Mobil hitam yang dikendarai Mas Iwan melaju cukup kencang. Suamiku mungkin tidak mau membuang waktu percuma. Semakin cepat sampai di rumah perempuan tak tahu diri itu, semakin bahagia pula perasaan suamiku. Benar-benar menjengkelkan. “Emangnya suamimu kalau naik mobil secepat itu ya, Rum?” Ayu malah bertanya hal yang membuatku semakin kesal. “Nggak. Ini gara-gara pelakor nggak tahu malu. Ngeselin banget, sumpah!” Ada yang menyulut hatiku dengan kobaran api. Semakin panas dan membara. “Eh, mobil Iwan sedikit melambat. Lampu sein-nya menyala ke kiri. Oh, mau ke minimarket. Kita cari tempat berhenti yang enak buat ngintai, agak jauhan juga biar suamimu nggak curiga.” Ayu tetap fokus menyetir. Sesekali matanya mengawasi pergerakan mobil hitam milik Mas Iwan yang memang sedang kami intai.

