o0o
Dengan senang hati Nenek Syan mau membuka mulut beliau ketika Merri yang menyuapinya. Padahal nyaris seluruh anggota keluarga turun tangan untuk membujuk wanita tua itu agar mau makan, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Niat mereka untuk menyuapi nenek justru berujung dengan penolakan. Tak satu dua kali nenek menepis sendok yang diulurkan oleh orang-orang yang menyayanginya dan khawatir dengan keadaannya. Ternyata hanya Merri-lah yang bisa menjadi pawang untuk Nenek Syan.
"Jangan pergi ke mana-mana, Nona! Kalau tidak nanti Nenek bisa ikut kabur seperti kemarin siang," cetus seorang maid yang bekerja di keluarga Merri sudah hampir tiga puluh tahunan berjalan. Namanya Pati atau kerap disapa Bibi Pati.
"Nenek kabur?" tanya Merri dengan mata membelalak. "Ya Tuhan, Nenek! Nenek sudah tua, berjalan ke depan rumah saja suka lupa di mana kamar Nenek," cibir Merri sambil geleng-geleng kepala.
"Heh, Nenek mengkhawatirkanmu dan kau malah menghina Nenek!" sungut Nenek Syan.
"Nenek, aku juga mengkhawatirkan Nenek. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Nenek di luaran sana?"
"Ya kalau kau kabur maka nenek pun juga akan kabur untuk mencarimu, Merri. Apa kau tahu orang-orang di sini semuanya bodoh! Tak ada satu pun yang bisa Nenek andalkan," cerocos Nenek Syan menghina dina anak, menantu dan cucu-cucunya yang lain karena tak bisa menemukan Merri dengan cepat. "Mereka hanya sibuk berdebat dan membuat kepala Nenek menjadi pusing tidak karuan."
"Apa kau dengar, Anna? Anak bungsumu itu membuat kita dicemooh bodoh oleh Nenek Syan. Dia benar-benar seperti ratu untuk ibu kandungku sendiri," ringis Edrick yang diam-diam memperhatikan percakapan anak kandung dan ibu kandungnya dari balik pintu kamar Nenek Syan.
"Iya, Sayang. Aku dengar. Sudah jangan dimasukkan di hati! Ayo kita beristirahat! Ini sudah malam," sahut Anna yang memilih untuk tak mengambil pusing dengan apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya. Beliau mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
"Nenek, jangan bilang seperti itu tentang mama, papa dan juga abang-abangku! Mereka sudah menemukan aku itu artinya mereka pintar karena berhasil nemuin aku kan?"
"Butuh waktu dua hari untuk menemukanmu, itu artinya mereka memang bodoh! Kalau tak ada Nenek mungkin sampai sekarang kau belum ditemukan. Neneklah yang pintar, bukan mereka!" tandas Nenek Syan yang memberi penekanan pada kata bodoh yang beliau ucapkan. Beliau pun memuji-muji dirinya sendiri dengan bangganya.
"Nenek Syan diam-diam kabur dari rumah, tanpa dia sadar diri kalau dia sudah tua dan pikun," cemooh Bibi Pati yang kini sedang sibuk membersihkan kamar nenek. Bibi Pati usianya hampir sama dengan nenek dan dialah maid paling loyal sepanjang yang keluarga ini miliki. Jadi tak heran jika Bibi Pati bisa seenaknya bicara dengan Nenek Syan karena mereka sudah seperti kawan sejak sama-sama masih muda.
"Diam kau, Pati! Kenapa kau tidak pensiun saja? Kau pun sudah tua dan pelupa sepertiku sampai-sampai malam-malam begini kau baru ingat untuk membersihkan kamarku," omel Nenek Syan, bicara sambil menggerak-gerakkan tangannya. Untuk penduduk rumah ini sudah terbiasa mendengar dua wanita tua tersebut saling mengolok-ngolok dan berdebat seperti anak kecil.
"Hahahaha ... aku bukannya tidak ingat untuk membersihkan kamarmu, Syan. Tapi aku sengaja membersihkannya malam-malam, menunggumu tidur biar kau tak cerewet sekali mengomeliku, hahahaha .... Tapi sepertinya kau akan tidur larut malam. Ini karena kau ingin berkangen-kangenan ria dengan cucu kesayanganmu 'kan? Jadi ya sudah aku bersihkan saja sekarang karena aku sudah mengantuk dan ingin tidur," ucap Bi Pati disisipi dengan suara tawanya yang khas.
"Dasar kau ini nenek lampir!" umpat Nenek Syan. Tak ada yang sakit hati ketika mereka saling mencemooh satu sama lainnya karena mereka tahu itu hanya sebuah candaan yang tidak perlu untuk dianggap serius.
"Nenek, tapi aku nggak suka kalau Nenek kabur dari rumah. Nenek bisa membuat semua orang khawatir termasuk aku, Nek," geram Merri yang masih setia menyuapi neneknya dengan telaten. Tanpa terasa nasi dan sayuran yang ada di atas piring tinggal separuh saja isinya.
"Masa bodoh! Yang aku pikirkan hanyalah dirimu cucuku yang paling cantik sedunia," sahut Nenek Syan dengan suara yang tidak terlalu jelas karena sambil mengunyah. Beliau lantas mengelus pipi mulus Merri dengan tatapan yang memancarkan berjuta-juta kasih sayang untuk cucunya tersebut.
"Apa kau tahu, Merri? Ini adalah hal gila yang pertama kalinya Nenek lakukan," desis Nenek Syan seraya memelankan volume suaranya.
"Sudah dari dulu kau gila sepertiku, Syan. Hahahaha .... " canda Bi Pati yang kini sedang mengelap cermin rias yang ada di dekat ranjang Nenek Syan.
"Tutup mulutmu, Pati! Kau gila karena cintamu selalu ditolak lelaki jangan samakan denganku yang menjadi primadona, hahahaha .... " kelakar Nenek Syan.
"Nenek! Jangan bicara seperti itu dengan Bibi!" tegur Merri ketika bercandaan Nenek Syan dirasa sudah keterlaluan.
"Biarkan saja, Nona! Dia memang suka sekali meledekku," sambut Bi Pati tak sedikit pun marah dengan candaan Syan kepadanya.
"Nenek pergi ke mana memangnya?" tanya Merri yang ingin tahu apa saja yang Nenek Syan lakukan selama dalam pelarian untuk mencari dirinya.
"Nenek meminta Saiful untuk mengantarkan Nenek ke mall, ke pasar, ke sepanjang jalan yang ingin Nenek lewati," ucap Nenek Syan. "Tapi yang paling menegangkan adalah saat di mall. Karena aku pergi seorang diri. Ipul aku paksa untuk menunggu di mobil saja, karena aku pikir kau sedang asyik belanja di sana, hahaha ... " imbuhnya lalu tertawa tanpa beban. Iya, beban nenek memang sudah menghilang dengan kehadiran Merri kembali ke rumah.
"Ya Tuhan, Nenek! Mana mungkin aku melarikan diri ke mall?" decit Merri seraya geleng-geleng kepala.
"Mungkin saja, Sayang. Lalu .... Nenek masuk ke dalam mall sendirian, Nenek tidak mau Saiful membuntutti Nenek, karena Nenek risih rasanya. Dia mengoceh seperti ibu-ibu komplek sedang arisan. Nenek memberinya uang dua ratus ribu agar dia tak cerewet dan memaksa untuk mengikuti nenek," jelas Nenek Syan bersemangat sekali menceritakan pengalaman beliau keluar rumah sendirian untuk mencari Merri. Karena sibuk bercerita dan Merri sibuk mendengarkan cerita Nenek, maka aktifitas menyuapi dan disuapi pun dengan sendirinya berhenti. Lumayanlah Nenek Syan sudah makan cukup banyak dan tinggal meminum obatnya saja.
Merri geleng-geleng kepala lalu meletakkan piring yang sejak tadi dia bawa ke tempatnya semula.
"Nenek, itu namanya main suap," desis Merri. "Dan itu tidak boleh!"
"Biarkan saja!" sahut Nenek tak ingin dengar larangan apapun yang ke luar dari mulut cucunya tersebut.
"Kau masih mau mendengar cerita Nenek tidak?" tanya Nenek Syan sambil membelalakkan bola matanya galak.
"Iya-iya ... aku mau banget dengerin cerita Nenek," jawab Merri.
"Saat cucu perempuannya datang, si wanita tua yang sakit-sakitan dan menangis sepanjang hari kini sehat kembali," sindir Bibi Pati ketika melihat sahabatnya, Syan yang bicara dengan berapi-api seperti orang sehat yang tak merasakan sakit apapun-seperti yang beliau keluhkan sebelum Merri kembali pulang ke rumah.