Kejujuran Merri

2064 Kata
o0o "Tok ... tok ... tok ...!" Bibi Pati mengepalkan tangan kirinya untuk ia ketukkan di badan pintu kamar Merri. Di tangan kanan beliau terdapat segelas s**u cokelat hangat yang Nenek Syan kirimkan untuk cucu tersayangnya tersebut melalui dirinya. "Nona Merri!" seru Bibi Pati ketika ketukan pintu tak kunjung dibuka oleh si empunya kamar. Bibi Pati membenturkan kepalan tangannya untuk kesekian kali, tapi tetap saja tak ada sahutan dari Merri. "Apa nona sudah tidur, ya?" gumam Bibi Pati. Rasanya ingin sekali membuka pintu itu sendiri untuk memastikan keadaan di dalamnya. Namun, rasanya tak sopan jika beliau masuk tanpa permisi karena beliau tak terlalu dekat dengan Merri seperti kedekatannya dengan Nenek Syan. "Biar Nenek Syan saja yang mengantarkannya sendiri," kata Bibi Pati mengambil keputusan. Lantas beliau pun berbalik badan dan membawa s**u cokelat hangat itu menuju ke kamar Nenek Syan. "Syan! Apa kau sudah tidur?" Bibi Pati berseru, tak lama Nenek Syan menyahuti teriakkan kawannya tersebut. "Masuklah, Pati!" perintah Nenek Syan. "Syan, Merri tidak menjawab panggilanku padahal aku sudah memanggilnya berkali-kali." Bibi Pati memberikan laporan kepada Nenek Syan dengan segera begitu beliau masuk ke dalam kamar dan melihat majikannya tersebut sedang berbaring sembari membaca buku. Meski sudah berusia lanjut, tapi hobi Nenek Syan masih tetap berjalan. "Merri tidak menjawab?" ulang Nenek Syan seraya menaikkan kaca matanya yang melorot ke bawah. "Mungkin kau kurang keras mengetuk pintunya, Pati." "Sudah keras, Syan. Apa aku mesti memakai sapu untuk menggedor pintu Nona Merri?" decit Bibi Pati. "Jangan! Apa kau sudah gila?" sungut Nenek Syan. Beliau menutup buku yang tengah dibacanya setelah memberi pembatas kertas di tengah halaman. "Merri harus minum s**u sebelum tidur, Pati." "Ayo kita sama-sama ke kamar Nona Merri, Syan!" ajak Bibi Pati. "Ayo!" sahut Nenek Syan. Kedua wanita yang usianya sudah senja tersebut berjalan beriringan menuju ke kamar Merri. Eits, jangan salah! Meski sudah berusia, tapi Bibi Pati masih sehat dan memiliki tenaga yang kuat. Terbiasa bekerja sejak muda membuat fisiknya terlatih. Sebab itulah meski pihak keluarga meminta Bibi Pati untuk pensiun, tapi wanita yang tak memiliki suami dan anak tersebut masih ingin tetap bekerja. "Merri!" Nenek Syan memanggil-manggil cucunya sedangkan Bibi Pati bertugas untuk mengetuk pintu. "Kenapa dia tidak menjawab? Apa iya Merri sudah tidur?" Nenek Syan mencoba untuk menyerukan nama cucunya sekali lagi, tapi tetap tak ada sahutan hingga akhirnya beliau memutuskan untuk membuka pintunya sendiri. "Pati, kau kembalilah ke kamarmu dan istirahat! Biar aku yang memberikan s**u ini kepada Merri," perintah Nenek Syan kepada Bibi Pati. "Iya, baiklah, Syan. Aku kembali ke kamarku, ya!" pamit Bibi Pati sembari mengelus lengan Nenek Syan dengan lembut. Nenek Syan memutar handle pintu kamar Merri dan membukanya. "Merri, Nenek membawakan s**u hangat untukmu, Sayang," kata Nenek Syan. s**u yang tadinya dibawa oleh Bibi Pati kini sudah berada di tangan beliau. Suasana kamar Merri sangat sepi. Terlihat ranjang kosong dengan sprei dan bed cover yang sedikit berantakan. "Merri! Kau di mana, Sayang?" tanya Nenek Syan dengan suara yang dinaikkan volumenya. Mata tuanya yang sudah rabun dan harus dibantu kaca mata untuk melihat, kini menatap ke setiap sudut kamar Merri. Jantung wanita itu berdebar kencang takut sekali jika cucu kesayangannya tersebut melarikan diri untuk kedua kalinya. "Merri!" Nenek Syan berseru lebih kencang lagi hingga akhirnya beliau menemukan Merri tertidur di atas meja kerjanya. "Ya Tuhan, cucuku! Kenapa kau tidur di situ, Nak?" Nenek Syan berjalan perlahan karena kali ini beliau lupa membawa tongkat. Tangannya pun terlihat gemetaran ketika membawa segelas s**u di tangan kanannya. s**u hangat yang kini sudah tak lagi hangat karena terlalu lama diabaikan tersebut Nenek letakkan di meja yang dipergunakan Merri untuk tidur. "Nak, bangunlah, Sayang!" pinta Nenek Syan seraya menguncangkan tubuh Merri perlahan. Merri menggeliat ketika merasakan tubuhnya bergerak. Wanita itu mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya yang masih kabur. "Nenek .... " Merri buru-buru menegakkan tubuhnya, duduk dengan posisi normal ketika sadar bahwa Nenek Syan datang ketika foto Verrel masih tergeletak di atas meja. "Sayang nenek membawakan s**u coklat untukmu. Ini tadinya masih hangat sekarang sudah menjadi dingin. Tadi Bibi Pati datang ke kamar ini dan mengetuk-ngetuk pintu juga memanggilmu, tapi kau diam saja," terang Nenek Syan. "I-iya, terima kasih, Nenek. Nenek selalu tahu apa yang aku suka," sahut Merri dengan gagap. Pandangan matanya tertuju kepada nenek tapi kedua tangannya bergerak perlahan-lahan untuk menutupi foto yang bergerak di atas meja. Sebisa mungkin jangan sampai nenek melihat foto Verrel karena itu akan membuatnya berada di dalam masalah. "Karena kau cucu kesayangan nenek, jadi nenek tahu apa yang kau butuhkan," ucap Nenek Syan. "Terima kasih, Nenek." Merri Buru-buru menarik tangannya ke bawah meja. Dia sudah berhasil membawa foto Verrel di dalam genggamannya. Iya, meskipun foto kekasihnya tersebut pasti menjadi lecek karena ia cengkeram dengan erat. "Merri .... " Nenek mengernyitkan keningnya. Beliau mengamati ekspresi wajah Merri yang terlihat mencurigakan baginya. Meski mata beliau telah rabun, tapi beliau bisa "I-iya, Nenek," sahut Merri. Tak bisa dipungkiri bahwa Merri sangat ketakutan. "Apa yang kau sembunyikan di tanganmu, Nak?" tanya Nenek Syan yang kini beralih menatap kedua tangan Merri yang terkepal dengan gesture tubuh yang gelisah. Keringat dingin pun nampak muncul-mengalir di kening dan menjalar hingga ke leher Merri padahal pendingin ruangan berada di temperatur yang rendah. "A-aku ... Aku nggak nyembunyiin apapun, Nenek," dusta Merri. Kepala wanita itu tertunduk lesu. "Tapi kau seperti memegang sesuatu di tanganmu, Nak." "Aku nggak bawa apa-apa, Nenek. Demi Tuhan, aku nggak sembunyiin apapun dari Nenek," tutur Merri seraya menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Merri, apa kau memiliki masalah?" tanya Nenek Syan. Sentuhan lembut dari tangan beliau kini mampir di pundak Merri. "Apa kau masih memikirkan tentang pernikahan? Kenapa Nenek melihatmu gelisah begini?" Nenek mulai menduga-duga. Puluhan tahun beliau tinggal bersama Merri, beliau tahu benar karakter Merri. Setiap ada masalah cucunya itu akan menyimpannya rapat dan tidak akan bicara bila tak ditanya. "Nenek .... " Tangan Merri berkeringat dingin. Kalau begini caranya foto Verrel bisa rusak lama-lama. "Hiks ... hiks ... !" Merri menangis terisak-isak. Usia dua puluh delapan tahun, tapi seperti umur delapan tahun bila ia sudah berada di dekat neneknya. "Kenapa kau menangis, Sayang? Katakan ada apa!" Nenek Syan mendesak Merri untuk bercerita. Merri menaikkan kedua tangannya yang sejak tadi ia sembunyikan. Nenek pun kini fokus kepada tangan cucunya tersebut. Perlahan Merri membuka lebar telapak tangannya, maka nampaklah sebuah kertas yang sudah terlipat tak karuan. "Nenek, ini foto Verrel," ucap Merri dengan sesenggukan seraya merapikan gambar Verrel yang terlipat-lipat akibat cengkeraman tangannya. "Verrel itu siapa, Nak?" tanya Nenek Syan. "Dia ... dia itu .... " "Dia kekasihmu?" tebak Nenek Syan sebelum Merri menjawab pertanyaan beliau. Merri berdiri dari tempat duduknya karena ia melihat pintu kamarnya masih terbuka lebar. Lantas ia menutup pintu tersebut dengan rapat. Dia takut kalau sampai ada orang yang mendengar pembicaraannya dengan nenek. "Kenapa, Sayang?" tanya Nenek yang netranya mengikuti tubuh Merri bergerak. "Aku nggak mau kalau ada orang lain yang menguping pembicaraan kita, Nenek. Aku mau mengakui dosa besarku sama Nenek. Aku harap Nenek jangan marah ya sama aku," terang Merri yang menggandeng tangan Nenek Syan-menuntun wanita tua itu untuk duduk di atas ranjang bersamanya. Jantung Nenek Syan berdebar kencang. Mendengar Merri berbicara tentang dosa membuat pikiran beliau menjadi tidak karuan. "Apa yang kau lakukan, Merri? Apa itu ada hubungannya dengan lelaki yang fotonya kau sembunyikan itu?" cecar Nenek Syan. Sudah darah tinggi duluan padahal Merri belum bicara apapun jua. "Nek ... iya, ini memang ada hubungannya sama Verrel," jawab Merri. Wanita itu menggenggam erat tangan neneknya yang terasa ikut berkeringat sama seperti dirinya. "Memang dia siapa, Sayang?" tanya Nenek Syan sangat penasaran. "Dia adalah lelaki yang membuat aku enggan untuk menikah, Nenek," aku Merri seraya memejamkan matanya sejenak. Dia takut untuk menatap mata nenek. "K-kenapa begitu?" tanya Nenek Syan dengan gagap. "Memang dia siapamu, Merri? Kalau dia kekasihmu kenapa kau tidak kenalkan dia kepada kami?" Nenek melempar tiga pertanyaan untuk cucunya tersebut. "Karena aku kehilangan jejaknya," jawab Merri. Matanya kembali menghangat dan hujan itu pun luruh lagi untuk kesekian kalinya. "Kehilangan jejak? Apa maksudmu? Kenapa kau membuat Nenek bingung, Merri?" sembur Nenek Syan dengan nada tinggi. "Nenek, Verrel itu kekasihku saat aku masih kuliah, Nek." Akhirnya kebenaran yang telah lama Merri tutup-tutupi kini dia bongkar di hadapan Nenek Syan. Merri berpikir tak ada salahnya jika ia membagi dukanya ini dengan orang yang amat menyayanginya tersebut. "Kekasih saat kuliah?" Nenek syok, pasalnya Merri dilarang untuk berpacaran pada masa itu. Dan tak ada satu pun dari anggota keluarga mereka yang tahu kalau Merri pernah punya pacar. "Nenek, maafin aku! Aku mengaku kalau aku pernah jadi anak nakal dengan berpacaran padahal kalian ngelarang aku untuk ngelakuin itu," sesal Merri. Ia menggenggam tangan neneknya erat-erat. "Apa karena itu juga kuliahmu nyaris berantakan, Merri?" tanya Nenek Syan sangat serius. Meski sudah berumur, tapi bukan berarti beliau tidak mengingat bahwa dulu Merri yang selalu semangat untuk mengenyam pendidikan sarjana mendadak menjadi pemalas karena sesuatu alasan yang tak pernah beliau tahu. Merri menganggukkan kepalanya yang artinya ia membenarkan apa Nenek tanyakan. "Kenapa kau melakukan ini, Merri?" tanya Nenek Syan, kecewa. "Oke, mungkin masa kuliah itu sudah usai dan kau tetap bisa lulus meski nilaimu pas-pasan, tapi .... " Nenek menjeda kata-katanya untuk menarik napas sejenak. Yang menjadi permasalahan nenek saat ini bukan karena nilai kuliah Merri, tapi kenapa karena cinta di masa lalunya tersebut bisa membuat Merri menjadi enggan untuk melanjutkan hidupnya ke depan. "... kenapa kau tidak mau menikah karena dia, Merri? Memang di mana lelaki yang bernama Verrel itu?" selidik Nenek Syan. Merri harus memberi penjelasan agar nenek mengerti akan ketakutannya. "Karena aku masih mencintainya, Nenek. Dia lelaki yang begitu baik, lembut dan juga mencintaiku," jawab Merri mengutarakan apa alasannya kenapa ia sampai susah move on dari Verrel. Meski begitu mengenai keadaan dirinya yang sudah tak suci lagi, wanita itu masih akan menutupnya rapat-rapat. Rahasia itu akan selamanya ia simpan tanpa ada satu orang pun dari keluarganya yang boleh tahu. Karena akan ada hukuman moral yang besar bila itu sampai di dengar oleh family-nya. Bisa dipastikan gunjingan orang akan membuat mental Merri menjadi terkikis meski di jaman sekarang ini sudah bukan hal yang aneh lagi jika seorang pasangan muda-mudi melakukan hubungan di luar pernikahan. Begitu takutnya Merri karena sudah melanggar aturan keluarga membuatnya menjadi wanita yang hidupnya tertinggal di masa lalunya. "Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu, Merri! Dasar kau anak bodoh!" cemooh Nenek Syan. Beliau menoyor jidat Merri karena saking kesalnya. Bukan hanya nenek yang bicara demikian, tapi Agnes pun juga berulang kali mengatakan hal yang sama bahwa Verrel tak mencintaimu kalau ia meninggalkanmu. Seperti ada firasat yang kuat hingga Merri tetap percaya seratus persen bahwa kepergian Verrel yang tiba-tiba dan tanpa berpamitan adalah karena suatu hal yang mendesak bukan karena cinta lelaki itu sudah pudar kepadanya. "Dia mencintaiku, Nenek. Hanya keadaan yang nggak bisa membuatnya bertahan ada di sisiku," sanggah Merri. "Keadaan apa, Nak? Jelaskan kepada Nenek apa alasan seorang lelaki yang mencintaimu meninggalkanmu?" cecar Nenek Syan. "A-aku ... aku nggak tahu, Nenek. Tapi hati kecilku berkata kalau dia masih mencintaiku sampai saat ini," tutur Merri membuat nenek menghela napas berat ke udara. "Kau sudah gila, Merri! Kau sendiri tak tahu apa alasannya, tapi kau tetap mengharapkannya hingga kau menjadi wanita yang menutup hati untuk siapa pun juga," omel Nenek Syan. Beliau begitu kecewa dengan apa yang sudah Merri lakukan di belakang semua orang. "Satria mencintaimu, apa kau tau itu, Nak? Dia memendam rasa selama ini darimu. Hooh, nenek pun juga baru tau dua hari sebelum hari pernikahanmu yang berantakan itu terjadi," cetus Nenek Syan tanpa menoleh ke arah Merri yang duduk di sisi beliau dengan posisi tubuh yang menyerong. Wajah Merri sangat tegang. Jantungnya pun berdebar kencang dengan desiran darah yang membuatnya semakin tak tenang. "Iya, aku tahu, tapi aku nggak ada rasa apapun dengan Bang Sat, Nenek," tutur Merri. Bagaimana bisa dia menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai sedangkan dirinya sendiri belum selesai dengan masa lalunya. "Aku nggak mau nyakitin hati dia. Itulah juga alasanku untuk kabur di hari pernikahanku," imbuh Merri. "Lalu apa kau tau di mana Verrel sekarang?" Merri menggelengkan kepala. "Sudah tujuh tahun kamu nggak pernah ketemu ataupun berkomunikasi, Nenek." "Apa kau bilang? Sudah tujuh tahun?" tanya Nenek dengan nada tinggi sembari membelalakkan bola matanya. Mengetahui kemarahan Nenek Syan, membuat Merri menjadi panik bukan kepalang. Apalagi ketika wanita tua itu mengangkat tubuhnya-beranjak dari atas tempat tidur yang sejak tadi beliau duduki. "Nenek, tapi aku serius. Aku mencintainya dan nggak bisa lupain dia, Nek," tutur Merri. "Kau sudah tidak waras, Merri!" sentak Nenek Syan tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak cucunya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN