kepalanya dengan bantal hello kitty-nya, berharap hal itu bisa meredam suara ibunya. Dia tahu itu. Ibunya tidak perlu repot-repot mengingatkan dirinya akan jasa-jasa ayah tirinya. Dia mengingat itu, hingga rasanya muak! Ibunya tidak perlu takut, dia tidak akan menjadi anak tidak tahu diuntung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN