“Ini terkait masa depan kamu, Sayang. Usia kamu sudah tak lagi muda. Mama belum pernah lihat kamu bawa cowok ke hadapan Mama. Nah, kemarin anaknya produser Mama, dia nanyain kamu. Mama harap, kalian bisa berjodoh. Ini demi karir Mama juga.” Sepasang mata Misye melebar penuh harap. “Anaknya produser? Maksudnya?” Aluna menegakkan duduknya. Rasa-rasanya dia akan mendapat kabar tak menyenangkan dari Mama kandungnya itu. Apalagi tadi disangkut pautkan dengan karirnya juga. “Dia ada lihat foto kamu, terus pengen kenalan.” Sontak, Aluna memutar bola mata ke atas. Itulah yang membuat selama ini dirinya menjaga jarak. Misye masih tetaplah Misye yang dulu. Selalu ada kata timbal balik dari semua yang dia lakukan. “Lagi? Mama sudah lupa kalau aku tak suka dijodohkan?!” Sepasang netra Aluna yan

