Ada Yang Disembunyikan

2148 Kata
o0o "Aku merasa ada yang Merri sembunyikan dari kita," gumam Marshel yang kini sudah bersiap untuk tidur karena hari sudah merangkak larut. Setidaknya lelaki itu sudah bisa bernapas lega sekarang karena adiknya sudah diketemukan. Tak akan ada lagi suara teriakan wanita tua di kamar sebelah yang terus meronta untuk dipertemukan dengan cucunya. "Apa yang Merri sembunyikan?" tanya balik Lusiana kepada suaminya yang telah membungkus separuh tubuhnya dengan bed cover yang tebal. Wanita itu baru saja kembali selepas menemani kedua anaknya tidur di kamar mereka. Inilah rutinitasnya setiap hari menjadi ibu rumah tangga yang kerap kali membuatnya menjadi bosan. "Apalagi kalau bukan karena alasannya menolak untuk kita nikahkan?!" jawab Marshel dengan format pertanyaan. "Bukannya adikmu sudah bilang kalau dia belum siap menikah, Sayang? Apa yang kamu curigakan darinya?" selidik Lusiana. Ia menyahuti perkataan suaminya sembari memasukkan pakaian kotor Marshel yang berserak di kamar ke dalam keranjang pakaian kotor. "Iya, tapi aku rasa alasan itu bukanlah alasan yang kuat untuk menolak, Lus," debat Marshel. "Sayang ... menikah itu kan memang membutuhkan kemantaban mental dan juga ekonomi. Kalau Mer memang belum siap itu sudah menjadi alasan yang kuat dan masuk akal," tutur Lusiana membela adik iparnya. "Tapi kamu tahu sendiri kan Mer selama ini nggak pernah kelihatan bawa lelaki ke rumah. Dia hanya sibuk kerja, lalu pulang ke rumah, tidur, mengurung diri. Hanya itu-itu saja yang dia lakukan. Kalau pun dia pergi itu pun hanya bersama Agnes dan suaminya Agnes. Apa jangan-jangan .... " Marshel menggantungkan kata-katanya seraya mengernyitkan keningnya. Lusiana paham bahwa suaminya sekarang sedang mencurigai sesuatu yang akan ia tuduhkan kepada Merri. Lusiana menghentikan aktivitasnya memakai cream malam pada wajahnya yang sudah dibersihkan menggunakan micellar water dan facial foam sebelumnya. Wanita yang kini duduk di depan cermin rias itu pun membalik posisinya membelakangi kaca dan menghadap ke suaminya. "Jangan-jangan apa?" tanya Lusiana menatap Marshel dengan kedua alis tebalnya yang nyaris bertautan. "Adikku itu masih doyan lelaki kan?" celetuk Marshel membuat helaan napas berat keluar dari mulut Lusiana. Wanita itu melemaskan kedua pundaknya. "Sayang ... aku memang sering berdebat dengan Mer dan cenderung nggak pernah akur sama dia, tapi ... aku nggak pernah berpikiran seekstrim itu tentang dia seperti apa yang kamu pikirin," cerocor Lusiana sambil geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja suamiku ini," gerutu Lusiana yang kembali menghadap ke cermin dan melanjutkan aktifitas feminisnya yang sempat terjeda karena ocehan suaminya. "Tapi ini masuk akal, Sayang," kekeh Marshel. Menurutnya pendapatnya ini mungkin saja terjadi pada setiap manusia. "No! Mer masih normal. Bicaralah yang baik-baik tentang adikmu!" sungut Lusiana. "Aku rasa aku harus mencari tahu tentang ini, Lus. Kamu mau kan membantuku mencari tahu apa alasan Merri sebenarnya?" "Sayang, sudahlah! Tidur! Dan pikirkan masalah ini besok lagi. Lagi pula Mer sudah berjanji kalau enam bulan lagi dia akan menikah dengan lelaki pilihannya." "Iya kalau menikah, kalau enggak-" "Heiiii! Kamu ini selalu saja pikiran negatifnya duluan yang kamu ke depankan," decit Lusiana tak suka. "Aku khawatir dengan adikku, dia itu tanggung jawabku juga. Dan ... s**t! Karena dia juga hubungan keluarga kita dengan keluarga Satria menjadi merenggang," geram Marshel. Sudah sejak lama ia dan Satria bersahabat. Begitu pun dengan orang tua mereka yang kerap terlibat dalam satu pekerjaan. Ia berpikir kalau kedua keluarga ini disatukan akan semakin menambah kekuatan mereka tak hanya dalam urusan kekerabatan, tapi juga dalam hal bisnis. Namun, ternyata kata 'Iya' yang ke luar dari mulut Merri tak berarti bahwa dia akan konsekuen untuk mewujudkan apa yang ia sudah sepakati. "Harusnya kita memberi waktu Merri dan Satria untuk penjajakan terlebih dulu. Kita telalu grasah-grusuh dalam membuat keputusan," pungkas Lusiana yang mencoba untuk bicara sesuai apa yang dia pikirkan dan related dengan fakta lapangan. "Lagi pula ... Mer sudah dewasa, Sayang. Dia bukan anak kecil yang akan selalu menurut untuk mengikuti perintah dari abangnya. Relaks! Dan lupakan tentang masalah ini hingga enam bulan ke depan," nasehat Lusiana. Dia takut kalau Marshel terlalu tegang memikirkan tentang masalah ini, nanti suaminya itu akan terjatuh sakit. o0o Sebuah tangan yang berjari lentik menyentuh handle pintu yang berbentuk lingkaran. Setelah ke lima jari itu menggenggam benda tersebut dengan sempurna, maka dengan gerakan memutar papan yang terbuat dari kayu jati itu pun di dorong-hingga terbuka lebar. "Hufft! Akhirnya aku bisa kembali ke kamar ini," desah Merri si pemilik ruangan yang sudah empat hari ini meninggalkan tempat ternyamannya tersebut. Rasanya lega, setelah dia pikir dia akan lebih lama lagi tinggal di rumah Agnes di dalam persembunyiannya dari keluarga. Merri menjejakkan kakinya dengan mantab dengan tas koper yang ia tarik menggunakan satu tangan. Memang hanya kamar inilah tempat yang bisa dia andalkan untuk berbagi suka dan duganya. Kamar ini terlihat rapi dan wangi meski sudah berhari-hari tak ditinggali. Siapa lagi kalau bukan Bi Pati yang bertugas untuk membersihkan seluruh kamar yang ada di ruangan ini? Merri menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur hingga sprei dan bed cover yang sudah tertata rapi menjadi berantakan karenanya. Tubuh wanita itu memantul beberapa kali. Dengan pandangan mata yang lurus ke atas, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih dengan lampu yang menyala terang di tengahnya. Sekonyong-konyong terlintas wajah tampan Verrel di pelupuk mata Merri. Wajah tampan nan rupawan yang sejak tujuh tahun ini tak pernah ia lupakan meskipun mereka tak pernah lagi bersua. Ibarat sebuah tatto permanent yang tak akan hilang bila tak diupayakan dengan rasa sakit dan biaya yang mahal, seperti itu pulalah wajah dan cinta Verrel untuk Merri. Akan selalu abadi, mungkin hingga Merri mati. "Kamu ke mana, Sayang? Aku kangen banget sama kamu .... " lirih Merri dengan air mata yang berjatuhan. Akan mudah sekali baginya untuk menangis tatkala dirinya teringat dengan kenangannya bersama Verrel. Banyak sekali suka duka yang mereka rangkai bersama meski hubungan mereka terjalin tanpa sepengetahuan orang tua. "Aku harus mulai mencarimu dengan lebih keras lagi mulai sekarang, Sayang. Waktuku hanya enam bulan untuk nemuin kamu," tutur Merri seraya menyeka lelehan air matanya. Wanita itu beranjak dari pembaringannya dan berjalan menuju ke meja di mana ia meletakkan laptop dan juga alat-alat tulis lainnya. "Sayang ... Demi Tuhan. Aku merindukanmu. Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa?" Merri meraung-raung dengan lelehan air mata yang menyayat hatinya. Wanita itu mengambil sebuah foto usang yang selalu ia simpan di dalam laci mejanya. Potret lelaki berusia dua puluh satu tahun tersebut ia selipkan dalam sebuah buku diary yang setiap hari menjadi tempatnya berkeluh kesah. "Apa kamu tahu, Verrel? Kepergianmu membawa seluruh hatiku, jiwaku, perasaanku. Nggak hanya kehormatanku aja, Sayang .... " rintih Merri seraya mengelus dadanya yang serasa sesak akibat tangisnya yang serasa menghimpit pernapasan. "Apa kamu tahu? A-aku ... aku hanya ingin kamu .... " tutur Merri. Bibir perempuan nelangsa itu bergetar, kedua bola matanya nampak sendu dan tentunya basah dibanjiri oleh air duka yang keluar begitu deras tanpa bisa ia tahan-tahan. "M-mungkin ... mungkin semua orang menganggap aku ini wanita aneh," ujar Merri mengutarakan apa yang orang pikirkan tentang dirinya. "Pasti mereka akan mencemoohku ... calon suamimu itu tampan dan kaya raya, Merri. Tapi kenapa kamu nggak mau nikah sama dia? Apa kamu kelainan jiwa? Apa kamu wanita yang nggak normal?" Merri berbicara seolah-olah orang lain yang mengatakan itu kepada dirinya. "Aku akan menjadi wanita yang terlihat paling bodoh sedunia karena dirimu, Verrel. Karena hati dan ingatanku yang belum bisa bergerak maju meninggalkan semua kenangan yang sudah tujuh tahun kita tinggalkan," desah Merri. Semua isi hati ia curahkan di depan foto kekasihnya. "Kalau kamu mau pergi, seenggaknya kamu bisa pamitan kan sama aku? K-kamu bisa ngomong dulu kan sama pacar kamu ini? Aku nggak percaya lho kalau kamu itu bisa setega ini sama aku, Verrel." Merri terus menangis hingga wanita itu membenamkam kepalanya di atas meja. Kedua pundak wanita itu bergerak naik turun seiring dengan isakan yang masih enggan untuk jauh dari darinya. "Aku ini cuma perawan ktp yang nggak bisa melanjutkan hidupku tanpa kamu, Verrel!" pekik Merri lalu mencengkeram rambutnya dengan kencang. o0o Rembulan berpendar begitu indah di atas awan yang menghitam. Kicauan burung malam yang singgah di balkon kamar, terdengar memanjakan telinga lelaki yang kini tengah sibuk mempersiapkan diri-untuk menghadiri jamuan makan malam dengan sang kekasih hati. Marco, menyisir rambutnya setelah ia mengolesi mahkota hitamnya dengan pomade secara merata. Pria yang sejak setengah jam yang lalu mengacai dirinya di depan cermin tersebut, berlenggak-lenggok ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa jas yang ia kenakan telah benar-benar rapi. Tak lupa sebuah dasi Marco gantungkan-menyelip di kerah bajunya, menjuntai ke bawah dengan sempurna. Penampilan seorang Marco Stefan May tak boleh kurang suatu apapun di setiap kesempatan. Harus terlihat matching dari atas hingga ke bawah. Iya, malam ini ia akan menemani Azzura untuk makan malam bersama kawan-kawan modelingnya. Marco sebenarnya sangat suka apabila kekasihnya tersebut melibatkan dirinya dalam berbagai jamuan ataupun kegiatan. Karena dengan begitu ia merasa bahwa kehadirannya dihargai oleh Azzura. Namun, terkadang Marco tak memiliki banyak waktu yang bisa dia habiskan untuk pacarnya tersebut mengingat kesibukkannya sebagai seorang pewaris Benjamin Oliver May yang kaya raya. "Marco, kau mau ke mana, Sayang?" Datanglah Nenek Ameena menghampiri cucunya yang sedang sibuk dengan aktifitasnya di depan kaca. "Hai, Gadisku!" sapa Marco dengan panggilan lucunya untuk Nenek Ameena. "Hahahaha ... kau ini memang anak nakal!" kelakar Nenek Ameena seraya berjalan perlahan-lahan mendekati Marco yang juga menghampiri beliau. Maklum usia nenek sudah mencapai delapan puluh lima tahun sehingga beliau sudah kesulitan berjalan dan harus menggunakan tongkat. "Nenek kenapa belum tidur?" tanya Marco belum menjawab pertanyaan neneknya. "Jawab dulu kau mau ke mana, Anak Nakal?!" Nenek Ameena mengulang pertanyaannya. "Hahahaha ... iya, Gadisku! Aku akan menjawabnya," sahut Marco. Ia menuntun nenek dan menempatkan wanita tua yang paling ia cintai tersebut di depan cermin besar yang sejak tadi ia tatap. Marco memeluk tubuh Nenek Ameena yang sudah renta dari belakang. "Kau wangi sekali seperti kuburan baru, Sayang. Hahaha .... " kelakar Nenek Ameena meledek cucunya. Marco menyemprotkan parfumnya yang mahal dengan cukup banyak. Padahal beberapa semprot saja aromanya sudah menguar begitu kuat. "Karena aku mau menemani Azzura ke makan malam bersama teman-temannya, jadi aku harus wangi, Nenek. Aku nggak mau kalau dia sampai malu karena punya pacar yang badannya bau," terang Marco sekaligus menjelaskan kepada Nenek Ameena ke mana dia akan pergi. "Oh, jadi kau mau pergi dengan wanita sexy itu?" tanya Nenek Ameena dengan nada dingin. "Nenek, namanya Azzura," ralat Marco seraya melepaskan pelukannya. "Marco, apa kau tidak bisa mencari pacar yang lebih baik dari dia? Nenek tidak suka melihatnya. Nenek yakin gaya hidupnya pasti bebas di luaran sana," cemooh Nenek Ameena yang selalu naik darah ketika membahas tentang hubungan Marco dengan kekasihnya. "Nenek ... gadisku yang amat aku cintai. Nenek belum kenal dia aja. Azzura nggak seperti yang Nenek bayangkan," debat Marco membela kekasihnya. "Nenek sudah mengenalnya. Dua tahun waktu yang cukup untuk Nenek mengenalnya. Nenek tetap saja tak suka. Dia tak serius denganmu. Coba saja kau minta dia menjadi istrimu, pasti dia menolak kan?" cecar Nenek Ameena. Marco melemaskan kedua bahunya yang kekar. Sejujurnya apa yang dikatakan Nenek Ameena tak semuanya salah, benar adanya kalau Azzura belum mau memberi keputusan apakah dia bersedia untuk menikah dengan Marco atau tidak. Keragu-raguan masih nampak terjiplak jelas di wajah wanita cantik tersebut. Padahal sudah sejak enam bulan yang lalu Marco mulai membuka obrolan mereka mengenai pernikahan. Akan tetapi, respon Azzura sangatlah mengecewakan. Baiklah! Marco masih ingin bersabar sampai wanitanya itu yakin dengan ketulusan dan niat hati Marco untuk menikahinya. "Karena dia pikir kalau aku menikahinya hanya untuk mendapatkan jabatan yang diwariskan Papi, Nek. Jadi wajar kalau dia masih ragu," jelas Marco, berusaha untuk memakluminya. "Bukan karena itu kenapa dia menolak, tapi karena dia masih belum ingin terikat dengan pernikahan. Usianya masih dua puluh dua, untuk anak jaman sekarang mereka masih ingin bebas ke sana kemari di usianya yang masih muda. Berbeda dengan jaman Nenek dahulu yang semua wanita rata-rata sudah menikah di usia muda," sanggah Nenek Ameena. "Dengarkan Nenek, Marco! Dia tak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Nenek tak suka dengannya!" tegas Nenek Ameena. Untuk kesekian kalinya beliau memproklamirkan ketidaksetujuannya dengan hubungan Marco dan Azzura. "Beri aku alasan yang jelas kenapa Nenek nggak setuju?!" desak Marco dengan wajah masam. "Karena ...." Telepon seluler Marco berdering membuat Nenek Ameena tidak jadi bicara karena Marco segera berlari menuju ke meja di mana ia meletakkan ponselnya. > Suara seorang wanita dengan nada tinggi memarahi Marco. Ia tidak sadar kalau waktunya sudah tersita cukup banyak untuk berbincang-bincang dengan Nenek Ameena. "I-iya, Sayang! Aku segera menjemputmu, ya! Jangan marah aku mohon ... " rayu Marco dengan gerakan terburu-buru ia menyerobot kunci mobil yang tergeletak di atas naki. "Nenek, aku pergi dulu, ya! I love you .... " Marco berjalan tergesa-gesa setelah memberikan sebuah ciuman di pipi Nenek Ameena. "Marco, Nenek belum selesai bicara!" teriak Nenek Ameena, kesal. Namun Marco tak menggubris teriakan neneknya. Ia berlalu pergi tanpa menoleh lagi. "Harusnya kau tahu kenapa Nenek tak setuju kau berhubungan dengan Azzura," gerutu Nenek Ameena seraya menatap punggung gagah Marco yang kini sudah tak lagi tampak di penglihatan beliau yang sudah rabun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN