Hingga akhirnya beliau berpapasan dengan seorang lelaki berbadan tegap dengan jas hitam yang menambah kesan gagah pada tubuh atletis pria tersebut. Saat itu Nenek Syan merasa kepalanya berputar-putar dan ingin rasanya jatuh pingsan. Cara berjalan nenek sudah sempoyongan hingga tongkat yang beliau pegang pun terlepas dari genggaman tangannya, pun dengan foto Merri yang terbang tanpa nenek sadari. Nenek Syan menabrak tubuh si pria yang dengan gegas menangkap Nenek Syan dan menyelamatkan nenek agar tubuhnya tak terjatuh membentur lantai.
"Ya Tuhan, kepalaku pusing sekali," keluh Nenek Syan. Tangan renta beliau yang gemetaran berpegangan di lengan kekar si pria penyelamat dengan erat.
"Nenek, kenapa? Nenek sendirian di sini?' tanya pria tersebut nampak mengkhawatirkan keadaan nenek yang ditolongnya. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling sembari memapah nenek untuk duduk di sebuah kursi panjang yang memang disediakan untuk pengunjung mall beristirahat. Barang kali ada saudara nenek di sekitar sini.
"Nak, aku kemari bersama seorang sopir yang aku minta untuk menungguku di parkiran mobil," jawab Nenek Syan.
"Terima kasih sudah membantuku, Pemuda Tampan," ucap Nenek Syan lalu memuji pria yang menolongnya.
"Sama-sama, Nek," sahut pria tersebut.
"Nenek kenapa nekat sendirian pergi ke tempat ini tanpa keluarga? Nenek sudah rentan untuk pergi seorang diri, Nek," tutur si pria yang belum diketahui identitasnya tersebut. "Harusnya biarkan sopir Nenek mendampingi Nenek."
"Jangan ragukan kemampuanku, Pemuda Tampan! Aku masih kuat dan sehat," tegas Nenek Syan, ngeyel.
"Kuat apanya, Nek? Kalau saya nggak datang, Nenek sudah ambruk di atas lantai. Katakan! Apa nenek butuh bantuan medis? Ayo saya antar Nenek ke dokter!" Pemuda itu sangatlah baik dan memiliki empati yang tinggi. Karena meski pun ia tak mengenal nenek, tapi ia tak berniat meninggalkan nenek malah justru ingin sekali membawa nenek untuk mendapatkan perawatan.
"Jangan-jangan! Nenek tidak butuh dokter. Nenek butuh bertemu dengan cucu Nenek yang kabur dari rumah. Ini dia cucu Nenek ... kau harus melihat betapa cantiknya cucu Nenek!" ucap Nenek Syan sembari celingak-celinguk ke kanan, kiri, bawah mencari di mana foto Merri yang sejak tadi beliau pegang berada.
"Di mana foto Merri? Ya Tuhan .... " Nenek Syan kebingungan.
"Foto? Foto siapa?" tanya si pria ikutan bingung dan mengedarkan pandangan matanya mengikuti apa yang Nenek Syan lakukan.
"Nenek, ayo kita pulang!" seru seorang lelaki yaitu Saiful yang berlari mendekat kepada Nenek Syan. Lelaki itu sempat kehilangan jejak nenek karena meleng ketika melihat cewek sexy lewat, sehingga membuatnya ketakutan saat menyadari bahwa majikannya sudah tak terpantau lagi di pandangan matanya. Untung saja setelah hampir lima belasan mencari, ia bisa bisa menemukan Nenek Syan.
Nenek menajamkan penglihatannya, begitu pun dengan si pria asing yang kini juga menatap ke arah Saiful. Betapa emosinya Nenek Syan ketika mendapati sopirnya berada di depan matanya, pasalnya beliau sudah mewanti-wanti lelaki itu agar tak mengikutinya.
"Heh, Saiful! Kenapa kau ada di sini? Aku sudah bilang tunggu aku di mobil!" sembur Nenek Syan dengan suara yang kencang membuat pengunjung yang melintas menoleh ke arah Saiful dan juga nenek. Sakit kepalanya seketika menghilang ketika beliau sedang marah-marah seperti ini.
Tanpa dijelaskan, si pria asing ini tahu siapa itu Saiful-jelas sopir yang tadi Nenek Syan ceritakan kepadanya.
"S-saya ... saya mengkhawatirkan Nenek, maka dari itu saya membuntutti Nenek. Dan terbukti pasti sedang terjadi apa-apa dengan nenek kan sekarang?" tebak Saiful dan tebakannya ini sangatlah benar.
"Aku sehat, aku kuat, tidak terjadi apa-apa denganku! Jangan sok tahu kau itu!" sentak Nenek Syan meski sudah ketahuan mau pingsan tetap saja beliau tak terima kalau dibilang sakit-sakitan.
"Nak ... aku harus mencari foto cucuku yang cantik jelita. Di mana foto Merri? Ya Tuhan!" Nenek Syan kembali teringat dengan barangnya yang hilang dan mengabaikan kehadiran Saiful yang membuat beliau tidak nyaman.
"Sepertinya foto itu terjatuh saat Nenek nyaris pingsan tadi ... itu ada di dekat tongkat Nenek barangkali!" ucap si pria seraya menunjuk tongkat Nenek Syan yang masih tergeletak di tengah jalan dan tidak ada yang menyingkirkan. Orang yang melintas hanya melihat saja tanpa berniat untuk meminggirkannya.
"Ah iya ... kau benar, Pemuda Tampan! Mungkin foto Merri ada di sana," sahut Nenek Syan sembari membenarkan kaca matanya yang tebal.
"Biar saya yang ambilkan." Pria asing itu segera berdiri dan dengan langkahnya yang lebar dia kini sudah berada di dekat tongkat Nenek Syan yang tergeletak. Ia membungkukkan badannya untuk mengambil tongkat nenek tersebut, tapi ... dia mengernyitkan keningnya saat tak mendapati ada foto yang tergeletak di dekat benda panjang yang terbuat dari kayu tersebut.
"Di mana foto cucu Nenek?" gumam pria itu seraya mengedarkan pandangan matanya menelisik sekitar siapa tahu benda tipis itu terbang dan ....
"Nah itu dia!" Netra si lelaki asing berhasil menemukannya. Dengan gesit ia mendekat ke arah benda tipis yang tergeletak-berada di dekat pot bunga yang menjadi hiasan di mall ini. Untuk kedua kalinya ia membungkukkan badannya untuk mengambil foto tersebut.
"Jadi ini cucunya nenek," lirih pria tersebut seraya memperhatikan wajah Merri yang begitu cantik sempurna apabila tertangkap kamera seperti ini.
"Nak, apa kau menemukan foto cucuku?" teriak Nenek Syan sudah tak sabaran.
"Iya, Nek! Saya menemukannya," sahut pria itu dengan teriakan pula.
"Benar ini kan foto cucu Nenek?" Begitu ia telah dekat dengan Nenek Syan, ia segera menunjukkan apa yang ia temukan kepada Nenek. Dan nenek tersenyum pertanda bahwa memang benar kalau inilah foto Merri yang sedang nenek cari-cari keberadaannya.
"Syukurlah! Nenek takut sekali kalau foto Merri hilang. Terima kasih ya, Pemuda Tampan. Em ... siapa namamu, Nak?" tanya Nenek Syan dengan mata berbinar-binar beliau menatap wajah pemuda baik yang telah menolongnya.
"Nama saya Stef, Nek," jawab pria tersebut menyebutkan namanya.
"Oh Nak Stef ... nama yang bagus sebagus wajahmu yang mempesona ini, Nak. Hahahaha .... " puji Nenek Syan lalu tertawa setelah mencubit kecil pipi Stef. Benar-benar kepalanya yang berkunang-kunang kini baik-baik saja sekarang meski tak diberi obat apapun.
"Terima kasih, Nek," ucap Stef seraya mengulas senyum simpul.
Nenek-nenek masih bisa lihat yang bening-bening juga?! Ckckcckck! decit Saiful dalam batin sambil geleng-geleng kepala.
"Aku harus mencari cucuku lagi, Nak Stef. Aku sangat merindukannya," tutur Nenek Syan memamerkan wajah sedih beliau kepada Stef.
"Mm ... maaf! Tapi nenek mau mencari ke mana? Saya rasa tidak mungkin cucu nenek ada di sini. Mungkin saja dia sedang bersembunyi di rumah sahabatnya atau teman dekatnya, Nek," tutur Stef mengutarakan pendapatnya.
"Saya sudah berkali-kali bilang seperti itu, Tuan. Tapi Nenek Syan tidak percaya," sambung Saiful yang setuju dengan apa yang Stef katakan.
"Tutup mulutmu, Ipul! Menyambar saja kau seperti petasan!" sembur Nenek Syan emosi jiwa.
"Ah kepalaku pusing mendengar ocehannya, Nak. Ipul ini sungguh berisik sekali," adu Nenek Syan kepada Stef.
"Kepalaku pusing sekali," ulang Saiful menirukan ucapan Nenek Syan dengan suara yang pelan.
"Begini saja ... Mm ... kalau Nenek tidak keberatan aku bisa membantu nenek untuk mencarinya," kata Stef menawarkan bantuan.
Nenek Syan merekahkan senyumnya. "Apa aku tidak salah mendengar? Kau mau membantu Nenek, Stef?"
"Iya, Nek. Saya akan membantu Nenek kalau Nenek bersedia. Kebetulan saya sedang tidak banyak perkerjaan hari ini," jawab Stef. Dengan senang hati dia akan membantu Nenek Syan karena dia merasa kasihan.
"Baiklah! Aku menerima bantuanmu, Pemuda Tampan," cetus Nenek Syan memberikan keputusan dengan cepat.
"Nek, jangan sembarangan menerima bantuan dari orang asing!" tegur Saiful.
"Diam!" berang Nenek Syan sambil memelototti Saiful dengan empat matanya. Beliau selalu bernada tinggi ketika bicara dengan Saiful, tapi ketika Stef yang bicara suaranya sangat halus dan lembut seperti mendongengkan anak balita.
"Tenang saja, Tuan! Saya bukan orang jahat. Ini kartu nama saya," sambung Stef seraya menyodorkan kertas kecil yang bertuliskan namanya, alamat, nomor telepon dan juga perusahaan di mana dia bekerja.
"Wow ... anda orang kaya raya, Tuan. Maafkan saya sudah menuduh yang tidak-tidak." Saiful mengatupkan kedua tangannya meminta maaf setelah ia membaca semua tulisan yang ada di dalam kartu nama tersebut.
"Saya orang biasa, Tuan. Ayah saya yang kaya, hahahaha .... " canda Stef yang tetap bicara sopan meski ia tahu kalau Saiful hanyalah seorang sopir dan tak sebanding kedudukannya dengan dirinya.
"Jangan panggil saya dengan sebutan tuan! Itu tidak pantas untuk saya, Tuan Stef. Panggil saya Ipul saja!" ralat Saiful yang sekarang menjadi tak takut lagi untuk mengijinkan Nenek Syan untuk menerima bantuan dari Stef. Lagi pula setelah dipikir-pikir apa untungnya menculik nenek-nenek tua seperti Syan? Tidak ada gunanya juga untuk Stef yang kaya raya dan dari keluarga terpandang.
"Iya baiklah, Ipul. Kalau diijinkan saya akan membantu Nenek .... " Stef menggantungkan kata-katanya sejenak dan menunjukkan telunjuknya ke arah Nenek yang masih duduk di kursi panjang, sementara ia dan Saiful berdiri berhadap-hadapan.
"Syan ... nama Nenek adalah Syan," tukas Nenek Syan, beliau tahu kalau Stef kebingungan menyebutkan nama beliau hingga kata-katanya harus terjeda.
"Oh iya, Nenek Syan. Saya akan membantu nenek," ucap Stef dengan sangat ramah.