Mobil sudah benar-benar berhenti. Aku hendak membuka pintu dan keluar dari mobil untuk melabrak orang-orang yang tak tahu diri itu. Namun, Ayu menahanku. “Rum, tunggu dulu! Jangan gegabah kayak gitu! Kamu niat langsung ditalak Iwan tepat di hadapan pelakor? Coba tenangkan hatimu dulu. Aku tahu perasaanmu.” “Mereka itu keterlaluan banget, Yu. Mas Iwan suamiku! Apa wanita jalang itu nggak tahu kalau Mas Iwan sudah punya istri! Mas Iwan juga kenapa jahat banget! Sejak kapan mereka seperti ini!” Napasku terengah. Berat sekali beban yang menindih dadaku. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat seorang perempuan asing dan anaknya tersenyum bahagia menyambut kedatangan suamiku. Bukankah sangat memilukan? “Tenang dulu, Rum. Kita lihat apa yang mereka lakukan dan tentu merekamnya untuk bukti.

