Kekuasaan Benjamin

1903 Kata
Helaan napas Satria sukses menyentuh pori-pori kulit wajah Merri hingga sekujur tubuh wanita itu pun merinding karenanya. Mereka berdiri berhadapan sedangkan semakin lama Satria semakin memangkas jarak di antara mereka. "Bang ... aku mohon jangan paksa aku," lirih Merri dengan air mata yang berjatuhan. "Aku ingin membahagiakanmu, menjadi istriku dan ratu di istanaku adalah harapan semua wanita Merri, tapi ... kenapa kamu justru menolakku?" "Ada sesuatu yang nggak bisa aku jelasin, Bang," tutur Merri masih dengan suara yang pelan. "Jelasin sekarang ... biar aku tahu di mana kurangku sampai kamu nggak bisa jadiin aku lelaki beruntung yang milikin kamu," balas Satria. Lelaki itu memajukan wajahnya hendak mendekat ke pipi mulus Merri yang tersapu oleh make up tebal, tapi Merri segera mencegahnya dengan meletakkan kedua telapak tangannya di depan d**a Satria. "Aku nggak pantas buat kamu, Bang. Kamu bisa dapatin wanita lain yang lebih baik buat aku," cetus Merri dengan sebuah alasan klise yang kerap kali wanita utarakan ketika ia menolak cinta seorang lelaki. "Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar, Merri. Aku pingin kamu kasih alasan yang spesifik," desak Satria. "Bang, aku nggak cinta sama kamu," jelas Merri mengatakan yang sejujurnya biar pun itu menyakitkan. "Iya ... aku tahu itu, tapi ... aku bisa membuatmu jatuh cinta sama aku dengan seiring berjalannya waktu. Ayah dan ibuku juga dijodohkan, tapi nyatanya mereka hidup bahagia sekarang," sanggah Satria lalu menceritakan kisah kedua orang tuanya yang menikah tanpa ada cinta sebelumnya. "Bang, lepasin aku, ya! Aku mau kerja sekarang lagi pula kedatanganmu ke sini untuk bertemu dengan Bang Marshel kan?" Merri menggerakkan kedua bahunya hendak melepaskan tubuhnya yang berada dalam dekapan Satria. Tak bisa dipungkiri, seringkali Merri merasa rindu dengan sentuhan seorang lelaki. Ia juga ingin dicintai dan diperlakukan lembut seperti ini, apalagi mengulang nikmatnya bercinta yang pernah ia rasakan dulu bersama dengan sang kekasih. Namun, ketakutan dianggap menjadi wanita murah dan juga mengecewakan suaminya serta rasa cintanya pada Verrel yang masih membuncah-membuat Merri enggan untuk melangkah ke depan meski angan untuk membina rumah tangga pun terus menari-nari dalam imajinasinya. Apalagi ketika ia melihat rumah tangga Agnes yang begitu harmonis dengan seorang anak lelaki sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan. "Aku datang untuk menemuinmu," cetus Satria. "Telepon genggammu belum menyala sejak beberapa hari yang lalu hingga sekarang, aku takut terjadi apa-apa sama kamu, Merri." imbuhnya. "Aku baik-baik saja, Bang. Bang Marshel pasti udah cerita kan aku ada di mana?" Merri melempar pertanyaan. "Lalu gimana soal rencana pernikahan kita? Aku masih ingin tetap menikah sama kamu, Mer. Aku mohon ... jangan patahkan hatiku seperti ini!" pinta Satria dengan segenap jiwa dan kegundahannya, ia meminta belas kasihan dari Merri untuk memikirkan ulang tentang rencana pernikahan mereka. Satria tak peduli meski harga dirinya sebagai seorang lelaki terlihat rendah di mata Merri dan keluarganya, tapi ... dia terlalu mengharapkan Merri untuk menjadi pendamping hidupnya. "Apa yang kamu nilai dari wanita yang nggak ada istimewanya kayak aku, Bang? Aku nggak bisa masak, aku nggak bisa ngapa-ngapain seperti wanita mandiri lainnya," cetus Merri merendahkan dirinya sendiri. "Aku wanita kurang pergaulan yang hanya diam di dalam kamar selepas bekerja," imbuhnya. "Justru karena itu, Merri. Karena wanita yang nggak neko-neko seperti kamu itu langka untuk aku temuin di jaman sekarang. Kamu wanita baik ... aku yakin itu, Sayang," tandas Satria tetap kekeh pada pendiriannya yang ingin mempersunting Merri. "Kita obrolin masalah ini nanti lagi ya, Bang. Karena aku harus bekerja, aku mohon! Aku punya tanggung jawab di kantor." Dengan berat hati Satria melepas pelukannya dan membiarkan Merri pergi. Perasaan Merri rasanya tak karuan setelah ini, bahkan senyum mentari tak bisa mengembalikan keceriaannya. Ia menatap Satria yang masih tertegun memperhatikannya. "Maafin aku, Bang," ucap Merri sembari membuka pintu mobilnya di mana seorang sopir sudah siap untuk mengantarnya ke mana pun dia akan pergi. o0o "Sudah kubilang jangan sentuh barang pribadiku apa kau dengar itu, Yana?" teriak Benjamin. Ia marah besar ketika memergoki istrinya membuka telepon selulernya tanpa permisi. "Tapi aku istrimu, aku berhak untuk memeriksa isi ponselmu! Aku nggak mau terus-terusan kamu khianati, Ben!" teriak balik Ayana seraya mendorong d**a suaminya. "Usiamu sudah kepala enam dan kau masih berlagak seperti abege seperti ini?!" Benjamin memakai kemeja yang telah disediakan oleh istrinya. Ia menyeringai sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Usia itu tak menjamin seorang lelaki tidak berbuat nakal. Semakin tua lelaki santannya semakin kental apa kau tahu itu? Sedangkan wanita ...." Benjamin melihat istrinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. "... semakin tua semakin membosankan. Sini kemarilah!" Benjamin menarik tangan Ayana Diya dengan kasar dan tanpa aba-aba. Lantas lelaki itu memegang kedua bahu istrinya dari belakang. Benjamin mengarahkan tubuh Ayana di hadapan cermin besar yang ada di kamar mereka. "Coba lihat pantulan dirimu di cermin, Ayana!" dalih Benjamin. "Tubuhmu sudah tak seindah dulu lagi, kerutan nampak terlihat di wajahmu. Kau sama sekali tak ada menariknya di mataku, Yana. Jadi jangan salahkan aku kalau aku mencari pelampiasan di luaran sana!" cemooh Benjamin tanpa berperikemanusiaan sedikit pun. Mendengar sang suami body shaming terhadapnya membuat hati Ayana hancur berkeping-keping. Padahal dia sudah berusaha untuk tampil cantik setiap harinya, dia juga berusaha untuk merawat dirinya agar sang suami betah. Namun, siang buas akan tetap menjadi buas meski si tak berdaya sudah menuruti keinginannya. "Kau merusak mentalku, Ben! Kau kejaam!" jerit Ayana dengan air mata bercucuran. Sudah tak tahan rasanya ia tinggal bersama suami yang tak pernah menghargainya. Telepon Ben berdering nyaring. Benda yang Ayana geletakkan di atas ranjang setelah ia berniat untuk mengotak-atik isinya, tapi belum sempat karena ketahuan oleh suaminya itu pun menunjukkan sebuah nama wanita yang menghubungi suaminya. Di layar itu pula foto si wanita muda yang tak asing untuk Ayana terpampang-mendominasi touchscreen milik suaminya. "Jangan ikut campur!" sentak Benjamin. Dengan gerakan terburu-buru ia menyambar ponselnya. "Ben ... apa kau gila?!" berang Ayana Diya bertanya dengan nada tinggi hingga urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Air mata wanita itu semakin berlinangan. "Diam! Aku sudah bilang jangan ikut campur urusanku!" sentak Benjamin. "Kau boleh berselingkuh dengan siapa pun, w************n banyak tersebar di luaran sana tapi dia-" "Tutup mulutmu, Ayana! Sudah kubilang berhentilah mengurusi hidupku!" murka Benjamin. Ia membungkam mulut Ayana dengan telapak tangannya yang besar. Ayana tidak dapat berontak karena suaminya sekarang membekamnya dari belakang. Tubuh Ayana dipeluk dari belakang dengan sangat kuat dengan mulut yang masih terbungkam oleh tangan suaminya. "Diam!" perintah Ben. Ayana takut untuk memberontak sehingga dia hanya bisa menangis dan pasrah saja. Telepon seluler Benjamin terus berdering hingga lelaki itu menerimanya dan mendekatkannya di telinga. Benjamin mengapit benda pipih itu menggunakan pundaknya agar ia tetap bisa mendominasi tubuh Ayana agar tidak bisa memberontak. "Ya, Sayang. Katakan kau mau apa?" tanya Benjamin dengan mesranya kepada si wanita muda tersebut. Benar-benar cara bicara yang berbeda antara ia berkomunikasi dnegan Ayana dan juga simpanannya. "Oke, Sayang ... kita ketemu di apartmen, ya. Aku juga kangen banget sama kamu .... " ucap Benjamin. Ya Tuhan, teganya suamiku melakukan hal menjijikkan ini kepadaku dan anakku, rintih Ayana dalam batin. Hatinya sungguh-sungguh sakit bak diiris oleh belati tajam. "I love you too, Baby," ucap Benjamin menyahuti ucapan selingkuhannya. Panggilan suara pun di tutup dan Ben melempar ponselnya dengan segera ke atas tempat tidur. "Kenapa? Kau mau protes iya? Memang apa yang bisa kau lakukan untuk melawanku? Apa?! Hah?" Benjamin melepaskan tubuh istrinya dengan kasar hingga wanita itu jatuh tertelungkup di lantai kamar. "Aku akan adukan ini kepada Marco, Ben! Kau lihat saja apa yang bisa kulakukan untuk menghancurkan makhluk-makhluk yang menjijikkan seperti kalian!" ancam Ayana. Ia berdiri dengan susah payah dan berniat untuk menemui anaknya di kamar. "Silahkan kalau kau mau mengadu! Aku tidak takut Ayana," ucap Benjamin dengan santainya. Si penguasa kerajaan May tidak mudah untuk digertak. "Satu langkah kau keluar dari kamar ini bisa aku pastikan bahwa anakmu tidak akan mendapatkan satu persen pun warisan dariku. Aku akan menendangnya dari rumah ini begitu juga dengan dirimu dan ibuku yang sudah sakit-sakitan itu. Kalian harus tahu bahwa tanpa aku kalian bukan siapa-siapa. Jadi pergilah sekarang kalau kau ingin pergi! Mengadulah kepada anak kesayanganmu itu, Ayana! Aku tidak takut," tutur Benjamin mengintimidasi Ayana dengan nada bicara yang super santai. Ayana yang telah sampai di depan pintu kamar, hendak memegang handle pun segera mengurungkan niatnya. Wanita itu menangis terisak-isak. Tubuhnya serasa lemas tanpa tenaga hingga ia pun terjatuh bergelendot di badan pintu dengan sungai yang mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. o0o Sopir sudah membukakan pintu mobil lebar-lebar sejak tadi, tapi Merri belum juga keluar dari kendaraannya. Wanita itu menatap gedung kantornya yang tinggi menjulang karena ia sengaja meminta sopir untuk menghentikan kendaraannya di depan perusahaan bukan di halaman perusahaan. "Aku malu rasanya. Gosip tentang aku pasti sudah menyebar ke seluruh kantor ini mulai dari lantai atas hingga ke bawah," resah Merri lalu menghela napas berat. "Nona, anda tidak jadi bekerja?" tanya si sopir dengan sopan seraya menundukkan sedikit badannya agar bisa menengok ke arah Merri. "Mm ... iya, aku bekerja. Terima kasih, ya!" sahut Merri yang segera turun dari mobilnya. Panas mentari yang terik menyambut Merri yang kini berdiri tegak menunggu mobilnya pergi untuk kembali ke rumah. Wanita itu menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya untuk menghalau sinar matahari yang mencumbui kulit putihnya. "Aku lapar sekali," ucap Merri seraya melihat jam yang melingkar di tangannya, masih lama untuk sampai di jam waktu kantor dimulai. Ada sekitar setengah jam lagi waktu yang ia punya. Maka abaikan tentang masalah cinta terlebih dahulu, karena saat ini urusan perut lebih penting dari segalanya. Akibat kehadiran Satria ia menjadi tak sempat sarapan karena harus menghindar, tapi tetap saja niat menghindari pun gagal total. Merri mengedarkan pandangan matanya hingga ia melihat ada penjual bubur ayam di seberang jalan. Maka bukan ide yang buruk jika ia memilih sarapan di tempat tersebut. Meski di pinggir jalan, tapi warung itu terlihat ramai dan tak pernah sepi pengunjung. Jelas pasti rasanya enak dan membuat Merri penasaran. "Udah lapar banget, Tuhan," desis Merri. Ia pun mengintruksikan kedua kakinya untuk membawa dirinya ke tukang bubur yang ia maksud. Sudah lama ia ingin mencicipi makanan khas untuk sarapan tersebut, tapi baru kali ini ia memiliki kesempatan. "Ya Tuhan, jalanan ramai sekali, ya. Gimana aku bisa menyebrang? Aku takut banget nyebrang," gumam Merri. Mengingat ini jam di mana waktunya orang-orang berangkat bekerja, jadi tak heran kalau jalanan pun padat merayap seperti sekarang. "Mbak!" Sebuah sentuhan di pundak Merri membuat wanita itu kaget bukan kepalang. Merri memutar kepalanya ke belakang dan mendapati seorang lelaki berdiri seraya melemparkan senyum kepadanya. "Eh, Iya, Mas," sahut Merri. "Ada apa, Ya?" Merri tak kenal dengan lelaki tersebut dan tak pernah melihat wajahnya sebelumnya. "Mbak mau nyebrang, tapi takut ya?" tebak lelaki tersebut. Merri pun segera menganggukkan kepalanya. "Ayo aku bantu nyebrang, kebetulan aku mau beli bubur ayam," kata lelaki itu. Merri pun menyunggingkan senyumnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. "Ayo-ayo!" sahut Merri dengan cepat tanpa berpikir panjang. Lelaki itu meminta Merri untuk berjalan duluan. "Bukannya Mas yang harusnya di depan? Kan Mas yang mau nyebrangin," protes Merri seraya mengernyitkan keningnya. Mana panas mentari kini terang-terangan membakar kulitnya karena tangannya yang tak lagi menutupi wajah. "Iya, aku sebrangin dari belakang, Mbak," ucap si pria asing tersebut. "Hm ... gitu," cicit Merri seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Merri berjalan dua langkah ke depan meninggalkan si pria. Ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri seraya menanti janji lelaki yang di belakangnya untuk membantunya membelah lalu lintas yang padat. "Mas ... ayo!" seru Merri seraya memutar lehernya-menatap si pria. Lelaki itu tak bicara atau menyahuti ajakan Merri, tapi ... dengan gerakan cepat lelaki itu menyerobot tas yang Merri jinjing di tangan kanannya. "Jaaaambreeeet!" teriak Merri dengan sekencang-kencangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN