o0o
"Nenek ..." Merri membuntutti Nenek Syan hingga ke kamar. Wanita tua itu nampak kecewa berat setelah mendengarkan pengakuan Merri tentang masa lalunya yang pernah memiliki kekasih di belakang keluarga besar.
"Nek, aku mohon maafkan aku, Nek!" rengek Merri dengan suara yang pelan. Dia takut kalau ada yang mendengarkan rengekkannya dan berujung pada terbongkarnya rahasia ini ke seluruh isi rumah.
"Kau mengecewakan Nenek Merri," tutur Nenek Syan dengan suara bergetar. Cara jalannya yang pelan membuat Merri dengan mudah menyusul beliau.
"Nek, aku tahu aku bersalah ...."
"Keluarlah dari kamar Nenek!" usir Nenek Syan, tak ingin Merri ikut masuk ke dalam ruang pribadi beliau.
"Nek, aku belum selesai bicara," kekeh Merri yang tak ingin pergi sebelum Nenek Syan memaafkannya.
"Kau tidak tahu apa yang Nenek takutkan, Merri," keluh Nenek Syan. Matanya terasa panas hingga air duka itu pun perlahan menetes dari bola matanya.
"Nenek .... " Merri bersimpuh di kaki neneknya. "Maafkan aku, Nenek!"
"Nenek marah bukan karena kau sudah pernah membohongi Nenek, Merri. Karena Nenek tahu dan menyadari bahwa semua orang pasti pernah memiliki kesalahan. Nenek paham ... Nenek pun pernah muda sepertimu, tapi ... setelah kau berterus terang kepada Nenek tentang apa alasan kau tidak mau menikah, Nenek menjadi ketakutan. Nenek takut kau akan memilih jalan seperti Bibi Pati," terang Nenek Syan mengutarakan isi hatinya dan keresahan yang beliau rasakan.
Nenek terisak-isak dan Merri mendongakkan kepalanya menatap wajah Nenek dari bawah. Rembesan air mata Nenek Syan turut menjatuhi wajah Merri.
"Kenapa Nenek bicara begitu?" tanya Merri dengan suara parau.
"Kau bilang kau mau mencari kekasihmu yang sudah tujuh tahun meninggalkanmu bukan?" tanya Nenek Syan seraya berjalan menuju ke tempat tidur dan beliau meletakkan dirinya di atas sana. Merri tetap pada posisinya bersimpuh di lantai dengan dua kaki yang tertekuk ke belakang.
"Karena aku mencintainya, Nenek."
"Tapi apa kau pikir dia mencintaimu, Merri? Tujuh tahun itu waktu yang lama dan dia tak pernah sekali pun datang untuk bertanya kabarmu kan? Bagaimana kalau kenyataannya dia sudah menikah?"
Merri berdiri perlahan. Mendengar apa yang Nenek Syan katakan membuat hati Merri hancur berkeping-keping.
"Jangan ngomong kayak gitu, Nek! Nenek bikin aku patah arang," lirih Merri. Wanita itu menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang melemas ke bawah seperti tak bertenanga.
"Nenek hanya ingin membuka pikiranmu yang sempit itu, Merri. Kenapa kau mesti mempertaruhkan masa depanmu hanya demi lelaki yang tidak jelas keberadaannya dan nasibnya? Iya kalau dia sukses, kalau tidak? Apa kau bisa hidup miskin hanya demi cinta?"
"Nenek, tolong bicaralah yang baik-baik!" sentak Merri menangis semakin kencang. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat untuk melampiaskan rasa marah, sedih, takut dan khawatir yang berbaur menjadi satu dalam hatinya.
"Nenek bicara seperti ini agar kau mau membuka pikiranmu, Merri! Jangan bertingkah seperti wanita yang tak berpendidikan!" cemooh Nenek Syan. "Apa kau mau usiamu terbuang sia-sia hanya demi menunggu yang tidak pasti? Bisa saja dia sekarang sudah melupakanmu dan hidup bahagia dengan istri dan anaknya," ulang Nenek Syan membuat kehancuran hati Merrri semakin menjadi-jadi.
"Dia hanya mencintaiku, Nenek. Verrel sudah berjanji hanya akan mencintaiku," kekeh Merri tak mau menggubris omongan negatif neneknya, meski dalam hatinya sungguh-sungguh ketakutan karena bisa saja yang nenek katakan itu adalah kebenaran.
"Nek, beri aku waktu enam bulan! Aku akan mencari Verrel dan membawanya ke rumah ini sebagai calon suamiku, Nek. Nenek nggak usah khawatir! Aku akan tetap menikah. Aku nggak akan jadi perawan tua seperti Bibi Pati. Tolong doakan aku, Nek! Jangan membuatku takut!" Merri memohon kepada Nenek Syan agar beliau bisa melegakan hatinya tidak terus mengucapkan kata-kata yang membuat mentalnya down berulang-ulang.
Wanita itu menekuk kedua kakinya, berlutut di hadapan Nenek Syan yang duduk di ranjang. Ia membenamkan kepalanya di pangkuan nenek dengan isakan tangis yang belum juga usai. Perasaan Merri benar-benar berantakan, mungkin malam ini ia tak akan bisa tidur dengan tenang.
"Merri ... baiklah kalau memang itu permintaanmu, Nak. Tapi kau harus berjanji satu hal sama Nenek. Kalau kau bisa menemukan Verrel dan dia bersedia untuk menikahimu, maka Nenek tidak akan melarang. Namun, jika kau tidak bisa menemukannya selama enam bulan kau harus membuang nama itu dari hatimu dan menikahlah dengan lelaki yang ingin menjadikanmu istri," terang Nenek Syan dengan panjang lebar. Ini semua beliau lakukan semata-mata karena cintanya kepada Merri yang sangatlah besar. Beliau peduli dengan masa depan cucu kesayangannya tersebut.
"Iya, aku janji, Nenek. Aku akan menerima resiko apapun atas keputusanku untuk mencari Verrel termasuk keputusan terburuk sekali pun. Dan ... kalau memang aku nggak berjodoh sama dia, aku akan menikah dengan lelaki mana pun pilihan kalian." Dengan berat hati Merri berkata demikian, meski asa yang ia gantungkan kepada Verrel cukuplah besar.
Semoga ada lelaki yang mau menerima keadaanku yang udah nggak suci lagi, harap Merri dalam batin.
"Doa Nenek selalu menyertaimu, Sayang." Nenek Syan sudah melembutkan hatinya, beliau mengelus rambut Merri dengan penuh kasih sayang. Beliau tak lagi marah dengan Merri karena tak sampai hati jika terus bersikap keras yang akan membuat mental Merri semakin tertekan.
"Nek, janji ya jangan Nenek ceritain tentang hal ini sama yang lainnya. Cukup Nenek dan Agnes yang tahu soal rahasiaku ini," pinta Merri seraya mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya, Sayang. Nenek berjanji akan merahasiakan hal ini dari yang lainnya," sahut Nenek seraya melingkarkan jari kelingkingnya.
"Terima kasih, Nenek. Aku sangat mencintaimu, Nek." Merri sangat lega karena sekarang setidaknya ia memiliki dukungan tak hanya dari Agnes, tapi juga dari Neneknya.
"Sekarang tidurlah, Nak! Kau harus istirahat," perintah Nenek Syan. Hari sudah semakin larut dan tubuh mereka sudah menuntut hak untuk beristirahat.
o0o
Suasana pesta malam ini sungguh terasa hampa bagi Azzura. Ia tak dapat bergerak bebas ketika ada Marco di sampingnya. Lelaki itu begitu mengawasi gerak-geriknya.
"Sayang, boleh ya aku ikut berjoged dengan kawan-kawanku di sana?" tanya Azzura meminta ijin kepada Marco yang nampak sibuk dengan segelas soft drink yang ada di hadapannya.
Perkelahian antara Marco dan Alejandro hampir saja terjadi, tapi Azzura justru ingin memantik kemarahan Marco lagi dengan melakukan hal yang sama.
"Tetap diam di sini sama aku," jawab Marco, dingin.
"Ya Tuhan, lihatlah kelakuannya Melki!" seru Azzura mengadukan sikap Marco kepada assistennya. "Dia melarangku begini, begitu seolah aku ini tahanannya."
Marco meletakkan gelas yang ia bawa dengan kasar. "Apa kamu nggak bisa menghargai kehadiran aku di sini, Zura?" tanya Marco seraya menatap tajam netra Azzura yang berbalut dengan softlens berwarna cokelat.
"Hei, Tuan! Siapa yang nggak menghargai kehadiranmu? Aku cuma minta ijin sebentar untuk menikmati suasana pesta ulang tahun kawanku, tapi kamu sekaku ini?!" sungut Azzura.
"Zura, aku mohon jangan membuat keributan di pesta orang," ucap Melki mewanti-wanti sahabatnya.
"Mel ... aku nggak bikin keributan. Kamu lihat sendiri kan? Dia yang nyaris saja membuat kekacauan di sini," bantah Azzura.
"Tapi itu respon yang wajar bagi seorang lelaki yang cemburu melihat kekasihnya disentuh oleh lelaki lain. Harusnya kamu bahagia, Zura. Kamu memiliki kekasih yang sangat mencintaimu seperti Marco," tutur Melki berada di pihak Marco.
"Ck! Kamu bekerja denganku kan? Aku yang membayarmu kan bukan dia? Terus kenapa kamu membelanya?" sembur Azzura.
"Ini konteksnya di luar jam kerja, Zura. Kehadiran Melki di sini sebagai teman bukan asistenmu," bela Marco.
"Cih! Kalian ternyata sama-sama orang-orang yang memuakkan!" desis Azzura dengan angkuhnya.
Mau tidak mau, Azzura harus menuruti permintaan Marco untuk tetap berada di sini. Wanita itu merasa jengah, bosan dan ingin sekali melarikan diri. Inilah kenapa dia malas sekali kalau harus pergi dikawal dengan sang kekasih karena ia tak bisa bergerak bebas seperti ini.
"Mel, aku mau soft drink juga yang seperti Marco. Tolong ambilkan!" perintah Azzura sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Iya, baiklah. Akan aku ambilkan kamu minuman dulu," sahut Melki yang dengan patuh menuruti perintah dari Azzura.
"Sayang, udah jangan marah-marah gitu! Nanti cantikmu ilang lho," rayu Marco. Iya duduk bergeser mendekat kepada Azzura lalu merangkul kekasihnya tersebut.
"Kamu mau apa? Uang? Atau berlian?" tanya Marco mulai menyogok wanita itu dengan barang mewah agar tidak marah.
"Aku pingin beli tas branded keluaran terbaru, Sayang," rengek Azzura. Jika sudah dibujuk dengan uang atau semacamnya, sikap Azzura langsung berubah dari yang galak menjadi manis.
"Oke, nanti aku kirim uang ke rekeningmu dan kamu bisa beli sendiri, tapi kamu jangan marah lagi, ya."
"Iya aku nggak marah lagi. Habis kamunya nyebelin banget, Sayang," desis Azzura yang sudah mulai manja dan bergelayut di tubuh Marco. Semua permasalahan bisa diselesaikan dengan uang.
"Pyarr!" Tetiba suara gelas pecah terdengar dan mengagetkan orang yang ada di sekitar termasuk Marco dan Azzura yang sudah mulai bermesra-mesraan. Beberapa pasang mata kini menoleh ke arah wanita berambut panjang yang bertubuh gempal. Wanita itu tertegun menatap serpihan kaca yang berserak di bawahnya. Ialah Melki yang baru beberapa langkah berjalan tapi bertabrakan dengan seorang lelaki tanpa disengaja.
"Apa kamu nggak punya mata?!" sentak lelaki itu dengan kasar.
"Maaf! Maafkan saya, Tuan!" Melki ketakutan. Ia mengatupkan tangannya berulang-ulang kali.
"Kamu membuat minumanku tumpah!" geram lelaki bertubuh kurus itu membuat kedua bahu Melki melonjak karena kaget dengan teriakan si pria yang tak dikenalnya.
"M-Mark ... maaf! Melki nggak sengaja," sambung Azzura yang tak akan membiarkan asistennya tersebut menghadapi masalahnya sendirian. Lagi pula ia melihat dengan jelas bahwa itu tak sepenuhnya kesalahan Melki. Mark adalah rekan Alejandro, mereka sama-sama seorang photographer sehingga Azzura mengenal lelaki itu dengan baik meski ia tak pernah ada kerjasama dengan Mark.
"Gimana bisa nggak sengaja? Dia punya mata kan?" sembur Mark masih dengan nada suaranya yang meninggi.
"Tuan, tolong maafkan saya! Anda tiba-tiba ada di depan saya sehingga saya kaget dan nggak bisa mengelak kecelakaan ini," tutur Melki masih dengan bahasa yang sopan meski Mark sudah memaki-makinya dengan begitu kasar.
"Bajuku ini mahal. Kamu nggak mungkin bisa mengganti bajuku asal kamu tahu itu!" hina Mark seraya menunjuk-nunjuk wajah Melki yang tertunduk.
"Hahaha ... sungguh beruntung sekali kamu, Mark," kelakar Alejandro yang ikut bergabung untuk bersengkongkol mengolok-olok Melki.
"Beruntung apanya? Bajuku basah karena dia," desis Mark.
"Barang kali dia jodohmu," goda Alejandro membuat Mark menjadi geram.
"Kamu pikir aku bakalan tertarik dengan wanita yang tubuhnya lebih mirip dengan kaleng sarden daripada gitar spanyol? Kamu gila, Al!" Tanpa berperasaan Mark justru melakukan bodyshaming terhadap Melki. Ini sudah melenceng jauh dari masalah yang terjadi di antara mereka.
Mendengar dua orang lelaki menghina Melki tanpa ampun di depan orang banyak membuat Marco menjadi geram. Tak bisa dibayangkan betapa malunya wanita itu hingga sedikit pun ia tak berani untuk mendongakkan wajahnya. Hanya tetes air mata yang kini jatuh berguguran di manik hitam Melki yang berbalut dengan kaca mata tebal.
"Apa kalian nggak bisa menghargai seorang wanita?" tanya Marco sambil melingkas lengan jasnya. "Apa kalian bukan terlahir dari seorang wanita?" Marco melempar pertanyaan lagi.
"Hei, Zura! Kekasihmu ini selalu saja ikut campur!" adu Alejandro.
"Sayang, sudahlah! Nggak perlu diperbesar," ucap Azzura seraya mengelus-elus lengan Marco agar kekasihnya itu tak terpancing emosi.
"Ini harus diperbesar, Zura. Permasalahan ini berujung dari incident saling tabrak karena keduanya meleng alias sama-sama salah. Lalu lelaki yang kamu panggil Mark ini dan Al justru menghina fisik Melki. Di mana korelasinya?!" cetus Marco membantai kedua lelaki sombong tersebut dengan kata-katanya.
"Maaf, ada apa ini?" Kawan Azzura yang memiliki acara pun turut datang ketika ada salah satu tamu yang melapor bahwa terjadi keributan di sudut sana.
"Maaf kalau ini membuat pesta anda terganggu, Nona. Tapi rasa kemanusiaan saya harus bicara," tegas Marco.
"S-silahkan, Tuan!" gagap wanita, rekan seprofesi Azzura mengijinkan Marco untuk meneruskan apa yang ingin dia sampaikan.