Terpasung Di Sangkar Emas

1978 Kata
o0o Marco berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Waktunya sudah mepet sekali untuk menjemput kekasihnya. Dia sampai melupakan Nenek Ameena yang saat ini masih berada di dalam kamarnya. Demi menuruti keinginan Azzura dia sampai mengabaikan neneknya. "Sayang, kau mau ke mana?" tanya Ayana ketika mendengar derup langkah sang anak yang memekakan telinga. "Aku mau makan malam dengan Azzura, Mami. Sampai jumpa!" Marco mencium pipi Ayana singkat. Dan berlalu pergi tanpa menghiraukan kehadiran Nico dan Benjamin. "Cepat ajak dia menikah!" seru Benjamin, tapi Marco hanya mendengar suara ayahnya lamat-lamat. Makan malam di keluarga Benjamin Oliver May dimulai meski tanpa kehadiran Marco dan juga Nenek Ameena yang mengeluh tak napsu makan malam ini. Tiga anggota keluarga inti yaitu Benjamin, Ayana dan anak bungsu mereka Nico berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Seperti biasa semua makanan lezat sudah terhampar di atas meja mulai dari ujung hingga ke ujungnya. Semua menu yang dimasak berdasarkan mandat dari nyonya rumah yaitu Ayana. "Waow ... bagaimana aku tak begitu mencintai istriku jika setiap hari dia tahu apa yang ingin aku makan, hahahaha .... " kelakar Benjamin. Di usianya yang sudah menginjak kepala enam, tapi lelaki itu masih nampak tampan dan gagah. Marco dan Benjamin sangatlah mirip. "Kau memujiku atau memujiku?" sinis Ayana seraya membalikkan piring makan suaminya. Sebagai istri yang baik dialah yang mengambilkan nasi untuk Ben. "Kau memang tidak pernah percaya denganku, hahaha ...." Benjamin terkekeh tanpa ada yang dirasa lucu untuk ditertawakan. "Sifat mami inilah yang membuat Papi menjadi suka main perempuan. Mami terlalu berburuk sangka sama Papi," timpal Nico yang selalu berada di pihak Papinya. "Terserah apa katamu, Nico!" sungut Ayana tidak ingin memulai perdebatan di meja makan. "Apa kau yakin akan membiarkan perusahaan jatuh di tangan Marco, Nico?" tanya Ben kepada anak bungsunya. "Hm ... biarkan Bang Marco yang bekerja, aku cukup minta uangnya saja, hahahaha .... " Dasar Nico yang hanya ingin enaknya saja tanpa mau berusaha. "Kau tinggal lihat saja apakah abangmu itu berhasil mengajak kekasihnya itu menikah. Kalau dia tak berhasil juga, papi akan memintanya untuk mencari wanita lain saja untuk dia nikahi, hahaha .... " tutur Benjamin. Bicaranya sangat ringan, seolah pernikahan anaknya hanyalah sebuah permainan yang bisa disepelekan. "Jangan desak Marco seperti itu, Pi!" protes Ayana. "Biarkan dia menikahi wanita yang ia cintai." "Kenapa memangnya? Dia sudah sepantasnya menikah kan? Kalau Azzura tidak setuju untuk menikah, ya sudah lepaskan saja! Cari wanita lain yang mau menikah dengannya. Sampai kapan dia mau menunggu Azzura? Dia lelaki tampan dan kaya, begitu bodoh kalau sampai dia menyia-nyiakan waktunya hanya untuk satu orang perempuan?" sembur Benjamin membantah ocehan istrinya. "Pernikahan itu tidak untuk dibuat main-main," desis Ayana. "Jangan samakan Marco sepertimu yang mudah berganti-ganti pasangan," imbuhnya. "Marco anakku, kalau dia seperti aku kenapa memangnya?" tekan Benjamin menyanggah omongan istrinya. "Hufft!" Ayana menghela napas ke udara, beliau tak ingin menjawab lagi ocehan suaminya kalau tidak perkara akan semakin panjang. Memang butuh kesabaran yang ekstra untuk bicara dengan suaminya. Lelaki ini begitu menggampangkan segala hal. Bahkan lebih ke tidak tahu aturan. "Hm ... aku rasa Azzura kurang berkompeten untuk jadi istrinya Marco," cibir Nico. "Hm ... kau benar, Nico. Dia lebih pantas untuk jadi istri muda papi, benar begitu kan, Nico?" sambar Benjamin dengan senyum setan yang tersungging di bibirnya. "Hahahaha ... Papi benar," kelakar Nico lalu sepasang ayah dan anak itu tertawa terbahak-bahak membuat Ayana menjadi muak rasanya. "Apanya yang lucu?" sentak Ayana seraya melepaskan garpu dan sendok yang sejak tadi ia pegang untuk memotong daging ayam dan sayuran. "Hei, Ayana! Kenapa kau marah-marah seperti itu? Biar pun aku memiliki pacar lagi kau akan tetap menjadi satu-satunya istriku, hahahaha .... " cicit Benjamin seraya mengelus-elus pundak istrinya, tapi Ayana segera menepis tangan suaminya dengan kasar. "Kalian membuat nafsu makanku menjadi menghilang!" murka Ayana. Ia menyeret kursi yang ia duduki ke belakang dengan terburu-buru. Wanita itu benar-benar tak berselera untuk melanjutkan makan malamnya. "Hahahaha ... ibumu itu memang sensitif sekali, Nico," hina Benjamin tanpa berperasaan. Ayana berjalan terburu-buru untuk kembali ke kamarnya. Mata wanita itu terasa panas dan air mata pun berjatuhan membasahi pipinya. "Aku rasanya tidak betah berada di sini lama-lama. Kelakuan Ben membuatku muak sekali!"gerundel Ayana dengan langkahnya yang cepat menaiki anak tangga. Lalu, di lorong di mana ia nyaris sampai di kamar, ia bertemu dengan Nenek Ameena. Nenek tua itu baru saja keluar dari kamar Marco. Melihat sang menantu menyeka air matanya berulang-ulang, membuat Nenek Ameena tergelitik untuk bertanya. "Kenapa denganmu, Nak?" tanya Nenek Ameena membuat langkah Ayana tertahan. Ia menghapus bersih sisa-sisa air matanya, berusaha sekuat tenaga agar tak terlihat rapuh di depan ibu mertuanya. "Aku tidak kenapa-napa, Bu," jawab Ayana seraya menyunggingkan senyumnya. Namun, tetap saja Nenek Ameena tahu bahwa luka hati Ayana sedang tergores kembali hingga membuatnya menangis seperti ini. "Air matamu memang sudah kau hapus, tapi aku tahu kalau kau sedang bersedih hati. Kenapa? Ben melukaimu lagi?" tebak Nenek Ameena. Siapa lagi memangnya yang bisa membuat Ayana sesedih ini kalau bukan suaminya? "Ibu ... a-aku .... " Ayana terisak-isak. Sungai yang mengering kini basah kembali. "Aku mau berpisah saja dari Ben, Nek. Aku tidak kuat rasanya," rintih Ayana. Penderitaan begitu tersirat di mata sayunya. Hidup terkurung di sangkat emas membuatnya menjadi tertekan. "Jangan bilang seperti itu, Sayang! Jangan! Kau tidak boleh meyerah. Aku tidak akan mengijinkanmu meninggalkan aku," tutur Nenek Ameena seraya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Ayana. Kedua wanita itu berdekapan dengan sangat erat. "Kita hanya memiliki Marco yang melindungi kita di rumah ini, Bu. Tapi Ben pun akan mengusirnya dengan meminta Marco untuk cepat-cepat menikah. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa Marco," keluh Ayana meluapkan kekhawatirannya. Hanya Marco tempatnya untuk menopang segala duka dan gundah gulana yang kerap hadir akibat tekanan dari Benjamin yang semakin menggila di usianya yang semakin tua. Nico jelas tak bisa dia andalkan karena anak bungsunya tersebut selalu berada di pihak suaminya. "Apapun keadaannya, kaulah menantuku satu-satunya, Ayana. Jangan menangis! Aku akan membelamu," tutur Nenek Ameena menenangkan menantunya. o0o Mobil yang dikendarai Marco melesat cepat menembus jalanan ibu kota. Ia tierburu-buru menjalankan roda empatnya karena Azzura sudah marah besar sebab hingga jam sekian ia belum sampai di rumah wanita itu untuk menjemput. Meski di rumah ia memiliki sopir pribadi, tapi khusus saat ia pergi dengan Azzura, dia tak ingin siapa pun ada di antara keduanya. Kecuali Melki yang terkadang ikut untuk mendampingi. "Tiiiin!" Marco memencet klakson mobilnya ketika ia sudah berada di depan gerbang rumah Azzura. Pagar pun segera dibuka karena petugas keamanan sudah hapal siapa pemilik mobil yang bertandang di rumah majikan mereka. "Selamat malam, Tuan Marco!" sapa petugas keamanan yang malam ini kedapatan tugas untuk berjaga di rumah Azzura. "Malam, Pak. Saya mau menjemput Azzura," kata Marco yang masih berada di dalam mobilnya. "Oh, Nona Azzura sudah pergi dari tadi, Tuan," ucap security. "Apa? Sudah pergi?" Marco yakin Azzura pasti marah sekali dengannya. "Iya, Nona Azzura pergi bersama dengan Tuan Alejandro dan juga Nona Melki," terang petugas keamanan tersebut membuat Marco segera berputar balik setelah mengucap kata terima kasih karena sudah dibukakan gerbang untuk dirinya masuk. Dengan kecepatan yang masih tinggi, Marco mengarahkan kuda besinya menuju ke sebuah tempat di mana ia dan Azzura berjanjian. Ia harus segera memangkas waktu agar Azzura tak semakin marah dengannya. Sedangkan itu, Azzura nampak sedang menikmati pesta disebuah ballroom mewah yang dipesan oleh salah satu rekan modelingnya. Ia sibuk berdisco dengan kawan-kawannya hingga wanita itu melupakan Marco yang sejak tadi menghubunginya melalui panggilan suara. Untung saja Melki yang tak suka dengan keramaian memilih untuk berada di meja yang paling sudut alias yang paling sepi. Wanita itu memeriksa ponsel Azzura dan segera menerima telepon dari Marco. "Aku akan menjemputmu, Marco," kata Melki. Karena tak semua orang bisa masuk ke tempat ini tanpa membawa undangan. Untuk itulah sejak tadi Marco ditolak untuk masuk karena Azzura-lah yang menyimpan undangan yang ditujukan untuk kekasihnya tersebut. Dengan membawa selembar kertas yang menjadi kunci untuk bergabung di dalam pesta ini, Melki menjemput Marco yang sudah menunggu di depan pintu ballroom. "Ini undanganmu, Marco," kata Melki seraya menyerahkan kertas itu. "Terima kasih, Mel. Lalu di mana, Zura?" tanya Marco. Mereka berdua berjalan bersisian masuk ke dalam ballroom. Marco pun diijinkan masuk karena sudah menunjukkan undangan yang terdapat barcode di dalamnya. "Dia sedang bersama dengan Alejandro, Co. Itu dia!" Melki menunjukkan ke arah Azzura yang kini sedang berlenggang-lenggok menikmati alunan musik bersama dengan photographer muda yang menjalin kerjasama denganya. Marco benar-benar geram ketika melihat Al melingkarkan tangannya di pinggang Azzura. Benar-benar darahnya dibuat mendidih apalagi ketika kekasihnya tersebut nampak nyaman-nyaman saja tanpa ada upaya untuk menolak sentuhan dari lelaki yang bukan kekasihnya. "Aku sudah memperingatkan Azzura berulang-ulang untuk menjaga sikap, tapi kenapa dia selalu saja seperti ini," geram Marco dengan tangan terkepal. "M-maaf, Co! Aku sudah memperingatkan Azzura tapi-" Melki belum selesai dengan kata-katanya, tapi Marco sudah kabur duluan. Langkahnya yang lebar menuju ke arah Azzura dan Al yang kini sedang berjoged ria tanpa menyadari akan kehadirannya. Sejujurnya Marco tidak betah dengan suara musik yang begitu kencang seperti ini. "Lepasin pacar aku!" sentak Marco seraya mencengkeram tangan Al dan menepisnya kasar dari tubuh Azzura. Azzura kaget bukan kepalang melihat kemarahan kekasihnya, begitu pun dengan Al yang nampak sangat malu karena sekarang dia menjadi pusat perhatian kawan-kawannya. "Santai, Bro! Aku cuma have fun aja sama Azzura," kata Alejandro seraya mengangkat kedua tangannya memberi isyarat agar Marco tak membesar-besarkan masalah. "Have fun boleh tapi tanganmu bisa sopan kan? Azzura kekasihku dan kamu-" "Sayang ... sudah!" Azzura melerai. Ia menarik tangan Marco dan membawa lelaki itu untuk menjauh dari kerumunan orang-orang. "Kenapa kamu nggak nunggu aku datang, Zura?" tanya Marco geram. "Aku menunggumu lama di rumah sedangkan acaranya segera dimulai, Marco. Makanya aku menerima tumpangan dari Al," jawab Azzura. "Kenapa mesti menumpang? Di rumah ada mobil dan sopir kan? Kamu bisa meminta mereka untuk mengantarmu kalau kamu nggak sabar nunggu aku!" sentak Marco. Pertengkaran sepasang kekasih ini pun menjadi tak terelakkan. "Dan lihatlah pakaianmu! Lebih baik kamu nggak usah pakai baju sekalian!" sindir Marco benar-benar marah dengan kelakuan Azzura malam ini. "Hei, aku ini model. Sudah hal biasa kalau aku berpakaian sexy seperti ini!" sembur Azzura tidak terima. Ia membela dirinya dengan membawa-bawa profesinya. Azzura kini memakai crop top berwarna kuning dipadu padankan dengan rok mini. Untuk ukuran dirinya ini tidaklah terlalu sexy, berbeda dengan penilaian mata Marco. "Aku ingin memuliakanmu, Azzura. Menikahlah denganku maka kamu nggak perlu lagi untuk bekerja seperti ini. Kamu tinggal duduk manis di rumah, kamu bisa minta apapun yang kamu. Lalu apa kurangnya aku memanjakan kamu?" "Huft!" Azzura mendesahkan napasnya ke udara seraya meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Aku sudah bilang padamu, Marco! Aku belum mau menikah. Aku nggak mau menjadi burung yang terkurung di sangkar emas seperti ibumu!" sembur Azzura seraya membelalakkan bola matanya. "Aku bukan papiku, Zura. Aku nggak akan memperlakukanmu sama seperti papiku memperlakukan ibuku!" tegas Marco. "Sejujurnya yang salah bukanlah papimu, tapi ... mamimu-lah yang lemah dan nggak berani untuk memberontak. Dan aku nggak mau menjadi lemah di depan lelaki!" pekik Azzura. "Jadi kamu tetap nggak mau nikah sama aku dalam waktu dekat ini?" Entah sudah ke berapa kalinya Marco bertanya tentang masalah ini kepada Azzura. Ia rasanya tak pernah bosan untuk bertanya dan akan terus bertanya. "Enggak! Kalau kamu sabar tunggulah aku sampai aku siap!" tekan Azzura. Dia adalah wanita yang tak mau untuk disetir kehidupannya oleh seorang lelaki. "Tapi aku mencintaimu, Zura," ungkap Marco, berharap pengakuan cintanya ini bisa merubah pemikiran Azzura. "Aku juga mencintaimu, Marco. Tapi aku benar-benar belum siap untuk menikah. Aku mohon jangan desak aku!" Untuk kesekian kalinya Marco harus jatuh ke dasar jurang kekecewaan. Kurang apalagi dirinya ini hingga Azzura terus menolak? Meski Marco sudah berjanji tidak akan mengekangnya pun Azzura tetap enggan untuk mengucap kata iya. Sekarang yang ia pikirkan, haruskah ia melepas jabatan yang akan diberikan oleh ayahnya enam bulan ke depan demi menunggu Azzura siap untuk ia ajak menikah? Ataukah ia yang harus meninggalkan Azzura dan menikahi wanita yang mau dia ajak menikah demi mendapatkan tahta di perusahaan ayahnya? Marco benar-benar dilema karena memikirkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN