Jesty mondar-mandir di depan kamar Elwin. Elwin marah, itu jelas. Ia tidak akan menampik pernyataan itu. Sekarang masalahnya, bagaimana caranya ia meminta maaf dan di maafkan. Yakin, ia tidak akan bisa tidur malam ini. Hatinya tidak tenang sama sekali. Di pulangkan ke rumah saja tidak, langsung di bawa ke sini. Mau protes ya bagaimana, di diemin ini. Menghembuskan nafas lelah, Jesty duduk bersila di lantai depan Kamar Elwin pas. Mungkin, Jesty butuh meditasi agar mendapat jawaban dari Tuhan. Hah. Lama berdiam diri sendirian, Jesty menyadari malam sudah semakin larut. Jesty melihat cincin yang melingkar di jarinya. Satu permata berukuran sedang di tengah dengan permata kecil-kecil melingkar di tengah pula berada di antara lingkaran yang lain. "Mas Elwin," gumam Jesty. Jesty beranjak

