Sepasang bola bening Aluna berkaca-kaca melihat Adrian yang terbaring dengan berbagai peralatan medis pada tubuhnya. Hanya layar pada monitor yang menunjukkan garis-garis melengkung tak beraturan yang menunjukkan detak jantungnya. “Yayan … ini aku, Aluna.” “Kamu cepetan bangun, Yan ….” Seolah ada yang menggerakkan, jemari lentik Aluna perlahan meraih tangan Adrian lalu digenggamnya telapak tangan besar itu. Namun, tak sedikitpun ada balasan. “Yayan … maaf, karena aku … kamu jadi kayak gini. Aku minta maaf ….” Aluna menunduk dan air matanya menitik begitu saja. “Ayo bangun, Yan … nanti siapa yang makanin ceker ayam di sotoku, siapa yang beliin ikat rambutku, masa aku tiap hari harus naik motor sendiri ke tempat kursus?” Aluna bicara panjang lebar sambil sibuk menyeka air mata. Ras

