o0o "Abang boleh angkat telpon dari Satria?" Median meminta ijin kepada Merri terlebih dahulu. Lelaki beranak dua yang super sabar tersebut berusaha mengambil keputusan sesuai dengan keinginan adiknya. "Terserah Abang saja. Itu kan ponsel-ponsel abang," jawab Merri dengan nada sinis. "Nak, kau jangan marah-marah seperti itu! Satria lelaki yang baik, dia masih tetap mengkhawatirkanmu meski kau sudah membuat dia malu dan hatinya patah menjadi dua. Ayo cepat angkat telponnya, Median! Jangan biarkan dia semakin memikirkan Merri karena tak tahu kabar tentang adikmu yang sangat dicintainya ini," tutur Nenek Syan menegur Merri lalu mengomando Median. "Iya, baik, Nek," kata Median segera menuruti perintah Nenek Syan dengan patuh. "Halo, Sat!" sapa Median ketika panggilan suara antara dirinya

