Stef yang baik hati dan juga tampan mengajak Nenek Syan masuk ke dalam mobilnya. Sungguh telaten lelaki itu menuntun Nenek Syan berjalan perlahan-lahan untuk turun dari undakan yang menghubungkan ke basement di mana Stef memarkirkan kendaraannya.
"Nak, kenapa kau tidak keberatan berjalan bersama-sama dengan nenek-nenek peyot macam aku ini?" tanya Nenek Syan sambil berpegangan erat dengan tangan Stef, sedangkan tangan beliau yang satu lagi menggenggam tongkat-senjata andalannya.
"Kenapa saya mesti keberatan, Nenek? Apa yang salah sampai saya harus merasa berat?" tanya balik Stef. Kini mereka sudah mencapai undakan terakhir. Jikalau ia berjalan sendiri, mungkin sudah sejak sepuluh menit yang lalu Stef tiba di kendaraan yang ia tuju. Lantas di mana Saiful? Dia berjalan di belakang Stef dan Nenek Syan. Maksud hati ingin membantu Stef menuntun Nenek, tapi majikannya yang galak itu melarangnya dengan keras.
"Badanku gatal kalau kau pegang, Ipul!" cemooh Nenek Syan sembari menunjuk Ipul dengan ujung dagunya.
Kurang lebih berjalan lima meter lagi, Stef dan Nenek Syan akan sampai di mana mobil Stef bermerk Ran93 Rov3r terparkir sejak dua jam yang lalu. Masih dengan sabar dan juga lemah lembut Stef menuntun jalan nenek-nenek tua yang tak dikenalnya dengan baik tersebut. Bahkan, ia juga memasang badan di sebelah kanan Nenek Syan di mana dari arah tersebut banyak kendaraan yang datang dan akan berbahaya bagi nenek.
Dia benar-benar lelaki yang baik dan juga berhati lembut. Stef cocok dengan Merri. Ya Tuhan, berikanlah cucuku jodoh seperti lelaki muda ini, doa Nenek Syan dalam batin seraya menatap wajah Stef dari arah samping.
"Ayo, Nenek! Kita jalan perlahan-lahan, ya!" ajak Stef ketika keadaan sudah sepi dan tidak ada lagi mobil yang melintas.
"Terima kasih, Anak Baik," sahut Nenek Syan. Entah sudah berapa kali nenek memuji Stef, hingga lelaki itu menjadi besar kepala dan tersenyum kegeeran.
"Nenek, saya bantu, ya!" seru Saiful yang tetiba berlari mendekat kepada Nenek Syan dan Stef. Ia memegang tangan kiri nenek tanpa permisi membuat Nenek Syan menjadi kesal bukan main akibatnya.
"Sudah kubilang jangan sentuh aku!" sentak Nenek Syan seraya mengibaskan tangan beliau.
"Hahaha ... Tuan Ipul ... Mm ... maaf! Maksudku Ipul, sebaiknya kamu membuntutti kami dari belakang saja, Ya! Aku takut nanti nenek menghajarmu lebih parah dari sekarang, hahaha .... " tutur Stef merasa kasihan dengan Saiful yang sejak tadi hanya menjadi sasaran amukan Nenek Syan.
"Saya kan hanya mau bekerja dengan sebaik mungkin, Tuan Stef. Nanti disangkanya saya makan gaji buta sama Tuan Edrick," cetus Saiful seraya mencebikkan bibirnya.
"Edrick itu urusanku! Aku yang nanti akan menghajarnya asal kau menurut denganku," sembur Nenek Syan. Gegara Saiful perjalanan yang tinggal sedikit lagi menjadi terganggu.
"Ipul, ada baiknya kamu ambil mobil lalu buntutti kami dari belakang, Ya! Oke? Come on! Nenek Syan baik-baik bersamaku. Kamu masih simpan kartu namaku kan?" terang Stef, mengarahkan Saiful tentang apa yang harus dia lakukan saat ini.
"I-iya, baiklah, Tuan," sahut Saiful sembari membungkukkan sedikit badannya dengan kedua tangan yang ia letakkan di depan perutnya dengan posisi jari yang saling bertautan, memasang sikap hormat.
"Itu mobilku." Stef menunjuk ke arah mobilnya. "Jadi jangan salah membuntutti mobil orang, ya," kata Stef mewanti-wanti Saiful.
"Eh, iya, Tuan," sahut Saiful.
"Jangan khawatir!" Stef memukul pelan lengan Saiful karena wajah lelaki itu terlihat tegang. Jelas sekali kalau masih ada keraguan dari sopir sekaligus ajudan tersebut untuk melepaskan Nenek Syan bersama dengan Stef. "Aku nggak akan macam-macam," imbuhnya lalu mengulas senyum.
"Ayo, Stef! Tidak usah hiraukan dia! Dia memang tak bisa diandalkan!" omel Nenek Syan, tak sabaran ingin segera duduk di mobil mewah Stef yang berwarna hitam kinclong dan terlihat bersinar dari kejauhan.
"Iya, baik, Nek. Ayo!" Stef dan Nenek Syan kembali melanjutkan langkah mereka yang tertahan.
Flashback off.
"Hm ... sebaik itu kah pemuda itu, Nek?" tanya Merri seraya mengernyitkan keningnya. Sejak tadi ia menyimak cerita dari neneknya dan sosok lelaki yang bernama Stef ini digambarkan dengan begitu baik dan ramah oleh neneknya. Belum lagi Nenek Syan yang menyanjung wajah tampan dan tubuh atletisnya.
"Demi Tuhan, Merri. Nenek bersumpah apa yang Nenek katakan ini jujur, Merri. Dia membawa nenek ke sepanjang jalan untuk mencari dirimu. Bahkan dia juga mau turun ke jalan untuk bertanya ke orang-orang yang lewat sambil menunjukkan fotomu. Dan yang terakhir Nenek bilang kepadanya kalau kau memiliki satu sahabat bernama Agnes. Nenek meminta Ipul untuk menunjukkan rumah Agnes kepada Stef, karena menurut Stef kau ada di sana dan Agnes yang berbohong. Ternyata benar, kami melihatmu sedang bermain dengan anaknya Agnes. Ya, meski pun kami hanya melihatmu dari belakang, tapi Nenek yakin itu adalah kamu," cerita Nenek dengan panjang lebar.
"Ya Tuhan, kalau Nenek tahu aku ada di sana kenapa Nenek nggak turun dan nemuin aku sendiri?" tanya Merri dengan nada memrotes.
"Ya karena kata Stef kau tetap tidak akan mau pulang kalau Nenek yang menjemputmu."
"Hm ... iya bener kata dia," tukas Merri dengan cepat.
"Lalu dia memberi Nenek ide untuk berpura-pura sakit, tidak mau makan dan tidak mau minum obat," aku Nenek Syan dengan suara yang sangat pelan, karena takut ada yang menguping pembicaraannya dengan Merri dari luar kamar.
"Waduuh .... "
"Supaya apa? Supaya orang tuamu dan abang-abangmu yang tidak bisa diandalkan itu mau menuruti permintaan Nenek. Nenek bilang kalau mereka masih memaksamu untuk menikah, Nenek akan mati, hahaha .... " Nenek Syan terkekeh dengan kencang. Benar saja, Marshel yang kebetulan melintas di depan kamar nenek pun keheranan kenapa Nenek Syan bisa langsung sesehat itu hanya dengan kedatangan Merri.
"Hahahaha ... Nenek ini ada-ada aja," kelakar Merri ikut tertawa kencang.
"Bukan Nenek yang ada-ada saja, tapi Stef, hahaha .... " ralat Nenek Syan. "Lalu Nenek bilang kepada mereka Merri ada di rumah Agnes. Jemput dia dan bawa pulang. Tadinya mereka tidak percaya dengan apa yang nenek katakan. Jadi, benar kan kalau sebetulnya Nenek dan Stef-lah yang menemukanmu?"
"Ah iya ... Nenek benar sekali," jawab Merri.
"Tapi, nenek ... Papa tetap aja maksa aku buat nikah sama Bang Sat, terus .... " Merri merekahkan bibirnya, dia teringat dengan aksinya yang mau mengancam akan bunuh diri kalau Edrick tetap memaksa dirinya. "... aku ambil pisau dan sok-sokan mau bunuh diri," bisik Merri di telinga Nenek Syan.
"Apa? Kau sudah tidak waras, Merri. Hahahaha .... " cemooh Nenek Syan. Beliau tahu kalau Merri tidak mungkin melakukan tindakan konyol itu.
"Biar aja yang penting apa yang aku inginkan Papa penuhi, Nek."
"Iya, kau memang cucu Nenek yang paling pintar dan menggemaskan. Kau dan Stef cocok sekali ... sama-sama memiliki ide brilian untuk membuat orang menjadi menurut dengan kita," ujar Nenek Syan seraya mencubit kedua pipi Merri dengan gemas.
"Nenek rasa dia pantas untuk menjadi suami," cetus Nenek Syan membuat bola mata Merri terbelalak lebar.
"Nenek!" geram Merri seraya berkacak pinggang.
"Tidak, Sayang! Nenek hanya bercanda ... hahaha ... menikahlah dengan lelaki yang ingin kau nikahi, Nak."
"Ah Nenek ... aku sayang Nenek .... " Merri memeluk Nenek Syan dengan erat. Bermanja-manja seperti ini dengan nenek adalah hal yang menyenangkan baginya. Sudah hampir kepala tiga, tapi di saat bersama dengan nenek, Merri seperti anak balita yang merindukan kasih sayang.