Kejadian sehari yang lalu. Ketika itu Nenek Syan merasa bahwa kinerja anak dan cucunya untuk mencari Merri amatlah payah.
"Kalian tak bisa diandalkan! Hanya mencari Merri saja sudah sehari tidak ketemu-ketemu juga. Gunakan uang kalian untuk mencarinya!" amuk Nenek Syan kala itu di hadapan Erick, Marshel, Median dan juga istri-istri mereka.
Sudah satu hari terlewati, tapi Merri tak kunjung mereka temukan. Inilah buruknya ketika orang tua atau keluarga tak begitu kenal dekat dengan teman-teman anaknya, maka ketika anak mereka hilang mereka tak memiliki akses yang luas untuk mencari. Hanya Agnes satu-satunya harapan mereka, tapi mereka langsung percaya saja ketika sahabat anaknya tersebut membohongi mereka dengan berkata bahwa Merri tak ada di sana.
Oke, karena Nenek Syan merasa sangat khawatir dengan keadaan Merri. Maka beliau memutuskan untuk turun tangan sendiri mencari cucunya. Di saat keadaan rumah sepi karena semua orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Nenek Syan keluar dari rumah tanpa berpamitan kepada siapa pun termasuk kepada Bibi Pati si sahabat yang selalu beliau ajak untuk berdiskusi dan sebagainya.
"Ipul, antar aku ke mall sekarang juga!" perintah Nenek yang sudah mengenakan pakaian rapi dengan tas jinjing di tangan kanan beliau serta tongkat kayu di tangan kiri. Ipul alias Saiful adalah sopir yang ditugaskan untuk mengawal nenek ke mana pun nenek pergi, tapi lelaki berumur tiga puluh lima tahun tersebut diwajibkan untuk lapor kepada Edrick setiap kali nenek ingin pergi.
"Siap, Nenek! Tapi saya telpon Tuan Edrick dulu, ya," sahut Saiful memasang sikap tegap kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celana belakangnya. Lelaki itu bersiap untuk menghubungi Tuan Besar untuk memberikan laporan.
"Tidak perlu! Aku minta kali ini kau tutup mulut!" perintah Nenek Syan seraya menyerobot paksa gaway yang ada di tangan Saiful.
"Tapi, Nek ...."
"Tapi tapi apa? Hah?"
"Nanti saya bisa diamuk sama Tuan Besar, Nek," decit Saiful seraya melemaskan kedua bahunya.
"Sudah kubilang jangan mengadu kepada Edrick! Ini misi rahasia apa kau tahu itu? Turuti perintahku atau aku bisa membuatmu dipecat dari pekerjaanmu!" ancam Nenek Syan membuat Saiful tak memiliki pilihan lain selain menurut.
"Memang Nenek mau ke mana?" tanya Saiful seraya membukakan pintu belakang mobil untuk majikannya.
"Aku tidak mau duduk di belakang. Aku mau duduk di sampingmu, Ipul," tolak Nenek Syan lalu memerintahkan Saiful untuk membukakan pintu mobil yang bagian depan.
Ya Allah, kenapa nenek-nenek ini mendadak genit pingin duduk di sebelahku segala, batin Saiful keheranan.
"Bantu aku, Ipul!" sentak Nenek Syan ketika beliau kesusahan untuk duduk di jok mobil yang tinggi, tapi Ipul hanya bengong memperhatikannya tanpa niat membantu. Wanita tua itu memukulkan tongkat yang ke mana-mana beliau bawa tepat di p****t Saiful.
"I-iya, baik, Nyonya Besar," gagap Saiful yang gegas menolong nenek untuk masuk ke dalam roda empat mewah milik keluarga Winata.
Nenek Syan duduk bersisian dengan Saiful. Lalu wanita itu berkata, "Dengan begini aku bisa lebih mudah memantau jalanan, siapa tahu aku bisa menemukan Merri."
"Jadi Nenek mau mencari Nona Merri?" tanya Saiful seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Iya, memangnya kau pikir aku mau ke mana? Hah?!" jawab Nenek Syan lalu berbalik bertanya kepada Saiful.
"Tapi, bukannya Tuan Edrick dan tuan muda yang lainnya sudah mencari Nona? Jadi lebih baik Nenek tinggal diam di rumah saja, Nek," kata Saiful memberi saran.
"Nenek kan sedang nggak enak badan, jadi sebaiknya Nenek istirahat saja," imbuh Saiful yang tak kunjung menjalankan laju kendaraannya.
"Kenapa kau mengaturku, Ipul? Cepat antar aku ke tempat yang ingin aku tuju! Aku mau mencari Merri sendiri! Kalau kau membantah maka akan aku pastikan kau akan ditendang dari rumah ini!" ancam Nenek Syan membuat Saiful takut bukan kepalang.
Itu-itu saja yang nenek ancamkan, apa nggak ada yang lain? Misalkan saja, kalau kau membantah aku akan memberimu rumah mewah seisinya, gerundel Saiful dalam batin. Mana mungkin orang mengancam dengan hal yang enak-enak? Dasar Saiful!
Mau tak mau Saiful pun harus menuruti apa kata nyonya besarnya tersebut daripada dia kehilangan pekerjaan. Anak dan istrinya masih membutuhkan nafkah darinya. Bisa runyam urusannya kalau dia menjadi pengangguran.
Singkat cerita Nenek Syan meminta Saiful untuk mengantarkannya ke beberapa tempat, yang pertama ke kantor Merri. Kebetulan Saiful tahu di mana alamat Merri bekerja. Spontan kehadiran Nenek Syan membuat geger kawan-kawan kantor Merri.
"Ya Tuhan! Ternyata Merri melarikan diri dari pernikahannya."
"Padahal calon suaminya tampan dan kaya raya." Berbagai celetukkan terlontar dari mulut rekan kerja Merri yang kaget dan juga keheranan dengan tingkah rekannya tersebut.
Karena tak menemukan keberadaan Merri di tempat di mana cucunya tersebut mencari uang, maka Nenek meminta Saiful untuk mengantarkan beliau ke mall.
"Mana ada orang melarikan diri ke Mall, Nek?" desis Saiful yang masih berani bertanya meski Nenek Syan sudah berkali-kali memintanya untuk diam dan menurut saja dengan apa yang beliau perintahkan.
Namun kali ini nenek memasang aksi cuek alias tak peduli meski Saiful terus mengoceh, beliau tetap ingin mencari Merri ke mall. Titik! Hingga setengah jam kemudian mobil yang dikemudikan Saiful sampai di parkiran pusat perbelanjaan yang mereka tuju dengan selamat. Dan baru saja tiba di tempat perdebatan antara majikan dan sopirnya itu kembali terjadi karena Nenek Syan yang kekeh tak ingin ditemani oleh Saiful. Beliau menganggap dirinya masih muda dan masih kuat untuk berjalan tanpa dikawal.
"Aku bukan nenek-nenek jompo yang tidak bisa berbuat apa-apa! Ini uang dua ratus ribu untuk membungkam mulutmu! Diam di sini dan tunggu aku sampai datang!" ucap Nenek Syan dengan galak seraya memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada Saiful. Itu uang tutup mulut namanya alias suap.
Saiful pura-pura membiarkan nenek pergi seorang diri karena dia pun merasa was-was dan takut apabila terjadi apa-apa pada nyonya besarnya tersebut. Kalau nenek sampai kenapa-napa itu artinya dia pulalah yang mendapatkan masalah. Untuk itu Saiful memutuskan untuk mengendap-ngendap membuntuti nenek dari kejauhan hanya sekedar untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Saiful memberi jarak sekitar sepuluh meteran di belakang Nenek Syan.
"Ada-ada saja ini nenek tua berjalan tertatih-tatih membawa tongkat untuk mencari cucunya yang kabur dari rumah. Mana ada orang kabur perginya ke mall sih, Nek? Ada-ada saja memang!" gumam Saiful.
Nenek Syan berjalan perlahan-lahan sembari celingukkan kanan kiri memperhatikan sekitar. Tak lupa ia membawa foto Merri yang sudah dicetak dalam bentuk lembaran. Foto cucunya yang begitu cantik dengan senyumnya yang merekah mempesona beliau pamerkan ke semua orang yang melintasi Nenek Syan.
"Apa kau melihat cucu nenek, Nak?" Begitulah pertanyaan yang Nenek Syan lontarkan ketika beliau menunjukkan foto Merri kepada orang yang lewat.
Dan semua orang pun menggelengkan kepalanya yang pertanda bahwa mereka asing dengan penampakan wajah Merri.
"Aku tidak boleh menyerah, aku harus terus berjuang untuk menemukan cucuku," tekad Nenek Syan.