Agnes memeriksa kaki Merri lalu ia berdecit, "Ini sakit banget pasti, ya?" "Ya jelas sakitlah, Nes. Demi foto Verrel aku kejar sampai keseleo begini," jawab Merri. "Ya Tuhan, Verrel lagi?!" decak Agnes. Rasa-rasanya ia risih terus-terusan mendengar Merri menyebut nama Verrel. Kalau dibilang Agnes justru benci dengan lelaki itu. Verrel lelaki yang sudah merusak hidup Merri lantas meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan dan tanpa kabar. "Kalau aku jadi kamu, aku udah benci setengah mati sama dia. Bukannya malah bucin kayak gini, Mer!" sungut Agnes. "Aku cinta banget sama dia, Nes," ucap Merri dengan wajah memelas. Bibirnya melengkung ke bawah seperti emoticon sedih. "Makan itu cinta! Orang itu move on bukan kayak kamu begini," omel Agnes. Seandainya bisa ... aku udah lakuin itu

