Pria Baik

1187 Kata
Merri berlari tunggang langgang mengejar si lelaki kurang ajar yang pura-pura membantunya ternyata justru memiliki niat jahat untuk menjambret tas mahal miliknya. Wanita itu terlihat kesusahan untuk melebarkan langkahnya mengingat heels sepatu yang digunakannya berukuran sepuluh centi yang tentunya merepotkan apabila dipergunakan untuk kejar-kejaran. "Ya Tuhan ... tolooong! Siapa pun bantulah aku!" teriak Merri dengan suara yang kencang. Sekujur tubuhnya berkeringat dengan jantung yang berdebar tak karuan. Darah wanita itu berdesir-desir semakin menambah rasa panik yang menggerogiti hatinya. "Andai aku pakai sepatu kats pagi ini, pasti sudah aku susul penjambret kurang ajar itu!" decit Merri. Dua orang lelaki yang tengah nongkrong di pinggir jalan menjadi iba melihat kesusahan Merri. Mereka ikut berlari untuk membantu Merri mengejar si jambret kurang ajar yang secepat kilat dalam pelariannya. Namun, nampaknya mereka kalah tanggung dari penjahat tersebut yang memang sudah ahli dalam hal melarikan diri. "Ya Tuhan ... bagaimana kalau aku nggak bisa dapatin tasku lagi? Di situ ada fotonya Verrel, itu foto satu-satunya yang aku punya," resah Merri dengan napas tersengal-sengal. Ia terus berlari meski ia tahu kalau sudah tak mungkin lagi untuk dia menyusul perampas tasnya yang sudah tak nampak lagi di depan matanya. "Haah ... Ya Tuhan, aku nggak kuat lagi." Merri menghentikan langkahnya setelah dirasa lututnya gemetaran. Ia membungkuk seraya memegang kedua kakinya. Entah sudah berapa kali kaki wanita itu keseleo dan membuatnya nyaris terjatuh, hingga rasa nyerinya kini terasa menjalar mulai dari mata kaki sampai ke atas. "Verrel ... aku kehilangan Verrel," ringis Merri dengan air mata yang bercucuran bersaingan dengan keringat yang terus mengalir membasahi tubuhnya. Bukan kartu kredit, atm, ktp atau surat-surat berharga lainnya yang membuat Merri bersedih seperti ini, tapi satu-satunya kenangan yang ia punya tentang Verrel-lah yang ia tangisi hingga seperti ini. Bagi Merri uang bukanlah hal yang patut untuk ditangisi karena bekerja pun gajinya tak pernah ia ambil sebab setiap bulannya Merri masih diberi jatah uang oleh kedua orang tuanya. Merri bekerja hanya sebagai formalitas saja agar tak dianggap pengangguran dan ilmu yang diembannya hanya berakhir sia-sia saja. "Mbak, maaf! Kami nggak bisa kejar penjambretnya," ucap salah satu dari dua lelaki yang membantu Merri. Napas keduanya sama-sama tersengal seperti yang Merri rasakan. Mereka memilih menyerah karena penjahat tersebut sudah menghilangkan jejaknya. Merri menangis semakin kencang. Ia terduduk di atas trotoar dengan kaki yang tertekuk ke belakang. "Mbak ... sabar, Mbak. Mbak bisa kami antar ke kantor polisi untuk membuat laporan," sambung lelaki yang satunya lagi. Kebetulan orang-orang tak terlalu banyak berada di sepanjang jalan ini, sehingga tak banyak pula yang membantu untuk mengejar. "Aku nggak masalah uangku, Bang. Tapi foto pacarku," sahut Merri dengan air mata yang bercucuran. Rasa sakit yang terasa di kakinya pun ia abaikan meski kini mata kakinya yang sebelah kanan perlahan mulai membengkak dan lebam. "Mbak, jangan nangis! Ayo kita ke kantor polisi!" bujuk si pria berkaos hitam. Mau tak mau orang-orang pun bergerombol untuk melihat apa yang terjadi. Kenapa tidak sejak tadi? Barulah setelah Merri menangis, orang-orang yang di seberang menengok ke arahnya dan mendekat. Terisak-isak di pinggir jalan, di bawah sengatan matahari yang terik dengan dikerumuni banyak orang membuat Merri seperti badut sirkus yang menjadi bahan tontonan. Namun, wanita itu tak peduli. Bahkan rasa malunya pun kini hilang musnah seperti tasnya yang dibawa si pencuri yang tak tahu diri. Merri hanya ingin terus menangis dengan kencang untuk meluapkan rasa dukanya yang mendalam. "Permisi! Bisa beri saya jalan?!" Beberapa menit kemudian terdengar suara seorang lelaki yang berdiri di belakang kerumunan orang-orang berseru lumayan kencang. Lelaki itu ingin melihat Merri yang terkepung di dalam sana. Ia pun meminta orang-orang untuk memberinya space agar ia bisa menjangkau Merri yang suara tangisnya terdengar kencang. "Silahkan, Tuan!" Orang-orang pun dengan senang hati melebarkan jalan agar si pemuda berpakaian formal dan rapi itu bisa mendekat pada Merri. "Tap ... tap ... tap ... !" Suara sepatu vantovel lelaki kaya tersebut mengetuk-ngetuk trotoar dengan hentakan yang tegas dan berirama. Kini tak hanya Merri yang menjadi pusat perhatian, tapi juga si pria yang nampak sedang membawa sebuah tas wanita di tangan kanannya. "Ini tas kamu?" tanya pria itu seraya mengulurkan tangannya di hadapan Merri yang menundukkan kepalanya dan sibuk menyeka air matanya. Dengan gerakan perlahan Merri mendongakkan kepala. Lantas ia pun melihat tas mahal miliknya sudah ada di depan matanya lagi. Si pria asing ini membawa tas yang ia tangisi kembali kepadanya. "I-iya, Tuan! Iya! Ini tas saya," sahut Merri yang kini rasa dukanya telah terhapus dengan rasa bahagia yang amat dalam. Melihat tas tersebut membuat senyum Merri yang hilang kini merekah sempurna. Lega sudah rasanya. "Ini ambillah tasmu, Nona! Dan jangan menangis lagi!" ucap si pria tampan berkaca mata hitam tersebut dengan lembut. Ia berlutut-menekuk kedua kakinya agar bisa sejajar dengan posisi Merri yang terduduk di trotoar tanpa alas. Merri tak peduli meski celananya kotor terkena tanah. Dengan cepat Merri mengambil tas itu dari tangan si pria yang belum ia ketahui identitasnya tersebut. Merri memeluk tasnya erat-erat karena takut kalau hilang lagi dijambret orang jahat yang tak berperasaan seperti tadi. "Tasku, Sayang. Syukurlah! Akhirnya kamu kembali," ucap Merri tak henti menciumi tasnya berulang-ulang kali. Merri membuka resletingnya untuk memeriksa apakah foto Verrel masih ada di dalam sana. "Ini yang penting, yang lainnya boleh hilang, tapi yang ini jangan," gumam Merri dengan bola mata berbinar-binar. Tangisnya seketika mereda. Menatap foto Verrel membuat moodnya membaik kembali. "Anda hanya menyayangkan foto itu, Nona?" tanya si pria yang sudah menjadi pahlawan untuk Merri pagi ini. Lelaki itu mengernyitkan keningnya, merasa aneh karena bukan dompet, ponsel atau benda lainnya yang Merri periksa, tapi selembar foto usang itu saja yang menjadi prioritasnya. "Ini satu-satunya foto kekasih saya, Tuan. Saya sangat takut kehilangan foto ini," jawab Merri. "Tuan, terima kasih sudah membantu saya," ucap Merri dengan mata berkaca-kaca. "Saya nggak tahu apa jadinya diri saya kalau anda nggak ada. Mungkin foto ini sudah musnah," imbuh Merri. Ia meraih tangan si pria lalu menciumnya seperti seorang anak yang hendak berpamitan pergi sekolah kepada orang tuanya. "Sama-sama, Nona. Berterima kasihlah kepada Tuhan!" pinta lelaki itu seraya menyunggingkan senyumnya. Kebetulan sekali saat kejadian Merri dirampas tasnya, lelaki itu tengah melintas untuk pergi menuju ke tempatnya mencari nafkah. Tak biasanya sih dia meminta sopirnya untuk melewati jalur ini, tapi karena ada suatu urusan di area yang dekat-dekat jalan sini, maka si pria ini meminta tolong sopirnya untuk mengambil jalur yang lebih jauh dari biasanya. Ternyata rencananya ini adalah rencana Tuhan pula untuk membantu seorang wanita yang tengah tertimpa kemalangan. "Mari saya bantu, Nona!" Si pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Merri berdiri. Merri melihat tangan besar yang terulur ke arahnya tersebut dengan jantung berdebar-debar. "Andai saja yang di depanku sekarang itu Verrel, bukan orang lain," gumam Merri dengan suara yang pelan. Wajahnya pun sedih karena teringat Verrel yang belum bisa ia ketahui keberadaannya hingga detik ini. "Anda bicara apa, Nona?" tanya si pria asing tersebut karena mendengar Merri bergumam, tapi indera pendengarannya tak bisa mendengar apa yang Merri katakan. "Oh, tidak ada, Tuan," jawab Merri sembari menggelengkan kepalanya. Lantas Merri pun membalas uluran tangan si pria dengan senang hati meski merasa sungkan karena sudah merepotkan lelaki itu untuk kedua kalinya. "Terima kasih, Tuan," ucap Merri. "Sama-sama," sahut pria itu seraya mengulas senyum simpul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN