o0o
"Selamat malam, Tuan, Nyonya, Tuan muda! Makan malam sudah siap untuk dinikmati," ucap salah satu maid yang telah mengabdikan dirinya selama lima belas tahun untuk menjadi koki di kediaman milik Tuan Benjamin Oliver May. Wanita tua itu membungkukkan badannya dengan sopan ketika berbicara dengan keempat majikannya. Ia pun bergegas pergi setelah majikannya membalik piring mereka masing-masing yang artinya mereka sudah siap untuk menikmati makan malam.
"Menu hari ini semua kesukaan Nico sepertinya," kata Ayana Diya, Nyonya besar yang ada di rumah ini.
"Ya, Mami. Semua kesukaanku," sahut Nico. Lelaki berumur dua puluh lima tahun tersebut segera mengambil nasi setelah ayah dan ibunya selesai dengan memilih menu apa yang akan mereka makan.
"Hm ... rasanya aku ingin makan semuanya kalau perutku muat," cetus Nico yang sudah menelan ludah akibat melihat chicken spacy wings, udang bakar madu dan rendang daging sapi yang berjejer-jejer di depan matanya. Sungguh sangat menggugah selera makannya yang beberapa hari ini menurun karena putus cinta.
"Makan saja kalau kamu mau makan semuanya! Makan sepiring-piringnya sekalian," sambung Marco Stefen May, kakak kandung Nico Evrandya May alias putra pertama pasangan Benjamin Oliver May dan juga Ayana Diya.
"Marco, lalu bagaimana dengan obrolan serius kita tempo hari?" tanya Benjamin kepada anak sulungnya.
"Pembicaraan yang mana ya, Pi?" tanya balik Marco. Dia benar-benar lupa dengan obrolan yang mana yang dimaksud oleh papinya, karena banyak sekali hal yang mereka bicarakan tempo hari.
"Soal pernikahanmu," jawab Benjamin, hanya dua kata, tapi cukup membuat Marco mendesah kasar ke udara.
"Aku belum bisa kasih keputusan kapan aku bisa menikah, Papi," desis Marco. Sejujurnya ia tak mau mengambil pusing tentang tuntuttan ayahnya untuk segera menikah, tapi ... kalau didesak terus lama-lama orang yang sehat juga pasti bakalan pusing tujuh keliling.
"Berkali Papi bertanya tentang ini, tapi kamu masih juga belum bisa memberikan keputusan? Dasar kau ini!" decak Benjamin.
"Lalu aku bisa apa kalau Zura belum ingin menikah, Papi?" geram Marco.
"Ya cari wanita yang mau menikah denganmu! Bukan hanya dia wanita satu-satunya yang ada di dunia, lalu kenapa kau sepusing ini?" sahut Benjamin memberi saran kepada putranya untuk memutuskan Azzura dan temukan wanita lain yang bersedia untuk menjadi istrinya.
"Apa nggak ada cara yang lain? Kekasih itu bukan ban serep yang bisa bongkar pasang seenaknya, Papi," sungut Marco. Gegara obrolan tentang pernikahan membuat napsu makan Marco seketika menghilang.
"Hei, adikmu saja setiap minggu mengganti pacar baru, lalu kenapa kau sesetia itu? Hahahaha ...." cemooh Benjamin. Beliau heran kenapa darah playboy sama sekali tak mengalir di diri Marco. Padahal dari segi tampan dan tubuhnya yang gagah semua menurun ke anak sulungnya tersebut.
"Jangan samakan aku dengan Papi atau Nico, Ya! Aku seperti Mami yang loyalitasnya tinggi, meski berkali-kali Papi khianati, tapi Mami tetap bertahan," sembur Marco. Perbincangan yang tadinya santai pun seketika mengandung emosi ketika menyinggung perihal kesetiaan. Mungkin untuk dua lelaki yang ada di rumah ini setia adalah hal yang tak penting, tapi untuk Marco dan Ayana Diya, kesetiaan adalah simbol dari betapa berharganya sebuah hubungan untuk dijaga.
"Sudah-sudah! Jangan marah-marah begitu, Marco! Hahaha .... " tegur Benjamin tak menganggap hal tersebut sebagai suatu yang serius. Bahkan lelaki yang sudah memutih semua rambutnya tersebut bisa tertawa dengan lantang seolah menghina kesetiaan yang Marco gadang-gadang selama ini.
Hampir dua tahun Marco berpacaran dengan Azzura setelah tiga tahun sebelumnya Marco memilih untuk menjadi single karena patah hati akibat cintanya yang tak direstui. Lelaki itu memang bukan tipikel orang yang mudah jatuh cinta. Namun, jika sekali saja ia jatuh cinta maka akan dia kejar wanita itu hingga ia mendapatkannya. Action Marco tak hanya berhanti ketika ia mengejar cinta pujaan hati, tapi setelah ia berhasil memacari wanita tersebut, Marco akan menjaga kesetiaannya hanya untuk wanitanya. Betapa beruntungnya Azzura Raharja, gadis berusia dua puluh dua model yang berprofesi sebagai seorang model karena memiliki kekasih yang tampan dan kaya raya seperti Marco. Di saat banyak wanita yang mengincar cinta Marco, justru dialah pemenangnya-membuat banyak perempuan patah hati ketika mengetahui kini lelaki idaman mereka sudah tak lagi sendiri.
"Apanya yang lucu, Papi? Kesetiaan bagi Papi itu memang lucu, tapi enggak buat aku!" tegas Marco.
"Iya, maaf-maaf, Marco! Tapi di sini Papi tegaskan bahwa lima bulan lagi Papi akan pensiun dari pekerjaan Papi. Iya, usia enam puluh tahun itu sudah usia lanjut dan sepantasnya untuk menikmati hidup," terang Benjamin. Lelaki yang memiliki darah keturunan Inggris ini pun menyudahi makannya, karena beliau memang tak terlalu banyak makan di malam hari seperti ini demi menjaga kesehatan tubuhnya. Meski sudah berusia lanjut, tapi beliau masih terlihat tampan dan juga gagah. Benjamin secara fisik justru terlihat awet muda meski rambutnya telah memutih semua. Iya, empat puluh lima tahun usia yang masih pantas untuk beliau sandang mengingat kerutan belum nampak terlihat di wajah beliau yang tampan.
"Dan siapa pun yang akan menggantikan posisi Papi dia adalah seorang lelaki yang harus sudah menikah," ucap Benjamin.
"Ck! Apa peraturan konyol seperti itu nggak bisa dirubah, Papi? Sebagai anak pertama aku memiliki hak untuk menjadi pengganti Papi di kantor utama. Jadi, akulah yang pantas untuk menduduki posisi tersebut," terang Marco dengan sangat emosional. Nasi dan lauk pauk yang terhidang di atas piringnya pun menjadi terabaikan.
"Iya-iya-iya, memang kau yang pantas untuk menggantikan Papi, tapi nyatanya kau belum menikah hingga saat ini. Usiamu sudah tiga puluh tahun dan kamu masih setia sendiri seperti ini," balas Benjamin mempermasalahkan status Marco.
"Aku heran, Papi. Kenapa harus aku menikah dulu? Memangnya pria single nggak bisa apa bertanggung jawab untuk menjadi seorang presiden direktur di perusahaan Papi?" debat Marco. Baginya alasan harus menikah terlebih dahulu apabila ingin menjadi seorang presdir itu amatlah sangat konyol dan juga mengada-ngada.
"Tanggung jawab seorang lelaki yang sudah beristri dan belum itu amatlah berbeda, Marco. Dan ini sudah tradisi turun temurun dari silsilah keluarga kita jadi kau tidak bisa untuk membantahnya. Kalau kau tak juga menikah dalam waktu lima bulan ini maka dengan terpaksa jabatan ini akan Papi wariskan kepada orang lain saja atau Nico boleh maju jika dia sudah menikah dalam beberapa bulan ke depan ini," papar Benjamin tak ingin apa yang sudah menjadi peraturan dirubah hanya karena satu pendapat orang, meski Marco adalah anaknya. Apa yang sudah menjadi keputusan dan tradisi turun temurun tak semudah itu untuk dibantah atau dilanggar.
"Shiit! Ini gila, Pah! Nyatanya aku belum bisa menikah sampai kontrak kerja Zura dengan salah satu brand berakhir dan itu masih satu tahun lagi. Itu artinya aku nggak bisa gitu gantiin Papi?" berang Marco terbakar amarah. Keinginannya untuk menjadi presiden direktur sudah ada di depan matanya, tapi semua bisa saja gagal total hanya karena Azzura yang belum siap untuk menjadi seorang istri.
"Semua keputusan ada di tanganmu, Marco. Kalau kau ingin menjadi presiden direktur maka menikahlah! Kalau Azzura tidak mau ya ... kau bisa mencari wanita yang mau denganmu, tapi kalau kau tetap mempertahankan Azzura maka kau juga harus siap untuk kehilangan posisi yang kau impi-impikan selama ini," tegas Benjamin.
"Sayang, kau tidak perlu khawatir soal ini. Kau bisa bujuk Azzura untuk menikah denganmu, kalau dia mencintaimu dia pasti akan mengorbankan karirnya demi dirimu," sahut Ayana yang sejak tadi memilih diam menyimak obrolan antara anak dan suaminya. Namun, kali ini beliau berkeinginan untuk ikut andil dalam memberi motivasi kepada Marco.
"Apa kau gila, Ayana?! Kau meminta Azzura menikah dengan Marco dalam waktu dekat ini itu sama saja kau meminta Azzura mengingkari perjanjian kerjanya. Dia bisa dikenai ganti rugi yang besar untuk keputusan bodohnya itu," berang Benjamin marah besar dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
"Kenapa memangnya kalau dia diminta untuk bayar ganti rugi? Kita bisa membayarkannya asal Azzura mau menjadi menantu kita, ya kan?" sanggah Ayana Diya beradu pendapat dengan suaminya.
"Iya-iya ... aku rasa Mami benar, Pi. Berapa ganti rugi yang harus aku bayar agar Azzura mau meninggalkan perkerjaannya aku pasti bayar. Untuk silsilah keluarga May uang bukanlah suatu masalah," tutur Marco yang setuju dengan pendapat ibunya.
"Tapi ... tapi apa yang kau dapatkan dari wanita yang belum dewasa sepertinya, Marco?" cemooh Benjamin mencari-cari kelemahan Azzura dan membuat Marco menjadi kesal.
"Apa yang Papi katakan? Sejauh ini aku berpacaran dengannya aku sangat nyaman karena dia begitu mencintai aku dan memperhatikan aku, Papi. Iya, memang jarak usia kita delapan tahun, tapi itu bukan suatu masalah untuk kami," cetus Marco membantah statement ayahnya tentang kekasihnya.
"Harusnya kau paham satu hal, Marco. Apabila wanita menolak untuk menikah denganmu itu artinya wanita itu masih ingin bebas bermain-main. Zura masih muda, jelas dia masih belum ingin terikat dengan hubungan resmi yang menjemukan. Sekarang tinggal kau buktikan saja apa perkataan Papi ini benar atau salah! Bujuk dia untuk menikah denganmu kalau dia bersedia untuk meninggalkan pekerjaannya demi dirimu Papi bersedia untuk memberikan dua mobil mewah Papi untukmu," tantang Benjamin.
"Oke, siapa takut?" Dengan tegas dan tanpa berpikir panjang Marco menerima tantangan yang papinya berikan. Dia yakin pasti Azzura mau menuruti keinginannya untuk menikah dengannya.
o0o
"Nenek!" seru Merri ketika ia berdiri di ambang pintu kamar Nenek Syan. Setibanya kembali di rumah yang sudah dua hari ini dia tinggal pergi, satu orang yang paling ingin Merri temui di rumah ini adalah neneknya. Maka begitu kakinya menapak di halaman rumah, Merri bergegas berlari untuk menemui Nenek Syan yang sedang terbaring sakit di kamar beliau.
"Merri! Merri, Cucuku! Kemarilah, Sayang!" Nenek Syan sungguh gembira dengan kembalinya Merri di rumah ini. Wanita yang sejak tadi hanya tiduran lemas di atas ranjang, tanpa mau makan ataupun minum obat seperti pulih tenaganya ketika melihat wajah cucu kesayangannya ada di depan mata beliau.
Nenek Syan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari cucunya. Nenek menangis terisak tatkala tubuhnya dan Merri kini saling berdekapan hangat.
"Kau ke mana saja, Sayang? Nenek merindukanmu," ucap Nenek Syan mengutarakan perasaannya kepada Merri.
"Nek, aku menginap di rumah Agnes, Nek. Aku baik-baik saja. Nenek nggak usah khawatir, Ya!" sahut Merri lalu menenangkan nenek kesayangannya tersebut.
"Bagaimana nenek tidak khawatir? Nenek takut ada apa-apa denganmu, nenek takut bila ada lelaki jahat yang menculik cucu perawan nenek," tutur Nenek Syan sambil mengelus-elus rambut Merri.
Jangan singgung soal perawan, Nek! Nenek membuat aku sedih, ucap Merri dalam batin.
"Aku baik-baik aja bersama Agnes, Nek," cetus Merri lalu melepaskan pelukannya.
"Syukurlah! Akhirnya nenek bisa bertemu denganmu, Cucuku," kata Nenek. Beliau memandangi wajah Merri yang ayu. Beliau sangat takut kehilangan Merri, bila Merri tak juga kembali beliau rasanya seperti ingin mati.
"Sekarang Nenek makan, ya! Lihat makanan nenek masih utuh." Merri mengambil piring yang tergeletak di meja kecil yang ada di dekat ranjang nenek, piring tersebut sudah berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Sengaja nenek mengambil aksi mogok makan sebagai bentuk protes kepada anak-anaknya yang telah memaksa Merri untuk menikah dan menyebabkan Merri pergi. Nenek Syan berharap setelah ini tak ada lagi aksi paksa memaksa dan biarkan Merri menikah atas keinginannya sendiri.