PoV Iwan
Hari ini sungguh membuat kepalaku pusing. Sejak pagi ada saja kejadian yang tak terduga. Sekarang Arum sudah mulai membuka ponselku lagi. Padahal setelah beberapa minggu pernikahan kami, ia tak lagi melihat ponselku dan lebih memilih untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Kenapa sekarang Arum malah kembali membuka ponselku?
Aku juga teledor. Bisa-bisanya pesan dari Dinda tidak langsung dihapus. Sebelumnya, aku tak pernah lupa untuk menghapus jejak percakapan kami. Mungkin karena terburu-buru dan menganggap remeh, aku jadi lupa.
Mulai detik ini, aku harus berhati-hati. Ponselku harus disterilkan. Jangan sampai Arum bertambah curiga. Kasihan Dinda. Semua usahaku tidak boleh sia-sia. Jangan sampai ada yang tahu tentang identitas Dinda. Arum sekalipun.
Aku menghela napas panjang seraya duduk di ranjang sebelum membersihkan diri. Untung saja Arum tak membuntutiku sampai ke sini. Mungkin ancamanku berhasil. Padahal aku tak berniat untuk menceraikannya, tetapi jika bukan seperti itu, Arum pasti akan menceritakan semuanya kepada keluargaku. Jika terjadi, semua akan kacau.
Apalagi sifat Arum yang lebih mementingkan dirinya sendiri, tentu akan berantakan jika semua yang sengaja kurahasiakan, diceritakan begitu saja. Maka itu, aku memilih untuk menyembunyikannya entah sampai kapan.
Arum selalu meminta banyak hal meski aku telah memberikan separuh gajiku. Aku sengaja diam tentang jabatanku yang sekarang. Sebulan setelah menikah, jabatanku naik dan gaji yang kudapat semakin besar.
Meski begitu, aku tetap memberikan jumlah yang sama dan sisanya aku gunakan untuk kepentinganku. Itu pun belum terpotong dengan permintaan Arum yang mendadak. Aku sengaja tak memprotesnya agar ia merasa bahagia dan tak banyak bertanya.
Aku pun merahasiakan jabatan yang baru dari keluargaku. Untungnya setelah menikah, mereka tak lagi seperti dulu yang selalu mengaturku ini dan itu. Aku bisa memanfaatkan Arum karena istriku itu adalah menantu yang paling disayang oleh orang tuaku. Entah apa alasan yang membuatnya menjadi seperti itu, aku tak terlalu peduli.
Dengan adanya Arum, aku bisa beralasan, gaji yang aku dapat hanya untuk menyenangkan hati menantu kesayangannya itu dan Arum akan mengakuinya karena selalu kuperlakukan dengan baik. Orang tuaku tentu akan percaya. Dengan seperti itu, kami bisa saling menguntungkan.
Ya, memang aku akui, aku mencintai Arum dengan tulus. Namun, itu berlaku selama ia tak mengusik kehidupan Dinda. Jika kejadian tadi pagi masih dibahas olehnya dan mementingkan rasa penasarannya, aku bisa saja memikirkan tentang perceraian.
“Aku harap Arum nggak bikin kepalaku pusing. Dia selalu kuperlakukan dengan baik. Permintaan apa pun selalu kupenuhi. Kalau sampai rasa penasaran tentang Dinda tidak bisa dibuang dan masih saja membahasnya, mungkin jalan terbaik adalah melepasnya. Aku nggak mungkin mengabaikan Dinda begitu saja. Aku harus bertanggung jawab karena kejadian di masa lalu dan Arum nggak boleh tahu. Kacau kalau sampai dia tahu. Apalagi orang tuaku.”
Dadaku terasa sesak. Aku membuang kasar udara di dalam d**a yang terasa mengganjal. Pernikahanku dengan Arum memang baru berjalan dua tahun dan selama itu aku bisa menyembunyikannya. Namun, tadi pagi malah berantakan. Memang sih, sepintar apa pun menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Namun, aku pikir bukan sekarang.
“Ditambah Ara yang tiba-tiba demam, jadi bikin tambah pusing. Semakin banyak pikiran yang mau tak mau harus kupikirkan. Untunglah dia bisa dirawat jalan tanpa harus menginap di klinik, kalau sampai menginap, Arum pasti akan mendatangi mereka. Bisa-bisanya juga Ayu memotretku. Aku harus semakin berhati-hati.”
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela untuk mengintip keberadaan Arum. Aku ingin menelepon Dinda untuk menanyakan keadaan Ara. Tadi saat aku tinggal, gadis kecil itu sudah tertidur pulas. Aku takut ia akan mencariku yang harus pulang ke rumah ini. Tak tega rasanya mendengar rengekan seorang bocah yang sedang sakit. Meski aku belum punya anak, aku sudah menganggap Ara seperti anakku sendiri.
“Arum lagi telepon, aku bisa menelepon Dinda sebentar. Tapi, Arum lagi telepon sama siapa? Ah, sudahlah, terserah dia saja. Asal tidak mengusik Dinda, Arum akan mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Ponsel sudah ada di genggaman. Aku berselancar di layar benda pipih itu. Tentu saja mencari kontak bernama Dinda. Aku pun sengaja berdiri di dekat jendela untuk mengawasi Arum.
Panggilan terhubung. Ponsel sudah menempel di telinga. Aku juga tetap memperhatikan Arum dari balik jendela.
“Din, gimana Ara?” tanyaku dengan suara berbisik setelah Dinda mengangkat teleponnya.
“Alhamdulillah, Ara tidurnya nyenyak, Mas. Semoga saja demamnya turun dan cepat sembuh,” jawab Dinda dari ujung sambungan.
“Bagus kalau begitu. Semoga saja tidak mencariku. Aku nggak bisa ke situ karena Arum mulai curiga.”
“Kenapa nggak diberitahu saja, Mas. Kasihan kalau Mbak Arum jadi curiga begitu.”
“Nggak usah diberitahu. Arum itu orangnya sesuka hatinya sendiri. Susah diajak kompromi kalau soal begini. Apalagi kalau tahu uangku harus dibagi sama kamu.”
“Aku malah jadi merepotkanmu terus, Mas. Seharusnya aku nggak boleh meminta uangmu lagi.”
“Sudahlah, jangan ngomong begitu. Aku yang lebih merasa bersalah. Sudah dulu ya, aku harus mandi. Takut kalau Arum mendengar percakapan kita. Kamu dan Ara harus hati-hati. Bulan depan, aku nggak tahu bisa jenguk kalian atau tidak. Kalau memang nggak bisa, aku akan transfer saja. Sudah ya, assalamualaikum.”
Panggilan sudah dimatikan tanpa menunggu jawaban dari Dinda. Waktu tak banyak untuk berbasa-basi dengannya. Cukup berbicara seperlunya saja.
Aku pun lega mendengar kondisi Ara yang mulai membaik. Sejak sore, gadis kecil itu menangis tak henti. Membuatku dan Dinda merasa gelisah. Untung saja, setelah meminum obat, Ara mulai tenang dan akhirnya sekitar pukul setengah tujuh malam bocah itu tertidur. Karena itu, aku bisa pulang.
Arum masih betah menelepon. Aku memutuskan untuk segera mandi. Ponsel pun aku bawa ke kamar mandi. Aku tidak mau, sesuatu hal terjadi lagi. Semoga saja Arum tak lagi berniat membuka ponselku meski kemungkinannya sangat kecil.
Air membasahi kepalaku yang seharian ini terasa pening. Aku berharap, masalah itu hanyut bersama air yang mengalir. Meski pada kenyataannya tidaklah mungkin, tetapi saat ini ada rasa segar yang menyusup dan sedikit memberi rasa nyaman. Aku yakin bisa menjalani kehidupan seperti biasanya.
Saat mata terpejam, ada sekelebat bayangan tentang masa lalu. Kejadian lampau yang tragis dan menyisakan trauma. Aku tak ingin lagi memikirkannya, tetapi bayangan itu tetap saja menghantui.
Aku mengembuskan napas. Tiba-tiba dadaku merasa sesak dan nyeri. Kejadian itu tetap saja membekas di relung hati. Masa lalu yang menurutku sangatlah menakutkan.
Air mata tiba-tiba menitik bercampur dengan air yang berasal dari shower. Selalu saja begini. Padahal kejadian itu sudah berlalu sekitar empat tahun silam. Aku tak bisa menepis rasa bersalahku yang begitu besar.
“Apa kau baik-baik saja di sana? Maafkan aku.”
Dalam ruangan yang lembap ini, aku hanya bisa meratapi nasib. Kejadian di masa lalu itu selalu membuatku sedih. Meski begitu, aku sengaja tak menceritakan apa pun pada Arum yang sekarang adalah istriku.
Aku tak bisa menceritakannya pada orang yang teramat disayangi oleh keluargaku. Apalagi kejadian itu hanya dianggap sesuatu yang bisa saja terjadi tanpa terduga. Padahal semua itu jelas gara-gara aku. Orang yang pantas disalahkan adalah aku.
Selesai mandi, aku bersikap seolah semuanya baik. Biar rasa pedih ini tersimpan hanya untukku seorang. Toh, mereka tak akan mengerti.
Arum ternyata masih sibuk dengan ponselnya. Aku ingin membuat kopi untuk menghangatkan badan. Meski hubunganku dan Arum terkesan sama-sama cuek, aku selalu berusaha untuk melibatkannya dalam semua keperluanku. Sehingga, Arum akan merasa, betapa aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Kecuali tentang masalah Dinda, aku tetap akan merahasiakannya.