Jangan Kalah

1275 Kata
“Mas, tolong jangan begini. Bicarakan semuanya dan jangan ada yang ditutupi. Aku istrimu kan, Mas?” Kata-kata memelas terus terucap. Saran dari Ayu malah terabaikan. Istri mana yang hidupnya akan tenang jika suaminya mungkin sedang bermain curang dengan perempuan lain. Aku tak ingin suamiku terbagi. Mas Iwan menatapku nyalang. Sepertinya dia kecewa. Ia pun menghela napas. “Iya, Sayang. Kamu memang istriku. Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Sekarang tolong buatkan aku kopi ya?” “Terus kenapa Dinda minta uang sama kamu, Mas? Katanya, itu tanggung jawabmu? Tanggung jawab dari mana, Mas? Mana ada hubungan sebatas teman bisa sampai seperti itu. Pasti ada yang kamu sembunyikan dariku. Lebih baik uang itu diberikan kepadaku, daripada diberikan pada wanita lain. Aku nggak setuju, Mas. Buat apa buang-buang uang hanya untuk orang lain.” Kedua tanganku dilipat tepat di depan d**a. Karena akulah orang yang seharusnya mendapatkan seluruh uang yang Mas Iwan miliki. Bukan malah berbagi dengan wanita yang tak jelas asal-usulnya. “Dia hanya temanku dan butuh bantuan. Apa kamu akan serakah dan tega sama orang yang lagi butuh bantuan? Aku juga sudah sering ngomong sama kamu kan? Kamu nggak usah berpikir macam-macam. Ini urusanku dan kamu nggak perlu tahu. Buang rasa penasaranmu. Buatkan aku kopi, sekarang!” Mas Iwan menghardikku. Amarah semakin memenuhi setiap ruang yang ada di dalam hati. Laki-laki ini semakin keterlaluan. “Kamu jahat, Mas! Kamu lebih mementingkan perempuan lain daripada perasaanku. Kamu sudah nggak mencintaiku lagi kan, Mas?” Mataku mengembun. Hatiku bertambah sakit. Pikiranku carut-marut. Terlintas pula untuk mengakhiri saja pernikahan ini. Suamiku sudah tak seperti dulu. “Sayang, aku mencintaimu. Kamu wanita satu-satunya yang aku cintai di dalam hatiku, tapi tolong, jangan ungkit lagi masalah Dinda. Dia sudah banyak menanggung kepedihan. Jangan kamu tambah dengan luka yang lain. Aku mohon. Permintaan apa pun yang kamu inginkan selalu aku turuti kan? Sekarang, kamu harus mematuhi perintahku.” Mataku mendelik. Dadaku naik-turun dipenuhi emosi. Aku tak habis pikir, suamiku ingin tetap menyembunyikan semua kebenaran tentang Dinda dariku. “Kalau begitu, katakan dengan jujur, siapa Dinda? Nggak mungkin kalau kalian hanya sebatas teman.” Mas Iwan membuang napas. “Aku mau tidur saja. Lama-lama capek mendengar bicaramu yang itu-itu terus. Kopinya nggak jadi. Aku sudah nggak selera.” Suamiku berjalan menuju ranjang. Ia tak berbohong. Aku semakin geram. “Mas! Kalau begini terus, lebih baik kita cerai saja, Mas!” Emosiku meluap. Padahal aku berencana untuk mencari tahu tentang Dinda bersama Ayu. Pada kenyataannya, amarah yang bergejolak tak bisa ditahan dengan gampang. Mas Iwan berbalik badan dan kembali melihatku. “Kalau itu maumu, aku akan menurutimu, aku akan menalakmu sesuai keinginanmu. Padahal aku tulus mencintaimu, Dek. Aku hanya memintamu untuk tidak mengungkit masalah Dinda lagi. Nggak usah diperpanjang dan nggak usah diceritakan sama keluargaku. Kalau kamu menginginkan perceraian, dengan berat hati aku akan menerimanya. Apa kamu mau mendengar talak itu sekarang juga, Dek?” Hatiku mendesir. Darahku terasa panas. Badanku gemetar menahan amarah yang semakin menjadi. Mas Iwan menerima begitu saja. Bahkan sangat santai tanpa ada beban. Ini tidak benar. Aku berniat menggertak saja. Niat untuk bercerai bukan sungguhan meski sudah terpikirkan. Harusnya aku tak gegabah dan menyelidikinya terlebih dulu. Andai aku menyerah, perempuan itu pasti akan bersorak kegirangan mendapatkan Mas Iwan, laki-laki yang teramat baik. Aku tak boleh melepasnya begitu saja. Perempuan itu yang harusnya menyingkir, bukan malah aku. Mas Iwan adalah suami baik dan penurut. Mungkin sangat susah mendapatkan lagi laki-laki seperti dirinya kalau sampai aku bercerai. Aku akan bertahan. Untuk itu, aku harus berpura-pura melupakan masalah Dinda di hadapan suamiku. Meski perih, aku akan mencobanya. “Oke, kali ini aku yang mengalah, Mas. Aku anggap semua perkataanmu itu benar. Tentang Dinda, kita lupakan saja.” Setelah mengatakannya, senyum Mas Iwan mengembang. Ia datang menghampiriku dan mengajakku agar mengikuti keinginannya. Satu bulan sudah berlalu. Selama itu, aku berusaha menahan diri untuk tidak mengungkit tentang Dinda. Mas Iwan pun sepertinya tidak melakukan hal aneh di depanku. Kalau mendapat telepon saat bersamaku, ia akan mengangkatnya seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda dirinya berhubungan lewat telepon dengan Dinda. Meski begitu, rasa penasaranku tetap membara di dalam d**a. Selama itu pula, aku berusaha mengambil nomor WA milik Dinda, tetapi aku belum bisa mendapatkannya. Mas Iwan menyimpan ponselnya dengan sangat baik. Aku tak berani menyampaikan niatku untuk meminjam ponselnya. Mas Iwan tentu curiga. Karena biasanya, aku tak peduli tentang isi ponselnya. Apalagi, aku sudah berjanji untuk tidak lagi penasaran dengan perempuan yang bernama Dinda itu. Andai, sejak awal pernikahan, aku tidak mengabaikan ponselnya Mas Iwan, sekarang pasti bebas jika akan menggunakannya. Aku terlalu fokus pada pertemananku sendiri. Terlintas pula di pikiran, sejak kapan Dinda mengenal suamiku? Dulu saja, saat aku sering memainkan ponsel milik Mas Iwan sepertinya tidak ada pesan mencurigakan yang dikirim oleh Dinda. Atau aku saja yang terlalu percaya hingga tidak ada rasa curiga dan tidak tahu apa-apa. Dulu pun, aku tak terlalu peduli tentang siapa saja teman yang tersimpan di kontak ponsel suamiku. Aku terlalu menggampangkannya, karena Mas Iwan terlihat sebagai laki-laki yang tidak mungkin bermain dengan wanita lain. Ternyata, sekarang malah jadi seperti ini. Mas Iwan juga aneh, kalau merasa hanya teman biasa, seharusnya tak usah menyimpan ponselnya dariku. Pasti ada hubungan spesial di antara keduanya. “Hari ini aku pulang terlambat. Kamu sudah paham kan? Jangan penasaran lagi ya?” Begitu kalimat yang diucapkan oleh Mas Iwan tadi pagi. Aku hanya mengangguk, tetapi sudah ada rencana yang aku siapkan. “Meski aku nggak bisa mendapatkan nomornya Dinda, aku harus tahu di mana rumahnya. Mas Iwan pasti akan datang ke rumah wanita jalang itu. Aku akan langsung melabraknya. Perempuan nggak tahu diri!” Aku bergumam seraya mengendarai motor. Tujuanku adalah rumah Ayu. Aku tak bisa menguntit Mas Iwan dengan menggunakan motor ini. Jelas akan terlihat. Aku berencana mengajak Ayu dan meminjam sekalian mobil milik temanku itu. “Jatah uang yang seharusnya menjadi milikku malah jatuh ke tangan Dinda. Nggak bisa dibiarkan. Apa-apaan dia, bukan siapa-siapa malah dapat uang segampang itu. Atau mungkin sebagai gantinya dirinya menawarkan keindahan tubuhnya? Nggak mungkin, Mas Iwan nggak mungkin begitu! Tapi, kenapa Mas Iwan mau memberikan Cuma-Cuma kalau nggak ada imbalannya?” Angin yang menerpaku sepertinya tak bisa mengurangi rasa sesak yang ada di dalam d**a ini. Aku ingin mendapat jawaban secara jelas. Bukan hanya berpura-pura baik-baik saja. Tentu aku tidak bisa. “Rum, Iwan pulang jam berapa? Sejak tadi nggak kelihatan batang hidungnya? Dia belum keluar dari kantor kan?” Mobil milik Ayu sudah berhenti di tepi jalan. Kami sedang menunggu kehadiran Mas Iwan. Meski di parkir di pinggir jalan, suamiku tak paham dengan mobilnya Ayu. Jadi, kami aman saat mengintainya. Baru saja pertanyaan itu terucap dari lisan sahabatku, sosok Mas Iwan terlihat keluar dari kantor. Seperti biasa, ia tampak ramah. Ia berbasa-basi dengan teman sekantornya sambil berjalan menuju mobil yang terparkir. “Tuh, tuh, Mas Iwan sudah keluar. Kita siap-siap, Yu. Ayo, Yu. Siap-siap, Yu.” Penyelidikan ini membuat jantungku terpacu. Aku menepuk-nepuk pundak Ayu karena histeris. Rasanya tak menentu. Aku takut ketahuan, tetapi juga penasaran. “Iya, iya. Aku tahu. Jangan ditepuk-tepuk begitu. Sakit tahu!” protes Ayu. “Cepat, cepat, tuh mobilnya sudah bergerak. Kita nggak boleh kehilangan jejaknya,” ucapku lagi. Pandanganku tak mau lepas dari mobilnya Mas Iwan. “Iya, sabar dulu. Kan nunggu mobilnya benar-benar jalan. Kita di belakangnya. Itu juga harus jaga jarak biar suamimu nggak curiga. Jangan histeris begitu kenapa sih!” “Aku khawatir, Yu. Nggak sabar juga pengin tahu, Dinda itu seperti apa? Secantik apa sampai Mas Iwan tega sama aku. Uang yang harusnya menjadi jatahku malah sia-sia diberikan sama wanita nggak tahu diri itu. Bikin kesel kan, Yu!” “Iya, marahnya nanti lagi. Tuh, mobilnya Iwan sudah jalan. Kamu jangan mengganggu konsentrasiku dulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN