Kemarahan Keluarga

1839 Kata
o0o Suara bel pintu membuat Agnes harus segera pergi dari depan pintu kamar Merri yang telah ia buka sebagian. Tanpa Merri ketahui bahwa sejak tadi ada sang sahabat yang begitu prihatin melihat tangis air mata yang sejak tadi meleleh dari dua kantong air matanya. Agnes membatalkan niatnya untuk menemui Merri dan beralih untuk membuka pintu rumahnya karena nampaknya ada tamu yang sedang menunggunya di depan sana. Dengan terburu-buru Agnes menuruni undakan rumahnya yang menghubungkan lantai satu dengan lantai atas. Suara derup langkahnya membuat seekor kucing perliharaannya berlari karena kaget. "Maaf, Sayang! Mami terburu-buru," ucap Agnes kepada kucing putih kesayangannya tersebut. Agnes memutar knock kunci dua kali dan menarik handlenya ke dalam hingga pintu itu pun terbuka lebar dan .... "Malam, Agnes!" sapa seorang lelaki yang begitu Agnes kenal dengan baik. Di belakang lelaki itu sudah nampak tiga orang lainnya juga dua anak kembar berumur lima tahun. Mereka melempar senyum kepada Agnes yang tertegun-kaget melihat kehadiran orang-orang yang ada di hadapannya sekarang. "M-malam, Bang Median," sapa balik Agnes dengan tergagap-gagap. "Om, Tante, Bang Marshel, silahkan masuk!" Agnes mempersilakan tamu-tamunya untuk menjamah ruang tamu rumahnya. Gesture tubuh Agnes yang gugup alias tak tenang, sesekali wanita itu memutar-mutar cincin pernikahannya dengan senyum getir yang mengulas bibirnya membuat Marshel mencurigai sesuatu. Pasti ada yang sedang sahabat adiknya itu sembunyikan. "Om, Tante, semuanya ... mau minum apa ini?" tanya Agnes berbasa-basi setelah semuanya duduk berjajar-jajar di sofa. "Kembar kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Agnes kepada dua anak kembar, keponakan Merri yang tampan-tampan. "Apa ada s**u cokelat, Tante?" tanya Abraham atau kerap disapa Aham. "Oh, tentu ada, Sayang," jawab Agnes lalu mengelus pipi chubby anak lelaki tersebut. Namun, Agnes tak bisa membedakan mana Abraham dan mana Ibrahim. "Kamu ini nggak sopan, Sayang!" tegur Marshel. "Nggak apa, kok, Bang! Santai saja," sahut Agnes. "Biar tante ambilin dulu ya, Sayang." Agnes hendak berbalik badan, tapi Marshel justru mencegahnya. "Nggak usah, Nes! Aku langsung saja ngomong ke kamu tentang tujuan kami datang kemari," ucap Marshel menahan Agnes agar tak pergi untuk menuruti mau anaknya. Jantung Agnes berdebar kencang. Tanpa Marshel jelaskan, dia pun tahu apa alasan yang membawa keluarga Merri singgah ke rumahnya. "I-iya, Bang," gagap Agnes. Wanita itu lantas duduk di sofa single yang ada di dekat Marshel. "Ini masih tentang Merri," cetus Marshel. Iya, aku sudah paham, batin Agnes menyahuti omongan Marshel dalam hati. Nampaknya Marshel-anak pertama di silsilah keluarga Merri akan menjadi juru bicara mewakili yang lainnya. Karena ibu, ayah dan juga Median nampak diam dan hanya menyimak saja sejak tadi. "Sudah dua hari ini Merri nggak pulang dan Nenek Syan sampai sakit karena mikirin dia. Kami sangat mengkhawatirkan Merri, Nes. Dia sama sekali nggak kasih kabar dan ponselnya juga nggak bisa dihubungi," tutur Marshel. "Kami pikir kamu adalah sahabat baiknya, kamu pasti tahu ada apa dengan Merri dan di mana dia sekarang," imbuh Marshel. Aduh, bagaimana ini? Apa aku harus jujur atau tetap menuruti permintaan Merri untuk menyembunyikkan keberadaannya? Agnes menjadi resah. Dia bingung harus menjawab apa karena apapun yang dia katakan akan memiliki resiko masing-masing. "B-bang ... aku ...." "Papi!" cetus Abraham, anak kembar yang lahir paling belakang dari adiknya Ibrahim. Anak kecil itu terlihat menunjuk ke arah sebuah guci besar yang berdiri kokoh di dekat pilar yang menyangga rumah Agnes. Agnes menghentikan ucapannya dengan segera. Dan kini Aham menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sini. "Papi, itu sepatu Aunty Merri," cetus Abraham membuat mulut Agnes ternganga dengan cukup lebar. Aduuh ... kenapa anak ini bisa melihat sepatu Mer ada di situ, desis Agnes seraya memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya. Tamat sudah ... kebohongannya demi menuruti keinginan Merri terbongkar sudah. "Iya, itu sepatu yang Merri kenakan saat di hotel," sahut Anna membenarkan bahwa benda yang dilihat cucunya adalah benar milik Merri. Agnes menundukkan kepalanya. Gerak tubuhnya sudah tak tenang. Benar-benar ia merasakan kepanikan yang besar kini menyerangnya. "Agnes, please jangan bohong! Merri ada di sini kan?" tanya Marshel memastikan. "Bukti sudah jelas dengan keberadaan sepatu itu, Nes. Katakan di mana bocah tua nakal itu bersembunyi sekarang?!" desak Edrick. "Iya, dia memang ada di sini, Om. Merri butuh ketenangan jadi saya memenuhi keinginannya untuk tak bilang kepada siapa pun juga tentang keberadaannya. Maafkan saya!" jelas Agnes lalu mengatupkan kedua tangannya. Ia menyesal sudah membohongi keluarga Merri, tapi apa mau dikata dia hanya tak ingin membuat kondisi psikologis Merri menjadi lebih terpuruk. "Dia mengancam akan pergi dari sini jika saya nekat memberitahu Om dan Tante, jadi saya pikir lebih baik dia ada di sini saja," dusta Agnes. Terpaksa harus berbohong agar keluarga Merri bisa memahami situasi yang dia hadapi. "Sudah aku duga, dia pasti ada di rumahmu. Merri tidak punya teman lain yang dekat selain kamu," desis Edrick. "Sekarang tolong panggilkan sahabatmu yang tak tahu diuntung itu!" perintah Edrick dengan nada tinggi. "Om, saya mohon jangan selesaikan masalah ini dengan emosi! Kasihan Merri," pinta Agnes. "Dia saja tak kasian dengan kami, lantas apa perlunya kami mengasihaninya?" sembur Edrick. "Papa ... Mama ...." Belum juga Agnes memanggil Merri, tapi wanita itu sudah muncul dan berdiri di undakan tangga rumah Agnes. Dia mendengar suara ayahnya yang lantang dari kamar tamu yang ia singgahi, sehingga itu membawanya untuk datang melihat keadaan di luar. Agnes tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi peperangan di rumahnya, maka dia pun meminta si kembar untuk masuk ke dalam kamar anaknya Zedden. Tak baik jika ribut dan dilihat oleh anak kecil. Setelah mengamankan si kembar, Agnes kembali ke ruang tamu dan melihat Edrick berdiri dari tempat duduknya. Lelaki itu menatap tajam anak bungsunya. Kobaran amarah itu dapat dengan jelas Merri lihat dan membuat wanita itu menjadi takut untuk menghadapi murka ayah dan juga keluarganya yang lain. Agnes pun juga merasakan ketakutan yang Merri rasakan hingga tubuh wanita itu membeku rasanya. Ia bingung harus membantu Merri dengan cara apa. Sedangkan, masalah yang harus Merri hadapi tak hanya sampai di sini saja. Ia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan keluarga Satria juga kan? Telapak tangan kiri Merri yang menempel pada tembok seketika terlepas. Ia tertunduk seraya meremat-remat jemari tangannya. Ayolah, Merri! Kamu harus jadi wanita berani yang siap untuk menghadapi apapun permasalahan yang datang menimpa. "Papa, Mama, Abang ... maafkan aku!" lirih Merri mengiba agar orang tua dan juga abang-abangnya mau memaafkannya. Dia sadar bahwa dirinya bersalah, meski semua Merri lakukan atas sebuah alasan yang masih menjadi rahasianya. "Maaf kamu bilang?! Dasar anak tak tahu diuntung!" sentak Edrick seraya menunjuk-nunjuk wajah Merri dari kejauhan. Merri benar-benar berada dalam masalah besar, tapi dia menyadari bahwa ia tak mungkin bisa selamanya menyembunyikan dirinya dalam pelarian. Cepat atau lambat dia pasti akan menghadapi keadaan seperti ini. Iya, semua konsekuensinya sudah Merri bayangkan sejak ia menginjakkan kakinya keluar dari kamar hotel dua hari yang lalu. "Papa, tolong! Kendalikan suara papa, ini di rumah orang," tegur Anna, mengingatkan suaminya dengan suara yang pelan. "Sayang, kemarilah, Nak!" Anna mengulurkan tangannya kepada Merri. Dengan mata berkaca-kaca beliau meminta Merri untuk pulang ke rumah. "Nenek Syan sakit dan sangat merindukanmu, Sayang," tuturnya. Beliau tahu, hanya Nenek Syan-lah yang bisa membawa Merri mau kembali ke rumah. Karena ia sangat mencintai neneknya, begitu pun Nenek yang juga sangat mencintai Merri. "Mama ... bagaimana keadaan nenek?" tanya Merri seraya berlari kecil menuruni anak tangga. "Memangnya kamu masih peduli dengan nasib nenekmu? Haha?" tanya Edrick masih belum bersikap ramah sama sekali kepada anak bungsunya tersebut. "Jelas aku peduli dengan nenek, Pa. Aku mencintai nenek seperti mencintai nyawaku sendiri!" sahut Merri dengan nada tinggi. Dituduh menjadi cucu yang tak peduli dengan neneknya membuat Merri yang tadinya takut justru berbalik meradang. "Kalau kamu peduli dengan nenekmu, harusnya kamu tidak pergi di hari pernikahanmu, Merri!" debat Edrick. "Kalau aku meninggalkan pernikahanku bukan berarti aku nggak cinta sama nenek, Papa. Tapi karena memang aku belum ingin menikah!" berang Merri dengan nada yang lebih tinggi dari suara ayahnya. Tetes air mata wanita itu jatuh seiring dengan otot-otot di lehernya yang menonjol akibat teriakannya. Rahang Merri mengeras dan ia pun mengepalkan kedua tangannya seolah menahan sesuatu yang berkecamuk dalam dadanya selama ini. "Kalau kamu memang belum siap menikah seharusnya kamu bilang dari awal! Kelakuanmu sudah membuat dua keluarga menjadi bahan cemoohan orang-orang apa kamu tahu itu?!" tekan Edrick yang tak mau mengalah dengan anaknya. "Papa, tahan! Aku rasa ini tak baik diselesaikan di rumah orang seperti ini." Median ikut menegur ayahnya setelah tadi teguran Anna tak digubris sama sekali oleh Edrick. "Biarkan saja! Biar Agnes tahu kelakuan bodoh sahabatnya ini!" sahut Edrick. Merri dan Edrick sama-sama memiliki hati dan kepala yang keras, sehingga keduanya tak akan ada yang mau mengalah di kala mereka berdebat seperti sekarang. "Berkali-kali kami memilihkanmu seorang pria yang baik untuk menjadi suamimu, tapi kamu selalu menolaknya, Merri!" ucap Edrick mengungkit kisa-kisah yang sudah lalu. Dua kali dijodohkan langsung ditolak mentah-mentah dan yang terakhir menyetujui, tapi justru kabur di akad nikah. "Harusnya Papa paham bahwa aku nggak mau dijodohkan tanpa aku harus menolak kan?!" serang balik Merri. "Mer, jangan kamu lawan papamu!" nasehat Agnes seraya mengelus-elus pundak Merri untuk memberi sahabatnya itu ketenangan. "Aku juga butuh dimengerti, Nes. Aku sudah menurut apa kata mereka selama ini. Mereka memintaku kuliah di jurusan ini, harus bekerja di bidang ini. Aku mengubur apa yang aku cita-citakan demi keinginan Papa. Haruskah aku menurut lagi perihal jodoh? Aku bisa mencari jodohku sendiri. Apa aku wanita seburuk itu hingga aku harus dicarikan jodoh?" gerutu Merri mencurahkan isi hatinya. "Bisa mencari jodoh sendiri katamu?" tanya Edrick dengan senyum meremehkan yang tersungging di bibir beliau. Lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah berumur dua puluh delapan tahun, tapi sekali pun kamu terlihat menggandeng lelaki. Apa kamu suka dengan sesama jenismu, Merri?" tuduh Edrick membuat Merri dan yang lainnya sangat geram. "Pa, Papa boleh marah, tapi jangan bicara seperti itu tentang Merri, Pa!" ketus Median, dia adalah abang yang paling mengerti Merri. Berbeda dengan Marshel yang kerap berseberangan pendapat dengan adiknya tersebut. "Kamu harus pulang dan tetap langsungkan pernikahanmu dengan Satria! Kurang apalagi dia? Dia lelaki mapan, dari keluarga yang terpandang, dia juga tampan dan yang paling penting adalah dia mencintaimu!" tegas Edrick memberikan perintah yang tentunya tidak boleh untuk didebat atau dibantah. Semua yang keluar dari mulut beliau bak sabda dari baginda raja yang harus siapa pun turuti. "Aku nggak mau! Aku nggak mau, Papa! Jangan paksa aku untuk menikah dengan lelaki yang nggak aku cintai!" bantah Merri. Wanita itu menangis histeris. "Jangan paksa anakmu, Pa! Aku mohon!" Anna turut membantu Merri untuk mengubah pendirian keras Edrick. Beliau tak tega melihat anaknya tertekan seperti sekarang. "Merri harus tetap menikah dengan Satria, Anna! Apa kamu mau nama keluarga kita tercoreng? Willi adalah kawan baikku dan Satria adalah sahabat baik Marshel, hubungan kami akan hancur berantakan apabila pernikahan ini benar-benar dibatalkan. Aku sudah memberitahu semua orang kalau pernikahan diundur bukan dibatalkan. Jadi sekarang kamu ambil barang-barangmu dan kita pulang Merri!" dalih Edrick. Sang raja di keluarga Winata tak ingin rencananya hancur berantakan. Satria dan Merri harus tetap menikah biar bagaimana pun caranya. "Aku nggak mau!" jerit Merri dengan kesetanan. "Pa, jangan seperti itu! Aku mohon, Pa!" Anna sampai bersimpuh di kaki suaminya agar Edrick menaruh iba kepada Merri yang terlihat sangat ketakutan dan juga depresi dengan sikap otoriternya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN