“Arum, tumben banget sore begini kamu datang ke sini. Ada apa? Nggak ada masalah sama Iwan kan?” Ibu mertua menyambutku dengan pelukan hangat. Sudah biasa dilakukan. Ya, karena aku ini memang menantu tersayangnya. Kalau aku datang seperti ini, tentu saja membuat Ibu cemas. Ia tak bisa membiarkan menantu kesayangannya ini bersedih. “Kangen sama Ibu saja. Arum boleh menginap di sini kan, Bu?” Aku menahan diri untuk tidak bertanya tentang Dinda terlebih dulu. Biar keadaan mencair, baru aku akan mengutarakannya. “Boleh banget, Sayang. Mau menginap kapan saja, tentu Ibu nggak akan melarang. Tapi, benar kan, kamu nggak ada masalah sama Iwan? Kalau ada, bicarakan saja. Jangan ditutup-tutupi.” Kami berbicara sambil berjalan ke sofa. Kemudian, duduk bersama. Ibu tak mau melepaskan lenganku ya

