Azzura Raharja

1038 Kata
o0o "Oke! Pemotretan hari ini selesai. Saatnya kita pulang dan beristirahat," seru seorang photographer muda berbakat bernama Alejandro. "Hah! Akhirnya! Aku udah lelah banget dan pingin istirahat. Badanku lengket dan gerah," gersah si model cantik bernama Azzura Raharja yang sejak tadi menjadi fokus bidikan kamera Alejandro mengarah. Wanita berumur dua puluh dua tahun tersebut membuka slayer bermotif polkadot berwarna hitam putih yang membelit lehernya lalu ia lempar di atas sofa asal-asalan yang kemudian dibereskan oleh pihak wardrobe yang bertugas mengurusi pakaian. "Tap ... tap ... tap ... tap ... !" Suara sepatu Zura tegas berbenturan dengan lantai keramik studio. Kemudian ia disambut oleh Melki si asisten yang setia menungguinya di berbagai kegiatannya. "Ini minumnya, Sayang!" Melki memberikan segelas jus jeruk segar kepada Azzura yang segera menenggaknya langsung tanpa sedotan. "Apa Marco udah datang buat jemput aku, Melki?" tanya Azzura setelah menghabiskan jus jeruk tersebut tanpa sisa. Rasanya benar-benar membelai tenggorokkannya yang terasa kering. "Mm ... Marco membatalkan janjinya untuk menjemputmu, Zura," jawab Melki sembari menyodorkan handphone bos-nya yang bermerk apel tergigit tersebut. Ia ingin menunjukkan kepada Azzura isi pesan yang Marco kirimkan kepada wanita itu. "Hm ... udah aku duga. Dia sibuk dengan urusan bisnisnya. Dasar lelaki gila kerja!" omel Azzura benar-benar kesal dengan Marco yang kerap membatalkan janjinya untuk bertemu. "Karena dia pewaris kekayaan Benjamin Stefen May, maka dia memang harus seperti itu, Zura. Kamu harusnya mengerti akan hal itu," sahut Melki merespon kemarahan Azzura. "Hm ... pewaris kekayaan?! Macam kamu yakin aja kalau warisan kakek tua itu bakalan jatuh lebih banyak ke tangan Marco bukan ke tangan Nico, adiknya," sanggah Azzura yang kini duduk di atas sofa sambil melepaskan sepatu heels berukuran sepuluh centi yang mengalasi kakinya. "Semua ada di tanganmu, Zura. Kalau kamu mau menerima ajakan Marco untuk menikah maka dia akan mendapatkan jatah yang lebih banyak dari adeknya," tutur Melki. Ia mengulurkan tangannya menerima sepasang sepatu heels yang Azzura sodorkan padanya. Wanita yang memiliki tinggi badan seratus tujuh puluh lima centi itu mengganti alas kakinya dengan sandal teplek yang selalu ia bawa. "Menikah ... Ck! Kamu pikir semudah itu memutuskan menikah di puncak karirku yang sedang bagus-bagusnya ini, Melki?" desis Azzura sambil mencebikkan bibirnya. "Kalau kamu menikah dengan seorang pewaris May Corporation , kamu nggak perlu kerja keras seperti ini, Zura. Kamu hanya tinggal duduk diam dan menerima transferan uang," tandas Melki berkacak pinggang. "Kalian sepertinya sedang bicara serius?" sambung Alejandro yang datang bergabung bersama dua wanita cantik yang masih stay di studio miliknya. Lelaki keturunan Inggris tersebut duduk di dekat Azzura dengan kedua tangan yang memeluk mesra wanita itu tanpa ragu-ragu. Azzura pun hanya diam, tak menolak atau menegur Alejandro yang tangannya telah berani menyentuh tubuh Azzura yang berbalut minidress berbelahan d**a rendah. "Melki memintaku untuk menerima tawaran Marco untuk menikah, Al," cetus Azzura, menoleh ke arah Alejandro yang malah memajukan bibirnya hendak menangkap bibir merah wanita itu, tapi Azzura buru-buru memundurkan wajahnya sehingga ciuman itu terelakkan. "Kamu mau menikah? Apa kamu sudah bosan hidup bebas, Zura?" tanya Alejandro. Ia melepas pelukannya dari tubuh ramping Azzura. Lantas ia meletakkan satu tangannya di balik punggung wanita itu-merangkul dengan mesra. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Al?" tegur Melki tak terima. Pertanyaan Alejandro bisa membuat Azzur semakin ragu untuk menikah dengan Marco. "Kenapa memangnya?" tanya balik Alejandro. "Zura masih muda, umurnya masih dua puluh dua tahun. Langkahnya untuk jadi model masih sangat panjang dan aku yakin dia pasti akan sukses dalam karirnya," terang Alejandro. "Kalau kamu menjadi istri .... " Ternyata Alejandro belum selesai bicara. "... kamu akan mengandung seorang bayi. Dan kamu kan tahu, Zura. Wanita yang sudah pernah hamil dan melahirkan pasti badannya sudah tak secantik ini lagi. Akan banyak flek hitam di-" "Cukup, Al!" tukas Melki dengan cepat membungkam mulut toxic Alejandro. "Jangan bicara seperti itu! Semua wanita bisa jadi cantik kembali setelah melahirkan," sanggah Melki dengan netra tajamnya yang menghunus tepat di bola mata Al yang berwarna cokelat. "Tapi nyatanya kamu masih begitu-begitu saja, Mel. Upss ... sorry, aku bukan bermaksud menyinggungmu," ucap Al lalu menutup mulutnya. Meminta maaf, padahal tujuannya memang ingin mengejek Melki. Wanita berumur dua puluh lima tahun itu menundukkan kepalanya. "Al! Jangan suka meledeknya seperti itu! Mel itu wanita yang hebat. Dia berani melawan dunia dan cemoohan banyak orang demi melahirkan anaknya," tegur Azzura membela assistennya. Azzura menyingkirkan tangan Alejandro yang ada di pundaknya dengan kasar. "Harusnya kamu malu, Al!" decit Azzura. "Kamu seorang lelaki dan kaummu-lah yang membuat wanita malang seperti Mel harus menanggung malu seumur hidup!" sembur Azzura tersinggung dengan perlakuan Al kepada Mel. "Nampaknya kamu pun sejenis dengan lelaki pecundang yang meninggalkan Mel sendirian menghadapi kejamnya dunia!" tuduh Azzura seraya mengepalkan tangannya dan memajukan tubuhnya ke depan untuk menyerang Al. "Sudah, Zura! Sudah!" cegah Melki menarik tubuh Azzura. "Please, don't say anything!" pinta wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengelus-elus d**a Azzura agar lebih tenang. "Melki saja santai kenapa kamu yang naik darah, Zura? Come on!" desis Alejandro sambil menautkan dua alisnya. "Zura, sudah! Jangan ditanggapi lagi! Ganti bajumu dan kita pulang sekarang, oke?!" perintah Melki kepada Azzura yang dengan patuh mengikuti titah si asisten kesayangannya tersebut. Azzura menyeret langkah kakinya menjauh dari Mel dan Al. Meski hatinya masih geram dan kesal karena bodyshaming yang Al lakukan kepada Mel. Ya Tuhan, kenapa Zura bisa bicara seperti itu? Melki bertanya dalam batin sambil menyisir rambut panjangnya dengan sela-sela jari. Mel gugup, jantungnya pun berdebar kencang. Wanita itu menghela napas berat untuk membuat dirinya lebih rileks. Lantas ia pun hendak menyusul Azzura yang sedang berganti pakaian, tapi ... lengan kanan wanita beranak satu itu terasa dicekal erat oleh sebuah tangan besar yang menyeret dirinya dengan paksa. "Lepaskan aku!" Melki meronta, menggerak-gerakkan tangannya sekuat tenaga agar ia bisa lolos. "Brak!" Tubuh Melki membentur sebuah lemari. Lelaki yang mencekal tangan Melki baru melepaskan tubuh Mel ketika mereka sudah berada dalam satu ruangan dan itu pun dengan cara yang kasar. "Apa kamu membocorkan rahasia itu sama Zura?" tanya lelaki itu dengan garang. Mel menggelengkan kepalanya. "No! Aku nggak pernah bilang apa pun tentang kita sama Zura. Aku bersumpah!" Mel menaikkan kedua jarinya membentuk huruf V. "Kamu nggak bohong kan?" "A-aku bersumpah. Rahasia ini hanya kita dan Tuhan saja yang tahu," gagap Melki lalu menundukkan kepalanya, takut. Sebuah tekanan yang berat membuat wanita itu tak berdaya untuk lepas dari sebuah penindasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN