Aku Mencintaimu

1879 Kata
Dengan gentle Marco pasang badan untuk membela Melki, seorang wanita biasa yang kerap kali menjadi bahan bullyan orang-orang di sekitarnya. Entah karena kondisinya yang memiliki anak di statusnya yang belum menikah atau karena bentuk tubuhnya yang menjadi melar dan tak seindah dulu lagi pasca melahirkan. "Berapa harga kemejamu?! Katakan!" perintah Marco seraya merogoh dompet yang ia simpan di dalam saku celana belakang. "Apa maksudmu? Kamu mau membayar kerugianku begitu?" tanya Mark dengan pandangan sinis. "Aku mau membayar harga dirimu!" sentak Marco. "Tuan, maafkan keributan yang terjadi di pesta saya," ucap rekan model Azzura kepada Marco karena ia merasa sungkan. Ia mengatupkan kedua tangannya. Wanita bernama Julie itu tahu kalau Marco orang kaya dan terpandang di kota ini sehingga ia menaruh sikap hormat kepada kekasih Azzura tersebut. "Bukan anda yang seharusnya minta maaf, tapi dia! Dia sudah melecehkan seorang wanita di hadapan banyak orang! Hei, berkacalah! Tubuhmu itu kurus dengan gigi yang maju ke depan sama sekali nggak ada tampan-tampannya," cibir balik Marco. "Apa katamu?" Mark tidak terima. Ia menarik kerah baju Marco dengan cepat. Matanya memerah dengan rahang yang mengeras. Darahnya mendidih mendengar penghinaan Marco kepadanya. "Kenapa? Kamu nggak terima?!" tantang Marco yang tentunya tak akan tinggal diam. Lelaki pemberani itu gantian menarik baju Mark. "Sayang, sudah jangan dilawan! Ya Tuhan ...." Azzura menjadi panik bukan main. Banyak orang yang datang untuk memisahkan keduanya. "Sekali lagi aku lihat kamu menghina seorang wanita di depanku akan aku patahkan lehermu!" sentak Marco ketika tubuhnya dan tubuh Mark sudah berhasil dijauhkan oleh beberapa tamu yang lain. Jadilah pesta malam ini menjadi kacau balau, suara musik pun tak lagi terdengar sejak pertikaian ini terjadi. "Sayang, ayo kita pulang saja!" Azzura menarik tangan kekasihnya dan mengajak Marco untuk keluar dari ruangan. "Kenapa kamu meminta aku pergi? Aku belum menghajar dia, Zura!" omel Marco. "Sayang, sudahlah jangan digubris! Mark memang sombong seperti itu jangan diambil hati," tutur Azzura seraya mengelus-elus d**a Marco agar lelaki itu menjadi tenang. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu bakalan pesta di tempat yang settingnya seperti ini? Ballroom yang disulap menyerupai diskotik. Aku pikir cuma makan malam biasa," oceh Marco. Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran lelaki itu tak berhenti mengomeli Azzura sedangkan Melki yang ada di antara mereka hanya diam saja karena wanita itu pun masih shock dan juga sedih. Rasanya ia benar-benar malu diperlakukan seperti itu di depan banyak orang. "Sayang ... come on! Aku seorang model dan sudah biasa bagiku untuk berpesta seperti itu. Kamu harusnya paham dengan circle pertemananku," debat Azzura. "Ting!" Pintu lift terbuka lebar dan ketiga orang ini pun masuk beriringan. Marco memencet angka satu dan alat angkut berbentuk besi itu pun segera turun ke bawah. "Aku memintamu berkali-kali untuk berhenti menjadi model, karena aku pikir dunia itu nggak baik buat kamu, Zura. Aku ingin kamu jadi istriku, tetap diam di rumah dan nikmati hidupmu sebagai istri sultan tanpa harus bekerja," sembur Marco. Iya mengulang obrolan tentang pernikahan untuk kesekian kalinya. "Aku sudah bilang kan sama kamu berkali-kali kalau aku belum siap menikah, Marco! Ya Tuhan kamu membuatku muak dengan terus-terusan mengulang pembicaraan yang sama!" geram Azzura. Sepasang kekasih ini sibuk berdebat hingga mengabaikan seorang wanita yang kini sedang rapuh dan butuh sebuah pelukan. o0o "Selamat pagi semuanya!" sapa Merri kepada semua anggota keluarganya yang sudah duduk berjajar di depan meja makan. Mata wanita itu terlihat masih sangat sembab, selain karena terus-terusan menangis, Merri juga tak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ini. "Aunty Mer!" seru si kembar Abraham dan Ibrahim begitu kegirangan melihat tantenya datang. "Hai, sayang! Apa kalian mau uang jajan dari aunty?" tanya Merri yang memang terbilang dekat dengan keponakan-keponakannya. "Aku mau, Aunty," jawab Abraham menyahut terlebih dulu dari saudaranya. "Oke, ini uang jajan buat kalian," ucap Merri seraya merogoh saku blazernya. Dua lembar uang berwarna ungu wanita itu berikan kepada si kecil yang nampak kegirangan. "Terima kasih, Aunty." Abraham dan Ibrahim bergantian mencium pipi Merri. "Ciara dan Anzel masih kecil jadi kalian nggak dapat jatah, Ya," tutur Merri menggoda dua keponakannya yang lain yang masih berumur satu dan tiga tahun. Anak-anak Median tersebut kini sedang berada di gendongan dua orang babysitter. "Merri, duduklah dan sarapan!" perintah Anna, ibu kandung Merri. "Iya, Ma," sahut Merrri segera meletakkan dirinya di sebuah kursi kosong di mana itu adalah tempat favoritnya. "Kamu sudah mulai bekerja, Nak?" tanya Nenek Syan. "Iya, Nek. Hari ini cutiku sudah habis," jawab Merri yang sudah nampak rapi dengan pakaian kerjanya. "Cuti menikah, tapi tidak jadi menikah. Kalau Papa jadi bosmu cutinya Papa batalkan lalu gajimu Papa potong," decit Edrick bicara sembari mengunyah makanannya. "Papa, jangan meledekku seperti itu!" sungut Merri yang kini telah membalik piring putih yang ada di depannya. "Iya, apa yang Papa omongin itu benar, hahahaha .... " timpal Marshel lalu terkekeh menertawakan adiknya. "Sudah! Jangan meledek Merri!" tegur Nenek Syan yang selalu menjadi orang nomor satu untuk membela cucunya. "Permisi, Tuan, Nyonya!" Seorang maid berseragam serba hitam dengan celemek putih yang melingkar di pinggang datang untuk menyela aktifitas makan pagi mereka. "Kenapa, Bi?" tanya Anna menghentikan kunyahan dimulutnya sejenak. "Nyonya, ada Tuan Satria menunggu di ruang tamu. Beliau ingin bertemu dengan Tuan Marshel," jawab maid tersebut lalu bergegas pergi setelah apa yang ingin dia sampaikan sudah didengar oleh majikannya. Anna meminta Marshel untuk bergabung bersama mereka. Jantung Merri berdegup kencang ketika nama Satria menembus gendang telinganya. Darahnya berdesir-desir dan gesture tubuhnya pun menjadi gelisah. "Mm ... aku ada meeting pagi ini, Ma, Pa, Nenek. Jadi aku sarapan di kantor saja, Ya," ucap Merri dengan terburu-buru. Dan semua orang tahu kalau Merri segera ingin pergi karena ingin menghindar dari Satria. "Sayang, tapi ini masih jam setangah tuju," sahut Anna, tapi Merri sudah berdiri dari tempat duduknya. "Iya, aku takut jalanan macet, Ma," balas Merri. Ia berjalan memutari meja untuk mencium tangan orang-orang satu per satu dimulai dari Nenek Syan, papa, mama dan kakak-kakaknya. "Selamat pagi!" sapa seorang lelaki yang kini berdiri di ambang pintu ruang makan dengan jas hitam formal yang membalut tubuhnya. Merri yang tengah mencium tangan Median kakak keduanya pun tertegun. Dengan tangan Median yang masih menempel pada pipinya, ia memperhatikan Satria dengan jantung yang berdebar semakin cepat dari sebelumnya. Tubuh Merri serasa lemas. Ia mati gaya, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Dia malu dan juga takut karena sudah mematahkan hati Satria. Tak hanya itu, bahkan seluruh keluarga besar Satria pun menjadi malu akibat ulah Merri yang keterlaluan. "Selamat pagi, Satria. Ayo sini bergabung bersama kami!" sahut Anna berusaha bersikap biasa aja meski pun ia pun juga merasa sungkan dengan lelaki yang hampir menjadi menantunya tersebut. "Iya, Tante. Terima kasih kebetulan saya sudah makan," sahut Satria. Pandangan matanya tak lepas menatap ke arah Merri yang begitu cantik pagi ini tidak seperti biasanya. Apa karena Merri memakai outfit serba hitam seperti warna kesukaan Satria dengan rambut yang diikat tinggi ke atas? "Satria, tumben kamu pagi-pagi kemari. Ayo sini duduklah bergabung bersama kami biar pun kamu nggak makan," sambung Marshel. Satria berjalan pelan masuk ke dalam ruang makan sembari merapikan jas kerjanya yang tak berantakan. Itu gesture yang menunjukkan bahwa ia sedang di posisi yang tidak nyaman saat ini. Di sisi lain dia senang karena bisa bertemu dengan Merri, tapi di samping itu ada rasa marah yang masih bercokol dalam hatinya hingga detik ini. "Ada urusan pekerjaan yang harus aku obrolkan sama kamu pagi ini, Shel. Karena setelah ini jadwal meetingku banyak, aku takut nggak punya waktu untuk membahasnya sama kamu," terang Satria dengan alasannya yang sungguh klise yaitu membawa-bawa perihal pekerjaan. Padahal sesungguhnya tujuannya datang kemari adalah untuk memeriksa apakah Merri sudah benar-benar pulang atau belum. "Oh oke ... aku tahu kamu seorang pembisnis yang handal jadi waktumu sangat berharga, Sat," tutur Marshel. Merri meremat kedua tangannya dengan gelisah. Ia berdiri sembari menundukkan kepalanya ketika tatapan Satria menghujam jantungnya dengan begitu dahsyat. Ada cinta, amarah dan juga obsesi yang terpancar di mata elang lelaki berumur tiga puluh dua tahun tersebut. "Mm ... Mama, Papa ... a-aku ... aku berangkat dulu, ya!" pamit Merri dengan suara yang gagap. Ia mengambil tasnya yang ia letakkan di kursi yang berada di depan Satria berdiri. Sekujur tubuh Merri rasanya gemetaran. Ia tetap tak berani menoleh atau pun menyapa Satria meski hanya mengucap kata maaf saja. Merri berjalan perlahan mendekat pada kursi tersebut, secara otomatis ia pun harus mendekat ke Satria juga. Semakin dekat, Merri merasa napasnya menjadi sesak padahal ia tak memiliki riwayat penyakit asma. Ini efek karena rasa tegang dan nervesnya. Sedangkan itu semua orang yang ada di ruang makan nampak diam memperhatikan Merri dan Satria. Mereka tahu kalau keduanya kini pasti dalam keadaan canggung dan tak bisa memulai komunikasi satu sama lainnya. "Mer, apa nggak bisa nanti dulu berangkat kerjanya? Kamu belum makan, Sayang," tegur Nenek Syan. Beliau berusaha untuk menahan Merri pergi karena setidaknya Merri harus membuka komunikasi terlebih dulu paling tidak berilah sapaan untuk Satria. Biar bagaimana pun Merri-lah yang berada di pihak yang bersalah. "Nenek, aku terburu-buru-" "Terburu-buru untuk menghindari aku. Silahkan pergi, Merri!" tukas Satria dengan cepat. Tatapan matanya masih setajam pisau belati. "A-aku .... Huft!" Merri menghela napas ke udara seraya memejamkan matanya sepersekian detik. "Aku nggak hindarin kamu, Bang. Aku minta maaf," lanjut Merri memberanikan diri untuk berkontak mata dengan Satria. Manik hitam wanita itu terasa panas yang menandakan bahwa air mata kini telah menggenang dan siap untuk membasahi wajah cantiknya untuk kesekian kalinya. "Aku bersalah ... di depan seluruh anggota keluargaku dan dirimu ... aku meminta maaf, Bang .... " lirih Merri dengan suara yang bergetar. "Maaf aku menyakiti hatimu," imbuh Merri. "Aku tahu kamu lelaki yang baik, kamu tampan, kamu mapan-" "Tapi kamu nggak cinta sama aku," potong Satria membungkam mulut Merri seketika. "Iyah ... memang akulah yang bermasalah, Bang. Bukan dirimu," tutur Merri dengan air mata yang bercucuran. Verrel, kamu harus tahu bahwa demi dirimu aku udah nyakitin hati lelaki baik seperti Bang Satria, batin Merri seolah-olah Verrel ada di hadapannya saat ini. Merri berlari pergi meninggalkan ruang makan, karena ia tak ingin terlihat semakin hancur di depan keluarganya, terlebih di depan Nenek Syan yang sudah tahu apa masalah yang membuat langkah Merri tertahan untuk mengukir masa depan seperti kawan-kawannya yang lainnya. "Sat, aku minta maaf! Tapi kamu nggak boleh patah semangat, teruslah berikhtiar untuk mengejar cinta Merri. Kalau dia jodohmu pasti akan dipermudah," tutur Marshel mencoba untuk memberi semangat kepada sahabatnya yang tengah patah hati akibat ulah adiknya. "Thanks, Shel." Meski hatinya hancur berantakan, keluarganya pun marah besar dan merasa harga diri mereka diinjak-injak oleh ulah Merri, tapi Satria berusaha untuk tak membuat hubungannya dengan Marshel ikut merenggang. Biar bagaimana pun semua mesti di hadapi bukan untuk dihindari. Tanpa Merri sadari, kini Satria mengejar langkahnya. Memang tujuannya datang bukan untuk Marshel, tapi untuk bicara dengan mantan calon istrinya. "Merri! Aku mau bicara sama kamu," seru Satria. Langkahnya yang lebar dengan cepat dapat menyusul Merri yang sudah pergi terlebih dulu darinya. Satria menarik lengan Merri agar Merri tak melarikan diri darinya. "Bang ... tolong beri aku waktu!" pinta Merri dengan suara yang parau. Kedua anak manusia itu kini tengah berdiri berhadap-hadapan. Manik hitam mereka kini saling bertautan. "Kamu punya masalah yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Satria seraya mengusap air mata Merri dengan penuh kelembutan. "Bang ...." "Aku mencintaimu." Satria mendekatkan bibirnya di telinga Merri dan mengucap kata cinta itu dengan suara yang bergetar. Nampaknya Satria sedang berusaha untuk menahan tumpahan anak sungai yang hendak turun dari bola matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN