Mengancam Bunuh Diri

1701 Kata
o0o Merri berlari menuju ke dapur dengan terburu-buru, lalu dia kembali ke ruang tamu setelah dia berhasil menemukan sebuah pisau runcing yang akan dia pergunakan untuk mengancam ayahnya. "Aku sudah bilang sama Papa kalau aku nggak mau nikah!" sentak Merri seraya mengacungkan pisau runcing yang dia bawa. "Merri, apa kamu sudah gila?!" tegur Agnes yang menjadi panik seketika melihat ulah sahabatnya yang mengarah ke kekerasan. "Iya, aku memang sudah gila, Nes! Aku gila karena nggak ada satu pun yang mengerti aku termasuk orang tua aku sendiri!" berang Merri. "Nak, tolong lepasin pisau itu, Sayang!" pinta Anna dengan lembut. "Aku akan mati kalau kalian masih maksa aku buat nikah sama Bang Satria!" ancam Merri. Pisau yang tadi ujung runcingnya mengarah ke depan, kini berpindah ke pergelangan tangan Merri. "Merri! Jangan, Mer!" Semua orang panik dan berusaha untuk mencegah niat nekat Merri untuk bunuh diri. "Aku akan mati di hadapan kalian kalau kalian tetap memaksaku! Aku nggak main-main soal ini!" tegas Merri. Ayolah bilang kalau kalian nggak akan maksa aku nikah! Please! Aku belum mau mati, aku takut mati. Aku masih pingin hidup seratus tahun lagi untuk nemuin Verrel, calon menantu kalian, batin Merri. Dirinya tak benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri. Merri masih waras dan masih bisa menggunakan akal sehatnya. Memegang pisau setajam ini saja dia sudah gemeteran lalu mana mungkin dia berani menggoreskan ujung runcingnya ke pergelangan tangannya? Itu tidak mungkin! Merri tak memiliki nyali yang kuat untuk melakukan dosa tersebut. Ini hanyalah upayanya untuk menakut-nakuti keluarganya apabila jalan kekeluargaan tak mampu mengubah keras kepala ayahnya. "Pa, ayolah jangan keras hati! Aku nggak mau kehilangan anak kita, Pa," bujuk Anna. Beliau yang paling ketakutan di antara yang lainnya. Mana ada ibu yang mau melihat anaknya bunuh diri? Hanya ibu yang tak punya akal yang tega. Maka dengan sekuat tenaga beliau akan membuat suaminya untuk mengurungkan niatnya. "Kalau Papa tetap maksa, Mama juga akan ikut mati sama kayak Merri." Anna ikut mengancam suaminya, sama seperti yang Merri lakukan. "Astaga!" decak Median seraya mengusap kasar wajahnya dengan telapak tanngan. "Mama ... jangan begitu!" desah Edrick semakin bingung saja karena diancam oleh dua bidadari yang ada dalam hidupnya secara bersamaan. "Satu .... " Merri mulai menghitung untuk membuat keadaan semakin menegang dan untuk memberi efek kepanikan yang semakin parah untuk ayahnya. "Dalam hitungan ketiga aku akan-" "B-Baiklah! Baiklah, Sayang!" potong Edrick dengan cepat seraya mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah Merri. Fiuuh ... Merri bisa menghela napas lega. "Papa tidak akan memaksamu lagi, tapi tolong turunkan pisau itu, ya! Lepas cepat lepas!" ucap Edrick. Lelaki yang tadinya keras, kasar, dan juga otoriter tersebut segera melunak sikapnya dan juga cara bicaranya demi terselamatkannya nyawa sang putri satu-satunya. Beliau tak tahu bahwa Merri hanya berpura-pura saja untuk menakut-nakutinya. "Papa janji?" tanya Merri untuk memastikan kalau Edrick bukan hanya berpura-pura (seperti dirinya), tapi benar-benar mau untuk menepati omongannya. "Iya Papa berjanji, Merri. Demi Allah Papa berjanji!" ucap Edrick (meski dengan keterpaksaan) ia menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Hiks ... hiks .... " Merri menangis terisak-isak setelah melepaskan pisau yang dia bawa, lalu alat pemotong daging dan sayuran itu pun terjatuh ke lantai begitu saja. Agnes pun segera menyingkirkan benda tajam itu jauh-jauh, untuk mengatisipasi agar Merri tak melakukan kebodohan itu lagi untuk kedua kalinya. "Sayang ... jangan mati, Ya! Mama mencintaimu, Sayang .... " tutur Anna yang berjalan mendekat kepada sang putri lalu beliau membawa Merri ke dalam pelukan. "Ma ... biarkan aku bicara dan dengarkan aku untuk kali ini saja," pinta Merri. "Mer, duduklah! Dan jelaskan kepada keluargamu apa yang kamu mau," ucap Agnes seraya mengelus-elus punggung sahabatnya. Merri duduk di kursi sofa single yang tadi menjadi tempat Agnes, sedangkan Agnes berdiri di sebelah wanita itu seraya merangkul pundak Merri dan sesekali mengelus-elus lengan sahabatnya tersebut untuk menenangkan. Sedangkan Anna kembali menempatkan diri beliau berdampingan dengan sang suami yang nampak lebih calm down tak membara seperti tadi. Untung Papa mau menuruti keinginanku. Terima kasih pisau kamu udah banyak bantuin aku. Merri bersyukur dalam hati. "Ma, Pa, Abang ... aku bukannya nggak mau menikah. Aku pingin banget nikah, tapi ... untuk saat ini aku memang belum menemukan pasangan yang pas buat aku. Aku nggak cinta sama Bang Satria, aku mohon beri aku kesempatan untuk nentuin jodohku sendiri," tutur Merri. "Tapi kapan kamu mau nikah, Nak? Agnes saja sudah memiliki satu anak dan Papa lihat kawan-kawanmu yang lain juga sudah berumah tangga. Kami mengkhawatirkan masa depanmu untuk itulah kami memintamu untuk menerima lamaran Satria," terang Edrick. Kali ini perbincangan dilakukan tanpa menggunakan emosi melainkan melalui pendekatan yang baik dari hati ke hati. "Proses hidup orang itu berbeda-beda, Pa. Ada yang nikah cepat, ada yang lama nggak nikah-nikah. Ada pula yang masih muda udah meninggal, tapi udah tua masih awet hidup juga. Siapa yang tahu tentang itu si, Pa?" ucap Merri dengan dewasanya. Seandainya Verrel nggak pergi dan kita wujudtin mimpi-mimpi kita bersama ... mungkin saat ini kita udah punya anak, sesal Merri. "Iya, Papa tahu, Nak. Tapi jodoh itu bukan hanya untuk ditunggu, tapi untuk diusahakan juga. Kami hanya berikhtiar untuk mencarikan pasangan yang tepat untuk kamu karena Papa lihat kamu tak sekali pun membawa pacar kamu ke rumah," jelas Edrick. "Aku memang belum punya pacar, Pa," tegas Merri. "Kami melarangmu pacaran ketika kamu masih kuliah lalu setelah lulus dan kamu sudah bekerja kami membebaskan kamu untuk mencari pasangan, tapi nyatanya kamu tak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Maka dari itu kamilah yang bergerak untuk mencarikanmu pasangan, Merri," sahut Marshel bergantian dengan ayahnya untuk menjelaskan. "Usia kamu sudah hampir tembus kepala tiga, Sayang. Dan ... seorang wanita semakin tua akan semakin susah memiliki anak, itu pendapat Mama, tapi ... tapi kami janji tidak akan memaksamu," timpal Anna. Kenapa rumit sekali untuk mengerti isi pikiran satu per satu dari anggota keluargaku ini, desis Merri. Iya, memang benar kalau wanita semakin tua akan semakin tidak produktif, Merri pun tahu tentang itu. Aku harus berusaha keras untuk nemuin Verrel. Di mana pun kamu berada aku akan nemui kamu, Sayang. Merri membulatkan tekadnya untuk mencari keberadaan kekasihnya yang pergi. Iya, masih berstatus kekasih bukan mantan karena mereka belum ada kesepakatan putus saat itu. "Beri aku waktu lima bulan!" pinta Merri. "Lima bulan?" tanya mereka bersamaan. "Iya, beri aku waktu lima bulan untuk mencari lelaki yang mau untuk aku nikahi, kalau sampai batas waktu tersebut aku belum mendapatkannya juga .... " Merri menjeda kata-katanya sejenak untuk menghela napas. "... kalian boleh menikahkanku dengan lelaki yang kalian mau," tutupnya. "Kamu serius, Merri?" tanya Agnes seraya membelalakkan bola matanya. Dia tak percaya dengan persyaratan yang Merri ambil. Karena semua anggota keluarga inti Merri sudah menyetujui apa yang ia ajukan, maka tidak ada alasan lagi untuk Merri kabur-kaburan. "Merri, lima bulan itu waktunya yang singkat untuk nyari Verrel. Apa kamu yakin sama omongan kamu?" tanya Agnes yang membuntutti Merri yang sedang berjalan menuju ke kamar tamu untuk mengambil barang-barangnya. Dia harus pulang sekarang juga bersama keluarganya. "Aku yakin, Mer. Aku rasa butuh waktu tiga bulan saja buat nemuin keberadaan Verrel," jawab Merri. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan asal-asalan. "Mer ... tolong pikir matang-matang! Kamu nggak punya akses komunikasi sama sekali sama Verrel. Akun medsosnya kamu nggak punya, nomor teleponnya, rumah dia pun jauh ... lintas pulau. Bahkan aku pikir meski satu tahun kamu nyariin dia belum tentu kamu bisa nemuin dia, Mer," cerocos Agnes. Dia pikir waktu itu terlalu singkat dan Merri gegabah dalam mengajukan persyaratan. "Tolong jangan patahin semangatku, Nes!" desah Merri, frustasi. Wanita itu terduduk di ranjang seraya mencengkeram rambutnya kuat-kuat. Kepalanya seraya pusing dan berputar-putar karena masalah ini. "Mer .... " Agnes menempatkan dirinya di sisi Merri. Perempuan itu memeluk sahabatnya. " ... aku khawatir banget kalau sampai habis waktunya dan kamu masih belum nemuin Verrel. Aku sayang sama kamu, Mer. Aku sedih kalau kamu sedih. Aku juga pingin banget lihat kamu sama pasangan kamu ... siapa pun pria pendamping kamu nanti, aku mau kamu bahagia sama seperti aku," cetus Agnes. Merri sudah bukan lagi sahabat, tapi dia adalah saudara bagi Agnes yang hidup tanpa kakak atau pun adik alias anak tunggal. "Hanya Verrel lelaki yang akan menikah sama aku, Nes. Cuma Verrel saja," kata Merri dengan begitu yakin. "Sayang .... " Agnes mencengkeram kedua tangan Merri. "Aku harap kamu nggak terlalu terobsesi dengan masa lalumu ... jangan kamu menganggap bahwa tak akan ada lelaki baik yang mau menerima keadaanmu selain Verrel. Come on, Sayang! Kita hidup di masa kini dan berjuang untuk masa depan bukan untuk terus meratap di masa yang sudah habis waktunya. Aku bicara seperti ini bukan bermaksud untuk membuat kamu down, Mer. Aku cuma pingin kamu bisa legowo untuk menerima semua kenyataan terburuk sekalipun. Dan ... perlu kamu tahu, Mer! Lelaki kalau benar-benar cinta biar pun wanitanya berlumuran dosa, dia akan tetap cinta. Meski kamu udah nggak suci lagi, kalau lelaki itu tulus sama kamu, dia pasti akan menerima masa lalumu dengan lapang dada." o0o Merri masuk ke dalam mobil abangnya bersama dengan dua anak kembar dan juga istrinya. Wanita itu terus memikirkan apa yang Agnes katakan di kamar tadi. "Harus menerima semua kenyataan sekali pun itu buruk," gumam Merri mengulang kata-kata Agnes dengan suara yang lirih. Merri duduk di paling pojok. Ia konsen menatap melamun ke luar jendela. Suara si kembar yang super berisik karena mengoceh sejak tadi pun dia abaikan, padahal biasanya Merri selalu hobi mengerjai dua keponakan tampannya tersebut. Setelah ini aku harus cepat-cepat cari Verrel, entah bagaimana pun caranya. Hanya lima bulan waktuku dan aku nggak boleh gagal. Karena aku cuma cinta sama kamu, Verrel. Aku sayang sama kamu banget, banget, banget ... batin Merri. Tanpa terasa air matanya kembali luruh dan membasahi wajahnya. "Aunty ... kenapa Aunty nangis?" tanya Abraham. Ternyata sejak tadi meski sibuk bercanda dengan adiknya, tapi dia sempat-sempatnya memperhatikan tantenya. Pertanyaan putra mereka pun sukses membuat Marshel menengok ke kaca spion yang ada di depannya untuk melihat adiknya yang duduk di belakangnya. Merri menoleh seraya mengulas senyum kepada Abraham yang belum waktunya untuk mengerti masalah orang dewasa. "Aunty ngantuk sayang, makanya netesin air mata," jawab Merri. Tak mungkin kan dia menjelaskan kepada anak tersebut sebab apa air mata duka itu bisa jatuh membasahi pipinya? "Aham, jangan ganggu aunty, Ya!" Lusiana memperingatkan anaknya untuk tidak bertanya yang aneh-aneh kepada Merri. "Maaf, Mami!" ucap Abraham langsung menurut
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN